
Anjas menyudahi sambungan teleponnya dengan Tari setelah hampir tiga puluh menit berbicara. Akibat terlalu lama, Ajas bahkan lupa kalau dirinya sedang berada di rumah Rina, hingga dia tanpa sungkan mengeluarkan kata-kata manis dan rayuannya pada istri barunya itu.
"Astaga, aku lupa kalau ini masih di rumah Rina!" panik Anjas sambil mencoba memastikan kalau tidak ada Rina di sekitarnya.
"Heuh! Untung saja dia belum ke luar dari kamar," gumam Anjas, mengusap dada bidangnya yang terasa berdegup kencang.
Rina yang sebenarnya sudah mendengarkan hampir setengah dari pembicaraan Anjas dan Tari hanya bisa mengendalikan diri dari rasa cemburu yang terus menekan dadanya hingga terasa sesak.
Setelah melihat Anjas menyudahi perbincangannya, dengan cepat Rina berusaha meneralkan kembali raut wajahnya dan masuk ke dalam kamar, dia kembali ke luar setelah memastikan kalau Anjas sudah ada di depan kamarnya lagi.
"Mas, aku lama ya. Maaf," ujar Rina seolah dia sedang merasa bersalah.
"Gak kok, kamu gak lama." Anjas merangkul pundak Rina kemudian mengajaknya berjalan bersama menuju ruang makan.
"Aku udah lapar nih, yuk kita makan. Aku kangen banget sama masakan kamu, Rin," sambung Anjas lagi, mengeluarkan kata manisnya pada Rina.
Walau kini Rina tidak tahu apa itu tulus atau hanya sebuah rayuan kosong semata
"Eum ...." Rina hanya mengangguk sambil tersenyum lebar, menyembunyikan hatinya yang terasa sakit.
Istri mana yang akan baik-baik saja disaat dia mendengar suaminya berbicara mesra dengan perempuan lain. Walaupun dia tahu kalau itu adalah madunya sendiri.
Dengan telaten Rina menyiapkan makan malam untuk Anjas, mengambilkan makanan di piring sudah menjadi hal biasa bagi Rina, dia sudah terlihat sangat cekatan untuk hal itu.
"Silahkan, Mas," ujar Rina, sambil menaruh piring berisi menu makan malam yang sudah dia siapkan di depan suaminya.
Rina kemudian mengambil makanan untuknya sendiri, kemudian minum untuk mereka berdua.
Sesuai janji Anjas, laki-laki itu benar-benar menemani Rina untuk makan malam, walau Rina bisa melihat dengan jelas kegelisahan di wajah Anjas, hingga Anjas terlihat makan dengan terburu-buru.
"Mas, setelah makan, boleh gak temani aku mencari toko buah yang lengkap? Aku lagi mau makan rujak, tapi tukang rujaknya gak dagang," pinta Rina di sela kegiatan makan mereka.
"Uhuk!" Anjas yang sedang memikirkan cara menghadapi Tari setelah pulang dari rumah Rina nanti, malah tersedak mendengar permintaan Rina.
__ADS_1
"Hati-hati, Mas, pelan-pelan makannya." Rina segera bangun dari duduknya dan menyodorkan gelas berisi air putih pada Anjas.
Anjas menenggak air di dalam gelas hingga tandas, dia kemudian menganggukkan kepala pelan sebagai jawaban.
"Maaf, aku gak hati-hati jadi mengagetkan kamu," ujar Anjas yang sudah bisa mengendalikan batukuknya.
"Gak apa, Mas, ayo makan lagi," jawab Rina, tersenyum lembut, dia pun kembali duduk di tempatnya.
"Rin, maaf ... sepertinya, aku gak bisa mengantar kamu mencari buah malam ini. Aku–" Anjas tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.
Rina tersenyum tipis, dia tahu suaminya itu tidak akan mau untuk menemaninya. Akan tetapi, entah kenapa kata-kata yang berusaha dia pendam, malah ke luar sendiri tanpa bisa tertahan.
Kini, Rina sendiri yang merasakan sakit, karena penolakan Anjas dan lagi-lagi harus mengalah dengan keadaan dan kenyataan, bahwa sekarang Anjas telah menjadi milik orang lain, sedangkan setatus dirinya hanyalah seorang wanita yang dinikahi secara sirih dan sembunyi-sembunyi.
"Iya, gak apa-apa kok, Mas. Aku ngerti," angguk samar Rina. Tenggorokan Rina terasa sangat kering saat dia mengatakan kalimat menyesakkan itu.
