Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.46 Pelakor


__ADS_3

Rina menghembuskan napas kasar, dia yang awalnya takut berdebat dengan Anjas, kini malah harus menyaksikan perdebatan antara Anjas dan Arya.


"Baiklah, sekarang biar aku yang berbicara. Masalah Bintang ... sesuai apa yang tertera di dalam tes DNA yang kamu bawa seminggu lalu, anak itu memang anak kandung kamu." Rina menatap Anjas dengan raut wajah yang terlihat percaya diri. Matanya bahkan tidak terlihat goyah, menandakan wanita itu sudahh yakin akan apa yang ingin dia katakan selanjutnya.


Rina juga mengubah panggilan pada Anjas menjadi lebih santai, agar di dalam perbincangan ini tidak ada rasa kaku maupun canggung, hingga mereka bisa leluasa mengajukan pendapat.


Arya dan Anjas pun kini duduk dengan tenang, mereka menunggu keputusan yang Rina ambil untuk Bintang dan Anjas.


Anjas tampak tersenyum saat mendengar kalau Rina mengakui jika Bintang adalah anak kandungnya. Padahal sejak dulu, Rina memang sudah mengakui semua itu, hanya saja Anjas lah yang tidak mau mengakuinya.


"Tapi, untuk mendapatkan hak asuh, aku tidak bisa membaginya. Aku pun bersedia untuk menempuh jalur hukum jika itu maumu!" tegas Rina, dia menyembunyikan tangannya yang mengepal kuat di bawah meja.


Anjas tampak melebarkan matanya, dia begitu terkejut dengan apa yang kini menjadi keputusan Rina, ini jauh berbeda dengan apa yang selama ini dia pikirkan. Ternyata sekarang Rina sudah benar-benar berubah.


"Tidak bisa! Kamu tidak bisa egois begitu, Rina! Walau bagaimanapun, Bintang adalah anak kandungku ... darahku ada di dalam tubuhnya dan aku berhak atasnya sama seperti dirimu!" Anjas tidak terima, dia meninggikan suaranya di depan Rina, tatapannya begitu tajam seolah sedang memberikan intimidasi pada wanita di hadapannya.


Namun, sepertinya Rina tidak terpancing dengan emosi Anjas, dia hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis sambil mengangguk samar, sepertinya perkataan Anjas sudah dapat dia tebak sebelumnya. Walau pernikahannya dengan Anjas hanya berjalan singkat, akan tetapi, Rina sudah cukup tahu bagaimana sifat Anjas.


''Aku mengizinkan jika memang kamu ingin bertemu denga Bintang, tentu saja dengan persetujuanku. Aku juga akan memberitahu Bintang kalau kamu adalah ayah biologisnya. Hanya saja tidak jika kamu ingin mengambil Bintang dariku, walau hanya setengah dari hak asuhku," ujar Rina dengan nada yang terdengar tenang.


"Kamu mungkin tidak tahu bagaimana rasa sakit yang aku rasakan karena keegiosan kamu. Aku bahkan berulang kali berpikir untuk mengakhiri hidupku, karena tekanan yang kami berikan, selama kita menikah, hingga akhirnya kita berpisah," ujar Rina dengan suara yang masih terdengar tenang, walau hatinya masih saja terasa perih saat mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan itu.


"Kamu tidak tahu bagaimana aku berjuang hingga hampir mati saat melahirkan Bintang. Lalu, bagaimana sulitnya saat aku mendapati anak itu panas tinggi di tengah malam, sedangkan saat itu sedang hujan deras hingga tidak bisa pergi ke luar rumah, karen akses jalan yang longsor."


Rina meneteskan air matanya saat mengingat beragam kejadian memilukan yang harus dia tanggung sendiri, tanpa ada tempat untuknya bersandar. Merawat anak sambil bekerja dengan suka duka yang begitu terasa menyiksa batinnya.


"Kamu tahu, siapa yang dengan susah payah datang esok paginya, mengendarai mobil berjam-jam, menerjang hujan di tengah malam, kemudian berjalan kaki di tengah tanah longsor, demi memberikan pengobatan untuk Bintang yang sudah hampir tidak sadarkan diri?" tanya Rina yang di balas gelengan kepala samar oleh Anjas.


Laki-laki itu kini terlihat menunduk, menyembunyikan rasa bersalahanya, karena telah tidak ada di samping Rina saat masa tersulitnya dengan Bintang.

__ADS_1


Rina terkekeh miris, dia kemudian menoleh pada Arya yang duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam tangan laki-laki yang sudah banyak berkorban untuk hidupnya dan Bintang. Laki-laki yang dengan sabar menunggunya menyembuhkan luka, tanpa pernah memaksakan keinginannya.


"Dialah orangnya. Arya yang selalu sigap untuk membantuku dan datang di saat aku membutuhan bantuan." Rina menatap Arya dengan penuh kelembutan dan rasa terima kasih.


Arya membalas genggaman tangan Rina dengan lembut, dia tersenyum tulus dengan hati yang senang. Tidak menyangka Rina akan berbicara seperti itu di depan Anjas.


"Kalian adalah kebahagiaanku, dan aku tidak pernah merasa sulit untuk selalu melindungi kalian berdua," jawab Arya lirih, sambil mengusap pelan pipi Rina, menghilangkan jejak air mata di sana.


"Terima kasih," ujar Rina lirih. Dia kemudian menatap Anjas, sebelum melanjutkan perkataannya.


"Kamu tau, bagaiman sakitnya saat Bintang mendapatkan hinaan dari orang-orang disekitarnya? Anak berusia empat tahun dicaci dan dimaki secara terang-terangan ... dia menerima setiap penghinaan dengan telinganya sendiri!" Air mata Rina kembai berderai, itulah masa yang paling membuatnya merasa gagal sebagai seorang ibu, dalam melindungi anaknya.


