
"Bagaimana dengan Arya? Apa kamu tau kondisinya sekarang?" tanya Rina setelah dia menidurkan Bintang kembali.
Malam semakin larut, tetapi Rina dan Anjas tidak tertarik untuk menutup mata, mereka malah kembali mengobrol dan merangkai rencana untuk melawan ayahnya Anjas.
Bukan hal mudah untuk memberi hukuman pada ayahnya Anjas karena dia sudah memiliki banyak koneksi, hingga Anjas dan Rina harus mengatur rencana untuk mencari banyak bukti yang tidak bisa terbantahkan di pengadilan nantinya.
"Kabar terakhir yang aku dengar, dia masih belum sadarkan diri. Luka yang dideritanya lebih berat dari kamu," jawab Anjas perlahan.
Rina terdiam dengan mata yang kembali memanas, dia tidak menyangka jika pernikahannya dengan Arya akan melalui cobaan yang begitu berat seperti ini. Bahkan hanya setelah mereka melewati ijab qobul, keduanya harus terpisah lagi.
"Di mana dia sekarang?" tanya Rina dengan mata yang berkaca-kaca.
Anjas menghembuskan napas kasar, rasa bersalah di dalam hatinya semakin besar saat melihat penderitaan Bintang dan Rina secara langsung.
"Keluarganya membawa Arya ke luar negeri untuk menjalani pengobatan yang lebih baik. Kita doakan saja kalau Arya akan baik-baik saja dan segera kembali dengan keadaan yang sehat seperti semula," jawab Anjas lemas.
Air mata Rina kembali terjatuh begitu saja, saat mendengar kondisi Arya saat ini. Dia merasa bersalah pada laki-laki yang baru saja menjadi suaminya itu. Karena dirinya Arya kini berada di dalam bahaya.
"Untuk malam ini, bolehkah aku tidur di sini bersama Bintang? Aku janji besok pagi aku akan kembali ke kamar," ujar Rina kembali menoleh pada sang anak.
Kini dirinya merasa seperti sebatang kara, tidak ada lagi sandaran untuknya meminta pertolongan. Dia harus rela berpisah dulu dengan Bintang untuk sementara waktu, sedangkan Arya bahkan dia tidak tahu kondisinya saat ini.
.
"Papa, Bintang mau sama Mama!"
"Papa, tolong Mama sama Bintang!"
"Papa cepat kembali!"
"Bintang!" Arya membuka matanya cepat saat dirinya melihat bayangan Bintang yang tengah menangis hebat memanggil namanya.
Dadanya naik turun dengan napas yang memburu, keringat bercucuran hingga membasahi hampir seluruh tubuhnya.
"Bintang? Rina?" gumam Arya lagi sambil menggulirkan matanya melihat seluruh ruangan yang tampak sangat cerah itu. Arya mengerang pelan ketika rasa sakit menyerang kepalanya, hingga kerutan di kening tampak dalam.
"Arya, kamu sudah bangun, Nak?" Ummi tampak terkejut saat melihat anaknya itu kini sudah membuka mata.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan, Nak? Mana yang sakit, bilang sama ummi?" sambung ummi dengan air mata yang sudah berderai, tangannya mengusap wajah Arya yang sudah basah oleh peluh.
Wanita paruh baya itu merasa sangat bersyukur karena akhirnya anak sulungnya itu bisa membuka matanya lagi, setelah sekian lama.
"Ummi, Rina di mana?" Bukannya menjawab pertanyaan ummi, Arya malah bertanya tentang Rina.
Ummi tersenyum samar, dia kemudian mengusap air matanya yang kembali menetes. Walau ada sedikit rasa kecewa di dalam hati karena yang dicari Arya pertama kali adalah Rina dan Bintang, tetapi ummi juga bisa mengerti jika memang Arya sangat menyayangi sepasang ibu dan anak itu.
"Dia baik-baik saja, Nak. Ummi baru dapat kabar kalau Rina sudah bangun sejak dua hari yang lalu," jawab ummi sambil tersenyum.
Arya mengernyit bingung mendengar jawaban dari ummi. Mendapat kabar? Dua hari yang lalu? Perkataan yang membingungangkan untuknya yang belum mengetahui situasi saat ini.
"Apa maksud Ummi? Sekarang kita di mana dan berapa lama aku tidak sadar?" tanya Arya dengan wajah yang mulai panik.
"Ini adalah hari ke sembilan kamu setelah kecelakaan itu, Nak, dan kita ada di luar negeri, karena dokter di Indonesia menyarankan agar kamu mendapatkan perawatan di sini," jelas ummi dengan wajah yang terlihat murung.
"Di luar negeri? Terus kita ninggalin Rina dan Bintang di sana, Mi?" tanya Arya lagi, sungguh sekarang di tidak lagi perduli dengan kesehatannya. Yang ada di dalam pikirannya hanya Rina dan Bintang.
"Kami terpaksa melakukan ini, Nak. Kami diancam oleh ayahnya Anjas, dia akan kembali membuat kalian celaka kalau kita tidak menjauh dari Rina," jawab ummi lirih.
Mendengar itu Arya langsung memaksa dirinya untuk bangun, walau ternyata seluruh tubuhnya masih terasa sakit saat digerakkan, hingga dia kembali mengerang, membuat ummi semakin panik.
