Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.83 Malu


__ADS_3

Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kini Rina pulang dengan suasana hati yang begitu bahagia karena membawa hadiah berupa restu atas hubungan dirinya dan dan Arya.


"Aku harap kalian menikah sebelum aku kembali ke luar negeri, agar aku bisa mendampingi kalian," ujar Ranti ketika mereka mengantarkan Rina dan Arya yang hendak kembali ke kota, mengingat pekerjaan mereka berdua menunggu di sana.


"Aku juga berharap begitu, Ran. Kalau Rina setuju, aku menikah bsok juga gak apa-apa," jawab Arya dengan wajah menggoda, dia mengerlingkan matanya pada Rina hingga membuat wanita itu tersipu.


"Eh, engga begitu juga. Menikah itu adalah sesuatu yang spesial, jadi setidaknya kita harus mengadakan syukuran atas semua itu, tidak asal main berangkat ke KUA saja, lagi pula kasihan kan Rina kalau kalian menikah seperti itu." Ummi langsung tidak menyetujui perkataan Arya.


"Iya, nih, kak Arya, ngebet banget sih, mentang-mentang sekarang calonnya Kak Rina. Padahal dulu, setiap kali dikenalin perempuan sama Ummi selalu beralasan belum mau menikah." Ray ikut menggoda kakak sulungnya.


"Ish, berisik banget sih anak satu ini!" Arya memiting leher Ray hingga adiknya itu mengaduh.


"A--aduh, Ummi, Kak Arya mainnya kasar nih!" adunya manja.


Namun, ummi yang sudah tidak aneh lagi dengan kelakuan kedua putranya itu hanya menggeleng lemah tanpa mau memisahkan mereka.


"Biarkan saja mereka, nanti juga berhenti sendiri," ujar ummi yang malah melanjutkan langkahnya menuju ke luar rumah bersama dengan Rina dan Ranti.


Setelah berpamitan sebentar, Arya, Rina, Bintang, dan Ray pun pergi dari rumah abi dan ummi. Mereka belum memastikan tanggal pernikahan Arya dan Rina, karena ummi masih sibuk untuk mempersiapkan kelahiran cucu pertamanya.


Walau begitu, ummi juga akan mulai mempersiapkan beberapa keperluan untuk pernikahan Arya dan Rina, karena jika memang bisa dilakukan, setelah Ranti pulih ummi ingin pernikahan Arya dan Rina segera dilangsungkan.


Lagi pula Rina juga tidak ingin pernikahan yang mewah, dia hanya ingin penikahan sederhana yang dihadiri oleh kerabat dekat saja. Pengalaman gagal dalam rumah tangga, membuat Rina tidak lagi mempermaslahkan sebuah pesta, menurutnya itu hanya sebagai pelengkap saja.


Sesungguhnya yang terpenting di dalam pernikahan adalah kesiapan calon mempelai itu sendiri, dengan siapa dia menikah, dan bagaimana mereka akan menjalani kehidupan rumah tangga bersama ke depannya.


Mempersiapkan diri untuk kembali membagi hidupnya dengan orang lain tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Walau dirinya sudah lama mengenal Arya, tetapi mereka belum pernah tinggal satu rumah apa lagi dengan waktu yang lama.


Sepanjang perjalanan pulang Arya terus mencuri pandang pada Rina yang kini duduk di sampingnya. Rasa bahagianya begitu membuncah hingga senyum terasa tidak bisa pergi dari wajahnya. Restu yang diberikan oleh kedua orang tuanya, membuat laki-laki itu merasa lega juga sangat bahagia.


Namun, kebahagiaan di hati keduanya kini sedikit terganggu oleh mobil hitam yang tampak kembali mengikuti mereka. Walau sebisa mungkin ketiga orang dewasa itu menyembunyikan perasaan khawatirnya, tetapi tetap saja perjalanan mereka terasa jadi lebih tegang dari sebelumnya.


