
"Apa tidak akan jadi masalah jika aku ikut dengan kamu sekarang?" tanya Rina, saat dia menyambut kedatangan Arya yang ingin menjemputnya untuk bertemu kedua orang tuanya.
Nanti siang, akan ada perayaan sederhana di rumah keluarga Arya, untuk merayakan ulang tahun Ray sekaligus merayakan hari jadi pernikahan abi dan ummi. Abi dan ummi biasanya hanya mengadakan jamuan makan untuk keluarga dekat yang hadir, setelah siang harinya membagikan santunan kepada beberapa panti asuhan.
Namun, untuk kali ini Arya meminta abi dan ummi agar tidak mengundang siapa pun, karena dia ingin membawa Rina ke rumah.
Awalnya ummi dan Ray merasa enggan, mereka masih malas untuk bertemu dengan Rina. Status Rina yang merupakan janda satu anak, ditambah dia adalah mantan istri Anjas, membuat ummi dan Ray masih tidak bisa memberi restu atas hubungan Arya dan Rina. Namun, Arya berhasil meyakinkan mereka agar mau menemui kekasihnya itu.
"Kalau belum mengenalnya, bagaimana kalian bisa menilai Rina buruk untukku." Itulah perkataan Arya saat ummi dan Ray terus merasa keberatan.
Setelah lama berpikir akhirnya ibu dan adiknya itu mau mengizinkannya membawa Rina pada acara keluarga hari ini.
"Justru ini kesempatan yang baik untuk mempertemukan kamu dan Bintang dengan orang tuaku, sayang. Kamu juga bisa lebih leluasa berbicara dengan ummi karena hari ini ummi sedang bahagia," jawab Arya dengan penuh keyakinan.
"Ayo sana, cepetan siap-siap ... biar kita gak telat," ujar Arya lagi sambil melangkah masuk ke dalam rumah Rina.
Hari masih sangat pagi saat ini. Namun, karena jarak yang cukup jauh, Arya harus pergi pagi-pagi sekali. Itu pun, dia sudah berencana untuk menemui keluarganya langsung di panti asuhan, takut kalau nanti dia terkena macet atau ada gangguan di jalan.
Rina menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya menganggukkan kepala dengan bibir meringis merasa berat. Rina bahkan sampai tidak bisa tidur semalam karena merasa gugup untuk moment yang sama sekali belum pernah dia lewati sebelumnya.
Ya, dia memang pernah menjadi seorang istri bahkan kini sudah menjadi seorang ibu. Namun, Rina tidak pernah merasakan menjadi seorang menantu. Mengingat itu membuat Rina merasa miris, karena orang tua laki-laki yang dulu pernah dia nikah masih lengkap, tetapi tidak pernah mengetahui pernikahannya dan anak mereka.
Arya hanya terkekeh melihat Rina yang tampak berjalan malas menuju ke dalam. Wanita itu lebih dulu menyiapkan kopi untuk Arya sebelum kembali berjalan ke lantai dua untuk mengganti baju sekaligus mengurus Bintang, yang sedang mandi ketika dia tinggalkan.
Lima belas menit kemudian Bintang tampak berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapih, anak itu kemudian bergabung dengan Arya di ruang tamu, sambil menunggu Rina yang bersiap, juga Heni membuat sarapan di dapur.
Tiga puluh menit berlalu Rina belum juga datang hingga membuat Arya dan Bintang mulai bosan menunggu, mereka pun akhirnya memutuskan bermain lebih dulu.
Empat puluh lima menit berlalu, Rina masih belum muncul, membuat Arya kini merasa khawatir pada kekasihnya. Entah berapa kali laki-laki itu tampak menoleh ke ujung tangga atas, menunggu kedatangan sang kekasih.
Sarapan yang tadi dibuat oleh Heni bahkan sudah tersaji di meja makan, tetapi Rina belum juga turun.
"Biar aku lihat dulu." Heni yang baru saja selesai memasak menawarkan diri untuk melihat Rina sambil dia juga ingin mengganti baju.
Arya mengangguk, dia kemudian menemani Bintang bermain lagi. Entah mengapa kali ini dia merasa Rina bersiap begitu lama, padahal biasanya wanita itu hanya membutuhkan waktu paling lama lima belas sampai dua puluh menit.
"Rin, aku masuk ya," ujar Heni sambil mengetuk pintu kamar sahabatnya. Dia baru membukanya setelah mendapat izin dari Rina di dalam.
__ADS_1
Keningnya berkerut saat melihat wanita itu kini tengah duduk di sisi ranjang dengan masih memakai jubah mandi, ditambah lagi baju yang terlihat berserakan, di sisinya.
"Ada apa ini? Apa tadi ada gempa?" tanya Heni sambil berjalan masuk menghampiri Rina yang tampak kalut.
Tentu saja, pertanyaan itu hanya bentuk godaan Heni untuk sedikit menghibur suasana hati sahabatnya yang terlihat sedang cemas.
Rina mneghembuskan napas pelan sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Aku bingung mau pake baju yang mana, aku takut salah kostum, Hen," jawab Rina lemas. Dia mengedarkan pandangannya, melihat kekacauan yang sudah dia lakukan di kamarnya sendiri.
"Astagfirullah, Rina, jadi dari tadi kamu belum selesai memilih baju?" tanya Heni sambil mengangkat salah satu baju Rina yang ada di atas ranjang.
"Kamu tau, di bawah Arya sudah cemas banget sama kamu karena kamu lama gak turun?! Kayaknya sebentar lagi lehernya sakit karena berulang kali melihat ke atas," sambung Rina lagi kemudian menaruh baju itu di lemari milik sahabatnya.
