Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.71 Kebohongan kecil


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, kini Arya sudah pulih kembali setelah beberapa hari ke belakang harus istirahat dirumah karena kondisi tubuhnya yang drop. Sepertinya kesehatan Arya memang sedang menurun saat perkelahian itu, hingga ketika terkena hujan ditambah luka pukulan dari Anjas, membuat suhu tubuhnya naik sampai tak sadarkan diri malam harinya.


Sepanjang itu pula, Rina selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Arya, entah itu hanya mengantarkan makanan atau bahkan menemani ummi yang kesepian, saat merawat Arya sendiri di rumah.


Awalnya ummi sempat marah dan menyalahkan Rina sebagai penyebab dari kondisi Arya, tetapi dengan santainya Arya malah mengatakan kalau dirinya mengalami salah paham ketika menolong korban jambret dan malah dia yang disangka sebagai pelaku, hingga menjadi sasaran amukan warga.


Arya malah menjadikan Rina sebagai penolongnya, karena kekasihnya itu berteriak sambil melerai warga yang sedang memukulnya.


Akibat sedikit kebohongan Arya, ummi pun tidak lagi menyalahkan Rina. Sebaliknya, ummi malah berterima kasih pada Rina. Karena insiden itu juga, Rina dan Ummi semakin bertambah dekat, mereka sering mengisi waktu dengan saling membagi resep makan bersama, kemudian memasak di dapur.


Ternyata keduanya mempunyai hobi yang sama, yaitu memasak, hingga membuat Rina lebih mudah dalam mendekati ummi, walau sampai saat ini Rina juga belum mengetahui, apakah sudah ada restu untuk hubungannya dan Arya, atau belum di hati ummi.


Seperti saat ini ummi dan Rina kini tengah berjalan bersama untuk mengantar ummi pulang, setelah beberapa hari ini menginap di rumah Arya. Di belakang Rina dan Ummi, terlihat Arya, Ray dan Abi yang berjalan mengikuti mereka.


"Hati-hati di jalan ya, Ummi," ujar Rina sambil menghentikan langkahnya di samping mobil Abi.


"Iya, ummi titip Arya dan Ray di sini ya, Rin. Tolong segera kabarin ummi kalau mereka berbuat nakal seperti kemarin, biar ummi hukum mereka nanti," jawab ummi sambil melihat Arya dan Ray yang hanya bisa tersenyum.


"Kami sudah besar, ummi," jawab Arya dan Ray bersamaan. Hingga membuat Rina menahan tawa mendengar wajah pasrah dari dua saudara di sana.


Ummi hanya melirik sekilas pada kedua anak laki-lakinya itu sebagai jawaban, kemudian beralih pada Rina kembali.


"Kamu juga jaga kesehatan, jangan sampai kecapean," ujarnya berpesan pada Rina, yang langsung diangguki oleh wanita satu anak itu.


Sepanjang ummi berada di sini, dia sudah mendengar dan mengetahui dengan jelas apa saja kesibukan Rina. Rina bukanlah seorang janda biasa yang selalu dikelilingi oleh rumor buruk di sekitarnya.


Sekian lama selalu ditemani Rina dan Arya, ummi juga bisa melihat bagaimana anak sulungnya itu begitu bahagia ketika bersama dengan Rina dan Bintang, juga melihat sikap Rina di berbagai situasi.


"Ummi dan Abi, juga jaga kesehatan baik-baik di sana," ujar Rina dengan senyum lembutnya.


Beberapa saat berpamitan Abi dan ummi pun pergi, dengan Rina yang terus berdiri menatap jauh mobil yang dikendarai oleh sopir keluarga Arya.


Arya yang melihat itu memberi isyarat mata pada Ray untuk masuk lebih dulu. Sepertinya Ray mengerti hingga adiknya itu hanya tersenyum mengejek kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


Setelah melihat Ray benar-benar masuk, Arya membawa kakinya melangkah menghampiri sang kekasih, dia berdiri di samping Rina.


"Kenapa? Berat ya melepaskan ummi dan abi bergi?" tanya Arya dengan senyum menggoda.


