Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.79 Hanya rekayasa


__ADS_3

Tiga hari sudah belalu sejak kejadian kecelakaan Tari terjadi, Anjas masih tetap setia mengurus pemulihan kondisi Tari di rumah sakit. Istrinya itu sudah sedikit bisa berdamai dan menerima kondisinya saat ini, walau terkadang dia juga mengeluh dan menangis di depan Anjas.


Seperti saat ini, laki-laki itu tampak sedang mengerjakan pekerjaannya di meja tunggu yang ada di ruang rawat Tari, sedangkan Tari tengah tertidur setelah beberapa saat lalu meminum obat.


Tiga hari ini, Anjas benar-benar tidak mau meninggalkan Tari jika memang tidak ada yang penting di kantor. Selama pekerjaannya bisa dia kerjakan di rumah sakit, maka di sanalah dia selalu menyempatkan waktu untuk bekerja di sela menjaga sang istri.


Anjas terdiam saat ingatan tentang reaksi kedua mertuanya saat mendengar kondisi Tari yang mengalami kelumpuhan sementara, melintas di kepala. Benar semua perkiraan Anjas, mereka menyalahkannya sebagai suami yang tidak bisa menjaga istri. Bukan hanya mertua yang melakukan itu, tetapi kedua orang tuanya pun menyalahkan dirinya akan kejadian itu.


Tentu saja, semua itu semakin membuat pikirannya tak menentu. Apa lagi sejak hari kecelakaan Tari terjadi, Hilman pun tiba-tiba menghilang entah ke mana, laki-laki itu bagaikan ditelan bumi. Tidak ada kabar sama sekali darinya, bahkan ke dua orang tua Hilman pun tidak tahu anaknya berada di mana, katanya Hilman hanya bilang jika dia ada tugas kantor ke liar kota. Anjas sempat bertanya pada mereka ketika menjenguk Tari di rumah sakit.


Dering ponsel di atas meja menyadarkan Anjas dari lamunan panjangnya, kerutan halus terlihat di keningnya saat melihat layar benda pipih itu.


Hilman. Itu lah nama yang tertera di sana, hingga membuat Anjas terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, jika baru beberapa saat dia memikirkan orang itu, kini Hilman malah menghubunginya secara tiba-tiba.


Anjas melirik wajah sang istri terlebih dahulu, memastikan kalau Tari masih tertidur lelap. Setelah yakin istrinya tidak akan terbangun, Anjas beranjak menuju salah satu pojok ruangan yang memiliki jarak lebih jauh sambil menerima panggilan itu.


Dirinya harus meminta penjelasan dari Hilman tetang semua yang terjadi di antara mereka. Tari memang sudah menjelaskan semuanya padanya, sejak dia sadar dan mampu ke luar dari rasa terpuruknya.


Namun, Anjas masih penasaran dengan penjelasan yang akan diberikan oleh Hilman, dia tidak ingin kejadian dirinya dan Arya akan terulang kembali, hanya karena kurangnya komunikasi.


"Ada apa?" tanya Anjas, tanpa menyapa sama sekali. Dia menempelkan ponselnya di telinga.


"Bisa ke luar sebentar, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," jawab Hilman dari seberang sana.


Anjas kembali melihat pada Tari, dia merasa enggan untuk meninggalkan Tari sendiri, dirinya takut kalau sampai sang istri terbangun saat dia tidak ada. Namun, Anjas juga sangat ingin menemui Hilman, untuk memperjelas masalah mereka.


"Baiklah, di mana kamu sekarang?" tanya Anjas setelah lama dia terdiam, menimbang apa yang akan dirinya lakukan.


"Aku ada di depan ruang rawat Tari," jawab Hilman yang membuat Anjas langsung menoleh ke arah pintu masuk.


Anjas membawa kakinya melangkah kemudian membuka pintu perlahan. Matanya melebar saat melihat keberadaan Hilman yang ada di sana. Ternyata laki-laki itu memang benar-benar tengah berdiri di depan ruang rawat Tari.


Mata keduanya sempat bertaut sekilas sebelum Hilman memutuskannya lebih dulu, ada api amarah yang tampak masih membara di sorot mata Anjas walau laki-laki itu hanya terdiam, sambungan telepon pun diputuskan begitu saja, perlahan Anjas melangkah menghampiri sahabat yang telah mengkhianatinya itu.


