Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.75 Celaka


__ADS_3

Anjas yang memiliki waktu luang setelah melihat lahan untuk pembangunan rumah salah satu klien berikutnya berinisiatif untuk menemui istri dan anaknya. Dia yang mengetahui kalau Tari dan Syafira sedang berada di toko buku pun, mengendarai mobil menuju toko buku yang memang berada di jalur pulangnya.


Sampai di parkiran Anjas sengaja parkir di tempat yang sekiranya tidak akan terlihat oleh Tari, karena dia ingin memberikan kejutan untung istri dan anaknya. Dengan sabar, dia menunggu Tari untuk ke luar dari toko buku agar lebih mudah menemuinya.


Ya, setelah Tari menerimanya kembali, Anjas tidak mau lagi melakukan kesalahan yang sama. Kini Anjas sebisa mungkin meluangkan waktu dan perhatiannya untuk istri dan anaknya. Lama menunggu Anjas hendak menelepon Tari untuk menanyakan keberadaannya saat tiba-tiba dia melihat Tari yang sedang berjalan menuju ke mobil bersama dengan Syafira di sampingnya.


Namun, keningnya mengernyit saat dia melihat Hilman kemudian menarik Tari, lali mereka berjalan bersama menjauh dari mobil, keduanya bahkan meninggalkan Syafira sendiri di mobil. Walau begitu Anjas masih berfikir positif dan memilih untuk mengikuti keduanya diam-diam, untuk memberi kejutan pada Tari dia bahkan sempat memberikan isyarat tangan saat Syafira hampir saja berteriak memanggilnya.


Anjas baru saja hendak menyapa saat mendengar Hilman berbicara tentang hubungannya dan Tari, hingga membuat Anjas menghentikan langkahnya, dia mematung menatap perdebatan antara istri dan sahabatnya sendiri yang tengah beradu argumen tentang malam panas mereka.


Jantungnya terasa berhenti sejenak saat kenyataan pahit kini dia dengar sendiri dari mulut sang istri, Anjas mengepalkan tangannya erat, menahan gejolak rasa yang bercampur di dalam hatinya.


Terkejut, marah, tidak percaya, dan kecewa, bercampur jadi satu. Membayangkan istrinya menghabiskan malam bersama dengan sahabatnya sendiri sungguh membuatnya tidak bisa mempercayai semua itu dapat terjadi. Dia hampir tidak bisa mengendalikan diri.


"Sedang apa kalian?" Dengan menahan setiap rasa yang menekan hatinya, Anjas akhirnya mengeluarkan suara dengan susah payah.


Mendengar suaranya, Tari dan Hilman tampak menoleh padanya dengan wajah yang terlihat terkejut dan panik. Sekuat tenaga Anjas menahan emosinya mengingat ini adalah tempat umum, banyak juga orang yang hilir mudik ke luar masuk toko, membuat Tari dan Hilman menjadi perhatian mereka sejak tadi.


"Mas?"


"Anjas?"


Mereka bergumam bersamaan, dengan mata yang melebar, saat melihat laki-laki yang kini tengah berdiri tidak jauh dari keduanya. Hilman pun langsung melepaskan Tari dari kungkungannya.


Melihat ada celah, Tari berlari menghampiri Anjas dengan wajah yang terlihat panik.


"Mas aku bisa jelaskan semuanya," ujar Tari dengan suara bergetar, dia menggenggam tangan Anjas dengan gerakan gelisah.


Anjas tidak menjawab dia melepaskan tangan Tari kemudian berjalan menghampiri Hilman yang masih berdiri di tempatnya.


Matanya memerah, menatap tajam laki-laki yang dia anggap seperti saudaranya sendiri. Rasa kecewa dan amarah kini mulai merasuk mengambil alih kendali pikiran hingga rasanya dia ingin sekali membunuh Hilman saat ini juga.

__ADS_1


"Dasar brengsek!" sentak Anjas sambil melayangkan kepalan tangannya tepat di pipi sebelah kiri Hilman, hingga laki-laki itu terlihat terhuyung.


"Mas!" Tari berteriak sambil berlari menuju suami dan sahabatnya, rasa takut dan khawatir membuatnya bingung harus berbuat apa.


"Bisa-bisanya kamu menghabiskan malam dengan istriku, Hilman! Kamu mengkhianati sahabatmu sendiri, hah!" Anjas meremas kerah baju Hilman dan membawanya untuk kembali berdiri tegak di depannya.


"Aku mencintainya--"


"Brengsek!"


Perkataan Hilman terpotong oleh satu pukulan lagi yang dilakukan Anjas di pipi kirinya, hingga membuat sudut bibirnya terasa perih diiringi dengan darah yang ke luar.


"Mas, hentikan, Mas!" Tari berusaha melerai walau teriakannya seolah tidak terdengar oleh suaminya yang kini terus melayangkan tinjunya pada Hilman.