Beberapa jam berkendara, akhirnya Arya menghentikan mobilnya di depan rumah Rina. Arya mengantar Rina sampai ke depan pintu sambil memperhatikan mobil yang tampak berhenti beberapa meter dari tempat mereka.


"Kamu yakin gak mau aku temenin sampai Heni pulang?" tanya Arya yang merasa khawatir pada Rina dan Bintang.


"Iya. Aku sudah terbiasa di rumah bersama Bintang, jadi kamu jangan khawatir ya," jawab Rina berusaha menengkan hati Arya.


Laki-laki itu tampak menatap Rina dengan perasaan berat di dalam hatinya. Namun, Rina seolah sedang meyakinkan Arya untuk tidak berpikir berlebihan.


"Aku akan baik-baik saja, aku janji," ujar Rina lagi dengan suara yang lebih lembut, sambil mengambil tangan Arya kemudian mengusap punggung tangan Arya. Perlahan dia kecup punggung tangan itu untuk yang pertama kalinya.

__ADS_1


Arya tampak melebarkan matanya, dia sangat terkejut dengan apa yang Rina lakukan. Tubuhnya terasa kaku saat bibir berwarna merah muda itu menyentuh kulitnya, hingga untuk beberapa saat Arya hanya bisa terdiam dengan jantung yang terasa berhenti berdetak, saking terkejutnya.


Rina tersenyum, tampaknya cara Rina berhasil meluluhkan hati Arya, dengan berat hati akhirnya Arya pun setuju untuk pulang ke rumahnya.


"B--baiklah, aku pulang," ujar Arya sedikit gagap.


Rina mengangguk sambil menahan senyum saat melihat ekspresi wajah canggung Arya, pipi laki-laki itu bahkan tampak memerah hingga sampai ke kupingnya.


"Kalau ada sesuatu langsung hubungi aku ya, sayang," ujar Arya lagi sambil mengusap pelan rambut Rina, setelah dia berhasil menangani keterkejutannya itu.


"Heem." Rina bergumam pelan sambil menganggukkan kepalanya.


"Masuklah dulu, aku akan pergi setelah kamu masuk ke rumah," ujar Arya sambil melirik mobil hitam yang masih setia berada di tempat yang sama melalui ujung matanya.


Rina kembali mengangguk kemudian masuk lebih dulu ke rumah, meninggalkan Arya yang masih berdiri di depan rumah.


"Kunci pintunya," ujar Arya lagi, mengingatkan. Rina pun menurutinya agar Arya tenang.


"Apa mereka akan mengikutiku?" gumam Arya sambil melihat kembali mobil hitam itu sebelum dia beranjak dari rumah Rina.


Perlahan laki-laki itu tampak mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Rina, yang kembali disusul oleh mobil hitam itu di belakangnya.


"Sepertinya mereka memang mengikuti kita, Kak." Ray yang kini berada di samping Arya tampak berbicara.


"Kamu sudah mencari tau pemilik plat mobil itu?" tanya Arya yang mengingat pernah menyuruh itu pada Ray.


Ray tampak menunduk dengan wajah penuh sesal. "Plat mobilnya palsu," ujarnya lirih.


Arya mengepalkan tangannya erat pada stir mobil, dia mengira jika ini bukanlah sesuatu yang dianggap spele.


Namun, kecurigaan mereka tampak menjadi kembali terasa ambigu, saat tiba-tiba mobil hitam itu mengambil jalur berbeda dengan mereka dan menghilang begitu saja.


Sementara itu, Rina tampak menyandarkan tubuhnya di belakang pintu, wanita itu menekan bagian dadanya di saat jantungnya terasa berdebar begitu kencang.


"Ya ampun, kenapa aku harus melakukan itu? Malu banget!" Rina merutuki dirinya sendiri yang lebih dulu mencium tangan Arya, padahal selama ini mereka tidak pernah melakukan itu.


"Ish, aku kelihatan murahan gak ya? Nanti dia malah jadi jijik sama aku gimana?" runtuh Rina menerka apa yang akan Arya lakukan setelah hang dia lakukan baru saja.