"Kita bicara di luar saja," ujar Anjas tanpa menatap wajah Hilman, dia kemudian melangkah kembali mendahului Hilman.


Anjas sempat menitipkan Tari pada perawat wanita yang berjaga di sana, takut istrinya terbangun dan membutuhkan sesuatu ketika dirinya tidak ada.

__ADS_1


Anjas membawa Hilman ke kantin rumah sakit agar bisa lelusa berbicara tanpa ada gangguan, sekaligus dia juga membutuhkan kopi untuk dirinya yang sangat kurang tidur akhir-akhir ini.


Tugas kantor menumpuk, dengan segudang masalah pribadi yang menimpanya, membuat Anjas tidak pernah tertidur pulas di malam hari.


"Ada apa?" tanya Anjas lagi, begitu mereka baru saja duduk di salah satu kursi yang ada di kantin rumah sakit.


Hilman tampak menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan sebelum memulai perbincangan di antara mereka. Selama tiga hari ini, dirinya mengurung diri di apartemen miliknya, dia benar-benar merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Tari.


"Bagaimana keadaan Tari?" tanya Hilman dengan suara yang terdengar berat.


"Dia mengalami cedera di area tulang belakang, hingga mengakibatkan kakinya tidak bisa berjalan untuk sementara," jawab Anjas tanpa ada yang ditutupi.


Hilman tampak menatap Anjas sekilas dengan mata yang melebar seolah tidak percaya, walau kemudian dia menunduk dalam sambil menghembuskan napas kasar dengan pundak yang terlihat jatuh. Perasaan bersalah di dalam hatinya semakin bertambah besar.


"Aku minta maaf." Hilman berucap lirih. Dia menghentikan sejenak perkataannya, seakan sedang menyesali apa yang terjadi pada Tari.


"Kejadian yang menimpa Tari adalah kesalahanku. Aku lupa diri karena rasa cintaku pada istrimu," ujar Hilman secara gamblang, mengungkapkan rasa penyesalan sekaligus cinta yang sejak lama dirinya pendam.


Anjas mengepalkan tangannya saat Hilman kembali mengungkapkan perasaannya pada Tari, dia benar-benar tidak pernah menyangka jika selama ini Hilman menyimpan perasaan untuk istrinya sendiri.


"Maafkan aku ... aku sadar, rasa cintaku memang tidak pantas untuk Tari. Aku sudah berusaha untuk melawan dan melupakan rasa itu, Jas. Tapi, ternyata semua usahaku selalu gagal hingga membuat aku kembali terjerat dalam perasaan sialan ini," jelas Hilman, laki-laki itu tampak meringis meraskan derita akibat cinta yang tidak berada pada tempatnya.


"Sudahlah, tidak usah membahas itu lagi. Aku hanya berharap, setelah ini kamu bisa melupakan perasaanmu pada istriku. Sejak duli Tari sudah memilih aku, jadi lebih baik kamu lupakan saja perasaanmu itu. Masih banyak wanita lajang di dunia ini yang pantas untuk kamu cintai, Man," ujar Anjas, dengan suara pelan di akhir kalimatnya.


"Sekarang aku ingin minta penjelasan tentang malam panas kalian, apa itu memang benar terjadi?" tanya Anjas dengan sorot mata tajamnya.


"Maafku, tergantung jawabanmu!" sambung Anjas lagi.


Hilman tersenyum miris sambil menghembuskan napas kasar, pertanyaan yang menurutnya begitu bodoh yang diucapkan oleh Anjas adalah bertanya tentang malam panas itu.


"Apa kamu masih belum mempercayai istrimu sendiri?" tanya Hilman. Bagaimana dirinya bisa meninggalkan Tari dengan Anjas jika laki-laki itu belum bisa mempercayai Tari sepenuhnya.


"Aku percaya pada istriku, tapi kini aku tidak bisa mempercayaimu lagi, Hilman!" desis Anjas dengan tubuh condong ke depan, dan mata yang memicing tajam.


Hilman tersenyum sambil berdecih pelan, dia kemudian memundurkan tubuhnya hingga bersandar di sandaran kursi, tangannya mengambil gelas kopi kemudian menyeruputnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Anjas.


