
Pagi menjelang, Rina bangun dengan rasa mual yang teramat sangat, dia bergegas pegi ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
Rina terus muntah di kamar mandi hingga tubuhnya terasa sangat lelah. Dia kemudian membasuh wajahnya di wastafel dengan napas yang terengah, setelah dirasa mualnya sudah mereda.
Wanita itu tersenyum sarkas saat melihat penampilannya di cermin, wajah sedikit pucat, rambut berantakan, dan bentuk tubuh yang biasa saja.
"Aku terlihat sagat menyedihkan. Pantas saja Mas Anjas lebih memilih wanita itu dibandingkan dengaku," ujarnya dengan senyum sarkas.
Bayangan senyum bahagia dan tatapan penuh cinta Anjas dari potret kebersamaannya dengan Tari, membuat hati Rina semakin teriris.
"Dia memang cantik, aku bahkan tidak ada seujung kuku pun dari wanita itu, pantas jika sekarang Mas Anjas lebih memilih bersamanya dibandingkan dengan aku." Kembali Rina bergumam dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Namun, ingatannya kini kembali pada sang anak yang sedang dirinya kandung, penyemangat untuk memperjuangkan haknya sebagai seorang istri dan hak untuk anaknya nanti.
"Baiklah, mulai sekarang kita harus kuat ya, sayang. Bantu Mama untuk hidup sendiri, agar ayah kamu bisa bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan kepada kita. Jika memang dia tidak menganggap Mama sebagia istrinya, setidanya dia harus menganggap kamu sebagai anaknya," gumam Rina, sambil menghapus tetes air mata di pipinya. Tangannya mengelus lembut perut bagian bawahnya.
"Semangat untuk kita berdua!" ujar Rina lagi, wanita yang tengah hamil muda itu kini beranjak dari wastafel.
"Kamu tidak boleh lahir tanpa seorang ayah, Nak. Mama akan tetap bertahan demi kamu," ujar Rina membulatkan tekadnya.
.
Suara ketukkan di pintu rumah, mengalihkan perhatian Rina dari kegiatannya yang sedang menyiapkan sarapan pagi dengan baju rumahan.
Rian menghentikan kegiatannya, dia berjalan menuju ke depan, demi melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi begini.
"Loh, Bang Hilman, ada apa datang pagi-pagi begini?" tanya Rina begitu dia membuka pintu.
Rina cukup terkejut dengan kedatangan Hilman yang tidak biasanya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Hilman sambil memperhatikan wajah Rina.
Rina menggeleng dengan kerutan dalam di keningnya, dia merasa bingung dengan kehadiran Hilman.
"Duduk dulu, Bang, biar aku ambilkan minum dulu," ujar Rina lagi.
Hilman mengangguk, laki-laki itu tampak mengusap tengkuknya seolah ada sesuatu yang mengganjal dan perlu disampiakan pada Rina.
"Sebenarnya ada apa, Bang?" tanya Rina begitu dia kembali dengan membawa secangkir kopi untuk Hilman.
Jujur saja, sebenarnya hatinya masih sakit karena kebohongan yang dibuat Hilman untuk menutupi bulan madu Anjas dan Tari. Akan tetapi, Rina berusaha untuk bersikap tenang, karena memang dirinya tidak bisa memaksakan anjas untuk berpihak padanya.
"Aku tau, Bang Hilman, pasti memiliki tujuan sesuatu datang ke sini, kan?" ujar Rina, menatap Hilman yang sedang menyeruput kopi buatannya.
__ADS_1
"Ukuk!" Hilman yang mendengar perkataan Rina, langsung tersedak akibat terkejut.
Padahal perkataan yang diucapkan Rina adalah ucapan biasa bagi orang yang kedatangan tamu. Akan tetapi, mengapa rasanya mengagetkan untuk Hilman.
"Pelan-pelan," ujar Rina menoleh pada laki-laki di sampingnya.
Hilman terus terbatuk hingga beberapa saat, sebelum akhirnya berhenti dengan wajah yang memerah akibat sesak napas.
"A–apa maksud kamu, Rin? Aku hanya ingin melihat kondisi kamu, sebelum berangkat ke kantor," jawab Hilman tidak berbohong.
"Memang aku kenapa? Bukannya kita baru saja bertemu tadi malam?" tanya Rina dengan ekspresi wajah yang datar.
"I–itu, aku–" Hilman tampak bingung mau menjawab apa.
"Itu karena, Bang Hilman, takut aku melihat akun sosial media milik Mas Anjas dan Tari, kan?" tanya Rina, yang membuat Hilman langsung melebarkan matanya.
"Tenang saja, aku gak akan menyalahkan siap pun kok. Aku cukup tau diri ... karena di sini akulah yang bersalah, karena mempertahankan Mas Anjas yang sudah mau jujur tentang perasaannya yang tidak mencintaiku." Rina tersenyum kecut, mengingat statusnya dan nasib hubungannya dengan Anjas.
"Jadi, kamu sudah mengetahuinya?" tanya Hilman yang langsung diangguki oleh Rina.
"Aku hanya penasaran, karena sudah beberapa hari ini Mas Anjas tidak ada kabar. Sedangkan, Bang Hilman, terus menutupinya." Rina tersenyum tipis, sambil sedikit menundukkan kepala, menyembunyikan matanya yang sudah menghangat.
"Jadi aku memutuskan untuk mencari tahunya sendiri," sambung Rina lagi lirih.
Rina mengangkat wajahnya dengan senyum tipis yang malah terlihat begitu menyakitkan di mata Hilman.
"Aku gak apa-apa, bukannya bulan madu memang sudah bisa bagi pasangan suami istri? Lalu untuk apa aku memikirkan hal itu? Heuh!"
