Istri Selingan

Istri Selingan
Bab 11. Bulan madu


__ADS_3

Tidak ada yang sempurna, mungkin itulah ungkapan yang pantas bagi penilaian untuk Rina dan Tari, dua wanita yang kini sedang berada di hidup Anjas saat ini.


Rina yang terlihat biasa saja dalam penampilan, ternyata memiliki sikap penyayang dan ceria, juga pandai dalam hal mengurus kebutuhan rumah tangga.


Semakin lama Hilman menghabiskan waktu dengan Rina, entah mengapa dia kini seakan bisa melihat Rina dari sisi lainnya, dan itu terlihat cantik untukkunya.


"Sadar Hilman, dia wanita yang sedang mengandung anak sahabatmu," gumam Hilam berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari pikirannya yang dianggap sudah melenceng. Hilman menggelengkan kepalanya samar, dia kemudian menghampiri Rina.


"Kamu pecinta kucing ya, Rin?" tanya Hilman sambil duduk di samping Rina yang masih asik mengelus kepala kucing di dekat kakinya.


"Iya, mereka lucu," jawab Rina sambil menghentikan kegiatannya, kemudian menegakkan tubuhnya lagi.


"Oh iya, Bang Hilman punya sosial media gak, kayak IG atau FB?" tanya Rina tiba-tiba.


"Punya, memang kenapa?" tanya Hilman santai.


"Boleh minta gak? Lumayan buat nambah temen, kebetulan aku baru bikin, jadi belum banyak temannya," ujar Rina sambil mengambil ponselnya di dalam tas.


"Kamu buat media sosial?" tanya Hilman sambil melihat ponsel milik Rina sekilas.


"Iya, habisnya di sini aku bosan cuman di rumah aja, jadi aku iseng buat media sosial untuk menghabiskan waktu," jawab Rina, kemudian memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan format profil media sosialnya.


"Ini nama media sosial aku, coba kamu follow, nanti aku ikuti balik," ujar Hilman sambil menaruh ponselnya di atas meja.


Rina tersenyum kemudian mulai mencari nama profil akun sosial media Hilman di dalam ponselnya. Dia lansung mengikuti akun milik laki-laki di sampingnya.


"Sudah," ujarnya sambil memperlihatkan kalau dirinya sudah mengikuti akun Hilam.


"Oke, aku follow balik, ya," ujar Hilman. Mereka pun saling mengikuti akun sosial media tanpa ada yang dicurigai.


"Terima kasih, Bang." Rina tersenyum senang.


Obrolan mereka terpotong oleh pedagang yang mengantarkan makanan pesanan mereka. Rina tersenyum senang sambil menikmati makanan di piringnya, dia bahkan tidak segan untuk memakan lalapan mentah dan sambal.


Keduanya makan tanpa ada rasa malu, Himan tersneyum melihat Rina yang tampak lahap hingga membuat napsu makannya ikut meningkat.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian keduanya sudah ke luar dari kedai pikir jalan itu, dengan perut yang sama-sama merasa kenyang.


Hilman menyetir menuju ke rumah Rina, memcah jalan yang masih terasa padat, ditambah dengan gerimis kecil yang mulai turun, semakin memperlambat laju kendaraan, hingga empat puluh lima menit kemudian, akhirnya mobil Hilman berhenti di halaman rumah Rina.


Hilman mengambil barang belanjaan milik Rina kemudian berjalan menyusul Rina yang sedang membuka kunci pintu. Akan tetapi, saat Himan hendak masuk, Rina tiba-tiba mencegahnya.


"Maaf, Bang, tapi lebih baik Bang Hilman mengantakan aku sampai di sini saja," ujar Rina sambil mengambil kantong plastik di tangan Rina.


"Tapi, ini berat, Rin." Hilman tampak tidak rela.


"Gak apa, aku masih kuat kok. Lebih baik Bang Hilman taruh saja di sana, nanti biar aku bereskan," tunjuk Rina pada meja dan kursi di depan rumahnya.


Hilman melihat wajah Rina lekat, dia seolah sedang memastikan kalau Rina dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku bisa, Bang. Sekarang sudah malam, lebih baik Bang Hilman pulang saja ya. Terima kasih atas semua ini, maaf aku selalu merepotkan Bang Hilman," ujar Rina sebelum dia membawa belanjaan itu ke dalam.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku ya, aku akan langsung ke sini," ujar Hilman yang langsung diangguki oleh Rina.


Hilman pun akhirnya menyerah dan pergi dari rumah Rina. Begitu juga Rina, dia membawa barang belanjaannya ke dalam rumah dan menyusunnya sebaik mungkin, agar disaat dia mau memasak semuanya sudah siap.


.


Rambutnya bahkan masih tergulung oleh handuk, begitu juga tubuhnya, dia hanya memakai handuk yang melilit sebatas dada, pandangannya lurus ke depan, melihat langit-langit yang tampak memiliki warna putih dengan garis kemasan di sisinya.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sedangkan dirinya baru selesai mandi setelah membereskan barang belanjaannya.