"Ck!" Anjas yang merasa kesal dengan gaya Hilman berdecak pelan sambil mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Tidak ada yang terjadi pada kami berdua. Malam itu, Tari mabuk berat kemudian muntah hingga terkena bajunya dan bajuku. Dia yang mungkin merasa tidak nyaman akhirnya membuka bajunya sendiri kemudian tertidur di ranjang saat aku membersihkan diri, sebenarnya aku tidak tau apa yang terjadi selama aku mandi. Namun, pagi harinya aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mencoba memiliki Tari," jelas Hilman dengan senyum misteriusnya.


Ya, sebenarnya yang terjadi malam itu adalah, Tari yang muntah ketika Hilman sedang memapahnya ke kamar tidur, hingga mengenai baju mereka berdua.


"Ya ampun, Tari, gara-gara kamu aku harus mandi malam-malam begini!" kesal Hilman sambil menidurkan Tari di atas sofa.


Hilman yang sudah tidak tahan dengan bau muntah di bajunya pun akhirnya memilih untuk langsung pergi ke kamar mandi tanpa tahu apa yang terjadi pada Tari.


Alangkah terkejutnya dia saat ke luar dari kamar mandi, mendapati kamar yang berantakan dengan baju Tari yang berceceran di lantai, dan Tari yang sudah tertidur di atas ranjang dengan berbalut selimut.


"Bodo amat lah, biarkan saja." Hilman yang sudah sangat lelah dan juga masih sedikit mabuk pun memutuskan untuk tidur di ranjang dengan hanya menggunakan jubah mandi.


Hingga saat pagi hari tiba-tiba saja dia terpikirkan untuk memanfaatkan kondisi itu agar Tari menjadi miliknya.


Anjas memicingkan mata, dia melihat penuh selidik semua ekspresi yang ke luar dari wajah sahabatnya itu. Namun, sayang sekali dirinya bukanlah ahli pembaca ekspresi wajah, hingga dia hanya bisa menerka apakah Hilman tengah berkata jujur atau sebuah kebohongan.


"Jadi kalian tidak melakukan apa pun?" tanya Anjas dengan tangan mengepal semakin erat. Bukan hal yang mudah untuknya membicarakan tentang malam panas istri dan sahabatnya sendiri. Begitu sesak di dalam dada.


"Heh! Aku masih memiliki akal sehat, Jas. Kalian adalah sahabatku ... walau aku mencintai Tari, tapi aku tidak akan pernah menodainya hanya karena ingin memilikinya," jawab Hilman yang terasa bagaikan angin segar untuk Anjas, walau rasa kecewa itu masih tetap bersarang di dalam hatinya.


Anjas tersenyum tipis pada Hilman, kini dia percaya jika persahabatan mereka masihlah ada, walau mungkin tidak erat seperti dulu. Namun, rasa perduli yang ada di antara mereka masih tersisa sampai saat ini. Bukan hanya tentang dirinya dan Hilman, tetapi juga tentang Arya. Tiga sahabat yang dulu begitu terkenal karena kompakan dan kasih sayang di antara mereka.


"Terima kasih," ujar Anjas tulus.


Perbincangan di antara mereka hanya berlangsung singkat, setelah semuanya jelas Anjas pamit untuk kembali ke ruang rawat Tari, dia takut jika istrinya akan mencarinya. Anjas juga sempat menawarkan Hilman untuk menemui Tari lebih dulu, tetapi laki-laki itu menolak, Hilman masih belum percaya diri untuk menemui wanita itu.


"Kembalilah ke kantor, aku sudah lelah selama tiga hari ini, terus membagi waktu antara istri dan pekerjaan," ujar Anjas sebelum dia pergi.


Hilman menatap Anjas dengan wajah herannya, dia tidak menyangka jika Anjas masih menerimanya di kantor setelah semua yang dia lakukan.


"Aku masih boleh bekerja?" tanya Hilman pelan.


"Aku tidak akan mencampurkan urusan pribadi kita dengan pekerjaan, jadi tetaplah bekerja di kantor," jawab Anjas kemudian berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Hilman bersama keterkejutannya.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2