
"Ayo." Arya membuka pintu mobil untuk Rina setelah Anjas pergi dari sana. Dia kemudian mengambil Bintang yang tampak tertidur di kursi belakang.
"Apa yang kamu lakukan pada dia? Kenapa dia bisa pergi begitu saja dari sini setelah berdebat dengamu?" tanya Rina saat keduanya berjalan bersama menuju ke rumah.
Arya hanya tersenyum sambil sedikit melirik wajah penasaran kekasihnya, sambil membenarkan letak Bintang di dalam gendongannya.
"Aku kan sudah bilang, jika aku sangat mengenal Anjas, jadi bukan hal sulit untukku membuatnya pergi dari sini," jawab Arya, malah semakin membuat Rina semkain penasaran.
Apa lagi tadi Rina sempat mendengar Anjas mengatakan kalau Arya adalah seorang pembunuh. Rina ingin sekali menanyakannya langsung pada Arya tentang semua itu, walau akhirnya dia memilih menahannya karena takut akan menyinggung kekasihnya.
"Aku langsung pulang ya, gak enak ini udah malam," ujar Arya setelah dia membawa Bintang ke kamarnya dan memastikan anak itu tertidur pulas kembali.
Rina mengangguk, karena hari ini terlalu sibuk di resto, dia terpaksa membawa Bintang untuk lembur. Bahkan Heni memilih untuk tidur di mes resto, agar lebih mudah membantu menyiapkan bahan masakan untuk besok pagi bersama dengan karyawan lainnya.
"Terima kasih," ujar Rina sambil berjalan mengantarkan Arya ke luar rumah.
Anjas tersenyum, dia kemudian berbalik menatap Reni yang selalu terlihat cantik dan menarik untuknya, hingga keduanya kini tampak berhadapan.
"Aku pulang dulu, jaga diri baik-baik dan kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi," ujar Arya sambil mengelus lembut puncak kepala Rina.
"Heem." Rina mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban.
.
Arya berdiri di balkon kamar rumah miliknya dengan hanya menggunakan kaos rumahan tipis dan celana pendek, dia membiarkan dinginnya angin malam menerpa tubuh tingginya.
Salah satu tangannya menggenggam ponsel yang kini sedang tersambung dengan kedua orang tuanya di luar kota.
"Jangan terlalu senang dengan semua ini, Arya. Sekarang ini yang kamu hadapi bukan hanya Anjas. Istrinya itu adalah anak dari pengusaha sukses yang tidak memiliki perasaan, dia bahkan tega untuk melakukan hal curang demi memenangkan proyek."
Abi terdengar memberi nasihat pada Arya melewati sambungan telepon. Walau dia masih belum bisa menerima hubungan Arya dan Rina. Nyatanya, sebagai orangtua, baik abi mau pun ummi sangat mengkhawatirkan anak sulungnya itu, walau sebenarnya Arya bukanlah darah daging keduanya.
__ADS_1
Ya, Arya adalah anak dari kakaknya ummi yang meninggal karena bencana alam, hingga menyisakan Arya seorang. Saat itu Arya masih berusia delapan tahun. Akibat kejadian itu, Arya kecil harus berjuang untuk ke luar dari traumanya, hingga perlahan keceriaan Arya kembali saat dia menginjak sekolah menenggah pertaman.
Ingatan tentang banyaknya korban bencana anak-anak yang kurang mendapatkan penanganan membuatnya ingin menjadi dokter anak dan membangun panti asuhan bagi anak-anak terlantar.
Kini semua cita-cita Arya telah terwujud walau banyak mengalami rintangan. Sekarang Arya bahkan menjadi salah satu pria idaman banyak wanita, mengingat sikapnya yang ceria dan mudah bergaul, ditambah kesuksesan yang sudah dia genggam, dan penampilan yang juga menarik.
Semua itu sudah memenuhi syarat untuk menjadi suami idaman para perempuan, hingga sering kali teman-teman ummi maupun rekan bisnis Abi datang ke rumah untuk menawarkan sebuah perjodohan.
Namun, Arya terus menolak perempuan yang abi dan ummi tawarkan, hingga sampai umurnya yang sudah sangat matang, Arya masih memilih melajang.
"Iya, Abi, Arya akan berhati-hati," jawab Arya dengan nada suara yang terdengar sangat sopan.
"Nak, kamu yakin tidak mau mempertimbangkan anak Ustadz Heri? Dia perempuan yang salehah dan penurut, dia juga lulusan Kairo." Suara ummi terdengar, kembali mempertanyakan keputusan Arya dalam memilih pasangan.