"Aku mau kembali ke Indonesia sekarang juga, ummi. Mereka sedang membutuhkan aku sekarang, aku tidak bisa terus diam di sini." Arya masih saja berusaha untuk bangun dan turun dari brankar rawatnya.
Namun, dia kemudian berdesis saat tangan sebelah kirinya terasa sangat sakit ketika digerakkan. Arya terdiam sesaat, kemudian menatap pada ummi penuh tanya.
"Hati-hati, Nak!" Ummi berujar panik sambil menahan tangan Arya.
"Tangan kirimu retak, kemungkinan itu karena benturan yang terjadi saat kamu kecelakaan," ujar Ummi disertai air mata yang kembali jatuh tak tertahan.
"Aku gak apa-apa, Ummi, sekarang aku mau segera kembali ke Indonesia, aku ingin bertemu dengan Rina dan Bintang." Arya masih kukuh pada pendiriannya.
"Tapi, Nak--" ucapan ummi terhenti saat sebuah suara terdengar dari arah pintu masuk.
"Baiklah, aku akan mengizinkan kamu kembali ke Indonesia!" Arya dan ummi sama-sama menoleh ke arah suara.
"Tapi, Abi--" Ummi tampak keberatan dengan keputusan suaminya.
__ADS_1
"Ummi, Rina sudah menjadi istri Arya dan sekarang Rina sedang membutuhkan Arya. Kita tidak bisa terus menghalangi mereka dengan alasan keselamatan," jawab abi sambil terus berjalan mendekat, kemudian berdiri di belakang ummi.
"Jalani tes kesehatan dulu, setelah dokter mengizinkan kamu untuk kembali, maka kita akan segera kembali ke Indonesia bersama-sama," sambung abi lagi sambil tersenyum samar pada Arya.
"Sekarang kamu sudah sadar, Abi dan Ummi sudah lebih tenang. Kami yakin kamu bisa menjaga dirimu dan keluarga kamu." Abi menepuk pelan pundak Arya, berusaha untuk memberi semangat pada sang anak.
Siang itu Arya menjalani pemeriksaan kesehatan, hingga dua hari setelahnya Arya sudah boleh pulang dan kembali ke Indonesia walau dengan banyak larangan yang harus dipatuhi olehnya.
Hingga akhirnya saat ini, Arya tengah duduk di dalam kabin pesawat yang tengah mengudara, di depannya tampak beberapa berkas yang diberikan oleh abi sebelumnya. Itu adalah bukti yang abi dapatkan dari salah satu temannya di kepolisian yang menangani kasus kecelakaan Arya.
Di sana bahkan ada rekaman percakapan terakhir antara Rina dan ayah Anjas yang jelas membuktikan kalau kecelakaan itu telah direncanakan. Namun, karena banyaknya koneksi ayah Anjas di kepolisian, membuat laki-laki tua itu kebal hukum.
Abi dan Ummi memutuskan untuk tidak ikut orang ke Indonesia, mereka harus mendampingi Ranti melahirkan di luar negeri. Ya, akhirnya Ranti memutuskan untuk kembali lebih awal, karena kecelakaan yang dialami oleh Arya, suaminya tidak mengizinkan Ranti untuk melahirkan di Indonesia.
Beberapa jam berada di dalam mesin raksasa itu, Arya akhirnya bisa menginjakkan kembali kakinya di negara kelahirannya. Dengan menggunakan hoodie dan masker untuk menutupi tubuhnya, Arya berjalan menyusuri bandara internasional itu.
Arya kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah ada seseorang di dalamnya.
"Huh, aku serasa jadi buronan." Arya menghembuskan napas kasar sambil membuka topi hoodie yang menutupi kepalanya.
Seseorang yang menjemputnya terkekeh sesaat begitu mendengar ucapan bernada kesal dari laki-laki di sampingnya.
"Kita langsung ke sana?" tanya seseorang yang tidak lain adalah salah satu teman dokternya.
"Iya," jawab Arya yakin.
Mobil itu pun akhirnya berjalan menyusuri jalanan yang tampak sangat lengang di malam menjelang pagi hari itu.
Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di depan salah satu rumah yang begitu Arya kenal. Sebelum ke luar mereka memastikan jika memang tidak ada yang mengawasi rumah itu.
"Kamu yakin saat ini aman?" tanya Arya sambil terus mengedarkan pandangannya.
"Tenang saja, menurut yang aku tahu mereka hanya akan mengawasi saat siang hari saja, itu pun hanya sesekali," jawab teman dokter Arya.
"Baiklah, aku ke luar sekarang. Terima kasih sudah menjemputku di bandara dan membantuku," ujar Arya sambil bersiap untuk ke luar dari mobil.
"Kita teman, sudah sepantasnya saling bantu, Arya. Santai saja lah." Teman Arya tampak tersenyum sambil menepuk pelan pundak Arya.
__ADS_1
"Selamat berjuang, semoga kamu bisa berhasil melawan mereka," sambungnya lagi memberi semangat.
"Terima kasih." Arya tersenyum haru, dia kemudian ke luar dari mobil dan membunyikan bel rumah itu.