
"Di belakang kita, dia menyembunyikan banyak hal, Anjas. Dia terlihat ceria hanya karena takut kita khawatir, sementara dirinya sendiri rela menahan sakitnya menerima perundungan di sekolahnya sendirian. Setelah aku tahu, hanya aku tempatnya bisa bercerita tentang masalahnya, maka dari itu aku memilih mengikuti keinginannya untuk menyembunyikan penderitaannya darimu, Anjas. Maaf," ujar Arya lagi.
"Anjas, aku meminta maaf karena aku tidak berhasil mencegah apa yang terjadi pada Sisi. Maafkan aku," lirih Arya, setelah menceritakan apa yang dia alami waktu itu.
"Kamu enggak tau rasanya jadi aku, Arya! Kamu gak tau bagaimana aku merasa gagal sebagai seorang kakak!" Anjas menatap Arya dengan mata memarah napasnya tampak memburu, mengingat kembali kejadian itu seperti mengulang luka yang sudah hampir mengering.
"Aku gagal menjaga adikku sendiri, Arya ... aku gagal," sambung Anjas lagi dengan kepala menunduk lemas.
"Kamu salah, Jas. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Aku sudah menganggap Sisi adikku sendiri, aku juga merasa gagal menjaganya, apa lagi aku melihat sendiri bagaimana kondisinya di sana." Arya berbicara lirih dengan suara yang terdengar parau, walau wajah dan tubuhnya masih terlihat tenang.
Sesak terasa di dalam dada saat mengingat kejadian yang terus menghantuinya dengan rasa bersalah.
"Kadang aku berfikir, bagaimana perasaan Sisi jika dia melihat hubungan kita yang berakhir seperti ini. Apakah dia akan bahagia atau malah bersedih?" sambung Arya lagi setelah dia terdiam sebentar untuk menenangkan sesak di dalam dada.
Anjas tampak menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, laki-laki itu masih memilih diam, kisah yang diceritakan oleh Arya tidak pernah dia tahu. Saat kejadian itu terjadi, dia dan keluarganya hanya sibuk dengan Sisi juga memulihkan hatinya masing-masing.
Setelah Anjas sudah mulai bisa kembali menata hati dari duka kehilangan Sisi, dirinya baru sadar kalau Arya sudah menghilang bersama dengan seluruh keluarganya.
Itu semua membuatnya yakin jika memang kejadian yang menimpa Sisi disebabkan oleh Arya, apa lagi dia sempat mendengar jika Arya dijadikan tersangka, tanpa pernah tau bagaimana kelanjutan kisah hukum dari sahabatnya itu.
Dirinya bahkan tidak pernah datang ke kantor polisi untuk menjenguk Arya, karena dia tidak akan pernah mampu menahan kecewa, jika melihat Arya. Anjas sama sekali tidak pernah menyangka jika Arya mampu melakukan itu semua pada Sisi dan seluruh keluarganya.
"Kamu pasti bohong kan? Semua cerita ini hanya pembelaan yang kamu ciptakan agar aku mau merelakan Bintang dan Rina untuk bersamamu?" tanya Anjas masih belum percaya sepenuhnya, walau di dalam hatinya tidak bisa berbohong jika dia sedikit mempercayai Arya.
"Cih!" Anjas berdecih sinis sambil memalingkan wajahnya.
"Kamu tau aku, Anjas. Kita berteman sudah lama ... kamu pasti tau kalau aku tidak mungkin bisa melakukan itu pada Sisi," ujar Arya dengan suara yang menekan.
"Lalu, kenapa kamu tidak pernah memberitauku kalau Sisi mengalami perundungan di sekolahnya?" tanya Anjas.
"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? itu semua karena Sisi melarangku, dia mengancam tidak akan mau lagi meminta tolong padaku jika aku mengatakannya padamu, Anjas!"
"Itu hanya alasan!" decak Anjas.
"Aku mengatakan yang sebenarnya!" geram Arya, hampir saja terbawa emosi. Dia menutup mata sambil mencoba mengatur napas untuk meredam emosinya.