"Melihat ummi dan abi, aku jadi kangen bapak dan ibu," jawab Rina sambil menundukkan wajahnya dengan satu tetes air mata yang lolos begitu saja, selama beberapa hari mendapatkan kasih sayang orang tua dari ummi membuat Rina merasa rindu pada kehangatan sebuah keluarga.


Berbeda dengan pertemuan pertama dan kedua yang meninggalkan kesan buruk untuknya, kebersamaan yang dia lewati bersama ummi terasa berbeda, dia hampir saja terlena oleh kasih sayang seorang ibu yang didapatkan dari wanita yang telah mengasuh Arya itu.

__ADS_1


"Hei, kenapa!? Ummi dan abi hanya pulang saja, kamu masih bisa bertukar kabar lewat telepon atau mengunjungi mereka kapan pun," ujar Arya saat melihat mata Rina yang tampak memerah.


Rina menggeleng, dia kemudian tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di pundak Arya.


"Aku hanya sedikit terbawa suasana," jawabnya dengan wajah yang dibuat kembali ceria. Nyatanya dia tersadar oleh kenyataan jika sampai saat ini mungkin saja dirinya belum diterima di keluarga itu, mengingat dia tidak bisa membedakan perlakuan mereka padanya sebagai keluarga atau orang asing.


"Terima kasih, sudah ikut berjuang untukku. Karena kamu aku bisa lebih dekat dengan ummi," ujar Rina tulus, matanya masih saja memandang lurus ke depan.


"Apa maksud kamu, aku gak berbuat apa-apa? Aku kan hanya sakit," jawab Arya sambil sedikit menundukkan wajahnya, agar bisa melihat wajah Rina.


Rina menegakkan tubuhnya kembali dan melihat Arya dengan tatapan menyelidik.


"Aku tau, kamu sebenarnya pura-pura sakit, agar ummi bisa lebih lama tinggal di sini dan aku bisa memanfaatkan ini untuk mendekati ummi," tebak Rina.


"Eh, kok tahu?" tanya Arya dengan wajah yang dibuat terkejut. Ya, sebenarnya tubuhnya sudah merasa lebih baik setelah satu hari istirahat total, tetapi dia memanfaatkan luka lebam yang masih belum hilang untuk berpura-pura sakit, agar ummi lebih lama tinggal di rumahnya.


"Ish, bener kata ummi, kamu emang anak nakal! Bisa-bisanya bohongin orang tua demi aku." Rina menatap kesal Arya, walau dia juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya di dalam hati.


"Eh, kamu juga tau kalau aku udah gak sakit kan? Berati kamu juga ikut bohongin ummi dong?" Arya tidak terima dituduh bohong sendiri.


"Eh, kok malah nyalain aku?" Rina mengerutkan alisnya kesal.


"Enggak, siapa yang nyalain kamu, sayang? Aku enggak tuh," kilah Arya yang merasa dirinya telah salah bicara, dalam hati dia merutuki dirinya sendiri.


"Tapi semua ini juga gak akan berarti kalau kamu gak bisa membuat ummi nyaman, sayang. Aku hanya memberi jalan untuk kamu, dan selebihnya kamu yang mendekati ummi dengan caramu sendiri," ujar Arya lagi, sambil berjalan bersama Rina ke dalam rumah.


"Iya, semoga saja setelah dari sini, ummi dan abi bisa melihatku dari sudut pandang yang berbeda, dan mereka bisa merestui hubungan kita," jawab Rina dengan tatapan penuh harap.


"Amiin, aku yakin pintu hati ummi sudah mulai terbuka untuk kamu, sayang," ujar Arya sambil tersenyum yakin.


"Jangan sok tau, nanti aku geer." Pipi Rina tampak terlihat memerah karenanya.


"Aku bisa lihat semua itu dari perlakuan ummi sama kamu, sayang," ujar Arya.


Sampai di dalam rumah, Ray yang sedang menonton televisi menoleh melihat sepasang kekasih yang tengah berbincang itu. Ah dia merasa tertindas sebagian jomlo sejati, padahal sikap Arya dan Rina biasa saja, tetapi tetap terlihat mesra di depan Ray yang sedang tidak mempunyai pasangan.


