Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.88 Rencana Arya


__ADS_3

Malam hari setelah mengantarkan Rina pulang ke rumah, Arya tampak masuk ke dalam sebuah kafe yang cukup ramai, dia kemudian duduk di salah satu bangku yang lumayan tidak terlalu mencolok.


Beberapa saat kemudian seorang laki-laki tampak duduk di depannya. Sebelum memulai perbincangan, laki-laki itu pun memesan kopi dan cemilan lebih dulu.


"Ada apa?" tanya Arya sambil melihat wajah orang di depannya.


"Maafkan aku, sekarang ayahku sudah tahu kalau Bintang adalah anak kandungku," jawab laki-laki itu yang ternyata Anjas.


Arya tersenyum miring, dia menatap wajah Anjas yang tampak cangung.


"Kamu yang memberitahunya? Kamu masih belum rela melepaskan Rina bersamaku sampai menggunakan kekuasaan ayahmu sekarang?" tanya Arya yang terdengar menuduh di telinga Anjas.


Anjas tampak menatap Arya dengan mata melebar, dia tidak terima dengan perkataan Arya.


"Kamu menuduhku?" Anjas menunjuk dadanya sendiri.


"Aku sudah ikhlas sejak lama, Arya. Kami berdua sudah sepakat untuk melupakan masa lalu dan tidak saling mengusik satu sama lain," bantah Anjas.


"Tapi, sekarang buktinya ayahmu malah mengganggu Rina! Kamu tau? Ayahmu tadi siang datang ke restoran Rina dan memakinya sampai hampir saja menamparnya jika aku dan Bintang tidak datang lebih cepat." Arya menjelaskan dengan menahan geram di dalam hati, mengingat itu membuatnya emosi setengah mati.


"Apa?!" Anjas melebarkan matanya, terkejut dengan perkataan Arya. Dia tidak menyangka kalau ayahnya akan secepat ini memulai rencana.


"Aku tidak tahu. Sunguh! Ayahku juga mengetahui tentang Bintang bukan dari aku, tapi mereka mengetahuinya dari mertuaku, saat Rina mengantarkan Syafira ketika Tari masuk rumah sakit," jelas Anjas berusaha meyakinkan mantan sahabatnya itu.


"Jangan bohong." Arya masi belum percaya, walau dia juga ingat saat Rina mendapatkan bekas tamparan di rumah sakit waktu itu. Namun, dia tidak tahu kalau saat itu juga ada orang tua Anjas di sana.


"Percaya padaku, Arya! Aku sama sekali tidak pernah mengungkit Rina dan Bintang di hadapan mereka," jelas Anjas sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya hingga membentuk huruf V.


"Sumpah, Arya!" tekan Anjas lagi.


Arya terdiam, dia menatap wajah Anjas penuh selidik, kemudian menutup mata sambil menghembuskan napas pelan.


"Baiklah aku percaya," lirih Arya sambil membuka matanya kembali.


"Tapi, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rina dan Bintang, aku akan menyalahkan kamu." Arya menekankan suaranya di setiap kata yang dia ucapkan. Padahal itu hanyalah sebuah ancaman semata, karena pada kenyataannya mungkin dia akan lebih menyalahkan dirinya sendiri.


Anjas tampak menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, dia tahu jika saat ini Arya sedang sangat emosi padanya saat ini, dan ini semua karena ayahnya.


"Baiklah, aku akui memang itu semua kesalahanku. Kalau saja aku tidak datang lagi ke kehidupan Rina dan Bintang, mungkin semua masalah ini tidak akan pernah terjadi," jawab Anjas sendu.


"Baguslah kalau kamu sadar." Arya berkata lirih. Sekuat apa pun dia menyangkal, perkataan Anjas memang benar, selama ini semuanya berjalan baik sebelum akhirnya Anjas kembali datang di kehidupan Rina dan Bintang.


"Tapi, sepertinya kamu harus sangat berhati-hati mulai sekarang, karena ayahku pasti tidak akan tinggal diam. Aku yakin, dia sudah mempunyai sebuah rencana untuk mengambil Bintang dari kalian," ujar Anjas memberi peringatan.


Arya langsung menatap wajah Anjas dengan mata melebar, dia juga telah mengira kalau ayah Anjas seperti itu. Tetapi, dia tidak pernah mengira jika ayah Anjas sekejam itu, hingga mampu memisahkan Bintang dari Rina.

__ADS_1


"Aku tidak habis pikir dengan keluarga kalian," desah Arya.


Perbincangan pun berlanjut hingga tak terasa waktu sudah mulai larut dan keduanya pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.


.


Esok paginya Arya langsung bergegas untuk pergi mengunjungi rumah kedua orang tuanya.


"Ray, hari ini tolong kamu gantikan Kakak untuk menjaga Rina dan Bintang, pastikan tidak ada yang mengganggu mereka berdua," ujar Arya saat dirinya menemui adik bungsunya itu di kamar.


"Hem." Ray yang masih bergelung dengan selimutnya hanya bergumam pelan sambil kembali memeluk guling di sampingnya.


"Hei, kamu denger gak sih? Bangun cepat dan tunggu Rina di depan rumahnya! Aku harus segera berangkat agar masalah ini cepat selesai," ujar Arya sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Ray dengan sekali hetakkan.


Tadi malam Arya sudah berbicara dengan Ray tentang ayah Anjas yang ingin merebut hak asuh Bintang, mereka pun berunding untuk menemukan cara yang tepat dalam menghadapi laki-laki paruh baya itu.


