Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.38 Calon suami


__ADS_3

Papa!" seru Bintang yang langsung menjadi perhatian banyak orang, termasuk Arya dan Anjas yang kini tampak menghentikan langkahnya secara bersamaan hingga akhirnya mereka berdiri sejajar.


Rina menolehkan kepalanya, melihat Bintang yang berlari menuju dua orang laki-laki yang kini berada tidak jauh darinya.


Hatinya tiba-tiba berdegup kencang saat kejadian yang mengejutkan itu terjadi. Pandangannya berubah seolah adegan slowmotion dalam sebuah film. Rasa takut menyergap ke dalam hati, ketika Rina melihat mata Anjas kini tertuju pada Bintang.


Arya yang melihat arah pandangan Rina, menoleh ke sampingnya, dia sempat terkejut melihat ternyata di sana ada Anjas yang juga ikut berdiri.


Dengan sigap dia langsung berjalan mendekat sambil merentangkan kedua tangannya, kemudian menyambut Bintang ke dalam pelukannya.


"Uh, anak Papa kenapa udah berat begini ya?" tanya Arya, sambil tersenyum menggoda pada Bintang.


Matanya melirik sekilas pada Rina dengan tatapan menenangkan, dia seolah sedang berbicara. Tenang saja, ada aku.


Rina tersenyum dengan hembusan napas pelan, saat melihat Bintang sudah ada di dalam pelukan Arya. Hatinya bisa sedikit tenang, walau khawatir itu masih ada.


Sedangkan Anjas tampak memilih untuk menghampiri Tari, Hilman, dan Safira, yang masih terlihat berbincang dengan Rina.


"Sudah selesai, sayang?" tanya Anjas sambil berdiri di samping Rina, kemudian membawa Safira pada gendongannya.


Melihat itu, ada sedikit rasa perih di dalam hati Rina. Bukan karena dia cemburu pada kemesraan Anjas dan Tari. Namun, dia merasa sakit melihat Anjas bisa bersikap lembut dengan anak lain, sedangkan pada Bintang, dia bahkan tidak pernah mengakuinya.


"Itu suami kamu?" tanya Tari, sambil melihat interaksi Bintang dan Arya, yang masih terlihat berbincang.


Sepertinya Bintang meminta Arya datang, saat dia meminjam ponsel milik Rina beberapa saat yang lalu.


Rina tampak terdiam dengan wajah bingung, dia tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Anjas dan Hilman yang kini berada di sana pun ikut penasaran dengan jawaban Rina.


"Tepatnya, calon suami." Tiba-tiba Arya yang sudah berdiri di samping Rina menjawab pertanyaan Tari.


Rina terkejut, dia melebarkan matanya melihat pada Arya. Namun, laki-laki itu hanya membalasnya dengan senyuman. Kini tangan Arya bahkan sudah merangkul pundak Rina, seolah sedang memperlihatkan pada Anjas dan Hilman kalau Rina sekarang sudah menjadi miliknya.

__ADS_1


Rina tersenyum pada pada Tari, kemudian mengangguk samar menyetujui perkataan Arya. Walau dia mata Arya, senyum itu pertanda jika Rina telah memberi ancaman padanya.


Namun, nyatanya dia merasa puas di dalam hati, ketika melihat wajah terkejut Anjas dan Hilman. Untuk sekarang dirinya sudah menang dari kedua laki-laki yang merupakan mantan sahabatnya itu.


Diam-diam Anjas mengepalkan tangannya saat melihat kemesraan yang sengaja ditunjukkan oleh Arya dan Rina, entah mengapa hatinya terasa panas ketika melihat semua itu.


Pertemuan pun berakhir begitu saja, Anjas pulang bersama dengan Tari dan Safira, sedangkan Hilman pergi sendiri dengan mobil milikinya.


Sebelum dia berlalu masuk ke mobil, Hilman sempat menoleh melihat Rina dan Anjas yang masih berdiri di tempat yang sama. Sorot matanya tampak memendam sesuatu yang sulit untuk diungkapkan.


Setelah melihat mobil mereka pergi meninggalkan area resto, Rina, Arya, dan Bintang, berjalan masuk ke dalam.


"Maaf ya, soal yang tadi," ujar Rina pada Arya. Dia merasa tidak enak karena sudah melibatkan laki-laki itu ke dalam masalahnya dan Anjas.


"Soal yang mana?" tanya Arya berpura-pura tidak tahu.


Rina mengalihkan pandanganya dengan mata yang bergerak gelisah. Rasanya begitu canggung hanya untuk mengatakan hubungan antara mereka berdua, padahal Arya begitu menantikan semua itu.


"Hah, apa?" Arya sampai sedikit mencondongkan tubuhnya, demi mendekatkan telinganya pada mulut Rina, dia berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja Rina katakan.