"Kak Rina, ponsel kakak berdering tuh," ujarnya sambil melirik tas Rina yang tergeletak begitu saja di sofa.


"Oh ya, makasih, Ray," ujar Rina sambil mengambil ponselnya di tas, kemudian melihat id nomor di layar.


Dia kemudian menatap pada Arya saat sudah melihat id nomor itu. Arya tampak melihat pada layar ponsel Rina untuk melihatnya dia kemudian mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Rina yang merasa ragu melihat pada Ray lebih dulu sebelum mengangkat telepon.


"Ish, apa sekarang Kak Arya dan kak Rina mengusirku dari sini juga?" tanya Ray dengan wajah kesalnya, dia malah melipat kakinya di atas sofa sambil memangku cemilan sebagai pelengkap menonton.


"Lebih baik kalian saja yang pergi jika mau berpacaran, jangan ganggu jomlo yang sedang menikmati hidup," sambungnya lagi sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, hingga setengah tertidur.


Rina tersenyum pada Ray, dia kemudian melihat Arya dan berpamitan untuk mengangkat telepon yang langsung diangguki oleh Arya. Laki-laki itu kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping sang adik sambil mengambil cemilan dan memakannya.


Sementara itu, Rina pergi ke dapur sambil menempelkan ponsel di telinganya.


"Rin, apa sekarang kita sudah bisa bertemu? Tari pulang dan dia meminta bertemu dengan kamu," ujar Anjas begitu teleponnya diterima oleh Rina.


Sebenarnya beberapa hari yang lalu Anjas juga sudah mengabari Rina melalui pesan, tetapi Rina meminta waktu karena dia sedang menemani orang tua Arya.


"Bisa, bagaimana kalau besok? Nanti aku kabarin lagi waktu dan tempatnya," jawab Rina.


"Oke, aku setuju. Terima kasih ya, Rin. Maaf, sekali lagi aku merepotkan kamu," ujar Anjas dengan suara yang terdengar bahagia.


"Aku hanya ingin membantu," jawab Rina.


Telepon pun terputus begitu saja setelah urusan mereka selesai, Rina kembali ke dalam untuk mengambil tas kemudian harus segera pergi menjemput Bintang di sekolah.


"Aku saja yang menjemputnya, kalian tunggu saja aku di sini!" ujar Ray penuh semangat sambil segera berdiri hingga cemilan di pangkuannya hampir saja tumpah, jika tidak segera ditangkap oleh Arya.


"Tapi, aku harus ke resto," jawab Rina dengan wajah terkejutnya.


"Ya sudah, tunggu aku di resto, sekalian aku mau numpang makan siang di sana, boleh kan?" tanya Ray tanpa mengurangi semangatnya.


Rina mengangguk, entah ke mana sosok Ray yang bisanya terlihat dewasa itu. Kini setelah ummi dan abi pergi Rina malah terkejut dengan perubahan sikap Ray yang ceria dan kekanakan.


"Yes, Kak Rina memang baik! Aku restui Kak Rina dengan Kak Arya, asal berikan aku makan gratis di resto!" teriak Ray sambil berlari menuju ke kamarnya untuk mengganti baju.


"Itulah kenapa ummi dan abi berat untuk mengizinkannya kuliah di sini bersamaku," ujar Arya sambil menggeleng lemah melihat kelakuan sang adik.


Ray yang merupakan anak bungsu membuatnya mendapat banyak kasih sayang dari ummi dan abi, juga satu lagi kakak perempuannya, yaitu anak pertama abi dan ummi yang sudah menikah beberapa tahun lalu, kini dia ikut suaminya ke luar negri hingga jarang bisa berkumpul bersama.


Semua itu membuat Ray menjadi anak yang sedikit manja dan pemalas, juga keras kepala. Walau begitu Ray juga termasuk laki-laki yang sensitif terhadap keadaan sekitar dan perhatian pada semua keluarganya, walau kadang ujung-ujungnya ada yang dia minta.


Sikap dewasa di depan abi dan ummi hanya berpura-pura agar dia bisa dibolehkan untuk tinggal bersama Arya, setelah menghabiskan beberapa tahun kuliah S1 di luar negri bersama kakak wanitanya.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2