
"Seorang anggota dewan berinisial G, di kota -- tadi malam di tangkap polisi atas kasus penggelapan dana dan percobaan pembunuhan, juga penyalagunaan jabatan--"
Rina tampak menatap saluran berita di televisi yang sedang menayangkan penangkapan ayahnya Anjas tadi malam. Di sampingnya terlihat Arya yang setia menggenggam tangan Rina dengan begitu lembut dan menenangkan.
Sementara di kursi yang berbeda Heni pun ikut menonton dengan tangan terkepal dan wajah puasnya. Setelah sekian lama dia melihat sahabatnya tersiksa oleh keserakahan orang tua itu, akhirnya dia bisa melihat orang yang telah membuat Rina sengsara menerima akibat dari apa yang telah dia lakukan.
"Hah, akhirnya kakek tua itu dapat akibatnya juga dari semua perlakuannya sama kamu, Rin!" Heni sampai bersorak senang saat melihat berita itu ditampilkan.
Rina tidak menjawab, sedangkan Arya hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis pada sahabat istrinya itu.
Sepertinya Rina memiliki rasa yang berbeda dari Heni, wanita itu terlihat meneteskan air mata, ketika melihat laki-lai yang merupakan mantan mertuanya itu diapit oleh dua orang polisi dan dimasukan ke mobil berlambang aparat negara itu.
Apa lagi ketika televisi sempat menampilkan ibunya Anjas yang tampak menatap penuh kesedihan kepergian suaminya. Sungguh, ada sedikt rasa bersalah di dalam hatinya saat melihat itu semua.
"Kenapa, sayang?" Arya yang melihat raut wajah berbeda istrinya pun bertanya.
Heni yang sejak tadi terus fokus pada layar televisi, kini ikut mengalihkan perhatiannya pada Rina. Keningnya berkerut dalam begitu melihat wajah sagabatnya itu tidak memancarkan rasa senang sama sekali.
"Hah, e--enggak ada. Aku enggak apa-apa, kok," ujar Rina sambil menghapus bekas air mata di pipinya.
"Kamu itu jangan terlalu terbawa emosi, Rin. Mereka pantas mendapatkan itu. Ingat, mereka hampir membunuh kalian berdua dan merebut Bintang darimu," jelas Heni dengan emosi yang menggebu.
Arya merangkul pundak Rina, hingga Rina melihatnya. Laki-laki itu tampak tersenyum sebelum berbicara pada Rina. "Benar kata Heni, sayang. Mereka pantas mendapatkan semua ini. Anggap saja, ini adalah cara agar mereka bisa menyadari kesalahannya."
"Tuh, dengerin kata suami kamu, Rin. Sekali-kali kamu harus tega, karena tidak semua orang mengerti hanya dengan kelemutan, Rina. Terkadang mereka harus menerima akibat dari perbuatannya lebih dulu, agar mereka menyadari kesalahan yang diakukan."
Rina tersenyum tipis, entah dari mana Heni mendapatkan kata bijak seperti itu. Padahal biasanya wanita itu tidak pernah mengatakan kata yang seperti itu.
"Sudahlah, lebih baik kita bersiap untuk menjemput BIntang di rumah Anjas, kamu pasti udah kangen banget kan sama dia?" ujar Arya sambil beranjak berdiri kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Rina berdiri.
__ADS_1
Rina tersenyum kemudian mengangguk, raut wajah sendu yang tadi terlihat kini langsung berubah penuh semangat dengan mata yang berbinar cerah.
Keduanya pun berjalan menuju ke kamar untuk bersiap-siap menjemput Bintang.
.
Sementara itu, Anjas kini berada di rumah kedua orang tuanya. Setelah penangkapan tadi malam, ibunya sangat terpukul dan kini sedang butuh sandaran.
Anjas tidak bisa meningalanwanita itu untuk saat ini, hingga dia memilih menginap di sana sampai ibunya tenang. Sedangkan Tari harus menjaga Syfira dan Bintang lebih dulu di rumah, sekaligus menunggu Rina dan Arya menjemputnya.
"Bu, sarapan dulu, ya." Laki-laki itu tampak berjalan masuk ke dalam kamar ibunya dengan nampan berisi menu sarapan kesukaan ibunya di tangan.
Wanita paruh baya itu tampak tidak merespon, dia hanya melirik Anjas sekilas kemudian kembali mengacuhkannya.