"Terserah kamu mau percaya padaku atau tidak, aku sudah mengatakan semuanya yang aku tau, sekarang kamu pikirkan dan cari tau saja sendiri kebenarannya," sambung Arya lagi kemudian hendak beranjak.
"Tunggu." Anjas langsung mencegah kepergian Arya.
"Kita belum selesai berbicara. Bukankah kamu yang memulai semuanya, jadi aku ingin semua selesai saat ini juga," ujar Anjas tegas.
__ADS_1
Arya menghembuskan napas kasar sambil kembali duduk tegak di depan Anjas, dia sudah menjelaskan semua yang dia tahu sedangkan setelah dirinya masuk ke dalam jeruji besi, Arya tidak tahu lagi apa yang terjadi di luar. Setelah dia ke luar pun abi dan ummi langsung membawanya pindah dari kota ini, karena dirinya juga harus menjalani perawatan karena banyaknya luka yang jelas terlihat, ditambah dengan batinnya yang juga ikut terluka.
"Aku sudah mengatakan semua yang aku tau, Anjas. Masalah kamu percaya atau tidak, itu hanya kamu yang bisa memutuskan," ujar Arya dengan wajah pasrah.
Anjas tampak menatap penuh selidik pada Arya, dia kembali terdiam untuk beberapa saat seolah sedang memikirkan semua yang tadi Arya ceritakan.
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk memaafkan aku. Aku hanya ingin meluruskan masalah kita karena nyatanya Rina kini berada di antara Masa lalu kita dan masa depanku. Aku tidak mau jika nanti Rina ikut meraskaan sakit akibat masalah kita yang berlarut-larut, " ujar Arya.
"Aku juga tidak ingin membawa luka lama pada hidup baruku bersama dengan Rina dan Bintang nantinya," sambung Arya lagi.
"Terima kasih sudah mau berbicara dan mendengarkan ceritaku lagi, aku bahagia dengan semua ini." Arya berkata tulus kemudian beranjak berdiri dan berjalan kembali menghampiri Rina yang tampak sedang berbincang sambil menikmati makan siang bersama dengan Tari.
Nampaknya, pembicaraan Rina dan Tari membawa hasil yang memuaskan, berbeda dengan dirinya yang tidak menunjukan sebuah kemajuan sama sekali, walau ada sudut hatinya yang merasa lega setelah mengungkapkan semua yang selama ini dia pendam sendiri.
"Bagaimana?" tanya Rina saat melihat Arya sudah berdiri di sampingnya. Wanita itu tampak menghentikan makan dan menoleh pada Arya.
"Sudah," jawab Arya sambil duduk di samping Rina.
"Syukurlah kalau begitu. Ayo makan dulu, aku sudah pesankan makanan untuk kamu," ujar Rina menggeser piring makanan milik Arya.
"Terima kasih, sayang," jawab Arya, tersenyum lembut pada Rina, yang langsung dijawab anggukkan kepala Rina juga diiringi senyuman manisnya.
"Aku ke sana dulu ya," pamit Tari ingin menghampiri Anjas.
Rina yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya pada Anjas kemudian Arya, kerutan halus pun terlihat di keningnya.
Rina dan Arya pun mengizinkan Tari, sedangkan keduanya kini tampak makan siang bersama tanpa ingin membicarakan masalah masing-masing, baik Arya maupun Rina sama-sama meredam rasa penasaran mereka.
.
Hari berganti tanpa bisa terhenti, kali ini Tari sedang mengajak Syafira untuk berjalan-jalan ke toko buku. Keduanya tampak bahagia dengan kegiatannya mencari bahan bacaan untuk mengisi waktu luang atau cerita pengantar tidur untuk Syafira.
Namun, semua itu ternyata tidak bisa bertahan lama saat Tari tiba-tiba ditarik oleh Hilman ketika mereka hendak memasuki mobil.
