
Bintang tersenyum cerah, begitu melihat Arya yang sudah tampak duduk santai di ruang keluarga rumahnya, padahal ini masih pagi. Anak laki-laki itu berjalan cepat menuruni tangga dengan baju seragam sekolahnya. Senyum ceria terlihat jelas dari wajah mungilnya.
"Hei, pelan-pelan, jagoan!" ujar Arya, sambil terkekeh ringan.
Ah, melihat wajah ceria anak kecil ketika menyambutnya di panti asuhan saja selalu membuat hatinya begitu senang. Apa lagi, dengan Bintang yang memang sudah dia anggap anaknya sendiri.
"Papa, ada di sini? Apa sekarang kita sudah boleh tinggal bersama?" tanya Bintang, mengingat ucapan Arya dan Rina saat di pantai dulu. Rupanya anak itu cukup pandang dalam mengingat sesuatu.
"Belum, sayang. Hari ini Papa sedang ingin mengantarkan jagoan Papa ini, untuk pergi ke sekolah," jawab Arya sambil mencolek pipi berisi Bintang.
"Hari ini, Papa, mau antar Bintang ke sekolah?" tanya anak itu dengan wajah sumringahnya, dia bahkan sampai melebarkan matanya seolah tidak percaya.
"Heem, hari ini Papa yang akan mengantar dan menjemput Bintang sekolah." Rina ikut menyahut dari arah dapur.
Wanita itu sedang sibuk membuat sarapan untuk semua orang, juga bekal makanan bagi sang anak di sekolah.
"Asiik, Bintang dianter Papa sekolah!" Bintang berseru senang, kemudian memeluk Arya yang duduk di sampingnya.
Arya dengan senang hati menyambut pelukan Bintang, dia pun ikut merasakan keceriaan itu. Matanya melirik pada Rina yang sedang melihatnya, dia mengerling untuk menggoda kekasihnya itu, hingga Rina hanya bisa geleng kepala sambil kembali sibuk dengan kegiatannya.
"Terima kasih, Papa!" ujar Bintang dengan binar bahagia yang terlihat jelas di wajahnya.
"Sudah-sudah, ayo kita sarapan dulu." Rina memanggil dari meja makan, wanita itu tampak masih cantik walau hanya dengan menggunakan apron di tubuhnya dan rambut yang diikat asal agar tidak jatuh ke makanan yang dia buat.
Arya dan Bintang pun beranjak dari tempat duduknya, mereka beralih untuk duduk di meja makan, bersama dengan Rina dan Heni yang masih sibuk menata makanan di sana.
Mereka berempat pun makan bersama, dengan suasana hati yang bahagia. Setelah itu, Rina pamit untuk bersiap-siap sebentar ke kamar, mengingat sekarang dia masih memakai baju rumahan. Arya dan Bintang menghabiskan waktu menunggu sambil bermain bersama.
Beberapa saat kemudian Rina, Arya, dan Bintang, pergi menggunakan mobil yang sama, sedangkan Heni membawa mobil milik Rina menuju ke resto.
__ADS_1
Arya dan Rina lebih dulu mengantar Bintang ke sekolah, sebelum menuju tempat di mana mereka memiliki urusan saat ini.
Ya, hari ini Rina ingin bertemu dengan pengacara untuk berkonsultasi tentang hak asuh Bintang, sekaligus membuat surat perjanjian untuk dirinya dan Anjas ke depannya, agar mereka tidak saling mengganggu.
Arya dan Rina sampai di kantor pengacara itu tepat beberapa menit sebelum waktu mereka membuat janji. Kebetulan pengacara ini adalah salah satu orang tua mantan pasien Arya, yang kemudian berhubungan baik sampai sekarang.
Mereka pun disambut baik di sana, Arya mendampingi Rina melakukan konsultasi, hingga akhirnya keduanya mengetahui status hukum dari Bintang dan mendapat penjelasan jika memang sebenarnya Anjas tidak bisa menggugat hak asuh dari Bintang.
Namun, untuk meredam perasaan takut Rina, pengacara itu juga memberikan saran untuk poin-poin yang akan ada di dalam surat perjanjian.
Semua orang di kota itu tentu tahu, bagiaman berpengaruhnya keluarga Anjas di sana, hingga Arya dan pengacara pun bisa mengerti perasaan takut yang Rina alami.
Keduanya ke luar dari kantor pengacara tepat ketika jadwal menjemput Bintang, sesuai dengan predikisi Arya sebelumnya.
"Sudah lega sekarang?" tanya Arya, saat keduanya kini berada di dalam mobil.