"Lelah sekali ... padahal aku hanya duduk diam di rumah. Jauh berbeda dengan aktivitas di kampung yang suka membantu Ibu dan Bapak di ladang," gumam Rina mengingat aktivitasnya hari ini.


Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di dekat bantal, dia kemudian mulai mengoprasikannya.


"Aku harus segera mencari akun sosial media milik wanita itu, dari pertemanan Bang Hilman, sebelum dia menyadari niatku meminta akun media sosialnya." Rina mulai mencari nama teman media sosial Hilman.


Sekitar sepuluh menit mencari Rina sudah menemukan akun sosial media milik istri sah suaminya, itu cukup mudah karena ternyata Tari tidak mengganti namanya, dan lebih bagus lagi karena akunnya itu tidak dikunci.


Rina mulai membuka profil sosial media milik Tari dengan dengusan kasar terdengar di mulutnya. Dia menatap sinis layar ponselnya yang menampilkan berbagai foto Tari sejak masa kuliah, dan ternyata banyak foto kemesraan suaminya dan Tari, yang membuat Rina harus merasakan sakit lagi di dadanya.

__ADS_1


Rina melihat aku media sosial milik suaminya, iseng dia mencoba mengirim permintaan pertemanan, walau tidak tahu akan diterima atau tidak.


"Ternyata ini alasan kamu, selama ini selalu beralasan tidak memiliki sosial media kepadaku? Heh, ternyata sosial media kamu sudah menyatu dengan media sosial milik Tari." Rina bergumam sendiri sambil melihat keterangan yang menunjukkan kalau Tari adalah istri Anjas di profilnya.


Gambar terakhir yang baru saja di unggah beberapa jam yang lalu kini menjadi perhatian utama Rina.


Itu adalah foto Anjas dan Tari yang sedang menikmati makan malam romantis, di restoran mewah. Di bawahnya terlihat ada tulisan yang mengiringi unggahan itu.


Terima kasih untuk kejutannya, aku bersyukur memiliki suami yang selalu berusaha yang terbaik demi kebahagiaanku, dan mencintaiku apa adanya.


Itulah tulisan yang membuat hati Rani merasa seakan sedang ditusuk tajamnya belati berulang kali. Hingga tanpa terasa air mata meluncur begitu saja, tanpa bisa dia kendalikan seiring dengan sesak di dalam dada.


Rasa iri tentu begitu besar di dalam hatinya. Bagaimana tidak? Disaat dirinya sedang hamil muda dan membutuhkan banyak perhatian, suaminya malah menghabiskan waktu dengan istri sahnya.


Jangankan makan malam romantis, hanya untuk makan bersama saja, sepertinya kini begitu sulit Rina dapatkan.


Mencintai dan dicintai? Sepertinya sekarang kata itu begitu asing dan terasa jauh dari hatinya, entah mengapa kini yang ada di sana hanya rasa sakit dan kecewa, walau mungkin rasa cinta untuk Anjas masih ada di sudut terdalam, hingga sulit untuk terasa jelas.


Rina melihat sudah banyak yang berkomentar di bawah postingan itu, sepertinya mereka teman-teman Anjas dan Tari. Akan tetapi, ada satu komentar yang mencolok baginya, karena dia mengenal orang yang berkomentar di sana.


Ya, siapa lagi kalau bukan Hilman, dia berkomentar sekitar setengah jam yang lalu, itu berarti tidak lama setelah Hilman pulang dari rumahnya.


"Gak usah ngebucin, kalian. Gak sadar di sini masih ada jomlo!"


Itulah komentar sarkan dengan candaan khas seorang teman dari Hilman yang ada di dalam foto itu.


Rina tersenyum miris melihat berbagai komentar di sana yang jelas menunjukkan kalau ternyata saat ini Ajas dan Tari sedang bulan madu ke pulau Bali.


"Apa aku pantas untuk iri? Aku juga istri Mas Anjas, tapi jangankan diketahui oleh teman-temannya, bahkan keluarga Mas Anjas saja tidak tau kalau ada aku di dalam kehidupan Mas Anjas," ujar Rina dengan air mata yang menyertainya.


"Aku bahkan bingung, aku ini siapa? Istri, selingkuhan, atau bahkan hanya seseorang yang tidak pernah dianggap ada oleh Mas Anjas?" Air mata semakin menganak sungai membasahi pipi, dengan sesak yang semakin menjadi.


Rina semakin sadar, bahwa hubungannya dengan Anjas memang sangat dangkal, jika dibandingkan dengan Tari. Mereka sudah terlalu lama saling mengenal, hingga mungkin akarnya sudah sangat kuat.


Sulit untuk berada di dalam hubungan yang sudah lama seperti Anjas dan Tari, walau kemungkinan itu akan selalu ada di dalam sebuah hubungan. Akan tetapi, apakah Rina bisa mencapai kata mungkin itu, dan menghadapi segala resiko di dalam perjalanannya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2