Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.45 Dewasa karena keadaan


__ADS_3

Bintang terbangun saat mendengar isak tangis lirih di sampingnya, dia tahu kalau itu adalah sang ibu, hingga tanpa membuka mata Bintang hanya berpura-pura untuk membalas pelukan Rina kemudian mengeratkannya, agar wanita yang telah melahirkannya itu merasa tenang dan lebih kuat lagi. .


Ya, Bintang sudah terbiasa mendapati ibunya memeluknya sambil meangis seperti sekarang ini, jika saat dulu dia sering terbangun kemudian mengusap air mata di pipi Rina kemudian berkata 'jangan menangis, Mah' kemudian nanti Rina akan berpura-pura tidak menangis dengan berbagai alasan.


Kini, Bintang lebih memilih untuk tetap pura-pura tertidur dan membiarkan ibunya menangis sambil memeluknya sampai puas. Anak laki-laki yang baru genap berusia enam tahun, dua bulan lalu itu, mengerti jika di saat itu ibunya tengah menghadapi sesuatu yang sangat berat, walau dia tidak pernah mengerti apa itu.


Cukup lama Bintang berpura-pura tidur, hingga dia bisa mendengar isakan tangis ibunya mereda dengan napas yang berhembus teratur, menerpa keningnya, menandakan kalau kini Rina sudah tertidur.


Bintang perlahan membuka sebelah matanya, mengintip untuk memastikan kalau dugaannya tidak salah. Setelah melihat mata ibunya tertutup rapat, Bintang baru benar-benar membuka matanya secara sempurna dan beranjak duduk di samping sang ibu.


Bocah kecil itu membawa tangan mungilnya menyentuh pipi lembab Rina, dia menghapus jejak bekas air mata yang masih tersisa di sana.


"Bintang sayang, Mama. Jangan nangis lagi ya, Mah ... kalau Bintang sudah besar nanti, Bintang janji akan melindungi Mama, sampai Mama cuman bisa menagis karena bahagia saja," lirihnya, mengucapkan janji untuk dirinya sendiri.


Entah sejak kapan anak kecil itu jadi lebih dewasa dari umurnya, padahal Rina selalu berusaha memberikannya kebahagiaan agar bisa menikmati masa kecilnya. Namun, rupanya keadaan telah merenggut pikiran sederhana bocah kecil itu, hingga membuatnya bisa berpikir lebih tua dari usianya.


Rina mengerjap saat merasakan gerakan halus di pipinya, dia kemudian melihat Bintang yang sudah duduk di depannya.


"Sayang," ujar Rina menatap wajah sang putra dengan senyum tipis di bibirnya, baginya hanya melihat Bintang saat membuka mata saja sudah menjadi suatu kebahgiaan yang luar biasa.


Namun, senyumnya langsung menghilang dan berubah menjadi panik saat dia menoleh ke arah jam kecil yang berada di atas nakas.


"Astagfirullah, sayang, Mama ketiduran!" Rina langsung beranjak duduk sambil merapikan baju dan rambutnya yang sedikit kasut.


"Mama pasti capek ya, nemenin Bitang berenang tadi siang, makanya Mama ketiduran," ujar anak kecil itu, sambil melihat kepanikan ibunya, dengan wajah santai. Itu sudah sering terjadi, hingga dia menjadi terbiasa.


"Enggak, sayang, Mama gak capek kok. Sudah jam setengah tujuh, kita terlambat salat maghrib. Mama juga belum masak buat makan malam," ujar Rina sambil beranjak bangun dari ranjang kecil milik Bintang.


"Kamu siap-siap salat maghrib dulu ya, sayang. Mama juga akan salat maghrib di kamar, baru nanti masak buat makan malam kita," sambung Rina lagi, dia kemudian mengecup kening Bintang dan berlalu begitu saja dari kamar putra kesayanganya.


Bintang hanya terdiam, melihat kehebohan yang dibuat oleh ibunya, dia kemudian menghembuskan napas pelan sambil beranjak turun dari ranjang.


"Iya, Mah," jawabnya, yang diiringi senyuman tipis di bibir mungilnya.

__ADS_1


"Itu baru jagoannya Mama." Rina tersenyum sebelum menutup pintu.


.


Satu minggu sudah berlalu, hari ini adalah hari di mana dirinya harus memberikan jawaban pada Anjas tentang keinginan laki-laki itu untuk membagi hak asuh Bintang.


Siang ini Rina sudah menyuruh Heni menjaga Bintang, karena dirinya harus bertemu dengan Anjas. Rina meminta Anjas untuk datang ke resto, agar dirinya merasa lebih tenang.


Awalnya Heni menolak untuk membiarkan Rina menemui Anjas seorang diri, dia merasa kahwatir jika Anjas bisa melukai hati Rina lagi.


Namun, Rina meyakinkan Heni, dia lebih tidak mau kalau Bintang sampai tahu masalah dirinya dan Anjas. Walau Rina tahu kalau lambat laun, dia juga harus memberi tahu anak laki-lakinya itu tentang ayah biologisnya.


Benar saja, begitu jam makan siang tiba laki-laki yang merupakan mantan suami Rina itu sudah datang ke resto. Rina membereskan mejanya yang sedikit berantakan oleh berkas yang berserakan, setelah salah satu pegawainya memberitahukan kedatangan Anjas.


Ketukkan di pintu terdengar, membuat Rina yang sudah merasa gugup kini bertambah panik, dia menegakan tubuhnya sambil menghirup napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, mengurangi rasa sesak di dalam dada.


"Masuk," ujarnya sambil berdiri kemudian berjalan ke depan meja kerjanya, menyambut tamu yang sebenarnya tidak pernah ingin dia temui kembali.