Anjas menghembuskan napas pelan, kemudian menaruh nampan ke atas meja. Dia memilih duduk di samping sang ibu yang tampak begitu murung.
"Maafkan aku, Bu. Ini semua aku lakukan agar ayah bisa sadar dari kesalahannya," ujar lirih Anjas.
Anjas tersenyum tipis, setelah sejak malam tadi ibunya terus diam, akhirnya wanita paruh baya itu mau membuka mulut untuk berbicara dengannya.
"Aku akan baik-baik saja, Bu. Aku juga akan berusaha agar ayah tidak menerima hukuman yang terlalu berat," janji Anjas.
"Bu, tolong bantu aku untuk kembali membuat ayah seperti dulu lagi. Aku mau kita kembali seperti dulu, Bu." Anjas menunduk, suara terdengar lemah dan parau seperti sedang menahan tangis.
Ibu Anjas menatap sang anak, dia menatap mata Anjas yang tampak memerah menahan desakan air mara yaang hampir saja ke luar tak tertahankan.
Tangan yang sudah tampak sedikit keributan itu perlahan terulur menyentuh wajah Anjas, ada rasa bersalah di dalam hatinya saat melihat Anjas yang tampak ikut terpuruk seperti ini.
"Maafkan kami, Anjas. Karena kami terlalu sibuk dengan ambisi, kami jadi melupakan kamu yang mengharapkan kasih sayang dari kita," ujar lirih ibu Anjas.
__ADS_1
Percakapan itu pun terus berlanjut, mereka menceritakan masa lalu, ketika Sisi belum meninggal dan keluarga mereka masih bahagia. Ayahnya selalu bisa meluangkan waktu untuk keluarga di sela kesibukan kerjanya.
.
Sementara itu, di tempat lain Rina tampak berjalan cepat menuju ke rumah Anjas, dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan sang anak.
"Mama, Papa!" Suara teriakan anak yang begitu mereka kenal membuat Rina langsung melihat ke arah pintu.
Dari sana terlihat Bintang berlari sambil merentangkan tangannya menuju Rina dan Arya, sepertinya anak itu sudah tau tentang kedatangan mereka hingga begitu mendengar suara mobil dia langsung ke luar dan menyambut Rina dan Arya.
"Anakku." Rina bergumam pelan sambil ikut merentangkan tangan, bersiap untuk menerima Bintang ke dalam pelukannya.
Benar saja begitu anak itu sampai, dia langsung memeluk Rina begitu erat. Rina pun langsung membalas pelukan sang anak dengan penuh kerinduan. Untuk sesaat, keduanya larut dalam suasana penuh kasih sayang yang begitu mereka rindukan.
"Bintang kangen, Mama," ujar anak kecil itu dengan isak tangis mengiringinya.
"Mama juga kangen banget sama Bintang, sayang," jawab Rina sambil mengecup berulang puncak kepala suaminya.
"Sama Papa gak kangen?" Arya yang menyusul Rina pun kini ikut berbicara saat dirinya sudah berada di dekat mereka berdua.
Bintang langsung mendongak untuk menjangkau wajah Arya, dia kemudian tersenyum sambil melepaskan pelukan dari sang Mama. "Bintang juga kangen banget sama Papa!"
Arya terkekeh pelan, dia kemudian membawa Bintang ke dalam gendongannya, dia peluk penuh kasih sayang anak yang telah dirinya jaga sejak lahir itu. Walaupun, Bintang bukanlah anak kandungnya, Arya tetap memyayanhinya dengan tulus.
Setelah melepas kangen, Rina kini beralih pada Tari yang tampak duduk di kursi roda, wanita itu tersenyum ramah saat menyambut kedatangan Rina.
"Terima kasih, Tari. Kamu sudah mau merawat Bintangku dengan baik," ujar Rina sambil berjongkok menyamai tinggi Tari.
"Tidak perlu berterima kasih, Rina. Aku senang menjaga Bintang, dia adalah anak yang baik dan mudah mengerti jika diberitahu." jawab Tari. Dia melihat Bintang yang tengah digendong oleh Arya, sambil berjalan menghampiri mereka.
__ADS_1
...Mampir di karya aku yang lain dong, Kak. Siapa tau ada yang suka 🥰❤️❤️...