Hilman terdiam, dia hanya bisa menunduk tanpa bisa menjawab perkataan Rina lagi. Di dalam hati dia merutuki Anjas yang telah membuatnya berada di dalam situasi yang sulit ini.
Pagi itu rasa bersalah di hati Hilman pada Rina mulai tumbuh, Hilman merasa dirinya telah menutupi sesuatu yang salah. Dirinya lupa kalau Rina juga istri Anjas, yang berhak mengetahui apa pun tentang suaminya.
.
Hari berlalu, di bandara kedatangan domestik sepasang suami istri tampak berjalan berdampingan dengan dengan sangat serasi dan mesra tentunya.
Hilman berdiri di samping mobilnya, dia setia menunggu kedatangan kedua sahabatnya yang baru pulang berbulan madu, setelah dua minggu ini berasa di pulau Bali dan Lombok.
"Selamat datang lagi," ujar Hilman menyambut kedatangan Anjas dan Tari.
"Hai, Hilman, akhirnya kita ketemu lagi." Tari melambaikan tangannya, menyapa Hilman, sedangkan Anjas hanya tersenyum sambil mengadukan kepalanya tangannya dan Hilman.
"Kenapa kamu sendiri yang menjemput kami, Man? Bukannya kamu bisa menyuruh sopir untuk menjemput kita?" tanya Tari, menatap curiga dua orang laki-laki yang kini tengah bersamanya.
__ADS_1
"Aku ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Anjas dan ini mendesak," jawab Hilman sambil mulai fokus mengemudi.
"Ish, kamu ini, Man. Anjas baru saja sampai sudah kamu beri pekerjaan saja," dengus Tari, tidak suka.
"Kalian pergi untuk berlibur dan memberiku segudang pekerjaan, jadi jangan harap setelah ini bisa berleha-leha, ya," ancam Hilman tersenyum penuh arti pada Anjas yang duduk di sampingnya.
Jujur saja, Hilman menjemput Anjas dan Tari di bandara bukanlah karena masalah pekerjaan. Kalau hanya masalah itu, dia sendiri masih bisa menanganinya dengan baik.
Namun, jika itu adalah masalah Rina, Hilman sudah tidak sanggup terus merasa bersalah padawanita itu. Selama dia menemaninya, tidak sekali pun Hilman mendengar Rina mengeluh, padahal Hilman jelas bisa melihat kesedihan di dalam sorot mata wanita itu.
Hilman dibuat makin khawatir, saat melihat tubuh Rina yang semakin terlihat kurus dibandingkan dengan sebelumnya, dan wajahnya yang selalu terlihat pucat. Akan tetapi, tidak mau dia ajak periksa ke dokter.
"Enggak apa-apa, sayang, aku paling hanya sebentar," ujar Anjas seolah tahu apa yang dimaksud oleh Hilman.
"Heem, baiklah." Tari terpaksa mengizinkan suaminya untuk langsung bekerja bersama dengan Hilman
Setelah mengantar Tari ke rumah orang tuanya, Anjas dan Hilman kembali masuk ke dalam mobil dan melaju menyusuri jalanan kota itu.
"Ada apa sih, Man? Kenapa kamu mendesak untuk berbicara, padahal kamu tahu kalau aku capek," kesal Anjas.
"Kamu masih berani nanya kenapa, Jas, setelah semua yang kamu lakukan kepadaku, hah?!" tanya Hilman, dengan nada kesal. Dia menoleh dengan kening berkerut dalam pada sahabatnya itu.
"Kamu tiba-tiba nitipin wanita yang sedang hamil muda sama aku, sedangkan kamu asik-asikan bulan madu sama Tari! Menurutmu siapa yang lebih capek, hah?" sambung Hilman lagi, mengeluarkan segala unek-unek yang lama terpendam.
"Iya, sory-sory. Ini kan di luar rencana, Man. Mana aku tau, kalau Rina akan menyusul ke sini di saat hari pernikahan aku dan Tari ... padahal aku sudah melarangnya untuk datang," jawab Anjas dengan suara terdengar lirih di kalimat terakhirnya.
"Terserah lah, aku gak perduli dengan masalah rumah tangga kamu itu, yang penting sekarang kamu urus Rina, aku gak mau berada dalam keadaan serba salah lagi!" Hilman benar-benar mengeluarkan emosinya saat ini.
Hilman tampak mendengus, saat melihat Anjas yang menghela napas kasar berulang kali.
"Aku juga merasa kasihan sama Rina, Jas. Dia perempuan yang baik dan polos, dia gak pantas kamu perlakuan seperti ini, Jas." Hilman kembali berbicara dengan nada yang terdengar lebih pelan.
"Aku bingung, Man. Dia tidak mau aku antar ke kampung atau aku ceraikan–"
"Kamu gila, Jas! Wanita mana yang mau diceraikan disaat sedang hamil muda!" sentak Hilman menatap kesal Anjas.
"Tapi, daripada kita sama-sama tersiksa seperti ini, bukannya lebih baik menyerah saja? Aku tidak mungkin bisa meluangkan waktu untuknya disaat ada Tari, lagi pula aku juga gak cinta sama dia. Dia hanya gadis kampung yang jauh berbeda dengan Tari, kamu juga bisa melihat itu kan?" Anjas berbicara panjang lebar, berusaha menjelaskan apa yang dia rasakan.
"Kamu bilang dia gak menarik, gak seperti Tari? Tapi, kamu hamilin dia? Dasar munafik!" hardik Hilman.
"Siapa yang menjamin kalau dia hamil anakku?"
...****************...
__ADS_1