
"Apakah anak itu adalah anak Anjas?" tanya Tari tiba-tiba.
Deg!
Rina melebarkan matanya, jantungnya tiba-tiba terasa berhenti, tangannya pun mengepal kuat, merasa terkejut dengan pertanyaan dari Tari.
"Aku hanya bercanda," ujar Tari lagi sambil terkekeh ringan, kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Berbeda dengan Tari yang tampak santai, Rina malah masih berdiri mematung, dengan pikiran yang mulai kembali berkecamuk.
Rina bahkan baru tersadar, begitu mobil yang dikendarai oleh Tari sudah mulai memasuki jalanan di depan resto.
Sedangkan Tari semakin yakin kalau sebenarnya antara Anjas dan Rina sudah memang memiliki hubungan masa lalu. Hatinya pun terasa hancur, saat melihat reaksi Rina ketika dia membicarakan tentang Bintang dan Anjas di depan Rina.
"Aku harus mencari tahu lebih banyak lagi, tentang hubungan antara Mas Anjas dan Rina." Tari bertekad dengan hati yang sudah terlanjur patah.
Niatnya datang bertemu dengan Rina memang hanya untuk memastikan kecurigaannya tentang hubungan Rina dan Anjas.
.
Sementara itu, di tempat lain Anjas juga sedang bertemu dengan seseorang di sebuah kafe tidak jauh dari kantornya.
"Cari tau tentang mereka, aku mau hasilnya secepat mungkin," ujar Anjas sambil memberikan amplop berwarna coklat pada orang di depannya.
Orang itu tampak membuka dan melihat isi amplop yang diberikan oleh Anjas. Tiga buah foto dan sejumlah uang tampak terlihat, hingga membuatnya tersenyum sumringah.
"Aku akan usahakan secepat mungkin," ujarnya yakin.
Setelah itu keduanya tampak ke luar dari kafe dan berjalan berlawanan arah, seolah tidak saling mengenal.
.
Hari berlalu, acara ulang tahun pun berlangsung, Rina yang sengaja menghindari bertemu dengan Anjas, Tari, dan Hilman pun memilih untuk tidak datang ke resto.
Wanita itu memilih untuk menghabiskan waktunya bersama dengan Bintang dan Arya. Ya, laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu, memang sengaja meluangkan waktunya untuk menemani Rina hari ini.
Seperti sekarang ini, Arya tengah mengendarai mobilnya menuju salah satu pantai yang berada tidak jauh dari kota, dengan Bintang yang asik bersenandung riang.
Beberapa saat kemudian Arya sudah berhasil memarkirkan mobilnya di sisi pantai yang terlihat mulai banyak pengunjung berdatangan. Tidak heran, karena memang ini adalah akhir pekan.
"Mah, aku mau berenang!" seru Bintang sambil berlarian dengan kaki telanjang di atas pasir.
Sedangkan Rina dan Arya mengikuti dari belakang. Arya tampak melihat Rina, meminta persetujuan wanita itu. Begitu Rina mengangguk, Arya pun langsung menghampiri Bintang sambil berseru.
Arya tahu kalau Rina tidak akan mau bermain air dengannya, karena selama ini wanita itu memang tidak pernah mau terjun langsung ke laut, Rina hanya akan menikmati air laut di bibir pantai, sambil memperhatikan Bintang.
__ADS_1
"Yes, ayo kita berenang!" terikanya lalu menggendong Bintang dan berlari menuju bibir pantai, diiringi tawa bocah kecil itu.
"Hati-hati!" teriak Rina sambil menggeleng pelan kepalanya, melihat kebahagiaan dari dua laki-laki yang kini memiliki tempat di dalam hatinya.
Arya dan Bintang terlihat begitu senang bermain air di tengah banyaknya pengunjung yang lain. Sedangkan Rina hanya melihat mereka dari bibir pantai, menikmati lembutnya pasir di kakinya dengan ombak yang mulai mengecil.
Hingga tiba-tiba Arya dan Bintang berlari ke arahnya lalu mencipratkan air laut ke padanya.
"Aakh!" Rina memekik sambil menghalangi wajahnya dari cipratan air laut dari sang anak.
"Mama, ayo berenang!" ajak anak laki-laki itu sambil menarik tangan Rina.
"Mama di sini saja, kamu berenang sama Om Arya saja," geleng Rina sambil mulai menahan tubuhnya.
"Ayolah, Mah! Ayo, main air!" bujuk Bintang.
Melihat itu Arya yang sejak tadi hanya melihat Bintang merajuk, melangkah mendekati Rina kemudian menyodorkan tangannya ke depan wanita itu.
"Cobalah, tidak akan terjadi apa-apa selama ada aku di sisimu," ujar Arya sambil menatap penuh keyakinan.
"Iya, Mah, ayo ikut main air!" Bintang menyetujui perkataan Arya sambil terus meyakinkan ibunya.
Dengan berat hati Rina pun akhirnya ikut mulai memberanikan diri untuk berjalan semakin jauh dari bibir pantai.
Ya, ada sesuatu di masa lalunya yang membuat Rina takut untuk bermain dengan air, dia bahkan tidak bisa berenang karena rasa takut itu.
Tidak banyak yang tahu kalau Rina memendam trauma masa kecil pada air, itu semua karena selama ini Rina sangat menghindari air laut, dan wahana air lainnya.
