
"Rin, ada yang ingin menyewa lantai dua resto untuk merayakan ulang tahun anaknya, dia ingin bertemu nanti siang," ujar Heni saat keduanya sedang sarapan bersama.
"Ya sudah, nanti siang aku yang akan menemui mereka, atur saja jadwalnya, setelah aku menjemput Bintang," ujar Rina sambil melihat anaknya yang tengah fokus dengan sarapannya.
Mendengar itu Bintang melihat Rina sekilas kemudian tersenyum, dia sudah takut saja jika nanti siang tidak akan dijemput oleh ibunya. Namun, nyatanya Rina selalu bisa mengatur waktu sebaik mungkin, untuk tidak membuat Bintang kecewa.
"Mamaku, memang selalu jadi yang terbaik," ujarnya dengan tersenyum senang.
"Mama siapa dulu dong?" tanya Rina dengan bangganya.
"Mamanya Bintang!" seru Bintang yang langsung disambut oleh tawa Rina dan Heni setelahnya.
Setelah mengantarkan Bintang ke sekolahnya, Rina melajukan mobilnya menuju ke restoran miliknya, bersama dengan Heni. Hingga beberapa saat kemudian, Rina sudah memarkirkan mobilnya di parkiran restoran.
Sebuah bangunan bertingkat tiga, yang cukup besar, dengan nama Altair's resto terpampang cantik di depannya , sedangkan disampingnya terdapat toko kue yang juga menyajikan berbagai macam kue dengan lebel yang sama, yaitu Altair' cake and bakery yang bisa dibawa pulang atau dinikmati langsung, dengan ditemani kopi, atau minuman lainnya yang tersedia.
Keduanya tampak berjalan masuk ke dalam bangunan itu, di dalam terdapat para karyawan yang menginap di kamar lantai tiga, yang memang sengaja Rina sediakan bagi pekerja yang rumahnya jauh dari restoran.
Awalnya itu semua Rina sediakan hanya untuk tempat beristirahat, atau yang pulang terlalu malam karena lembur. Akan tetapi, semakin ke sini, ada beberapa orang yang meminta izin untuk tinggal, mengingat rumahnya yang jauh.
Sapaan pun terdengar, begitu Rina dan Heni masuk ke dalam, restoran yang memang belum buka itu. Mereka buka dari jam sepuluh pagi sampai sepuluh malam, sedangkan untuk cake dan bakery, buka dari jam delapan pagi sampai jam delapan malam.
"Bu, ada pesanan cake bertingkat untuk weding, bisa Ibu lihat dulu konsepnya?" tanya salah satu pegawai cake and bakery, yang menghampirinya ke resto.
"Heem, baiklah, sebentar lagi aku ke sana," jawab Rina, kemudian pergi ke lantai dua, tempat di mana area kantor berada, selain area untuk mengadakan berbagai acara.
Sibuk, itulah kata yang tepat untuk Rina setiap harinya. Mengurus dua usaha dan juga memperhatikan menejemen pertanian di kampung, adalah bukan hal yang gampang, apalagi Rina juga harus mengatur waktunya dengan Bintang.
Menjelang makan siang, Rina sudah berada di depan sekolah Bintang, untuk menjemput anak laki-lakinya itu. Hingga beberapa saat kemudian, Bintang terlihat berjalan menuju ke arahnya dengan senyum sumringah.
"Mama," panggilnya begitu sampai di depan Rina, dia kemudian memeluk tubuh ibunya dan mencium kedua pipinya. Ritual yang tidak pernah menghilang sejak Bintang masih kecil.
__ADS_1
"Kita ke resto dulu ya, Mama ada kerjaan di sana," ujar Rina setelah keduanya duduk di dalam mobil.
Bintang mengangguk, anak kecil itu sudah terbiasa ikut bekerja dengan ibunya, dia bahkan sudah sangat akrab dengan semua karyawan yang ada di resto ataupun toko kue.
Cukup lama berkendara di bawah terik matahari siang itu, akhirnya Rina sampai di restoran dengan waktu yang sudah terlambat dari janjinya.
"Rina, kamu lama banget sih, orang yang mau menyewa ruang atas sudah datang," ujar Heni dengan kening berkerut dalam, dan nada suara panik.
"Di mana dia sekarang? Maaf, tadi aku terjebak macet di jalan," jawab Rina sambil berjalan ke dalam resto, sedangkan Bintang sudah lari duluan.
"Ada di lantai dua, mereka sedang melakukan tes makanan dulu," jawab Heni sambil mengikuti langkah Rina.