"Mereka berkata kalau Bintang adalah anak haram! Anak yang tidak jelas siapa ayahnya, anak yang tidak memiliki ayah! Lalu, menurut kamu siapa yang harus aku salahkan untuk semua itu?!" Rina sedikit meninggikan suaranya, saat emosinya kini benar-benar sudah tidak tertahan lagi.


Arya mengelus tangan Rina lembut, mencoba untuk memberi kekutan bagi wanita yang selalu bertahta di dalam hatinya. Mengingat kembali luka yang sudah susah payah Rina lupakan memang bukanlah hal yang mudah, dia tahu itu.


"Sekarang, kamu datang kepadaku dengan secarik kertas bertuliskan tes DNA, hanya untuk meminta hak asuh? Aku bahkan tidak bisa percaya kami bisa melakukan ini semua kepadaku dan Bintang." Rina kembali berbicara setelah hatinya sedikit tenang. Suaranya terdengar lirih, hingga rasa sakit itu terasa oleh dua orang laki-laki di sana.


"Apakah memisahkan seorang anak yang selama ini tidak pernah berpisah dari ibunya adalah sesuatu yang baik? Apalagi, sampai sekarang bahkan Bintang masih menganggap kamu sebagai orang asing." Rina mengusap jejak air mata di pipinya, tangisnya sudah berhenti dan kini dirinya kembali duduk dengan tenang seperti semula.


"Juga, apakah kamu sudah tau bagaimana menjelaskan kepada Tari dan kedua orang tuamu? Apalagi, sekarang sudah ada Syafira di tengah kalian. Sedangkan mereka bahkan tidak pernah tau tentang pernikahan kita." Rina menatap Anjas dengan mata yang terlihat meragukan.


"Bukankah, lebih baik jika kita hapus saja masa lalu diantara kita. Cukap kita yang tahu kalau kamu adalah ayah kandung Bintang, tanpa memperpanjang masalah dan memperumit keadaan."


Rina mengakhiri ucapan panjangnya, yang membuat Anjas terdiam. Laki-laki itu tampaknya mulai melembut, karena Rina yang juga bersikap lemah, tanpa mau menentang Anjas dengan keras.


Arya tersenyum, dia merasa bangga pada wanita di sampingnya. Dirinya juga tidak menyangka kalau Rina bisa mengendalikan emosinya dan berbicara dengan cukup tenang, walau sempat ada tangis di sela ucapannya.


Suasana berubah hening untuk sesaat, Rina dan Arya sama-sama terdiam dalam keheningan, menunggu jawaban yang akan Anjas berikan setelah Rina mengungkapkan sebagian besar perasaan sakitnya.

__ADS_1


Namun, belum sempat Anjas memutuskan, suara gaduh tiba-tiba terdengar di luar ruangan, hingga membuat Rina, Arya, dan Anjas mengalihkan perhatiannya. Mereka baru saja hendak beranjak untuk melihat kondisi, saat tiba-tiba pintu di buka dari luar oleh seseorang yang jelas mereka kenali.


Di depan pintu, terlihat Tari berdiri dengan napas naik turun. Di belakangnya ada beberpaa orang yang memegang sebuah kamera, seperti sedang merekam suatu kejadian.


"Lihatkah, pemilik restoran ini telah berselingkuh dengan suamiku!" teriak Tari, bagaikan seorang selebgram profesional.


"Ada apa ini?" tanya Rina sambil berdiri, diikuti oleh Arya dan Anjas di belakangnya.


Tatapan bingung kini terlihat dari Rina, Arya, dan Anjas, terutama Rina yang telah jelas-jelas dituduh oleh Tari. Walau dia belum megerti situasi saat ini, akan tetapi, perkataan Tari terdengar jelas di telinganya.


Arya yang melihat Rina kebingungan langsung memegang tangan wanita itu, kemudian membawanya ke belakang, hingga dia maju di depan Rina.


"Apa yang kamu lakukan, Tari! Matikan kameranya sekarang!" ujar Arya dengan nada dingin, walau masih terdengar sopan.


"Tidak bisa, ini semua hukuman untuk seorang pelakor sepertinya. Biarkan dia menerima hujatan dari semua orang, agar dia bisa merasakan apa yang aku rasakan!" bantah Tari, sambil terus merangsek ingin memukul Rina, walau akhirnya selalu gagal karena dihalangi oleh Arya.


"Aku bukan pelakor! Kami di ruangan ini juga bertiga, atas dasar apa kamu menuduhku telah berselingkuh dengan suamimu?" Rina yang bisa mengendalikan diri kini ikut berbicara.


Anjas yang sempat mematung, kini menghampiri Tari, dia menarik tangan perempuan itu, menahannya agar tidak berbuat masalah di tempat orang terlebih itu adalah milik Rina.


"Apa-apaan kamu, Tari?!" sentak Anjas, sambil menahan tubuh Tari.


"Apa? Aku hanya ingin mempertahankan rumah tangga kita dari godaan pelakor itu!" jawab Tari dengan penuh amarah, sambil menatap Rina tajam.


"Bikin malu saja! Ayo kita pulang!" Anjas hendak menarik Tari ke luar ruangan, tapi Tari menahan tubuhnya.


"Lihatlah, karena pelakor itu, sekarang suamiku sudah tega berbuat kasar padaku, hiks!" Tari berbicara pada salah satu kamera, dia berlagak menangis seolah dirinya adalah wanita yang sangat teraniaya akibat hubungan Rina dan Anjas.


Rina menatap Tari dengan wajah terkejutnya, ternyata selain Tari mudah bergaul, dia juga pandai bermain peran.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2