
Arya dan Bintang menjadi tujuan utamanya saat ini. Namun, setelah cukup jauh berjalan dari ruangannya, Rina tidak juga bertemu dengan kedua laki-laki itu, hingga sebuah suara yang begitu dia kenal terdengar memangil dari arah belakang.
"Rina!"
Rina langsung berbalik, dia melihat ada Heni yang tampak berjalan cepat menghampirinya. Sepertinya Heni begitu khawatir pada sahabatnya itu hingga napasnya terdengar memburu seperti baru saja berlari cepat.
"Heni, mana Bintang dan Arya? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Rina panik, dia melihat Heni penuh tanya, ketika wanita itu sudah berdiri di hadapannya.
Heni tampak terdiam untuk beberapa saat, sorot matanya menyiratkan rasa prihatin dan kasihan pada Rina.
"Hen!" Rina menggoyangkan tangan Heni saat melihat sahabatnya itu tidak menjawab juga.
"I--ya, mereka baik-baik saja. Sekarang kamu harus segera kembali ke ruang rawat agar bisa diperiksa dulu." Heni memapah Rina dengan perasaan bercampur aduk. Walau begitu, Heni merasa lebih lega karena sudah menemukan Rina.
Heni hanya meninggalkan Rina sebentar untuk membeli kopi di kantin, karena dirinya merasa sangat mengantuk. Namun, alangkah terkejutnya saat dia kembali dan melihat Rina sudah tidak ada di atas brankar atau bahkan di toilet ruang rawatnya.
"Tapi, aku mau ketemu sama Bintang dan Arya, Hen." Rina masih merasa enggan untuk kembali ke ruang rawatnya sebelum melihat anak dan suaminya.
"Nanti mereka akan datang. Sekarang kamu harus kembali ke ruangan dulu. Lihatlah, tubuh kamu masih sangat lemah." Heni membujuk Rina dengan sangat sabar.
Rina tampak menatap wajah Heni, mencoba untuk mencari keyakinan di sana. Hingga akhirnya Rina mengangguk lemah, menyetujui Heni untuk kembali ke ruang rawatnya. Walau di dalam hati, Rina masih mempertanyakan di mana keberadaan Arya dan Bintang saat ini.
Sementara Rina kembali menjalani pemeriksaan setelah sadar, bersama dengan dokter dan perawat, ingatan Heni kembali pada beberapa hari yang lalu, di mana Anjas dan kedua orang tuanya tiba-tiba datang ke rumah sakit untuk mengambil Bintang secara paksa.
"Karena saat ini Pak Arya dan Bu Rina, sama-sama tidak bisa menjaga Bintang, maka otomatis hak asuh Bintang berpindah pada Pak Anjas sebagai ayah kandung Bintang." Itulah pembelaan yang diucapkan oleh pengacara yang saat itu datang bersama Anjas dan kedua orang tuanya.
Abi, ummi, Ray, dan Heni yang saat itu sedang ada di sana pun terkejut akan kedatangan Anjas dan kedua orang tuanya, terlebih niat mereka untuk membawa Bintang.
Sedangkan Bintang yang berada di dalam gendongan Ray hanya diam karena tidak mengerti dengan apa yang orang dewasa katakan. Walau telinganya aktif mendengarkan setiap kata yang mereka ucapkan.
"Tidak bisa begitu lah, Pak. Anak dan menantuku belum meninggal, mereka hanya tidak sadarkan diri!" Abi tampak berusaha menolak niat Anjas dan keluarganya untuk mengambil Bintang.
"Sepertinya kita perlu bicara berdua," ujar Ayah Anjas sambil melangkah mendekati Abi.
"Apa lagi yang harus kita bicarakan?" tanya Abi, enggan mengikuti kemauan ayah Anjas.
__ADS_1
"Kalau kamu mau mengetahui penyebab anakmu seperti ini, maka kamu harus ikut bersamaku sekarang," ujar ayah Anjas sambil berjalan menjauh dari kerumunan orang yang ada di sana.
Terpaksa Abi mengikuti ayah Anjas menjauh dari sana, dia ingin mengetahui apa yang membuat anaknya sampai seperti ini. Mereka tampak berbicara berdua dengan sangat serius.
Sementara itu Heni menatap kecewa pada Anjas, dia tidak menyangka jika Anjas akan tega mengambil Bintang dari Rina, setelah apa yang dia lakukan pada Rina.
Heni mendekat pada Anjas yang sejak tadi hanya diam
"Dasar pengecut!" sentak Heni sambil melayangkan telapak tangannya hingga menyentuh pipi Anjas.
Plak!
Suara tamparan dari Heni, tentu saja mengejutkan semua orang yang ada di sana. Mereka langsung mengalihkan perhatian pada Heni dan Anjas.
"Tega kamu mengambil Bintang dari Rina setelah apa yang kamu lakukan padanya, heh?!" Heni bertanya pada Anjas dengan amarah yang memuncak.
Namun, Anjas tetap diam. Laki-laki itu tidak membantah juga melawan semua yang diucapkan oleh Heni. Anjas hanya terdiam, menikmati rasa kebas di pipinya.