"Aku mau bicara!" ujar Hilman tanpa melepaskan pergelangan tangan Tari.
Tari tampak melihat Hilman sekilas kemudian beralih pada Syafira yang sudah terlanjur masuk ke dalam mobil.
"Sayang, kamu tunggu di sini dulu ya, Mama mau bicara dulu sama Om Hilman," ujar Tari lembut yang diangguki oleh Syafira, walau anak itu tampak ragu.
Tari tersenyum sambil mengusap pelan puncak kepala Syafira kemudian menutup pintu mobil dan bergegas melangkah bersama Hilman.
__ADS_1
"Apa lagi sih, Man?!" tanya Tari dengan wajah yang terlihat malas.
"Kamu masih memilih Anjas setelah semua yang telah dia lakukan padamu, Tari?" tanya Hilman langsung, dengan wajah kecewa.
"Dia suamiku, Man, jelas aku lebih memilih dia dibandingkan kamu," jawab Tari tegas, dia tidak mau jika sampai nanti Hilman berharap lagi padanya.
"Kamu gak takut kalau nanti Anjas akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan pada Rina?" tanya Hilman.
"Aku sudah lama banget nunggu kamu, Tari. Kenapa kamu tidak bisa sedikit saja melihat aku dan memberikan kesempatan untukku?" sambung Hilman frustasi, dia hendak mengambil lengan Tari lagi, tetapi wanita itu langsung menghindar
"Cinta itu gak bisa dipaksakan, Hilman. Aku harus jujur jika hatiku sudah milik Anjas dan kami pun terikat oleh hubungan suci bernama pernikahan. Apa itu jelas?"
"Tapi, kita sudah menghabiskan malam bersama, Tari, apa kamu lupa?" tanya Hilman mengingatkan Tari pada kesalahan satu malam bersama dengan Hilman.
Tari sempat terdiam beberapa saat, sungguh dia begitu menyesal karena malam itu melampiaskan rasa sakitnya pada minuman haram, hingga mengakibatkan kejadian memalukan itu terjadi.
"Masalah malam itu, aku anggap sebagai sebuah kesalahan. Aku sedang tidak sadar waktu itu. Jujur saja, aku merasa kecewa padamu, karena sebagai seorang sahabat kamu bahkan tidak bisa menjagaku dari dirimu sendiri, sekarang apa aku bisa mempercayakan hidupku padamu?" tanya Tari, mengungkapkan isi hatinya.
"Tapi, Tari, aku sangat mencintai kamu ... aku tidak rela jika kali ini kamu masih memilih dia!" Hilman seperti bukan dirinya, laki-laki itu seperti orang yang sedang prustasi.
"Sadarlah, Hilman, aku ini adalah istri sahabat kamu, kita bertiga adalah sahabat sejak kuliah!" Tari mencoba menyadarkan Hilman.
"Aku akan memberitahu Anjas tentang malam panas kita, aku mau tau bagaimana reaksinya jika sampai dia mengetahui semuanya!" Hilman mengancam dengan mata tajam dan seklera memerah. Tangannya mendorong Tari dan memojokkannya di pinggir mobilnya yang terparkir hingga punggung wanita itu membentur badan mobil di belakangnya.
Tari menggeleng, dia tidak menyangka jika Hilman akan berbuat seperti itu, sahabat yang sangat dia percaya kini malah akan menghancurkan rumah tangganya.
"Tidak, Man, jangan lakukan itu ... aku mohon," ujar Tari dengan suara bergetar, mata keduanya beradu tatap, seolah sedang sama-sama mempertahankan ego dan keinginan mereka.
"Sedang apa kalian?"
Suara seseorang yang sangat keduanya kenal, membuat tubuh Hilman dan Tari menegang, mereka langsung menolehkan pandangannya ke arah suara.
"Mas?"
"Anjas?"
Mereka bergumam bersamaan, dengan mata yang melebar, saat melihat laki-laki yang kini tengah berdiri tidak jauh dari mereka.
...****************...
__ADS_1