Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.40 Apakah Anak Anjas


__ADS_3

"Aku tidak apa-apa, Hen," jawabnya setelah menghembuskan napas pelan.


Heni tampak menatap sahabatnya itu dengan kening berkerut, jelas sekali kalau sebenarnya Rina sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Benarkah? Aku tidak melihat begitu," ujar Heni, menatap Rina dalam.


Rina membalas tatapan Heni, dia kemudian menghembuskannya lagi, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Aku baik-baik saja, Hen." ujarnya masih mengelak.


"Aku minta maaf ... karena aku, kamu jadi bertemu lagi dengan dia." Heni menundukkan kepalanya, merasa bersalah atas pertemuan sahabatnya dan mantan suaminya.


Rina menatap Heni kemudian dia tersenyum samar. "Itu bukan pertama kalinya, Hen. Lagi pula, benar kata Arya, bila memang aku dan Mas Anjas ditakdirkan untuk bertemu lagi, maka aku tidak akan bisa terus menghindar, kan? Mau tidak mau aku harus menghadapinya."


"Kamu takut?" tanya Heni lirih.


Rina tersenyum tipis sambil menghembuskan napas pelan sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Tidak, Hen, lagipula dia sudah bahagia dengan keluarganya sendiri," jawab Rina lugas.


"Aku hanya bingung jika harus menjelaskan keadaan ini pada Bintang. Aku juga harus menyiapkan hatiku, untuk menerima jika suatu hari nanti Bintang harus mengakui kalau Mas Anjas adalah ayah biologisnya," sambungnya lagi.


"Kenapa sih, kamu tidak menerima saja cinta Arya, terus menikah dengannya? Itu akan lebih aman untukmu dan Bintang," gerutu Heni, sebagai sahabat tentu dia tahu kalau selama ini Arya memang mempunyai perasaan lebih pada Rina.


"Kamu sendiri, kenapa masih asik menjomblo sampai sekarang, heh?" Rina malah bertanya kembali pada Heni.


"Ya, itu karena--"


"Karena kamu juga masih tidak bisa keluar dari rasa sakit masa lalu kan, Hen?" Rina langsung memotong perkataan Heni, hingga membuat wanita itu terdiam.


Sekuat apa pun Heni menyangkal, nyatanya bayangan rasa sakit masa lalu masih terus menghantuinya sampai sekarang, hingga rasanya dia menjadi enggan untuk menjalin hubungan baru dengan seorang laki-laki.


"Tapi, Arya berbeda, Rin. Dia sudah membuktikan kesetiaannya padamu selama ini, dia begitu bersabar menunggu kamu berdamai dengan masa lalu," ujar Heni, membela Arya.


"Justru itu, Hen. Aku takut, jika semua pengorbanannya akan mendapatkan kekecewaan jika aku menerimanya di saat lukaku masih belum sembuh sepenuhnya," jawab Rina dengan mata yang mulai memerah.


Mengingat bagaimana Arya selalu ada bersamanya, selalu membuat hatinya menghangat, walau akhirnya rasa sendu karena dirinya yang masih takut untuk maju, membuat hubungan keduanya masih berjalan di tempat sampai sekarang.

__ADS_1


Heni terdiam, dia tidak bisa lagi berkata apa-apa, karena sebenarnya dia juga bisa merasakan luka yang dialami oleh Rina.


.


Esok paginya, Rina dan Heni yang baru saja sampai di resto, dikejutkan dengan kedatangan Tari yang tiba-tiba.


"Maaf, Bu, kami sudah bilang kalau resto belum buka. Tapi, Ibu ini memaksa untuk bertemu dengan Bu Rina," ujar salah satu pegawai yang memang menginap di resto.


"Iya, tidak apa-apa, kamu kembali bekerja saja," jawab Rina, sambil memberi isyarat pada Heni untuk ikut meninggalkannya.


Setelah melihat semua rekan kerjanya pergi, Rina baru beralih pada Tari, yang tengah duduk di depannya.


"Kalau boleh tau, ada perlu apa ya? Apa ada sesuatu yang berubah dari rencana pesta ulang tahunnya?" tanya Rina sambil kemudian duduk di hadapan Tari.


Tari tersenyum tipis, tatapannya pada Rina begitu berbeda dari pertemuan sebelumnya, hingga membuat hati Rina merasa gelisah dibuatnya.


"Ah, tidak, konsep acara sudah bagus semua, hanya saja ada sesuatu tentang kamu yang membuatku penasaran dan ingin memastikanya," ujar Tari sambil menegakkan tubuhnya.


Deg!


Rina ikut menegakkan tubuhnya, walau secepat mungkin Rina mencoba tetap tenang di hadapan wanita itu. "Memastikan apa ya?"


