
Waktu berlalu begitu saja, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Begitulah waktu membuat kita terus bertambah tua dalam setiap masa yang kita lewati.
Matahari yang bersinar cerah di akhir pekan, adalah sesuatu yang sangat dinantikan oleh kebanyakan orang, dan itu juga yang kini disyukuri oleh Rina.
Wanita yang saat ini sudah menjadi ibu dengan satu anak itu, tampak sedang duduk di dalam mobil bersama dengan anak kecil yang tampak sedang menekuk wajahnya.
"Udah dong, sayangnya Mama gak usah cemberut terus, nanti gantengnya berkurang lho." Rina tampak terkekeh lucu saat melihat wajah merajuk anaknya.
Anak kecil berusia enam tahun itu tidak menjawab, dia hanya terus bersidekap dada sambil membuang muka, melihat ke luar jendela.
Rina menghembuskan napas pelan lalu memilih untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Rina kemudian melepas sabuk pengaman dan menggeser tubuhnya lebih dekat lagi pada sang anak.
"Bintang sayang, Mama minta maaf ya, karena sudah membuat Bintang menunggu lama, hem." Rina memeluk anak laki-lakinya yang tengah merajuk itu.
Bintang terdiam, pelukan hangat dan wajah memohon sang Ibu adalah kelemahannya, dia tidak akan pernah bisa menolak apa pun jika itu menyangkut tentang ibunya.
Anak kecil itu sudah cukup tahu kalau selama ini dia dibesarkan oleh seorang ibu sendiri, tanpa ada sosok ayah yang mendampinginya, hingga ibunya harus bisa mengurusnya dengan baik sekaligus mencari uang untuk membiayai kehidupan mereka.
Anak sekecil itu, sudah sering mendapat hinaan dari orang-orang, karena tidak mempunyai Ayah, hingga akhirnya di usianya yang masih kecil, dia harus mengerti keadaan yang ada di dalam keluarganya.
"Tapi jangan diulangi lagi, Bintang gak suka!" ujar anak laki-laki itu, dengan suara yang terdengar manja.
Rina tersenyum, dia kemudian mengurai pelukannya demi melihat wajah tampan anak laki-lakinya. Anak yang dia kandung dan lahirkan sendiri, anak yang dia besarkan dalam keadaan sendiri juga.
"Iya, Mama janji gak akan terlambat lagi," ujarnya sambil mengelus rambut Bintang di puncak kepala.
"Senyum dulu dong, biar kadar ketampanan anak Mama makin bertambah," sambung Rina lagi sambil menoel ujung hidung Bintang.
Bintang menarik kedua ujung bibirnya sampai melengkung indah, hingga barisan gigi paling atasnya terlihat.
Rina ikut tersenyum kemudian menarik tubuhnya untuk duduk tegak di kursi kemudi lagi.
"Hari ini Mama mengaku, kalau Mama yang salah dan Bintang menjadi anak pintar yang sudah bisa memaafkan, Mama. Jadi sebagai hadiahnya, Bintang, mau apa? Mama akan mengabulkannya," ujar Rina, sambil mulai melajukan mobilnya.
Bintang tampak menoleh pada Rina dengan antusias. Dia bahkan menggeser duduknya hingga tubuhnya benar-benar menghadap sang ibu.
"Beneran, Mah?" tanya Bintang.
"Heem." Rina mengangguk sambil terkekeh ringan.
"Aku mau ke rumah sakit, mau ketemu sama Papa Arya!" seru Bintang dengan begitu riang.
"Panggil Om Arya, Bintang," potong Rina sambil memutar bola matanya.
"Gak mau, aku mau panggil Papa Arya, ini sudah kesepakatan kita berdua. Dan, karena hari ini Mama salah, jadi jangan larang aku." Bintang berbicara bagaikan orang dewasa, hingga membuat Rina hanya bisa menggeleng lemah sambil terkekeh.
__ADS_1
Sejak lahir Arya memang sudah menjadi sosok spesial bagi Bintang. Enam tahun lalu, setelah Arya menyelamatkan Bintang dari masa kritis dan mengetahui keadaan Rina yang sudah bercerai dengan Anjas, laki-laki itu selalu menyempatkan diri untuk menemui Rina dan binatang, setidaknya sebulan sekali.