"Ya sudah, mulai sekarang biar aku yang handle mereka. Sekarang kamu tolong jaga anakku, dan jangan lupa beri dia makan siang," pesan Rina kemudian melangkah cepat menuju lantai dua. Matanya melirik Bintang yang sedang terlihat berbincang dengan salah satu karyawannya.
"Siap, Bu bos!" seru Heni sedikit bercanda pada sahabatnya itu.
Rina berdecak sambil melirik sahabatnya itu tajam, yang hanya dibalas kekehan kecil oleh Heni.
Keduanya sampai di lantai dua, Heni membawa Rina menuju dua orang dewasa dan satu orang anak perempuan yang mungkin berusia lebih kecil dibandingkan dengan Bintang.
Kedua orang itu tampak menoleh pada Rina hingga mata ketiga orang itu terlihat bertabrakan dengan Rina. Rina sempat terkejut saat melihat sosok laki-laki yang kini duduk di depannya, kemudian Rina juga melirik wanita yang sedang menyuapi anak kecil itu makan.
Laki-laki yang kini tampak melihat Rina pun juga terlihat terkejut dengan pertemuan ini, walau secepat kilat dia merubah raut wajahnya menjadi biasa saja, begitu juga dengan Rina.
"Selamat siang, Bapak, Ibu. Saya Rina, yang bertanggung jawab di sini," ujar Rina memperkenalkan diri.
"Halo, saya Tari, ini sahabat saya Hilman, dan ini anak saya, Syafira," ujar wanita yang sudah sangat Rina kenal, walau tanpa sepengetahuan Tari sendiri.
Rina tersenyum, dia bersalaman dengan ketiga orang di depannya. "Salam kenal, senang bertemu dengan kalian."
Ketiga orang dewasa itu duduk bersama, mereka membicarakan konsep acara dan berbagai hal lainnya. Tari ternyata seorang wanita yang sangat mudah bergaul, mungkin karena latar belakang pekerjaannya adalah seorang pramugari, hingga membuat Rina mudah untuk berdiskusi dengannya.
__ADS_1
"Berarti ini adalah ulang tahun yang ke lima, dengan konsep‐-" Rina mengulang rincian acara yang akan dilaksanakan di resto miliknya.
Berbeda dengan Tari yang banyak berbicara, Hilman terlihat lebih banyak diam sambil memperhatikan Rina. Sepertinya laki-laki itu juga terkejut dengan pertemuannya dengan Rina yang tidak terduga, setelah beberapa tahun ini mereka tidak pernah bertukar kabar.
Setelah perceraiannya dengan Anjas, Rina memang memutus semua akses komunikasi dengan orang-orang yang berhubungan dengan Anjas, dia memilih untuk mengganti nomor dan membuang semua masa lalunya yang terasa begitu pahit.
"Mah, sudah selesai belum?" Di tengah perbincangan tiba-tiba Bintang menghampiri Rina.
"Sebentar lagi sayang, kamu tunggu Mama di ruangan saja ya," ujar Rina sambil mengusap puncak kepala Bintang.
"Tapi, aku mau makan sama Mama," keluh Bintang.
"Iya, nanti kita makan bersama," angguk Rina.
"Kalau gitu, boleh pinjam ponsel Mama?" Bintang menengadahkan tangan.
Rina memang belum memberikan Bintang ponsel sendiri, anak laki-lakinya itu hanya akan diperbolehkan bermain ponsel di waktu-waku tertentu saja.
"Heem, baiklah." Rina menaruh ponselnya di tangan Bintang. "Sekarang, tunggu Mama di ruangan, gak boleh ke mana-mana. Oke?"
"Iya, Mama!" Bintang tersenyum senang, dia kemudian berlari kembali ke belakang, tanpa menghiraukan orang disekitarnya.
Tingkah laku Bintang yang begitu riang itu, tentu saja membuat Tari, Hilman, dan Syafira, mengalihkan perhatiannya.
"Maaf, kedatangan anak saya, mengganggu perbincangan kita," ujar Rina, merasa tidak enak pada Tari dan Hilman.
"Tidak apa, namanya juga anak kecil," ujar Tari, sambil terkekeh ringan.
Perbincangan pun berlanjut, hingga beberapa waktu kemudian mereka ke luar dari restoran dengan Rina yang mengatarkannya.
Di saat bersamaan, Arya dan Anjas ke luar dari mobilnya masing-masing, kemudian berjalan masuk ke dalam restoran, dengan jarak yang berbeda. Tampaknya mereka juga tidak menyadari satu sama lain.
__ADS_1
"Papa!" seru Bintang yang langsung menjadi perhatian banyak orang, termasuk Arya dan Anjas yang kini tampak menghentikan langkahnya secara bersamaan hingga akhirnya mereka berdiri sejajar.
...****************...