"Heem, setidaknya sekarang aku juga memiliki kekuatan hukum," jawab Rina, sambil melihat surat perjanjian yang dia simpan di pangkuannya.
Padahal dulu, keluarga Anjas belum sekuat sekarang ini. Namun, buktinya mereka bisa membuatnya merasakan bagaimana dinginnya menghabiskan malam di dalam jeruji besi. Lalu, mengeluarkannya lagi saat sudah merasa puas.
Ya, hampir semua keluarga Anjas memang menjadi pekerja negara, hingga tidak sulit untuk mereka menemukan koneksi, demi memuaskan keinginan hati. Berbeda dengan keluarga Arya yang dulu hanya seorang pengusaha kecil, masih dalam tahap merintis.
Perusahaan abi belum besar seperti sekarang, dan ummi hanya seorang ibu rumah tangga yang terkadang menerima orderan menjahit dari tetangga. Mereka adalah keluarga sederhana yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Hingga akhirnya abi dan ummi hanya bisa memohon pada keluarga Anjas untuk mengeluarkannya dari dinginnya sel penjara. Untungnya waktu itu, keluarga Anjas masih memandang abi yang merupakan teman karib mereka.
Namun, atas kejadian itu, sakit hati abi dan ummi masih membekas sampai sekarang. Walaupun mereka tampak biasa saja di luar, tetapi sebisa mungkin abi dan ummi menghindari untuk berurusan dengan keluarga itu lagi.
.
__ADS_1
Tari tampak duduk di kursi sebuah kafe dengan seorang laki-laki di depannya, sepertinya kafe itu memang sudah menjadi tempat favorit untuk keduanya saling bertemu.
"Bagaimana, apa kamu sudah mempertimbangkan penawaranku?" tanya Hilman, kemudian menyeruput kopi panas kesuakaannya.
Tari tampak termenung, dia tidak tahu jika ini adalah keputusan yang benar atau tidak. Namun, setelah cukup lama berpikir dirinya pun akhirnya mendapatkan keputusan yang menurutnya terbaik untuk dirinya saat ini.
Ingatan ketika dirinya dan Hilman tidur beruda di hotel pun mulai kembali melintas membuat penyesalan dan kecewa akan dirinya sendiri.
Saat itu Hilman menawarkan diri untuk bertanggung jawab, dia akan menikahi Tari jika Tari ingin melepaskan Anjas.
"Aku mencintaimu sejak dulu, Tari. Hanya saja selama ini kamu tidak pernah melihatku. Cintamu pada Anjas, nyatanya membuat matamu buta akan sekitar," ujar Hilman saat itu.
Tari sungguh dibuat terkejut dengan pengakuan Hilman yang tiba-tiba, dirinya bahkan tidak pernah menyangka jika selama ini Hilman menyukainya.
"Kamu masih mabuk?" tanya Tari dengan wajah yang tidak percaya.
"Tidak, Tari ... aku sadar sepenuhnya, begitu pun saat tadi malam kita melewatkan malam bersama," jawab Hilman enteng. Tari bahkan bisa melihat senyum tipis di wajah laki-laki itu.
Hari itu Tari sungguh mendapakan kejutan yang bertubi-tubi, hingga rasanya dia butuh untuk menenangkan diri. Saat itu juga, dia langsung mengusir Hilman dari kamar hotel kemudian berdiam diri di sana sampai tengah malam, dirinya baru saja beranjak untuk kembali ke kotanya.
Selama jangka waktu itu, Tari bahkan tidak mau menghubungi Hilman, walau laki-laki itu berulang kali berusaha untuk menghubunginya, entah itu melalui telepon atau bahkan mengirimkan banyak pesan. Hingga akhirnya Tari memberanikan diri untuk menemui Hilman lagi saat ini.
"Semua yang aku ucapkan waktu itu adalah benar, Tari. Kamu tidak perlu ragu atas cintaku," ujar Hilman lagi.
Laki-laki itu tampak menaruh cangkir kopi miliknya, kemudian mengambil tangan Tari untuk dia genggam. Tatapanya terlihat begitu memuja, hingga untuk sesaat Tari mulai terhanyut dibuatnya.
Tatapan seperti itu bahkan sudah tidak bisa lagi dia dapatkan dari Anjas, laki-laki yang dulu begitu mencintainya kini telah berubah seluruhnya. Anjas mulai menjadi sosok yang cuek dan tidak perduli, setelah dia tugas ke luar kota beberapa tahun lalu.
Kali ini aku tidak akan gagal lagi, Tari. Kamu pasti akan menjadi milikku, batin Hilman.
__ADS_1
...****************...