
"Ekhm!" Hilman yang masih sadar dengan keadaan, berdehem pelan untuk memberi isyarat kepada Anjas dan Tari.
Dia melihat keadaan sekitar, dimana banyak dari para karyawan sekarang sedang memperhatikan pasangan suami istri yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Kita harus bicara," ujar Anjas, sambil memegang tangan Tari dan membawanya ke luar dari kantor.
Sampai di luar kantor, Tari yang sejak tadi berusaha melepaskan tangannya akhirnya berhasil, dia menyentak tangannya agar bisa terelpas.
"Bicara apa lagi, Mas? Aku udah dengar semuanya!" tanya Tari dengan wajah memerah dan napas yang menderu, akibat emosi yang sudah terlanjur meluap.
"Masuk dulu, kita bicara di tempat lain," ujar Anjas sambil membuka pintu mobilnya, untuk Tari.
Tari melihat Anjas dengan tatapan kesal, hidungnya sudah memerah dengan mata yang berair, sepertinya tangis akan segera pecah dari wanita dengan postur tubuh tinggi semampai itu.
"Masuk dulu, aku akan jelaskan semuanya padamu, sayang," ujar Anjas lagi, memegang tangan Tari. Nada suara lirih dan sorot mata penuh permohonan dari suaminya, akhirnya membuat hati Tari luluh juga, dia masuk ke dalam mobil milik Anjas.
Keduanya tampak pergi dari kantor untuk membicarakan apa yang tadi sempat didengar oleh Tari dari perbincangan Anjas dan Hilman.
.
Waktu berlalu begitu cepat, Rina sampai tidak bisa lagi menghitung hari karena kesibukan yang terus berulang setiap harinya. Usaha pertanian yang diwariskan oleh kedua orang tuanya, kini berjalan lebih maju karena campur tangan Rina dan Heni di dalamnya.
Keduanya bekerja sama untuk mengembangkan cara kerja agar lebih efektif dengan hasil yang memuaskan, dan kini masih dalam tahap pengembangan dan pembiasaan bagi para pekerja, hingga Rina dan Heni harus turun tangan mengawasi semua hasil pekerjaan para pegawai mereka.
Seperti sekarang ini, Rina sedang berada di salah satu green hose yang dia bangun belum lama ini untuk menanam sayuran organik.
Selama beberapa bulan ini, Rina berhasil bekerja sama dengan salah satu super market yang ada di kota, untuk menjadi pemasok sayuran. Hingga kini dia merambah pada sayur organik yang sedang banyak dicari oleh kalangan masyarakat menengah ke atas.
Saat ini, target pemasaran untuk produk sayur yang Rina hasilkan, sudah beralih, dari yang sebelumnya hanya akan dikirim ke pasar-pasar tradisional, kini melebarkan usahanya pada market yang lebih luas.
"Ternyata berkebun dengan cara organik seperti ini memang lebih rumit ya, pantas saja harganya mahal," ujar Heni sambil melihat sayuran di sekitarnya yang masih berumur dua minggu.
"Iya. Tapi, ini malah membuatku tertantang untuk menaklukkan semua ini. Lagi pula, aku mau kita tidak terus-terusan bergantung dengan harga pasar yang selalu menekan para petani seperti kita," jawab Rina sambil mengusap-usap perutnya yang terasa sedikit melilit.
Sejak tadi pagi, dia memang merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya, dirinya tahu kalau itu adalah kontraksi menjelang melahirkan, bahkan pagi tadi Rina sudah melakukan pemeriksaan ke bidan terdekat.
__ADS_1
Namun, karena belum ada pembukaan Rina memutuskan untuk kembali dan menjalani hari-harinya seperti biasa. Walau terkadang dia harus berhenti sejenak demi menikmati rasanya kontraksi.
"Ssh!" Rina mendesis sambil memegang tiang kayu di dekatnya.
"Sakit lagi ya?" tanya Heni dengan wajah yang tampak khawatir.
Rina mengangguk sambil tersenyum, walau itu terlihat sangat dipaksakan.
"Kan udah aku bilang, kamu diem aja di rumah, ngapain sih pake datang ke sini? Tuh sakit lagi kan?" Heni mengomel bagaikan seorang ibu yang sedang memarahi anaknya bandelnya, tidak lupa dengan wajahnya yang terlihat panik.
Rina terus mengatur napas hingga akhirnya rasa sakitnya perlahan menghilang. Kemudian tersenyum lucu, melihat tingkah sahabatnya itu.
"Aku gak apa-apa, Hen. Bukannya kata Bu Bidan aku harus banyak bergerak agar proses pembukaan jalan lahir lancar?" jawab Rina dengan santai sambil terkekeh pelan.