"Ke mana saja kalian dulu, waktu Rina sedang hamil Bintang? Ke mana kamu saat Rina berjuang melahirkan anak itu, hah?!" Heni tampak menatap kilas Bintang yang dipeluk erat oleh Ray.
Heni sangat tahu bagaimana Rina berjuang demi kehidupan Bintang, dia banting tulang memajukan pertanian di bawah tekanan keluarganya sendiri. Wanita itu bahkan sering menyembunyikan rasa lelah dan sakitnya hanya karena ingin memberikan perhatian yang cukup untuk Bintang di sela pekerjaannya yang menumpuk.
Namun, setelah sekarang Bintang sudah tubuh besar dan pintar, tiba-tiba Anjas datang dan mengakui Bintang sebagai anaknya, lalu menginginkannya. Sungguh tidak tahu malu.
"Itu bukan salah Anjas, dia sendiri yang memilih untuk pergi dan bercerai dari anakku!" Ibu Anjas ikut berbicara.
Heni tampak membuang muka sambil mendengus kesal, dia tersenyum sarkas mendengar ucapan tidak pantas yang dikatakan oleh wanita paruh baya di depannya.
"Ibu wanita kan? Pernah hamil?" tanya Heni menatap tajam ibu Anjas.
Lupakan Heni yang dulu bodoh dan tidak bisa melawan ketika disiksa oleh mantan mertuanya. Sekarang dia sudah berubah, baik Heni ataupun Rina bukanlah sosok lemah yang dulu. Dua sahabat itu telah menjadi wanita yang kuat dan tidak mudah ditindas.
"Bagaimana rasanya kalau Anda yang sedang hamil ditinggalkan sendiri di rumah, sedangkan suami Anda asik dengan wanita lain?" tanya Heni sarkas.
"Ah, mungkin Anda akan memilih bertahan demi harta. Iya kan?" tanya Heni dengan senyum miring di wajahnya.
__ADS_1
"Tolong jaga bicara Anda," ujar pengacara ayah Anjas, menghalangi Heni untuk mendekat.
Plak!
Wajah Heni sampai berpaling saat sebuah tamparan keras terasa di pipinya.
"Jaga ucapanmu, aku ini lebih tua darimu!" geram ibu Anjas.
Heni kembali tersenyum, dia merasakan asin bercampur amis darah di mulutnya. Pipinya pun terasa kebas karena rasa sakit.
"Kenapa? Kalau yang aku bicarakan itu tidak benar, seharusnya santai saja, tidak udah emosi begini." Heni menatap tajam ibu Anjas.
"Jangan harap kalian bisa mengambil Bintang dari kami, itu tidak akan pernah terjadi," ujar Heni penuh percaya diri.
Namun, ternyata ucapannya langsung terpatahkan saat ayah Anjas dan abi kembali. Karena tiba-tiba Abi menyerahkan Bintang pada Anjas begitu saja. Entah apa yang dikatakan oleh ayah Anjas hingga membuat Abi menyerah.
Heni berusaha menahan Bintang, tetapi dia tidak memiliki kekuatan, mengingat dirinya hanya seorang sahabat tanpa ada ikatan darah.
Hati Heni terasa teriris saat melihat Bintang menangis sambil bergerak ingin melepaskan diri dari dekapan Anjas, ketika mereka mmebawanya. Anak itu memanggil nama Heni dan semua orang yang ada di sana, memohon agar tidak ikut dengan Anjas dan orang tuanya.
Namun, tidak ada yang bisa mereka lakukan, Heni hanya bisa menangis melihat Bintang yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya. Ray yang awalnya berusaha menahan Bintang di gendongannya pun, tidak bisa lagi melakukan itu saat Abi sudah memberi perintah.
"Kenapa kalian melakukan ini pada Rina?" Heni beralih pada keluarga Arya.
Jelas sekali kalau Rina menitipkan Bintang pada mereka sebelum kecelakaan itu terjadi, tetapi sekarang mereka malah tega menyerahkan Bintang pada keluarga Anjas.
"Saya tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Cukup sudah selama ini Arya berkorban untuk wanita itu dan anaknya bahkan sampai Arya hampir mati. Saya tidak mau ada korban lagi karena melawan keluarga tidak berperasaan seperti mereka!" jawab Abi kemudian memilih duduk di kursi tunggu rumah sakit, menandakan jika dirinya tidak mau lagi diganggu.
Heni mengepalkan tangannya, dia kecewa dengan semua yang terjadi. Heni juga kecewa pada dirinya sendiri yang bahkan telah gagal mempertahankan Bintang untuk terus berada di sisi Rina.
Heni menghembuskan napas kasar, dia mendongakkan kepalanya saat matanya sudah terasa mulai menghangat.
"Bagaimana aku harus mengatakan semua ini padamu, Rin?" gumam Heni dengan hati yang kembali terasa putus asa.
Entah bagaimana reaksi Rina jika dia mengetahui tentang semua ini. Selama ini Bintang adalah penyemangat hidupnya, dan Arya adalah kekuatannya. Namun, kejadian itu telah merenggut semuanya dari Rina.
__ADS_1