
Setelah kepergian Anjas, Rina mulai sibuk dengan kehidupannya sendiri. Mengurus ladang milik kedua orang tuanya kini menjadi kesibukan utama Rina, bersama dengan Heni dan para pekerja lainnya.
Hingga setelah acara empat puluh hari kedua orang tuanya, tiba-tiba para saudara dari Bapak dan Ibu mengajak untuk berkumpul, entah untuk membicarakan apa.
Sebenarnya sewaktu tujuh hari setelah pemakaman, mereka sempat mau mengajak Rina untuk bertemu. Akan tetapi, Rina menolaknya dengan alasan masih berkabung.
Kini mereka datang kembali, dan ternyata itu hanya untuk membicarakan masalah warisan dari kedua orang tua Rina.
"Warisan apa ya?" tanya Rina seolah tidak tahu apa-apa, saat mereka menagih bagian warisannya.
"Semua aset milik Bapak dan Ibu sudah atas namaku sejak setahun yang lalu, jadi selama ini mereka hanya mengelola lahan milikku," sambung Rina lagi yang membuat semua orang di ruangan itu melebarkan matanya.
Sebenarnya Rina juga tidak pernah tahu semua itu, dia tidak pernah berfikir kalau bahkan Ibu dan Bapak sudah mengalihkan semua surat berharga atas nama dirinya.
Sepertinya mereka berdua memang sudah tahu kalau semua ini akan terjadi, hingga kedua orang tuanya Rina sudah mengantisipasi lebih dulu.
Tidak bertahan lama semua kerabat dari bapak maupun Ibu yang sudah bersekongkol untuk merebut harta peninggalan kedua orang tua Rina, belalu pergi tanpa mendapatkan apa pun.
Hanya ada umpatan yang keluar karena rasa kecewa yang tanpa sebab. Rina tersenyum melihat kerabat keluarga dari Bapak dan Ibu yang tidak bisa melakukan apa pun.
.
Sementara itu di kota, Anjas tampak sedang sibuk di meja kerjanya. Ya, setelah dia kembali dari kampung Rina, kini Anjas tampak menjadi penggila kerja.
Anjas sering sekali menghabiskan waktunya di kantor hingga terkadang tidak pulang ke rumah. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, hingga kini dia seolah sedang menghukum dirinya sendiri.
"Makan siang dulu, Jas," ujar Hilman yang baru saja masuk ke ruangan Anjas dengan membawa paper bag di tangannya.
Hilman kemudian berjalan menuju meja tamu yang ada di sana, kemudian mulai menyiapkan menu makan siang mereka berdua.
Anjas menghembuskan napas lelah, dia berdiri dan menyusul Hilman duduk di sofa, melihat semua hidangan yang disiapkan oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
Menu ayam bakar komplit dengan sambal dan lalapan tampak sudah tersaji dengan begitu rapih di atas meja. Namun, sepertinya itu sama sekali tidak membuatnya berselera makan. Mata Anjas kini malah beralih pada menu pencuci mulut yang tampak di kemas di dalam sebuah cup.
Ya, itu adalah salad buah, makanan yang mengingatkannya pada Rina. Perlahan tangannya mengambil makanan itu yang kemudian dia buka, walau belum sempat dia membukanya Hilman sudah menghentikannya.
"Itu buat dimakan di akhir, Jas. Kamu harus makan dulu, sebelum makan yang lain. Ingat kamu punya asam lambung," cegah Hilman.
Pasalnya akhir-akhir ini dia melihat pola hidup Anjas begitu berantakan, sekarang bahkan dia yakin kalau Anjas belum sarapan di rumah, mengingat sejak kemarin Tari sedang ada tugas kerja.
"Aku tidak lapar, Man," jawab Anjas sambil melanjutkan aktivitasnya membuka cup berisi salad buah itu, kemudian memakannya.
Ingatannya pada saat dia sarapan bersama Rina yang hanya memakan satu mangkuk kecil salad buah berputar di kepala, seolah sebuah film.
Lidahnya mengecap rasa asam bercampur manis dan segarnya buah, ada rasa sakit di dalam hatinya, mengingat segala perbuatannya pada Rina selama masih menjadi istrinya.
Ternyata dia baru merasakan kehilangan dan artinya kehadiran Rina di dalam hidupnya, disaat Rina sudah tidak lagi menjadi miliknya.
Satu bulan ini, hidupnya terasa mengambang, Anjas seolah masih belum percaya bahwa Rina kini bukan lagi miliknya.
Dia bahkan masih sering mendatangi rumah milik Rina, demi untuk mengenang kebersamaan mereka yang ternyata sangat singkat. Waktu yang bahkan belum mencapai satu tahun, semakin berkurang oleh sikap dirinya yang selalu acuh pada Rina.