Cepat sekali perubahan wajahnya, dari yang awalnya begitu serius, kini dia kembali tampak santai, gumam Rina dalam hati.


"Sepertinya kamu ini tidak asing untukku. Sejak kemarin aku terus mengingat, apa kita pernah bertemu sebelumnya," ujar Tari masih dengan kekehan kecilnya.


"Setelah melihat kamu sekarang, aku menjadi yakin kalau kita memang pernah bertemu sebelumnya," sambungnya lagi.


Rina semakin dibuat bingung dengan perkataan Tari, karena seingatnya dia tidak pernah bertemu dengan Tari sebelumnya.


"Aku pernah melihat kamu beberapa kali, dengan calon suami kamu itu, beberapa tahun yang lalu. Hanya saja karena sekarang penampilan kamu berubah, jadi aku tidak terlalu mengenali kamu." Tari kembali berbicara.


Kerutan di kening Rina semakin dalam, saat mendengar perkataan Tari, karena dia merasa tidak pernah bertemu dengan Tari sebelumnya.


"Sepertinya waktu itu kamu sedang hamil, makanya aku menyangka kalau kalian adalah suami istri."


Rina kini mengangguk-anggukkan kepalanya samar, jika memang begitu, berarti itu disaat dirinya belum bercerai dengan Anjas.

__ADS_1


"Mungkin itu hanya kebetulan saja," ujar Rina yang masih belum curiga dengan kedatangan Tari padanya.


"Iya," angguk Tari. "Kalau memang laki-laki itu bukan suami kamu, terus siapa ayah dari anak itu?"


Rina menegakkan tubuhnya begitu mendengar pertanyaan Tari padanya. Wajahnya berubah memerah, Rina mencoba meredam keterkajutannya, kemudian dia tersenyum tipis.


"Itu adalah privasi aku, dan sepertinya Anda tidak berhak bertanya mengenai itu," jawab Rina dengan nada suara yang berbeda dari sebelumnya.


Tari terkekeh. "Oh, maaf aku tidak bermaksud untuk menyinggung kamu. Aku hanya sedikit penasaran saja."


Rina tersenyum tipis sambil menghembuskan napas kasar, dia tidak menyangka kalau wanita yang terlihat berkelas seperti Tari bisa melakukan tindakan semua ini.


Sungguh mengejutkan jika memang semua itu hanya dilandasi dengan perasaan penasaran. Mengingat Tari adalah anak dari orang terpandang yang memiliki pendidikan tinggi. Tentu Tari tahu apa yang seharusnya dibatasi ketika sedang bergaul dengan orang baru.


Menurut Rina itu bukanlah pertanyaan yang bisa diucapkan untuk seseorang yang baru saja berkenalan seperti mereka, bahkan mungkin bagi seorang teman pun, akan sangat canggung untuk menanyakannya.


"Jika memang tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, sebaiknya Anda segera pergi dari sini," ujar Rina langsung, dia sudah sangat tidak nyaman dengan keberadaan Tari saat ini.


"Maafkan aku, aku memang sudah terlalu lancang. Sebenarnya aku juga ingin menambahkan tamu yang akan datang," ujar Tari masih dengan senyumnya.


Rina yang awalanya sudah hendak beranjak, kembali duduk di tempat yang semula, walau suasana hatinya sudah terlanjur memburuk, karena ucapan Tari.


Keduanya pun akhirnya kembali membicarakan rencana acara yang akan dilangsungkan seminggu lagi. Rina tampak bersikap profesional walau suasana hatinya masih diselimuti rasa tidak nyaman.


Hingga setelah setengah jam berbicara, Tari pamit untuk pergi. Keduanya tampak berjalan bersama ke luar dari resto.


"Senang bekerja sama dengan kamu, Rin. Semoga ke depannya kita bisa berteman," ujar Tari saat keduanya sedang berjalan beriringan.


"Tentu." Rina menjawab singkat, walau senyum tipis masih berusaha dia pertahankan.


Tari tersenyum mendengar jawaban Rina, dia kemudian berjalan menuju mobilnya, hingga saat dirinya sudah memegang gagang pintu, Tari kembali berbalik sambil memanggil Rina.


Rina yang sudah hendak berbalik untuk kembali masuk, mengalihkan perhatiannya pada Tari lagi.


"Apakah anak itu adalah anak Anjas?" tanya Tari tiba-tiba.


Deg!

__ADS_1


Rina melebarkan matanya, jantungnya tiba-tiba terasa berhenti, tangannya pun mengepal kuat, merasa terkejut dengan pertanyaan dari Tari.


Benar kecurigaannya, Tari memang datang bukan hanya untuk membicarakan masalah acara. Akan tetapi, ada maksud lain yang disembunyikan di balik alasan itu.


__ADS_2