"Itu semua terjadi karena kamu menyia-nyiakannya, Anjas. Aku tidak akan mendekati istrimu jika kamu bisa memperlakukannya dengan baik!" ujar Hilman yang malah terus memancing emosi Anjas.


"Kamu yang brengsek, kamu menduakan Tari dan menikah lagi dengan wanita lain!" Hilman membalas pukulan Anjas dengan sisa tenaganya.


"Mas!" Tari memberanikan diri membawa kakinya mendekat pada suaminya dia hendak melerai Anjas dan Hilman yang sudah hilang kendali.


"Hilman, stop!" teriaknya hendak masuk ke dalam pertikaian. Namun, karena kedua laki-laki itu telah hilang akal, Tari malah terpelanting karena terkena pukulan tanpa disengaja Hilman yang berusaha menyingkirkannya. Tari terdorong hingga masuk ke area jalan raya.


"Tari!" Anjas berteriak ketika sebuah mobil melaju kencang kemudian menghantam tubuh Tari yang tidak memiliki keseimbangan, di depan mata kepalanya sendiri.


"Tidak, Tari!" Anjas segera bangkit dia berlari menghampiri tubuh istrinya yang sudah tergeletak bersimbah darah di jalan.


"Mama!" Syafira yang sejak tadi hanya terdiam di dalam mobil, menyaksikan peedebatan ornag tuanya pun akhirnya memberanikan diri untuk ke luar saat melihat ibunya tertabrak mobil.


Kejadian mengerikan yang begitu cepat itu, langsung mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di sekitar sana, satu per satu dari mereka menghampiri kemudian mulai berkerumun membuat sebuah lingkaran di sekitar Tari dan Anjas yang kini tengah memangku tubuh istrinya.


"Pah, Mama?!" Sayafira menangis di samping Anjas melihat tubuh sang ibu telah bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Sementara itu Hilman yang terkejut dengan apa yang terjadi, mematung menatap kerumunan orang yang tengah memeriksa kondisi Tari, ada juga orang yang mengamankan mobil pelaku penabrakan itu.


"Tidak ... tidak mungkin aku membuat kamu celaka, Tari. A–aku--" Hilman menatap tangannya yang tadi tidak sengaja mendorong tubuh Tari hingga kecelakaan itu terjadi.


"Sayang, bangun jangan buat aku takut begini," lirih Anjas sambil mengusap wajah Tari yang kini mulai berubah pucat.


"Tolong panggilkan ambulans!" teriak Anjas pada orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Sayang, buka matanya, aku mohon," ujar Anjas dengan suara yang bergetar dan tetes air mata yang lolos begitu saja.


Hatinya teramat sakit seolah tertusuk ribuan belati, jantungnya berdebar begitu cepat dengan pikiran yang sudah tidak bisa dia kendalikan. Penyesalan pun terasa begitu besar di dalam hatinya, berbagai kata andai pun terlintas di kepala.


Andai aku bisa mengendalikan emosi. Andai aku bisa lebih bersabar. Andai aku dan Hilman tidak usah bertengkar, dan berbagai andai lainnya terus berputar di dalam pikirannya.


"Pah, Mamah?" Syafira terus bertanya, anak perempuan itu menolak semua orang yang ingin membawanya menjauh dari tempat kejadian, dia berpegang erat pada tangan Anjas.


Anjas mengalihkan pandangannya pada sang anak, dia peluk anaknya menggunakan satu tangan kemudian mencium kepala Syafira.


"Mama gak apa-apa, dia pasti akan baik-baik saja," ujar Anjas berusaha tegar.


Beberapa saat kemudian mobil ambulans datang, Anjas dan Syafira ikut ke dalam ambulans bersama dengan Tari dan petugas medis. Anjas bahkan sudah tidak memperdulikan bajunya yang terdapat bercak darah milik Tari. Tangannya memeluk Syafira erat sedangkan matanya memastikan jika Tari ditangani dengan benar.


Mereka sampai di rumah sakit terdekat setelah beberapa waktu berjuang melawan kemacetan jalanan, Anjas menggendong Syafira mengikuti brankar yang membawa Tari menuju ke dalam rumah sakit.


"Maaf, apa Anda wali dari pasien?" Salah satu petugas rumah sakit mencegah Anjas.


"Iya," angguk Anjas.


"Boleh minta waktunya sebentar untuk mengisi data dan mengurus administrasi?" tanya petugas rumah sakit tersebut.


Anjas menatap brankar Tari yang mulai dibawa masuk ke dalam ruang instalasi gawat darurat, kemudian memilih mengangguk dan mengikuti petugas rumah sakit itu bersama Syafira yang masih berada di gendongannya. Pikirannya terpecah antara kondisi istri dan prosedur yang harus dirinya lakukan agar Tari segera ditangani, belum lagi Syafira yang tidak berhenti menangis di dalam gendonganya sejak tadi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2