"Ish!" Rina berdecak sambil menjauhkan tubuhnya dari Arya, walau begitu Arya masih bisa melihat pipi Rina yang mengeluarkan semburat merah.


Sikap Arya yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan melupakan segala rasa sakit di dalam hatinya, memang membuat Rina merasakan kenyamanan.


Rina juga tidak menyangkal jika Arya memang sudah bisa menempati tempat yang spesial di dalam hatinya. Namun, jika bertanya mengenai perasaan yang kini dia rasakan pada Anjas. Rina masih ragu.


Bukan karena perasaannya pada Anjas yang masih tersisa, bila boleh jujur mungkin kini yang ada hanya tinggal kenangan tanpa ada cinta atara dirinya dan mantan suaminya itu.


Namun, trauma yang belum sepenuhnya terobati, membuat Rina ragu untuk menjalani hubungan serius dengan laki-laki lagi. Terlebih rasa nyaman dalam menjalani kehidupannya hanya dengan bersama Bintang, sudah dapat memuaskannya pada rasa cinta dan kasih sayang.


"Aku tidak berbohong pada mereka, Rina. Semua yang aku katakan tadi adalah perasaanku padamu," ujar Arya, saat mereka kini memilih untuk duduk di ruangan kerja Rina.

__ADS_1


Rina hanya tersenyum, dia tahu kalau Arya memang memiliki perasaan lebih padanya, laki-laki yang sudah sangat berjasa dalam kehidupannya itu bahkan sudah berulang kali mengungkapkan perasaannya pada Rina.


"Kamu tahu kan, kalau lukaku belum sembuh sepenuhnya, dan semua itu membuatku merasa nyaman dengan statusku yang sekarang," jawab Rina seraya menatap lembut laki-laki di sampingnya.


"Aku tidak memaksamu untuk menungguku ... sejak awal aku memberikan kebebasan untuk kamu mencari lagi wanita yang lebih baik dari aku, karena aku tidak bisa memberkan janji, kapan luka ini akan benar-benar pulih, dan aku mampu untuk ke luar dari zona nyamanku sekarang."


Arya tersenyum, sambil menghembuskan napas pelan. Laki-laki itu sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan Rina sebagai jawaban.


"Intinya kamu belum siap untuk menjalin hubungan baru lagi kan, Rin?" tanya Arya, dia kemudian mengangguk samar sebelum meneruskan perkataannya.


"Bukan sekali ini kamu menolakku dengan kata-kata yang sama, Rin. Dan, aku juga akan mengatakan kata yang sama seperti sebelumnya." Arya membenarkan posisi duduknya agar bisa behadapan pada Rina, dia kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih mengikis jarak di antara mereka.


"Tidak ada wanita yang bisa lebih baik lagi untukku selain kamu, Rin. Aku akan tetap menunggu dan mendampingi kamu, sampai kamu bisa ke luar dari rasa sakit juga trauma yang masih membelenggu hatimu. Selama kamu masih sendiri, maka di saat itu juga aku akan tetap menunggumu, karena hatiku sudah sepenuhnya aku jatuhkan padamu."


Arya berkata dengan penuh percaya diri dan tanpa keraguan, sama seperti biasanya. Itu semua justru membuat Rina menghela napas pelan. Sepertinya keyakinan Arya memang tidak bisa digoyahkan olehnya.


.


"Kamu masih akan memilih merayakan acara ulang tahun Safira di tempat milik Rina, Jas?" tanya Hilman.


Saat ini Anjas dan Hilman sedang berada di kantor, keduanya tidak bisa mengacuhkan pertemuan mereka dengan wanita itu.


Terlalu mengejutkan bagi Anjas dan Hilman ketika melihat perubahan pada diri Rina saat ini. Bukan hanya penampilannya yang sekarang berubah menjadi lebih cantik dan dewasa. Akan tetapi, kesuksesan yang sekarang Rina dapatkan pun tidak bisa diremehkan lagi.


Pasalnya, mereka berdua tahu kalau Altair's Resto, adalah restoran yang begitu ramai, bahkan sempat viral di awal pembukaannya, karena banyak para food bloger dan influencer, yang datang ke tempatnya dan selau mendapatkan review yang baik dari mereka, hingga resto mereka selalu ramai pembeli, baik itu yang datang langsung, maupun dari layanan pesan antar.


Anjas tidak merespon, laki-laki itu malah mengedikkan kedua bahunya acuh, kemudian memilih untuk duduk di meja kerjanya dan mulai melihat pekerjaan yang belum terselesaikan.


"Dan, anak yang bersamanya itu ... apa kamu tidak merasa kalau dia itu mirip denganmu? Apa jangan-jangan anak itu adalah anak kamu?"


Anjas menoleh melihat Hilman, begitu mendengar perkataan sahabatnya, hingga mata kedua sahabat itu terlihat saling bertabrakan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2