Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.61 Kisah


__ADS_3

Setelah shalat maghrib bersama, Rina dan Anisa diajak memasak bersama oleh ummi, untuk makan malam bersama setelah shalat isya nanti.


Semua bahan sudah disiapkan sebelumnya, hingga kini ketiga perempuan itu hanya tinggal mengalahkan saja hingga menjadi sebuah makanan.


"Biasanya kalau ada acara seperti ini ummi akan memesan makanan, karena banyak saudara yang datang berkumpul. Tapi, karena sekarang Arya ingin kita menghabiskan waktu bersama-sama tanpa ada para saudara lainnya, jadi kita masak yang sedehana saja ya," ujar ummi ketika mereka bertiga berjalan ke dapur yang berada di bagian belakang rumah.


Rina dan Anisa mengangguk setuju, dengan ucapan ummi.


"Karena ini adalah hari jadi pernikahan abi dan ummi, bagaimana kalau kali ini ummi gak usah ikut masak?" tanya Anisa memberi saran, sambil melirik pada Rina, meminta bantuan.


"Boleh, ummi hanya mengawasi kita dan memberi arahan, sedangkan kita yang memasak," jawab Rina menyetujui saran dari Anisa, seolah tahu arti dari pandangan Anisa sebelumnya.


Rina sempat berbincang dengan Anisa saat mereka berjalan ke kamar tamu bersama-sama. Ternyata Anisa adalah sosok perempuan yang baik dan ramah, dia juga mudah bergaul, hingga membuat keduanya cepat akrab walau dalam waktu sebentar saja.


Rina yang terus berfikir baik tentang kedekatan ummi dan Anisa memilih untuk mengacuhkan rasa mengganjal di dalam hati, dan menikmati waktu bersama dengan keluarga Arya dan berusaha untuk akrab tanpa harus berpura-pura.


"Tapi--" Ummi hendak mengucapkan keberatan pada dua perempuan muda di sampingnya.


"Sudahlah ummi, lebih baik ummi duduk di sini dan lihat kami berdua memasak." Anisa tampak menarik kursi untuk ummi duduk.


"Iya kan, Mba Rina?" tanya Anisa lagi meminta persetujuan dari Rina.


"Iya, ummi lebih baik duduk saja, biar kami yang memasak," angguk Rina sambil membantu ummi untuk duduk di atas kursi.


"Baiklah, kalau begitu ummi akan bersantai di sini. Kalian masak yang enak ya," ujar Umi sambil terkekeh ringan, sudah kalah dengan kedua perempuan muda itu.


"Ayo, Mba, kita memasak sekarang," ajak Anisa sambil mengambil tangan Rina untuk berjalan bersama.


Rina yang memang sudah sangat mahir dalam memasak pun tidak masalah oleh kegiatan itu, begitu juga Anisa yang ternyata juga tak kalah pintar dari Rina dalam hal mengolah bahan makanan. Jilbab panjang hang dia gunakan bahkan tidak menjadi penghalang untuknya bergerak di dapur yang terasa mulai panas. Rina kagum pada Anisa.


Kedua perempuan itu kini terlihat sibuk di dapur dengan masakannya masing-masing, sesekali ummi akan mendatangi keduanya lalu mencicipi hasil masakan yang masih setengah jadi sambil memberi saran jika ada yang kurang cocok.


Perbincangan antara mereka pun tampak semakin akrab, Rina yang awalnya merasa canggung sekarang terlihat lebih santai dari sebelumnya. Ternyata kehadiran Anisa mampu membantu Rina untuk mencairkan suasana, mengingat ummi yang memang tidak terlalu banyak bicara.


Makan malam pun berlangsung dengan sangat baik, semua orang memuji masakan yang dibuat oleh Rina dan Anisa. Mereka pun makan dengan lahap bersama celotehan Bintang sebagai penambah meriah suasana malam itu.


Rina yang membawa kue dari tokonya pun menyajikannya sebagian makanan penutup malam ini.

__ADS_1


"Wah, makan malam ini terasa begitu spesial, karena dimasak oleh dua tamu kita," ujar ummi sambil melihat Rina dan Anisa bergantian.


Rian dan Anisa tampak tersenyum malu, mendapat pujian dari ummi, hingga membuat ummi terkekeh.


"Mama kan memang jago masak," ujar Bintang dengan penuh percaya dirinya, hingga membuat semua orang disana tertawa dibuatnya.


Sedangkan Arya hanya mengerlingkan salah satu matanya pada Rina sambil mengacungkan ibu jari, tanda dia bangga pada wanita yang kini menjadi kekasihnya itu.


Malam itu Rina yang berniat untuk menginap di hotel, malah dipaksa untuk menginap di rumah kedua orang tua Arya.


"Untuk apa menginap di hotel? Di sini juga masih ada kamar kosong." Itu adalah perkataan abi saat Arya ingin pamit untuk mengantarkan Rina dan Bintang.


"Lebih baik kamu anatar Anisa saja, gak enak sudah malam begini kalau Anisa pulang sendiri." Ummi pun menimpali.


"Tapi, ummi--"


"Kamu turuti saja ummi, gak usah bantah," tekan ummi dengan tatapan tajamnya.