Hingga seiring berjalannya waktu, dan bertambah usia Bintang, anak laki-laki Rina itu semakin dekat dengan Arya, yang secara tidak langsung sudah menjadi pengganti sosok ayah untuk Bintang.
Karena itu juga, Rina tidak bisa berbuat apa-apa dengan kedekatan mereka. Dulu, Rina memang beberapa kali sempat mencegah Arya untuk datang, karena merasa tidak enak.
Namun, sepertinya ucapannya hanya dianggap angin lalu oleh Rina, karena nyatanya laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu, terus saja datang ke kampungnya.
"Ya, ya, terserah kamu saja lah!" desah Rina sambil mengambil ponsel di atas dashboard.
"Hubungi dulu Om Arya, tanya apa dia ada waktu untuk bermain dengan kamu," ujar Rina memberikan ponselnya pada Bintang.
Bintang menerima ponsel milik ibunya kemudian mulai mencari kontak Arya di sana. Beberapa saat kemudian Bintang mengembalikan ponsel itu dengan senyum sumringahnya.
"Papa Arya selesai tengah jam lagi, jadi disuruh menunggu di ruangan Papa Arya," ujar Bintang dengan wajah yang sangat senang.
"Hem, baiklah kalau gitu kita ke rumah sakit sekarang," jawab Rina, kemudian mengambil lajur jalan menuju ke tempat tujuannya.
"Yee, ketemu Papa Arya!" Bintang berseru gembira.
Keduanya baru saja pulang dari acara ulang tahun salah satu teman sekolah Bintang. Bintang merajuk karena Rina telat menjemputnya, dan membuatnya menunggu lebih lama, padahal Rina tahu kalau Bintang tidak suka acara seperti itu.
Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Rina sudah terparkir cantik di area rumah sakit. Rina ke luar lebih dulu, kemudian membantu Bintang.
"Ayo," ujarnya sambil mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Bintang, kemudian keduanya langsung masuk ke dalam rumah sakit bersamaan.
Biasanya setiap satu bulan sekali, Rina akan pulang ke kampung untuk melihat perkembangan pertanian di sana.
Rina membuka restoran dan toko kue yang sekarang sudah berkembang cukup pesat, selama dua tahun ini. Bermodal dari kursus yang pernah dia lakukan waktu hamil dulu, lalu dia kembangkan secara otodidak dengan bermodal Internet.
Mengenai alasan Rina memilih untuk pergi dari kampung, itu semua terjadi karena tekanan yang begitu berat dari warga di sana.
Keluarga dari pihak Bapak dan Ibu Rina yang selalu mengganggunya dengan berbagai cara membuatnya muak dan memilih pergi demi kesehatan mental Bintang.
Ya, semua ini karena oknum dari para kerabat itu yang terus menyebar gosip tidak benar tentangnya dan terus menghina dirinya dan Bintang secara terang-terangan.
Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan berani mengeluarkan kata kasar, seperti janda penggoda, janda yang sukses karena menjual diri pada para pengusaha, dan masih banyak lagi.
Namun semua itu masih Rina acuhkan, hingga suatu hari mereka dengan tega menyerang sang anak. Mereka mengatai Bintang dengan kata-kata yang langsung membuat darah Rina mendidih saat mendengarnya.
Dengan entengnya mereka menyebutkan Bintang adalah anak haram, anak yang dibuang ayahnya, anak yang tidak punya ayah, dan anak yang tidak jelas siapa ayahnya, dihadapkan Bintang sendiri, hingga anak yang baru berusia empat tahun hingg membuat Bintang terus menangis menanyakan ayahnya.
Pada saat itulah, perjanjian antara Bintang yang akan memanggil Arya dengan Papa terjadi. Laki-laki itu datang bagaikan seorang pahlawan bagi Rina dan Bintang, di saat kondisi mereka sedang genting.
