Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.29 Ingin lepas


__ADS_3

"Maafkan aku, sayang, ada hal penting yang harus aku selesaikan di luar kota!"


Sayup Rina mendengar suara Anjas yang sedang berbicara di luar kamar. Dia melihat jam yang ternyata sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Ya, tadi sore selepas Rina, Anjas, dan Heni, pulang dari makam, Rina tiba-tiba kehilangan kesadaran. Sepertinya tubuh wanita yang tengah hamil itu sudah terlalu lelah menahan diri untuk berpura-pura baik-baik saja.


"Tidak bisa, ini di pedalaman, kamu gak bisa hidup di tempat seperti ini. Aku janji, setelah masalahnya selesai aku akan segera pulang."


Tidak ada ekspresi apa pun dari wajah yang masih terlihat pucat itu, dia kemudian perlahan menurunkan kedua kakinya dari ranjang, hingga duduk di tepinya.


Pening terasa begitu Rina menegakkan tubuhnya, hingga dia mendesis menahan rasa sakit. Matanya mengedar melihat isi di dalam kamar yang masih sama.


Matanya berhenti di atas nakas yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Di sana ada foto dirinya dan kedua orangtuanya saat acara empat bulanan kemarin.


Perlahan tangan Rina terulur mengambil bingkai foto yang terlihat cantik, sepertinya Ibu dan Bapak memang sudah menaruh itu di kamarnya sejak lama.


Rina memang tidak pernah datang lagi ke kampung setelah acara empat bulanan itu, hingga dirinya tidak tahu kalau kedua orangtuanya menyiapkan itu semua.


Jari-jari kurus itu mengusap wajah kedua orang yang sudah begitu berjasa di dalam hidupnya, bibirnya mulai bergetar lagi dengan mata yang hampir bekaca-kaca.


Bila saja waktu itu Rina tahu, kalau ternyata itu adalah pertemuan terakhir mereka, maka Rina pasti akan lebih memilih merajuk dan tinggal di sini, daripada harus kembali ke kota bersama dengan suami yang sama sekali tidak pernah menginginkannya.


Rina akan tinggal dan memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan kedua orangtuanya dan berusaha memberi kebahagiaan kepada mereka.


Namun, kini semua itu hanya tinggal kenangan dan harapan fana saja, waktu tidak bisa diputar kembali. Semua yang sudah berlalu selalu meninggalkan kenangan dan sebuah penyesalan, yang beriringan dengan pelajaran hidup dari Sang Maha Kuasa.


Hanya saja, terkadang orang hanya berfokus pada kenangan dan penyesalan, tanpa menyadari adanya pelajaran yang harus mereka petik dari semua kejadian yang ada. Hingga sebuah ujian seringkali tidak bisa membuat seseorang menjadi naik kelas, karena nilai yang tidak bisa mereka ambil.


"Aku juga mencintaimu, sayang." Terdengar kata yang masih terasa menyakitkan di hati Rina yang diucapkan Anjas untuk orang lain di luar sana.


Ya, Rina tahu kalau pasti saat ini Anjas sedang mengabari Tari, dia mencoba acuh, walau saat kata cinta terucap telinganya seolah tiba-tiba bisa mendengar dengan jelas.


Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka dengan kemunculan Anjas setelahnya. Laki-laki itu tampak terkejut melihat Rina yang telah terduduk di sisi ranjang dengan bingkai foto di pangkuannya.


"Kamu sudah bangun, Rin?" Anjas tampak memaksakan tersenyum, kakinya melangkah mendekat.


Anjas menggeser bangku di meja rias kemudian duduk di depan Rina, dengan senyum lembut yang malah membuat hati Rina merasa lebih sakit.

__ADS_1


"Apa yang kamu rasakan? Apa masih pusing, hem?" tanya Anjas sambil hendak menyentuh kening Rina untuk memeriksa suhu tubuhnya.


Namun, Rina langsung menghindar hingga tangan Anjas hanya menggantung di udara, sejak sampai di kampung ini Rina seolah tidak mau disentuh oleh Anjas.


Anjas tersenyum, dia kemudian menarik kembali tangannya, sambil berdehem pelan. Tiba-tiba saja ada rasa canggung saat dia melihat sorot mata Rina yang tampak berbeda dari biasanya.


"Kamu membutuhkan sesuatu? Biar aku ambilkan," tanyanya lagi.


"Aku mau sendiri," ujar Rina lirih, dia kemudian memilih merebahkan kembali tubuhnya dan menutupnya dengan selimut.


Melihat wajah Anjas membuatnya merasakan rasa sakit, kecewa, dan penyesalan sekaligus. Ingatan semua perlakuan Anjas selama ini padanya selalu melintas membawa beribu penyesalan di dalam hatinya.


"Baiklah, kamu memang harus banyak istirahat. Aku ada di luar, kalau kamu butuh sesuatu ... panggil aku saja," ujar Anjas yang tidak mendapatkan respon sama sekali dari Rina.


