Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.81 Resah


__ADS_3

Anjas berdiri di salah satu ruangan rumah sakit, di depannya tampak tari yang sedang melakukan terapi bersama dokter dan perawat. Sesekali laki-laki itu tampak tersenyum sambil mengucapkan kata semangat saat Tari menoleh padanya.


Ini adalah terapi pertama Tari setelah wanita itu diperbolehkan pulang beberapa hari yang lalu, Anjas sudah berjanji untuk selalu menemani Tari dalam setiap sesi terapi yang dia jalani. Tiga puluh menit kemudian Tari sudah ke luar dari ruangan itu dengan Anjas mendorong kursi rodanya.


"Capek ya? Gimana kalau kita makan siang dulu sebelum pulang?" tanya Anjas sambil terus mendorong kursi roda sang istri ke luar dari rumah sakit. Dia bisa melihat dengan jelas, bagaimana tadi sang istri menjalani terapi yang pasti tidak mudah dan menguras tenaga.


"Heem, aku juga udah lapar nih," jawab Tari. Kepalanya sedikit mendongak memperlihatkan senyumnya pada sang suami, yang langsung dibalas oleh Anjas, sambil mengusap pipi Tari perlahan.


Sampai di lobi rumah sakit, Anjas pun menggendong Tari untuk masuk ke mobil miliknya, kemudian memindahkan kursi roda Tari ke bagasi mobil.


"Maaf ya, Mas, aku malah bikin kamu susah," ujar Tari tiba-tiba saat Anjas baru aja mendaratkan bokongnya di kursi kemudi.


Sebagai seorang istri, dia benar-benar merasa tidak berguna lagi saat ini, jika saja Anjas tidak ada di sampingnya, mungkin Tari akan lebih memilih untuk mati saja, dari pada hidup seperti ini.


Anjas menatap Tari dengan kening yang berkerut dalam, dia tidak suka dengan ucapan istrinya itu. Anjas sama sekali tidak pernah menganggap Tari sebagai beban. Saat ini Tari dan Syafira adakah penyemangatnya dalam menjalani hari yang mungkin terasa melelahkan.


"Sayang." Anjas mengambil tangan Tari yang tampak bertaut di atas pangkuannya, dia membawanya mendekat kemudian mencium punggung tangan sang istri.


"Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai sebuah beban, sayang. Aku bahagia karena kamu masih ada di sini bersamaku, jadi jangan berpikir seperti itu lagi, ya," ujar Anjas pelan.


Salah satu tangan Anjas terulur untuk mengusap pelan rambut di puncak kepala sang istri, dia berusaha meyakinkan Tari agar tetap berpikir positif dan berjuang untuk sembuh demi dirinya dan Syafira.


Tari tersenyum tipis, matanya tampak berkaca-kaca saat mendengar ucapan Anjas padanya. Ternyata dirinya tidak salah mengambil keputusan, Anjas memang laki-laki yang baik dan sangat mencintainya, juga pantas untuk dia pertahankan.


Semuanya Anjas buktikan saat ini, ketika dirinya sedang berada dalam keadaan terpuruk, Anjas bahkan tidak pernah meninggalkannya. Laki-laki itu terus bersama dengannya dan menyemangatinya untuk bangkit dari keterpurukannya.


"Terima kasih, Mas, kamu selalu ada bersamku," ujar Tari tulus, senyum tipis pun terlihat mengembang di bibir kemerahannya.


"Aku suami kamu, sayang. Kebahagiaan kamu dan Syafira adalah tanggung jawabku," jawab Anjas lambut.


Keduanya tampak sama-sama tersenyum. Di dalam hati, Tari bersyukur karena sudah membuat Anjas menjadi suaminya. Walau laki-laki itu pernah berbuat kesalahan, tetapi itu hanyalah tinggal masa lalu. Semua itu Tari anggap sebagai bagian dari ujian di dalam rumah tangga mereka.

__ADS_1


Bukankah tidak ada satu manusia pun di bumi ini yang tidak pernah melakukan kesalahan? Begitu juga dengan Anjas, laki-laki itu juga masihlah manusia biasa yang penuh dengan kesalahan dan kekurangan. Sebagai seorang istri Tari harus menerima semua baik dan buruknya sang suami, begitu juga Anjas pada dirinya.


Setelah menenangkan suasana hati sang istri, Anjas pun mulai melajukan mobilnya ke luar dari area rumah sakit, menuju tempat mereka akan makan siang bersama.


Anjas mengerti dengan suasana hati Tari yang masih sering berubah-ubah. Tidak mudah menjalani hidup dengan ujian sebuah kekurangan, sedangkan selama ini Tari memiliki tubuh yang sempurna bahkan tanpa cela.


Walau begitu, Anjas tetap bangga pada istrinya itu karena masih berusaha tegar meskipun dia yakin itu tidaklah mudah.


Tari terdiam, menyandarkan punggungnya pada sandaran dengan mata menatap lurus ke depan, menikmati jalanan di kota itu yang tampak ramai. Ingatannya kembali pada ketika dirinya diperbolehkan pulang beberapa hari lalu, waktu itu kedua orang tuanya datang dan meminta Tari untuk pulang bersama mereka ke rumah mereka.