"Kyaa! Kakak, aku masih ngantuk," keluh Ray, merasa kesal dengan Arya.


"Kalian yang pacaran, kenapa aku harus ikut repot sih?" decak Ray sambil menatap sang kakak dengan mata yang masih setengah terbuka, bibirnya mengerucut kesal.


Dengan terpaksa Ray duduk bersandar tanpa melepaskan bantal guling di dalam dekapan. Kepalanya pun tampak bertumpu di ujung benda empuk itu.


"Ya ampun, Ray, ini baru pertama kalinya aku minta tolong. Kalau situasinya baik-baik saja, aku juga tidak akan memintamu untuk menjaga calon istriku." ujar Arya sambil berbalik hendak ke luar dengan membawa selimut Ray.


"Aku pergi sekarang ... cepat bangun!" Arya menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada sang adik sebelum membuka pintu.


Sayang sekali, teriakan Ray tidak mendapat jawaban dari Arya karena laki-laki itu sudah terlebih dulu ke luar dari kamar dan menutup pintu begitu saja.


"Ish!" Walau tampak kesal, tetapi Ray tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh sang kakak.


Seperti saat ini, laki-laki itu sudah berada di depan rumah Rina kemudian membunyikan bel, padahal Ray bahkan belum sempat sarapan.


Tidak begitu lama pintu terbuka, wajah seorang wanita yang dia tahu sebagai teman dari Rina tampak terlihat dari balik pintu.


"Aku disuruh Kak Arya untuk menjemput Kak Rina dan Bintang," ujar Ray menjelaskan bahkan sebelum Heni bertanya.


"Ooh, kalau begitu masuk saja dulu." Heni mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergeser untuk memberi jalan agar Ray bisa masuk ke rumah.


Ray pun mengangguk samar kemudian masuk ke rumah bersama, mereka berjalan menuju ke dalam hingga melihat Bintang yang sedang menikmati sarapannya di meja makan.


"Wah, kebetulan sekali, aku belum sarapan," ujar Ray sambil duduk di samping Bintang kemudian mengambil roti lapis yang sudah tersedia.


"Ray? Ada apa, kok kamu ke sini pagi-pagi begini?" Rina yang baru saja datang dari dapur tampak melihat Ray heran.


"Aku disuruh menjadi sopir Kak Rina dan Bintang hari ini," jawab Ray dengan roti yang memenuhi mulutnya.

__ADS_1


"Om Ray, jorok," ujar Bintang polos yang langsung membuat Ray melihat anak itu dengan mata melebar.


Sedangkan Rina dan Heni hanya saling melirik sambil menahan senyum, mendengar ucapan Bintang yang memang benar adanya. Walau di dalam hati, Rina juga bertanya-tanya kenapa Arya menyuruh Ray untuk menjemputnya.


Namun, sepertinya Ray tidak memperdulikan semua itu, laki-laki itu hanya fokus pada makanan yang ada di meja makan, karena perutnya yang sudah keroncongan.


.


Sementara itu Arya yang tengah menyetir mobil mengalihkan perhatiannya saat dering ponsel terdengar, dia kemudian memakai earphone dan mengangkat telepon yang ternyata dari kekasihnya.


"Ya, sayang," ujarnya dengan senyum di bibir.


"Kata Ray, kamu ke rumah abi? Ada apa?" tanya Rina langsung.


"Enggak apa-apa, hanya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mereka tentang pernikahan kita," jawab Arya santai.


"Pernikahan kita?" Rina terdengar penasaran hingga membuat senyum Arya semakin mengembang.


"Hem, aku mau pernikahan kita segera dilaksanakan, walau hanya di KUA saja. Sedangkan pestanya menyusul setelah Ranti melahirkan," jelas Arya.


"Kenapa? Bukannya kemarin kamu sudah setuju kalau kita menikah setelah Ranti melahirkan?" tanya Rina heran.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan kalau ayahnya Anjas tidak bisa mengambil Bintang dari kita, dan salah satu usahaku adalah menikah dengamu secepatnya," jelas Arya, mengutarakan alasannya.


Rina tidak langsung menjawab, kini perasaannya kembali merasa bimbang dan bersalah pada Arya. Dia merasa selalu menjadi beban untuk laki-laki itu.


Dari semenjak pertemuannya dengan Arya di saat dia akan melahirkan beberapa tahun lalu, Arya selalu ada untuknya dalam keadaan senang ataupun sulit sekalipun.


Hening untuk beberapa saat itu membuat Arya tampak mengerutkan kening, hingga rasa khawatir mulai menyeruak di dalam hatinya.


"Sayang?" panggilnya perlahan.


"Ah, iya," jawab Rina sambil mengusap air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja.


"Kamu enggak apa-apa?" tanya Arya dengan nada khawatir.


"Maafkan aku, karena aku dan Bintang selalu menjadi beban untuk kamu," ujar Rina tiba-tiba.


"Hei, aku tidak pernah merasa kalau kamu adalah beban, sayang. Sudahlah, nanti kita bicarakan ini setelah aku pulang, ya. Aku mau mengisi bahan bakar dulu," ujar Arya.


"Assalamualaikum, sayang," ujarnya lagi sebelum memutuskan sambungan teleponnya bersama Rina.


"Waalaikumsalam." Rina hanya bergumam sambil menatap layar ponsel yang sudah berubah menjadi gelap.


.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2