Arya juga yang membantu Rina mencari rumah dan tempat usaha di kota, juga mendampinginya dalam membangun bisnis, hingga Rina bisa menanganinya sendiri.
__ADS_1
Bintang berjalan lebih dulu, menyusuri koridor rumah sakit itu, dibelakangnya Rina tampak menyusul sambil menempelkan ponsel di telinganya. Sepertinya ada panggilan penting dari seseorang, hingga memaksanya untuk berbicara sambil berjalan.
Untuk beberapa saat, Rina kehilangan fokus, hingga suara orang jatuh yang disusul dengan teriakan Bintang terdengar, membuat Rina yang berdiri cukup jauh dari Bintang langsung mengalihkan perhatiannya.
Dia melebarkan mata saat melihat Bintang jatuh terduduk di lantai akibat menabrak seseorang. Rina langsung menutup teleponnya kemudian lari menghampiri sang anak.
"Bintang, kamu gak apa-apa, sayang?" tanya Rina sambil membantu Bintang bangun, dan memeriksa keadaannya.
"Aku tidak apa-apa, Mah," jawab Bintang sambil menepuk bok*ngnya yang sedikit kotor.
Sedangkan seseorang yang ditabrak oleh Bintang hanya terdiam dengan tubuh mematung, melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Maaf, ya. Anak saya tadi tidak hati-hati saat berjalan," ujar Rina sambil berdiri tepat di depan laki-laki itu.
Rina langsung menutup mulutnya dengan mata yang melebar, begitu melihat siapa laki-laki di depannya. Dia terkejut, hingga rasanya bibirnya tiba-tiba saja menjadi kelu. Begitu juga dengan laki-laki itu yang tampak terkejut dengan keberadaan Rina.
"R–Rina?" gumam laki-laki itu yang tidak lain adalah Anjas.
Mata Anjas menelisik penampilan Rina yang sangat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Rina tampak cantik dengan gayanya yang sekarang. Anjas bahkan sampai beberapa kali mengerjapkan mata untuk meyakinkan diri kalau wanita cantik di depannya itu adalah mantan istrinya.
Berbeda dengan Anjas, yang seolah tidka bisa mengalihkan pandangannya dari Rina. Wanita itu hanya melihat Anjas sekilas lalu kembali beralih pada Bintang. Dia memutuskan untuk pura-pura tidak mendengar gumaman lirih Anjas. Walau begitu Rina bisa melihat jelas perubahan penampilan Anjas yang terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.
"Ayo minta maaf dulu," ujar Rina lagi pada Bintang.
Bintang mengangguk pada ibunya kemudian beralih melihat Anjas.
"Maaf, Om, aku tidak sengaja," ujarnya sambil menundukkan kepala.
Anjas yang terus menatap Rina, walau wanita itu tidak menganggapnya sama sekali. Kini beralih pada anak laki-laki di depannya, dia memilih berjongkok demi menyamakan tingginya dengan anak yang bersama Rina.
"Iya, tidak apa-apa. Om juga minta maaf, ya, karena tidak berjalan dengan hati-hati," ujar Anjas sambil memegang pundak Bintang.
Bintang hanya mengangguk, matanya melihat seseorang yang kini terlihat berjalan padanya.
"Papa!" panggilnya sambil berlari menghampiri laki-laki itu, membuat tangan Anjas terlepas begitu saja dari pundaknya.
"Hai, jagoan Papa!" sambut laki-laki itu yang tidak lain adalah Arya, dia langsung membawa Bintang pada gendongannya hingga membuat anak kecil itu tertawa kegirangan.
Anjas melihat ke arah Bintang berlari, dia melihat betapa senangnya Arya dan Bintang. Tiba-tiba dia merasakan perih di sudut hatinya, saat melihat kedekatan mereka berdua.
"Permisi." Rina pamit kemudian melangkah menghampiri dua laki-laki berbeda usia itu, tanpa menyapa Anjas sama sekali.
Sedangkan Anjas hanya bisa mengangguk kemudian memperhatikan interaksi antara ketiga orang yang berkaitan dalam masa lalunya.
Siapa anak itu?
__ADS_1
...****************...