Namun, dengan tegas Anjas menolak keinginan kedua orang tuanya, dia bersikeras untuk merawat Tari sendiri.


"Kami tidak percaya padamu lagi, Anjas! Ketika anakku masih sehat saja, kamu berani berselingkuh darinya, lalu bagaimana dengan sekarang di saat Tari sedang sakit begini, hah?! Aku bahkan tidak yakin kamu akan memperlakukannya dengan baik!" sentak ayah Tari pada Anjas.


"Jangan-jangan nanti kamu malah membawa wanita murahan itu ke rumah," sambung ayah Tari lagi dengan wajah meremehkan, dia membuang muka seolah malas untuk beradu tatap dengan menantunya.


"Aku tidak seperti itu, Pah. Aku sangat mencintai Tari, mana mungkin aku akan menyakiti istriku sendiri," bantah Anjas langsung, walau mereka sedang berdebat, Anjas masih mencoba untuk bersabar dalam menghadapi mertuanya. Laki-laki itu bahkan tidak menaikkan sedikit pun nada bicaranya.


"Halah, kemarin saja saat Tari kecelakaan kamu malah menitipkan Syafira pada wanita murahan itu. Apa jangan-jangan Syafira juga sudah mengenal baik dia?" Ayah Tari semakin memprofokasi keadaan.


"Rina itu teman aku, dia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah! Kenapa kalian tega sekali menuduh Mas Anjas seperti itu?" gerutu Tari, dengan wajah malasnya.


"Iya, aku memang sempat cemburu buta pada mereka, hanya karena aku pernah melihat Mas Anjas bertemu dengan Rina. Tapi, ternyata aku hanya salah paham, waktu itu mereka tidak berdua, ada tunangan Rina di sana yang ternyata teman lama Mas Anjas," jelas Tari, dengan sedikit kebohongan yang terselip di dalam kalimatnya.


Tidak semua masalah rumahtangganya harus diketahui oleh orang luar, termasuk oleh orang tua mereka. Biarkanlah semua itu menjadi masalah dirinya dan Anjas saja, tanpa ada campur tangan dari orang lain.


"Sekarang, semua itu sudah selesai, Pah. Aku harap Papah gak mengungkit lagi masalah ini," ujar Tari dengan nada bicara pelan.


"Tapi, sayang, bagiamana kalau dia berbuat begitu lagi padamu? Bagiamana jika ternyata dia masih menyimpan perasaan pada wanita itu?" Mama Tari tampak masih khawatir pada anaknya.


"Aku percaya pada Mas Anjas, Mah. Aku yakin perasaan Mas Anjas padaku masih sama seperti dulu," ujar Tari berusaha membuat kedua orang tuanya yakin. Anjas pun langsung mengangguk menyetujui perkataan Tari.

__ADS_1


"Sekarang aku adalah seorang istri dan ibu, Pah, Mah, hidupku bersama dengan suami dan anakku," sambung Tari lagi.


Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya kedua orang tua Tari pun mengizinkan anaknya untuk tinggal lagi bersama dengan Anjas walau dengan berbagai ancaman yang diberikan pada suaminya itu.


.


Sementara itu, Rina yang sedang berada di perjalanan pulang dari bandara bersama dengan Arya, Ray, dan Bintang pun tampak gelisah dan terus menatap ke belakang melalui spion.


Arya yang melihat kegelisahan Rina pun mengernyitkan keningnya, sejak perjalanan dari rumah Rina tadi pagi, wanita itu terus terlihat tidak tenang, entah kenapa.


"Ada apa, sayang?" tanya Arya sambil melirik Rina sekilas sebelum kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada jalanan di depannya.


"Gak apa-apa, aku hanya merasa ada yang mengikuti kita sejak tadi," jawab Rina sambil kembali melihat kaca spion.


"Mungkin itu hanya perasaan kamu saja, sayang, karena kamu terlalu gugup." Arya menggenggam tangan Rina penuh kehangatan, dia mencoba menengkan sang kekasih.


"Coba kamu lihat mobil berwarna hitam itu, tadi pagi aku melihatnya saat kita ke luar dari rumahku dan sekarang mereka ada di sini juga. Apa itu tidak mencurigakan?" ujar Rina sambil menatap kaca spion luar.


Arya tampak mengikuti arah pandangan sang kekasih, begitu juga dengan Ray yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Rina dan Arya.


"Tiga mobil di belakang kita, dengan plat nomor xxxx," sambung Rina lagi seolah tahu jika Aya dan Ray tengah bingung membedakan mana mobil hitam yang dia maksud.


"Kamu yakin gak salah lihat, hem?" tanya Arya memastikan.


"Aku yakin, karena masih ingat plat nomornya," jawab Rina yakin.


"Ray, kamu perhatikan mobil itu," ujar Arya yang mulai merasa khawatir saat mengingat jika dia juga sempat beberapa kali melihat mobil yang sama.


"Siap, Kak," jawab Ray langsung, dia juga ikut khawatir jika memnag ada yang berusaha menguntit mereka.


"Kamu tenang ya, sayang, semoga saja itu hanya kembetulan," ujar Arya lagi, beralih pada Rina.

__ADS_1


Rina mengangguk, walau dalam hati masih ada yang terasa mengganjal.


...****************...


__ADS_2