Wanita yang sedang hamil itu tampak berbaring miring dengan memeluk bingkai foto kedua orang tuanya, kemudian menutup mata, seolah memberitahu kalau dia tidak mau diganggu.


Rina membuka mata saat suara pintu kamar tertutup terdengar. Air matanya kembali menetes dengan deras, dia menangis tergugu meratapi kepergian orangtuanya. Rina menggigit bibirnya untuk meredam suara, agar tidak menarik perhatian suaminya.


Sungguh, kini Rina tidak sanggup walau hanya melihat wajah suaminya itu, rasa cintanya seolah sudah tertelan oleh kecewa yang begitu besar.


.


"Minum dulu, Rin." Heni menyodorkan segelas air putih pada sahabatnya itu.


"Terima kasih, Hen." Rina mengambilnya kemudian meminumnya sampai hampir tandas.


"Pelan-pelan," peringat Heni.


"Haus, hehe." Rina terkekeh kecil pada sahabatnya itu.


Ternyata nasib pernikahan Heni juga tidaklah mulus, perempuan itu kabur dari suaminya karena selalu mendapatkan kekerasan rumahtangga, hanya karena Heni belum bisa hamil juga, setelah beberapa tahun pernikahan.


Bukan hanya dari sang suami Heni mendapatkan kekerasan, tapi juga dari mertuanya. Hingga puncaknya suami Heni menikah lagi dengan wanita yang sudah hamil tiga bulan.


Heni akhirnya menyerah dan berhasil pulang setelah dibantu oleh tetangga yang ada di sana. Setelah berada di kampung, Heni akhirnya bisa mengajukan surat gugatan cerai atas bantuan kedua orangtua Rina, hingga kini statusnya sudah menjadi janda.

__ADS_1


"Sebagai wanita kamu juga berhak bahagia dan memperjuangkan hak kamu, jika memang sudah tidak sanggup maka lepaskan, biarkan kalian mencari bahagia kalian sendiri, tanpa saling menyakiti."


Itu adalah pesan yang disampaikan oleh Ibunya Rina, saat mengantarkan Heni menuju pengadilan agama. Juga Bapak Rina pada mantan suami Heni, ketika dia ingin membawa Heni kembali. Namun, entah mengapa, saat Rina mendengarnya, perkataan itu seolah ditunjukkan untuk dirinya.


Apa mungkin selama ini Ibunya sudah tahu masalahnya dengan Anjas? Atau itu hanya sekedar kebetulan semata?


Ah, Rina sudah memikirkan itu selama dua hari ini, dan selalu menemui jalan buntu. Rina juga telah memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk rumahtangganya bersama Anjas sekarang.


Setelah beberapa hari ini berpikir, Rina sudah mantap dengan keputusannya. Kini tinggal mengatakannya pada Anjas sebagai suaminya.


Anjas yang baru saja datang dari arah luar mendekat pada dua wanita itu, membuat Heni memutuskan untuk menyusul ibunya yang sedang mencuci piring di dapur.


"Rin, sepertinya besok aku harus pulang ke kota," ujar Anjas setelah duduk di samping istrinya.


Rina masih tidak merespon, dia masih mengunci bibirnya untuk Anjas, rasanya terlalu menyakitkan jika harus kembali berinteraksi dengan laki-laki itu.


Selama tiga hari ini Rina masih mendiamkan Anjas, dia sama sekali tidak pernah mau berbicara dengan suaminya.


"Rina, tolong jawab aku. Aku harus bagaimana lagi menghadapi kamu! Aku tahu kamu sedang bersedih, tapi jangan seperti ini terus dong." Anjas terlihat mengacak rambutnya, merasa prustasi dengan sikap Rina beberapa hari ini.


"Ceraikan aku, Mas," ujar Rina sambil menoleh, menatap wajah Anjas dengan begitu yakin.


Deg!


Anjas tampak melebarkan matanya saat mendengar perkataan Rina yang tiba-tiba.


"A–apa maksud kamu, Rina?" tanya Anjas dengan suara yang terdengar sedikit terbata.


"Aku tidak perlu mengulanginya, kan? Sudah cukup, Mas. Aku sudah lelah, dan sekarang aku mau tetap di sini. Aku mau lepas dari semua permasalahan yang sangat menyebalkan ini." Rina tampak sangat tegar sekarang, matanya pun terlihat sangat yakin dengan perkataannya.


"Kamu mau di sini? Aku tidak keberatan. Tapi, jangan meminta cerai dariku, karena aku tidak akan pernah menceraikan kamu, Rina!" tegas Anjas, menolak keras keinginan istrinya itu.


"Lalu kamu mau apa lagi, Mas? Belum cukupkah selama ini kamu menyiksaku? Sebenarnya apa niatmu mempertahankan rumahtangga yang sudah hancur sejak lama, Mas?!" tanya Rina dengan sorot mata tajamnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2