Namun, Bintang tidak begitu, putra kesayangannya itu sangat menyukai bermain di pantai. Di umurnya sekarang bahkan Bintang sudah bisa berenang.
Itu semua tidak lain karena andil banyak dari Arya, laki-laki itulah yang selama ini selalu menemani Bintang di pantai dan mengajarinya berenang.
"Aku tidak bisa," keluh Rin seiring semakin tingginya air laut menerpa kakinya.
Tangannya semakin mencengkram baju Arya yang kini setia berdiri di sampingnya.
"Pagang tanganku, dan coba buka matanya, ini semua akan baik-baik saja," ujar Arya sambil mengambil tangan Rina kemudian menggenggamnya lembut.
Sedangkan satu tangan lagi, menggenggam tangan Bintang, mencegahnya untuk berlarian sendiri.
Rina membalas genggaman tangan Arya, perlahan dia juga mulai membuka matanya sambil terus mengatur napasnya agar tetap tenang.
Laut yang terlihat cukup tenang dengan banyak pengunjung yang sedang bermain air bersama orang tersayang, membuatnya mulai lupa dengan rasa takutnya.
Perlahan Rina tersenyum tipis, sambil terus memperhatikan sekitarnya. Genggaman tangannya pun terasa semakin melemah hingga lama-lama terlepas tanpa sadar.
__ADS_1
Arya ikut tersenyum saat melihat Rina yang mulai nyaman berada di air laut yang memiliki kedalaman air sampai pinggulnya.
Bintang yang sejak tadi sudah berada di gendongan Arya pun kini ikut tersenyum melihat keberanian ibunya, hingga tanpa sengaja seseorang yang sedang bermain menabrak Rina dan membuatnya hampir saja terjatuh, jika Arya tidak sigap untuk menangkap tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, ombak yang cukup besar juga datang, hingga semakin membuat keseimbangan Arya melemah karena harus menahan dua beban sekaligus, hingga akhirnya ketiganya jatuh terjerembap ke dalam air.
Rina sempat meminum air laut beberpa teguk sebelum akhirnya bisa ke luar dari laut dengan wajah yang memerah dan napas yang tersengal.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arya sambil memeluk erat Rina dan membawanya menuju tepian, sedangkan Bontang malah tersenyum senang, karena sudah terbiasa terkena ombak.
Rina tidak menjawab, dia hanya terus memeluk erat tubuh Arya sambil berjalan, seolah takut utuk melepaskannya lagi. Sepertinya alam bawah sadarnya merasa kalau bahu Arya adalah tempat teryamannya saat ini.
Diam-diam Arya mengeratkan tangannya di pinggang Rina, sambil tersenyum senang, karena selama ini wanita itu sangat menjaga jarak darinya, apa lagi untuk kontak fisik. Hanya sesekali, Rina akan mau disentuh oleh Arya di dalam situasi yang terdesak.
"Seru kan, Mah?" teriak Bintang sambil terkekeh ringan. Bocah kecil itu sepertinya tidak tahu kalau ibunya saat ini tengah ketakutan ... atau mungkin hanya pura-pura tidak tahu?
Rina yang mendengar suara Bintang seolah langsung tersadar, hingga dia langsung menoleh ke arah anak laki-lakinya itu.
"Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanyanya dengan wajah yang berubah panik. Sepertinya ketakutannya langsung hilang saat dia mengingat putra kesayangannya.
"Aku senang, Mah!" jawab Bintang dengan riangnya, senyum lebar pun tidak pernah luntur dari wajah imutnya.
"Ayo, Pah, kita ke sana!" seru Bintang lagi sambil menunjuk ke arah depan, di mana permukaan air semakin dalam.
"Enggak! Ayo kita main di tempat yang lebih dangkal saja, kaki Mama lemas sekali sekarang," geleng Rina, sambil mengeratkan lagi pelukannya pada tubuh Arya.
"Kita di sini dulu ya, Jagoan. Kasihan, Mama, sudah ketakutan," bujuk Arya walau terselip kekehan kecil di sela perkataannya, seolah sedang meledek Rina karena rasa takutnya.
Rina menepuk pundak Arya sambil mengerucutkan bibirnya, sebagai tanda protes, yang hanya dibalas oleh kekehan oleh Arya.
Bintang tampak mengerutkan wajahnya, dia tidak suka bermain di tempat yang dangkal, walau kemudian Bintang tampak mengangguk juga, setelah bermain kontak mata dengan Arya.
Dua laki-laki berbeda usia itu, tampak sudah memiliki bahasa sendiri dalam berkomunikasi, hingga bisa dengan leluasa berbicara hanya dengan isyarat mata saja.
"Baiklah, ayo kita main di sini saja," angguk Bintang sambil menghembuskan napas pelan.
"Itu baru jagoannya, Papa!" seru Arya kemudian mencium kening Bintang degan penuh kasih sayang, hingga membuat Bintang terkekeh ringan.
Pemandangan itu tentu saja cukup menarik perhatian para pengunjung lain yang berada di sekitar mereka. Posisi Rina yang berada di pelukan Arya dan Bintang di gendongannya, membuat mereka bagaikan sebuah keluarga utuh yang begitu bahagia.
Begitu juga dengan sepasang paruh baya yang tampak sedang berada di salah satu resto seafood yang terletak di dekat bibir pantai.
"Bukannya itu Arya?"
...****************...
__ADS_1