"Akh!" Rina mengerang kesal sambil menutup wajahnya sendiri.


"Mama, sedang apa?" Bintang yang baru saja turun dari tangga tampak berdiri dengan wajah bingung menatap Rina.

__ADS_1


"Hah?!" Rian langsung membuka tangannya dari wajah sambil menegakkan tubuhnya.


"Ah, e--enggak. Mama tadi kayak lihat kecoa terbang jadi Mama terkejut." Rina memberi alasan sambil tersenyum canggung.


"Bukannya Mama gak takut kecoa?" Bintang berkata dengan wajah yang masih polos.


Rina menutup matanya rapat, dia lupa kalau anaknya itu terlalu pintar. Atau memang kali ini dirinya yang sedang tidak bisa berpikir, hingga memberikan alasan seperti itu?


Akh, entahlah, Rina tidak peduli dengan rasa malunya pada sang anak, dirinya sudah terlanjur sangat memalukan di depan Arya.


"Sayangnya Mama, laper gak? Mama buatin makanan ya?" Rina mengalihkan pembicaraan sambil berjalan ke arah dapur.


.


Sementara itu, di rumah besar kediaman orang tua Anjas. Ayah Anjas tampak sedang menerima tamu di ruang kerja pribadinya. Dua orang laki-laki berbadan kekar bak seorang anggota keamanan terlihat duduk di depannya.


"Bagaimana hasil pencarian kalian?" tanya ayah Anjas dengan wajah yang terlihat masih santai.


Salah satu dari dua orang itu menaruh sebuah amplop berwarna coklat di atas meja ayah Anjas, sedangkan laki-laki lainnya tampak menaruh amplop berwarna putih di sana.


Ayah Anjas tampak menatap dua amplop berbeda warna itu bergantian. Perlahan dia mulai mencondongkan tubuhnya kemudian mengambil amplop berwarna coklat lebih dulu, dia kembali menyandarkan punggungnya sambil mulai membuka amplop di tangan.


Isinya adalah beberapa lembar potret dari Rina dan Bintang yang tengah bersama dengan Arya dan keluarganya. Mereka tampak sangat bahagia, baik itu Rina mau pun Bintang. Melihat itu salah satu sudut bibir ayah Anjas tampak tertarik ke atas, membentuk sebuah lengkungan tajam yang terlihat menyeramkan.


"Akhirnya kita bertemu lagi, Arya. Aku tidka menyangka kalau sekarang kamu mau merebut cucuku ... aku pnasaran sekarang, sampai di mana kamu bisa mempertahankan apa yang ada dalam genggamanmu," desis ayah Anjas dengan wajah yang menyeramkan.


Setelah puas memandangi foto dari amplop coklat, kini dia beralih melihat amplop putih yang masih tertutup rapih di atas meja. Dengan tangan sedikit bergetar laki-laki paruh baya itu perlahan mengambil amplop dengan lambang rumah sakit di depannya.


"Apa kamu sudah memastikan kalau surat tes DNA ini asli?" tanya ayah Anjas pada salah satu di antara laki-laki di depannya.


"Sudah, Tuan," jawab laki-laki itu dengan wajah sedikit khawatir.


Perlahan ayah Anjas mulai mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya, dia mulai membaca setiap baris kata yang sebenarnya tidak terlalu dia pahami itu.


Hingga akhirnya sebuah hasil yang menyatakan kalau Bintang adalah anak kandung Anjas pun tertera di sana. Kenyatan itu membuat laki-laki paruh baya itu menghembuskan napas lega. Senyum tipis pun terbit dari bibirnya.


"Kerja bagus! Aku pastikan kalian mendapatkan bonus dari hasil kerja kalian," ujarnya dengan wajah yang berubah sumringah.


"Terima kasih, Tuan!" jawab mereka berdua serempak.


Sampai kapan kamu akan menyembunyikan cucuku dari orang tuamu sendiri, Anjas? Kamu pikir kamu bisa melakukan ini pada kami?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2