Rina bahkan sempat terkejut dengan ketegasan ummi pada anak anaknya. Padahal jika diperhatikan sejak tadi ummi adalah sosok yang lembut dan murah senyum walau memang jarang bicara hingga terkesan cuek pada Rina dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Anisa dan mengabaikannya.


"Baiklah, aku antarkan Anisa dulu, Abi, Ummi," izin Arya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Kamu tau kalau kita dijodohkan?" tanya Arya saat dirinya dan Anisa sedang dalam perjalanan. Jarak rumah abi dan rumah Anisa hanya membutuhkan waktu sepuluh menit jika jalanan sedang lancar, dan akan menjadi tiga puluh menit jika jalanan sedang macet.


Anisa mengangguk sebagai jawaban, dia memang tahu kalau kedua orang tuanya berusaha untuk menjodohkannya dengan Arya.


"Tapi, aku sudah memiliki wanita yang disukai, Nisa. Maaf, aku tidak bisa melanjutkan perjodohan ini," jawab Arya sambil fokus untuk menyetir.


Alasan Arya menerima perintah ummi untuk mengantarkan Anisa pulang, karena memang dirinya juga membutuhkan ruang untuk berbicara dengan teman masa kecilnya itu.


"Mba Rina ya?" tanya Anisa lirih, dia hanya menunduk tanpa mau melihat wajah Arya secara terang-terangan. Sesekali saja Anisa tampak meliriknya, walau hanya sekilas.


"Iya. Dia memang perempuan yang sudah menguasai hatiku," jawab Arya yakin. Arya tidak mau memberikan harapan untuk Anisa, terlebih hubungan mereka sudah dekat dari dulu.


Anisa tampak tersenyum tipis, sambil mengangguk anggukan kepalanya samar. Arya mengerutkan kening, bingung melihat reaksi Anisa.


"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Arya, melihat Anisa sekilas.

__ADS_1


"Aku ikut senang untuk kamu, Mas," jawab Anisa, terdengar ambigu di telinga Arya.


"Hah?! Kamu gak apa-apa kalau aku menolak perjodohan ini?" tanya Arya sambil melirik sekilas perempuan di sampingnya.


Anisa menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Jangan-jangan kamu juga tidak setuju dengan perjodohan ini?" tanya Arya menebak.


Anisa tidak menjawab, dia hanya tersenyum kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi, kemudian menatap ke luar jendela mobil, melihat keramaian malam di kota itu.


Arya tersenyum sambil menghembuskan napas lega, melihat sikap Anisa yang ternyata juga sama dengannya. Perempuan itu pun ternyata tidak mengharapkan ada perjodohan ini.


.


"Kamu yakin ingin mendengarkan ini?" tanya Anjas saat dia baru saja mendengar ucapan Tari yang menyetujui syaratnya.


"Iya, aku akan diam sebelum kamu selesai menceritakan semua ini, Mas," angguk Tari. Wanita itu ingin mendengar cerita dari Anjas langsung, walau dia juga belum tahu apa itu akan menyakitinya lebih banyak atau malah mengeluarkannya dari rasa sakit yang begitu menyiksa ini.


Anjas menarik napas dalam hingga terasa memenuhi seluruh rongga dada, kemudian menghembuskannya perlahan sebelum menceritakan kisahnya dan Rina.


"Aku dan Rina menikah tujuh tahun lalu, dia saat kita berdua belum menikah," ujar Anjas memulai ceritanya.


Tari melebarkan matanya, dia menatap Anjas penuh tanya saat mendengar ucapan mengejutkan dari sang suami, dia hampir saja menyela jika Anjas tidak memberi isyarat agar tetap diam.


"Itu semua bukan keinginan kami berdua, ada kejadian yang memaksa untuk untuk menikah secara siri dengan Rina --" Anjas menceritakan semua masa lalunya tentang Rina hingga akhirnya dirinya dan Rina memutuskan untuk bercerai di saat Rina sedang mengandung Bintang.


Tari bungkam, dia hanya terus terisak dengan air mata yang kembali berlinang. Wajahnya sangat mencerminkan jika saat ini dia sedang merasa terkejut dan kecewa secara bersamaan.


"Setelah perceraian itu, aku dan Rina tidak lagi berhubungan, kami memutuskan untuk tidak mengganggu satu sama lain. Dia bahkan memutuskan semua akses yang aku punya, hingga akhirnya kami bertemu lagi beberapa waktu yang lalu, saat aku mengatar kamu periksa ke rumah sakit dan terus bertemu entah itu sengaja atau karena ada sesuatu yang harus kami bicarakan tentang Bintang."


Anjas menjelaskan perkataannya, dia perhatikan wajah Tari yang terlihat kacau, wanita itu hanya menuduk sambil terisak lirih.


"Tidak ada niat untuk aku berselingkuh dengannya, Tari. Aku hanya ingin mengakui anakku yang dulu pernah aku ratugukan keberadaannya, karena kebodohanku," jelas Anjas.


"Aku ingin menebus kesalahanku pada Rina dan Bintang," lirih Anjas.


"Lagi pula sekarang Rina bahkan sudah memiliki calon suami yang kamu sendiri pasti tau siapa orangnya. Jadi aku mohon, jangan lagi membuat masalah pada Rina, sudah cukup dia menderita karena kebodohanku, Tari. Jangan buat aku semakin malu karena kesalahpahaman kamu padanya."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2