Anjas masuk sambil mengedarkan pandangannya, ruang kerja milik Rina terlihat luas dan rapih, sepertinya Rina memang tidak berubah sejak dulu, wanita itu begitu mementingkan kebersihan.


Untuk sesaat Anjas terpaku, oleh pesona wanita yang dulu pernah dia sia-siakan itu. Ternyata kini Rina tidak kalah cantik dari Tari, wanita ini bahkan sudah melahirkan anak kandungnya. Satu poin unggul yang tidak bisa didapatkan oleh Tari sampai saat ini.


"Silahkan duduk."


Suara yang terdengar tegas dari wanita di depannya membuat Anjas terperanjat dan tersadar dari lamunan gilanya.


"Ah, iya, terima kasih," jawab Anjas sambil tersenyum senang.


Sejak dulu Rina memang sudah cukup manis, walau dengan tampilan polosnya. Namun, entah mengapa, sejak wanita itu mengetahui tentang pernikahannya dengan Tari, sikap Rina selalu membuatnya marah, hingga lama-lama dia menjadi bosan.


Apa lagi, kodisi mereka yang menikah secara terpaksa, tanpa adanya perkenalan lebih dulu, kemudian menjalani hubungan jarak jauh, yang membuat Anjas tidak bisa mempercayai Rina seutuhnya. Cinta pun sulit tumbuh di antara keduanya.


Rina tidak merespon, wanita itu lebih memilih untuk mengikuti Anjas menuju sofa yang ada di sana. Namun belum sempat mereka duduk suara salam dari seseorang mengejutkan Rina dan Anjas. Keduanya tampak mengalihkan perhatiannya ke pintu masuk, dia mana seorang laki-laki tampak datang dengan napas naik turun.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ujarnya, sambil menghampiri Rina dan Anjas dengan langkah yang terlihat tenang, walau sepertinya dia habis berlari hingga bulir keringat terlihat di dahinya.


Ya, Arya baru saja diberitahu oleh Heni tentang pertemuan Rina dan Anjas, hingga membuatnya harus berlari dari rumah sakit, dan menyetir dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai. Dia bahkan kembali berlari dari parkiran resto.


Heni sama sekali belum bisa mempercayai Anjas, dia melihat sendiri bagaiman Rina terpuruk karena laki-laki itu, dan dirinya tidak mau kalau sampai semua itu terulang kembali.


"Arya, kamu kenapa datang?" tanya Rina, dia manatap penuh tanya pada laki-laki yang kini sudah berdiri di sampingnya.


"Tidak baik, laki-laki dan perempuan yang tidak mahrom duduk berdua, jadi aku di sini sebagia pihak ketiga," jawab Arya sambil mengelus puncak kepala Rina, kemudian mendaratkan cuman di kening wanita itu.


Senyum lembut terlihat menenangkan hati Rina saat melihat sorot mata Arya. Kehadiran laki-laki yang kini menjadi kekasihnya itu, membuatnya merasakan ketenangan dan percaya diri untuk menghadapi Anjas.


Namun, raut wajah senang Rina dan wajah lembut Arya, sangat berbeda dengan Anjas. Laki-laki itu tampak mengepalkan tangannya, dengan wajah yang memerah, menahan amarah saat melihat interaksi antara Rina dan Arya yang begitu mengumbar kemesraan di depannya.


Sepertinya Arya memang sengaja melakukan itu, dia seolah sedang memberitahu Anjas kalau Rina kini telah menjadi miliknya.


"Untuk apa dia ada di sini?" tanya Anjas dengan nada bicara yang terdengar tidak enak sama sekali.


"Aku ingin mendampingi calon istriku," jawab Arya santai.


Anjas tampak tidak setuju, dia menatap Rina dengan sorot mata tidak suka, kemudian beralih pada Arya dengan mata yang memperlihatkan sebuah kebencian.


"Tapi, kamu tidak ada urusannya dengan apa yang akan kita bicarakan! Aku keberatan dengan keberadaannya di sini!" tolak Anjas langsung.


"Aku yang membesarkan Bintang bersama Rina, aku juga yang selama ini menjadi Papah untuk Bintang, jadi aku pikir ... aku berhak mengetahui pembicaraan kalian berdua," bantah Arya langsung, tatapan meremehkan terlihat jelas dari sorot mata laki-laki ini.


"Kamu hanya merawatnya, tapi aku adalah ayah kandungnya!" Anjas tidak terima, dia tidak suka berbagi apa pun dengan orang lain, begitu juga dengan Bintang.


"Ayah kandung yang bahkan tidak pernah mengakui Bintang sejak di dalam kandungan? Heh, ternyata kamu masih belum berubah, tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah." Arya mendengaus kesal, dia mengalihkan pandangannya, membuang muka dari mantan sahabatnya itu.


"Apa kamu bilang--" Anjas hampir saja terpancing emosi, bila Rina tidak menghentikannya.


"Sudah-sudah, lebih baik kita duduk dulu, atau jika memang kalian masih mau meneruskan beradu mulut dan mengenang masa lalu, lebih baik kalian berdua ke luar dari ruanganku," ujar Rina yang mulai melihat aura permusuhan di antara kedua laki-laki di hadapannya kini.

__ADS_1


Rencananya bertemu dengan Anjas untuk membicarakan tentang Bintang, kini terasa kacau karena perdebatan dadakan antara Anjas dan Arya. Entah masalah apa yang mereka alami sebelumnya, hingga aura permusuhan begitu kental terasa dari dua laki-laki di depannya kini.


...*************...


__ADS_2