"Ish, kamu ini jadi orang kok ngeyel banget!" kesal Heni kemudian memeluk salah satu tangan Rina.
"Sudah jalan-jalannya, sekarang lebih baik kita pulang, atau aku akan bilang sama Ibu dan Bapak kalau kamu bandel," ancam Heni.
Sepanjang hari ini, Heni tidak pernah jauh dari Rina, dia terus mengekor sahabatnya itu, sejak tahu kalau Rina sudah mau melahirkan. Sifat Rina yang aktif selalu membuatnya khawatir pada wanita yang sebentar lagi akan memiliki bayi itu.
Rina sampai di puskesmas begitu matahari sudah mulai bersiap untuk kembali ke peraduannya. Dia yang didampingi oleh Heni tampak berjalan menyusuri koridor puskesmas desa untuk menuju ruang praktrek bidan.
Namun, suara seseorang yang menyebutkan namanya, membuat Rina menghentikan langkahnya.
"Loh, Rina, bukannya kamu ada di kota?" tanya seseorang yang kini tampak berdiri di depannya dengan senyum ramah.
"Ternyata kamu di sini, pantas saja aku sudah lama tidak melihat kamu," sambungnya lagi.
"Dokter Arya? Harusnya saya yang tanya, kenapa Dokter bisa ada di sini lagi?" ujar Rina membalas senyuman laki-laki tampan di depannya.
"Oh, aku lagi cuti dan ingin berkunjung ke sini, mengenang masa-masa koas dulu. Kamu sendiri sedang apa di sini?" ujar Arya, menjawab sekaligus bertanya kembali.
"Aku mau periksa ini," tunjuk Rina pada perutnya yang sudah membuncit sempurna, bahkan kini posisinya sudah terlihat berada di bagian bawah perut.
"Wah, gak kerasa udah besar aja ya. Sudah berapa minggu?" tanya Arya sambil melihat perut Rina.
__ADS_1
"Sudah mulai kontraksi, sepertinya sebentar lagi akan launching," jawab Rina sambil terkekeh geli.
"Hah? Jadi kamu ke sini buat lahiran?" tanya Arya dengan wajah terkejutnya.
Rina mengangguk. "Kalau begitu selamat berlibur ya, semoga betah di kampungku. Kalau sempat mampir ke rumah," ujar Rina ramah yang langsung mendapat anggukkan kepala dari Arya.
"Kalau gitu aku permisi dulu, ya. Assalamualaikum," ujar Rina lagi saat mulai merasakan keram di bawah perutnya.
"Heem, selamat berjuang, semangat bumilku!" ujar Arya sambil mengacungkan kepalan tangannya, menyemangati Rina.
Rina terkekeh, kemudian memilih pergi dari hadapan Arya, karena rasanya dia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya.
Heni yang mengetahui itu langsung memapah tubuh Rina yang sudah terlihat membungkuk karena menahan rasa sakit.
Sedangkan Arya hanya berdiri sambil melihat punggung Rina yang mulai menjauh kemudian menghilang saat Rina berbelok.
Setelah melalui proses panjang sebuah persalinan yang Rina lakukan seorang diri, akhirnya jam satu malam Rina melahirkan anak laki-laki dengan bobot tiga ribu gram.
Namun, ada yang salah dengan bayi itu, karena sempat terlilit oleh tali ari-ari dan proses melahirkan yang cukup lama, bayi yang baru saja dilahirkan itu mengalami sesak napas dan tidak kunjung menangis.
Suasana panik pun semakin menjadi saat Rina juga ternyata mengalami pendarahan dan mulai kehilangan kesadaran, hingga puskesmas desa yang hanya ada beberapa petugas kesehatan, kekurangan dokter untuk menangani kondisi darurat itu.
"Aku tadi melihat ada Dokter Arya di luar, mungkin dia bisa membantu kita," ujar salah satu perawat yang bertugas membantu persalinan Rina malam itu.
"Cepat panggil dia, anak dan ibunya kini dalam kondisi kritis!" ujar bidan yang kini sedang berusaha menyelamatkan Rina.
Perawat itu pun langsung berlari ke luar untuk mencari dokter Arya.
Sementara itu, Arya yang sebenarnya ada di dekat ruang bersalin, langsung menghampiri perawat yang berlari dengan wajah panik.
"Ada apa, Sus?" tanya Arya.
"Ah, kebetulan dokter Arya ada di di sini. Tolong ikut saya ke ruang bersalin, anak dari Ibu Rina mengalami kesulitan bernapas dan belum bisa menangis sampai saat ini!!" ujar perawat itu.
"Apa?! Ayo, aku akan bantu menanganinya," ujar Arya sambil berjalan cepat menuju ruang bersalin, mendahului perawat yang mencarinya.
__ADS_1
...****************...