"Hah?!" Anjas mengerjap, dia terkejut oleh suara kencang dari sahabatnya itu.
Hilman tampak menghentikan aktivitas makan siangnya, dia taruh lagi piring berisi nasi, ayam bakar, lalapan, dan sambal, itu ke atas meja. Dia kemudian menghembuskan napas yang terdengar kasar, hingga seperti sebuah dengusan di telinga Anjas.
"Udahlah, Jas, gak usah dipikirin lagi. Bukannya semuanya sudah selesai? Sekarang kamu tinggal menata hidup yang baik dengan Tari, dan lupakan Rina," ujar Hilman memberi nasihat.
Jengah juga dia melihat Anjas setiap hari bagaikan tidak memiliki semangat hidup, hanya terus melamun kemudian sibuk dengan pekerjaannya. Dan, itu semua terjadi hanya kerana masalah seorang wanita.m
Anjas menghirup napas dalam, kemudian menghembuskannya, sambil kembali menyimpan cup salad buah yang sisa setengah di atas meja.
"Aku gak tau apa ini keputusan yang benar atau salah, Man? Kenapa rasanya aku sulit untuk melupakan dia? Aku merasa ada yang hilang, setelah aku meninggalkan Rina di kampung," keluh Anjas, dia sendiri belum yakin dengan perasaannya.
__ADS_1
"Kenapa lagi sih, Jas? Bukannya ini yang selama ini kamu mau? Rina pergi dari hidup kamu dan kamu akhirnya bisa hidup tenang dengan Tari?" tanya Hilman dengan kening yang berkerut.
"Iya, sebelumnya memang itu yang aku inginkan. Tapi, sekarang aku merasa berat untuk melepas dia--"
"Kenapa? Apa karena anak di dalam kandungannya?" Hilman menyela perkataan Anjas.
Anjas terdiam dengan tubuh yang menegang.
Apakah ini memang karena aku masih ragu dengan status anak itu? Lalu bagaimana nanti kalau anak itu memang anak aku? batin Anjas meragu.
"Sepertinya tembakan aku benar, kamu masih memikiakan anak yang dikandung Rina?" Hilman terkekeh dengan nada mengejek, dia kemudian menyandarkan tubuhnya seolah sedang menikmati raut gundah dari sahabatnya.
Anjas menatap wajah Hilman kemudian berdecak pelan, dia mengambil air dan meminumnya.
"Aku hanya takut kalau ternyata dia adalah anakku, Man. Itu berarti aku telah meninggalkan anak kandungaku sendiri." Anjas mengeluarkan apa yang sejak beberapa hari yang lalu terus mengganggu pikirannya.
"Penyesalan memang selalu ada di akhir, Jas. Jadi sekarang kamu terima saja keputusan yang kamu buat, dan berusaha bahagiakan Tari sebaik mungkin, agar kamu tidak mengalami penyesalan yang sama lagi."
Hilman berkata dengan nada santai, sepertinya tidak ada ada simpati sama sekali pada nasib sahabatnya itu.
Anjas mengangguk sambil menghembuskan napas kasar, kemudian menyandarkan punggungnya.
"Semua itu memang mudah untuk kamu katakan, Man. Tapi, aku yang mengalaminya," keluh Anjas pelan, dia menaruh tangannya di atas kening yang sedikit mendongak sambil menutup matanya.
Sementara itu, di luar ruangan Anjas, seorang wanita cantik dengan tubuh bak model sedang berdiri sambil mendengarkan perkataan Anjas dan Himan di dalam, tanganya bahkan sudah memegang gagang pintu yang sedikit terbuka, karena sebelumya dia ingin membuka pintu. Namun, semua itu terhenti begitu saja.
"Mba Tari, kenapa belum masuk?" pertanyaan dari salah satu karyawan membuat Tari refleks melepaskan tangan dan mundur beberapa langkah karena terkejut, hingga tanpa sengaja dirinya menyenggol beberapa barang di dekatnya.
Sedangkan Anjas dan Hilman yang masih berada di dalam dan larut di dalam perbincangan mereka, juga langsung saling menatap saat nama Tari terdengar samar dari balik pintu. Keduanya berdiri dan berjalan menuju ke pintu, untuk melihat apa yang terjadi di luar ruangan.
Mata Anjas melebar begitu melihat Tari yang sedang berdiri gelisah di depan ruangannya bersama dengan salah seorang karyawan. Begitupun dengan Hilman yang berjalan di belakang Anjas.
__ADS_1
Tari menatap Anjas, mata keduanya tampak bertaut untuk beberapa saat, diiringi dengan suasana yang berubah canggung di sekitar pasangan suami istri itu.
...****************...