Rina bahkan harus meneguk air agar tenghorokannya terasa lembar kembali.
Sungguh, di dalam pikirannya Rina ingin membantah dan kemudian berdebat dengan Anjas demi Anjas tetap berada di sampingku.
Anjas melihat Rina dengan tatapan bersalah, walaupun di dalam hatinya masih ada rasa ragu tentang anak yang dikandung Rina. Akan tetapi, entah mengapa, setiap kali Anjas melihat wajah wanita itu, dia selalu merasa iba dan bersalah hingga tidak tega untuk berkata kasar.
"Maaf, Rin," ujar Anjas sambil menundukkan wajahnya, sungguh saat ini dia merasa tidak berdaya.
"Gak apa-apa, Mas, aku baik-baik aja kok ... beneran!" Rina berkata dengan wajah tersenyum lebar, walau hatinya semakin terasa sakit.
Rina bahkan merutuki dirinya sendiri yang malah berusaha tampil sok kuat, padahal hatinya sudah hancur lebur sejak tadi.
"Ya sudah, besok aku suruh Hilman untuk menemani kamu mencari toko buah atau tukang rujak, ya," bujuk Anjas, mengira itu bisa menggantikan keberadaan dirinya.
"Gak usah, Mas. Aku besok bisa cari sendiri, atau malah mungkin gak mau lagi," tolak Rina menggeleng pelan.
Makan malam pun berlangsung, hingga setelah selesai Anjas langsung pamit untuk pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Aku pulang dulu, nanti kalau aku sempat aku akan menjengukmu lagi," ujar Anjas dengan suara yang sangat ringan seolah tanpa beban.
Anjas tidak tahu kalau kata-katanya sangat membuat hati Rina tersakiti. Rina hanya mengangguk sebagai jawaban, rasanya dia sudah tidak sanggup lagi berpura-pura untuk baik-baik saja di hadapan suaminya.
Rina melihat suaminya naik ke taksi online yang dia pesan, kemudian menatapnya sampai menghilang ditelan kegelapan malam.
"Sesungguhnya, aku hanya membutuhkan kehadiranmu, Mas. Bukan laki-laki lain sebagai pengganyimu," gumam Rina dengan hati yang teriris.
Kata itu yang ingin dia ucapkan di depan Anjas, walau ternyata lidahnya tidak mengizinkan untuk mengungkapkannya.
Setelah kepergian suaminya, air mata Rina mengalir begitu saja diiringi dengan senyum kecut di bibirnya.
Kalau sempat? Sepertinya aku memang hanya dianggap sebagai beban untukmu, Mas, batin Rina, dia kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Dibalik pintu, tubuh Rina merosot hingga duduk lemas di atas lantai, dia menangis sejadi-jadinya mengeluarkan rasa sesak yang sejak tadi sudah membuatnya tersiksa. Hanya meminta untuk menemani membeli buah agar mengidamnya terpenuhi saja rasanya sangat sulit bagi Anjas.
Selama Anjas berada di rumah, laki-laki itu bahkan tidak pernah menyentuh atau membahas sedikit pun tentang kehamilannya, seolah Anjas tidak mengakui anak yang telah dikandungnya.
Sakit ....
Sungguh ... rasanya begitu menyakitkan hingga tidak bisa lagi Rina tahan.
Mengingat semua perlakuan Anjas padanya, membuatnya menjadi bimbang. Apakah Anjas masih mengakuinya sebagai istri, atau dia sudah tidak berarti lagi untuk suaminya?
"Sabar, Rina ... mungkin Mas Anjas, seperti itu karena dia masih pengantin baru dengan Tari. Lagipula dia juga masih bersikap baik padaku, lalu apa masalahku sekarang? Saat ini Mas Anjas pasti juga dalam keadaan bingung untuk mengatakan keberadaanku sebagai istrinya pada keluarga dan Tari." Rina berbicara sendiri, setelah meredam isak tangisnya.
"Iya, aku yakin kalau aku bisa bersabar dalam situasi ini, suatu hari nanti aku dan Mas Anjas bisa bersama lagi," sambung Rina lagi, menyemangati dirinya sendiri.
"Semoga saja sabarku akan bisa membawa bahagia, suatu hai nanti."
Tanpa Rina sadari di rumah seberang ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan sorot yang rumit, seseorang itu langsung masuk ke dalam rumah setelah melihat Rina pun masuk.
Siapakah dia?
__ADS_1
...****************...