Arya tampak menutup matanya dengan kepala sedikit mendongak, menarik napas dalam, hingga memenuhi seluruh rongga dadanya kemudian menghembuskannya perlahan, sebelum menjawab ucapan dari ummi.
Dibandingkan abi dan Ray, ummi–lah yang terang-terangan menentang hubungan Arya dan Rina, setelah dia tahu kalau Bintang adalah anak dari Anjas.
"Maaf, Ummi," sambung Arya lagi dengan nada penuh sesal.
.
Siang hari ini rintik hujan kecil tampak turun membasahi bumi, membuat orang-orang enggan untuk beraktivitas. Namun, semua itu tampak tidak berguna bagi Rina. Buktinya, saat ini wanita yang sudah memiliki purta itu tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Dia sama sekali tidak perduli pada jalanan licin, karena air hujan yang menggenang. Pikiranya begitu kalut dengan bayangan sang anak terus memenuhi mata dan pikirannya.
Ya, beberapa saat yang lalu dia mendapatkan telepon dari sekolah yang mengabarkan kalau Bintang berkelahi dengan beberapa temannya di sekolah.
Tentu saja, kabar itu membuat Rina terkejut, karena selama ini Bintang termasuk anak yang tidak pernah berulah di sekolah, maupun di tempat lainnya.
Entah apa yang terjadi sebenarnya, hingga anak itu bisa terkena masalah seperti ini. Saat ini Rina benar-benar sedang merasa khawatir.
__ADS_1
Rina sampai di sekolah bersamaan dengan kedatangan Arya. Ternyata laki-laki itu juga dihubungi oleh pihak sekolah, mungkin karena Arya termasuk wali Bintang selain Rina.
"Kamu tenang dulu, aku yakin Bintang memiliki alasan melakukan ini pada temannya," ujar Arya, begitu dia bertemu dengan Rina.
"Aku khawatir dengan keadaan anakku," jawab Rina dengan wajah paniknya. Saat ini Rina dan Arya tengah berjalan menuju ke ruang kepala sekolah.
"Bintang adalah anak yang kuat, aku yakin dia tidak akan terluka." Arya berkata yakin, karena selama ini dirinya sendiri yang melatih Bintang ilmu bela diri sejak dini.
Itu terjadi, sejak Bintang dan Rina pindah ke kota. Arya tidak mau jika Bintang menjadi anak yang lemah dan mudah ditindas. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengajari Bintang bela diri setiap akhir pekan, atau saat dirinya sedang senggang.
"Semoga saja," jawab Rina sambil terus melangkah cepat. Walau dia tahu selama ini Bintang berlatih bela diri bersama Arya, tetap saja dia merasa khawatir pada anak laki-lakinya.
Namun, sepertinya semua ucapan Arya memang benar, kehawatiran Rina pada Bintang benar-benar berlabihan. Itu terbukti saat Rina dan Arya sampai di ruang kepala sekolah.
Di sana, Bintang tampak duduk sambil menundukkan kepala dengan beberapa orang dewasa di sekitarnya. Tidak ada luka lecet sedikit pun di tubuhnya, hanya saja bajunya sedikit kusut.
Sedangkan di depan Bintang terlihat tiga orang anak laki-laki yang mungkin seumuran, dengan baju yang sudah berantakan dan ada luka bekas jatuh di lutut dan tangan mereka.
Tanpa sadar Rina membiarkan mulutnya terbuka, akibat terkejut dengan pemandangan yang ada. Kini bukan luka yang Rina khawatirkan dari anaknya, melainkan bagaimana dia harus menyikapi orang tua dari ketiga anak yang ada di sana.
"Benar kan kataku, Bintang adalah anak yang kuat?" bisik Arya di depan teling Rina, sambil tersenyum bangga pada Bintang.
Sedangkan Rina hanya melirik Arya dengan tajam tanpa menjawab pertanyaan dari laki-laki itu. Dia memilih berjalan menghampiri Bintang, ingin memastikan jika tidak ada luka yang anak itu sembunyikan.
"Kami tidak apa-apa, sayang? Mana yang sakit, bilang pada Mama?" tanya Rina sambil berlutut di depan Bintang dan memeriksa seluruh tubuhnya.
Salah satu wali murid yang ada di sana tampak melihat Rina dengan sinis.
"Ternyata dia anaknya pelakor ini, pantas saja masih kecil kelakuannya sudah kayak preman," ujar wanita muda dengan rambut di cat berwarna keunguan.
Rina yang mendengar itu langsung menoleh pada wanita itu, begitupun Arya dan semua orang dewasa yang ada di sana.
__ADS_1
...****************...