"Aku takut, Hen. Gimana kalau nanti mereka gak suka sama aku dan Bintang?" tanya Rina dengan wajah yang memang terlihat sangat gelisah.
"Aku takut nanti Bintang akan kecewa, Hen. Jika ini hanya masalahku, aku tidak akan gelisah seperti ini. Tapi, sekarang aku melibatkan Bintang," sambung Rina lagi dengan wajah yang terlihat sangat cemas.
Heni terus memilih baju yang ada di atas ranjang, sambil mendengarkan curhat kegelisahan sahabatnya. Dia kemudian memasukkan baju yang kiranya tidak cocok ke dalam lemari, hingga kini hanya menyisakan tiga stel baju yang tersisa.
"Gak usah banyak mikir, kalau kamu begini terus yang ada kamu telat datang dan mereka akan tambah gak suka sama kamu." Heni menaruh tiga stel baju itu di pangkuan Rina.
Heni mencebik saat mengucapkan kalimat terakhir, membuat Rina berdecak malas. Sahabatnya itu memang paling bisa kalau untuk mengejeknya.
"Ganti baju sekarang! Tuh, udah aku pilihin," sambung Heni lagi.
Rina mengangkat tiga setel baju yang diberikan oleh Heni di depannya, dia tersenyum melihat itu ternyata cukup menarik, tida terbuka walau dia memang belum berhijab.
"Sepertinya ini bagus, masih cocok aku pakai walau gak pake hijab, tapi masih telihat sopan untuk berada di tengah keluaga Arya yang sepertinya agamais banget," ujar Rina, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk menggganti baju.
"Kamu tunggu di sini dulu, jangan pergi ke mana-mana." Rina memunculkan kepalanya dari pintu kamar mandi yang hampir tertutup, mencegah Heni yang ingin pergi ke kamarnya.
"Aku harus ke resto, Rina!" teriak Heni tidak mau ditahan.
"Nanti saja, aku izinkan kamu masuk siang!" jawab Rina dari kamar mandi, membuat Heni menghembuskan napasanya.
"Baiklah, kalau bos yang menyuruh, aku bisa apa," desahnya sambil kembali duduk di sisi ranjang Rina.
__ADS_1
Dengan banyuan Rina lima belas menit kemudian, Rina sudah mulai berjalan menuruni tangga dengan baju pilihannya dan Heni. Arya sempat terpana melihat Rina yang tampak berbeda dari biasanya.
Baju berwarna biru muda yang senada dengan pakaian Bintang, terlihat membuat Rina terlihat lembut dan lebih bercahaya. ditambah riasan tipis yang membalut wajahnya tampak membuat wanita anak satu itu berbeda dari biasanya.
"Kita sarapan dulu sebelum berangkat," ujar Rina saat dia mencapai anak tangga terakhir, kemudian berjalan menuju meja makan.
Arya dan Bintang pun mengikuti, kemudian duduk di tempatnya masing-masing. Arya bahkan sudah mendapat kursi makan sendiri di rumah Rina.
Dengan cekatan Rina menyiapkan sarapan untuk kedua laki-laki yang begitu disayanginya, kemudian sarapan bersama.
Beberapa saat kemudian Rina, Arya, dan Bintang pun selesai dengan sarapannya, mereka hendak beranjak saat melihat Heni baru saja menuruni tangga.
"Hen, kita berangkat dulu ya," ujar Rina yang menyusul di belakang setelah dia membersihkan bekas sarapan mereka.
"Iya, hati-hati di jalan," jawab Heni sambil melambaikan tangan.
"Dadah, Ateu Heni!" Bintang tampak melambaikan tangan sambil berjalan menuju ke pintu utama bersama Anjas.
Begitu Rina sampai di depan rumah, Arya sudah menunggunya di depan pintu mobil, sedangkan Bintang sudah masuk lebih dulu. Laki-laki itu kemudian membukanya untuk Rina.
Rina sempat menghentikan langkahnya sesaat, dia menarik napas dalam kemudian menghembuskannya pelan, mencoba menghilangkan rasa gugupnya, sebelum berjalan menghampiri Arya.
"Cantik," bisik Arya saat Rina hendak masuk ke dalam mobil.
Wanita itu tampak tersipu lalu mempercepat geraknya untuk masuk ke dalam mobil. Arya terkekeh oleh tingkah malu dan salah tingkah sang kekasih, dia menutup pintu kemudian berjalan memutar untuk mencapai kursi kemudi.
"Jadi selama ini aku gak cantik?" Rina yang sudah bisa mengendalikan diri, kini membalas godaan yang diberikan Arya. Dia tampak mengerucutkan bibirnya, seolah tengah tersinggung akan ucapan Arya beberapa saat lalu.
"Eh, bukan gitu maksudku." Arya kalangan kabut dibuatnya, takut Rina salah paham atas perkataannya.
Namun, saat Arya bisa melihat Rina sedang menahan tawanya, dia mengerti jika saat ini Rina hanya sedang menggodanya. Kesempatan pun hadir di saat laki-laki itu melihat sabuk pengaman Rina belum terpasang.
Dia kemudian mencondongkan tubuhnya hingga lebih dekat dengan Rina. Tentu saja semua itu membuat tubuh Rina menegang, jantungnya bahkan berdetak lebih cepat hanya karena kini tubuhnya berada dekat dengan tubuh Arya.
"Kamu selalu cantik dimataku, sayang," bisik Arya sambil mengambil sambuk pengaman Rina kemudian memudurkan tubuhnya untuk memasang benda itu hingga bunyi klik terdengar, lalu kembali duduk tegak di kursi kemudi.
Rina mengerjapkan matanya pelan otaknya tiba-tiba terasa lambat untuk mencerna situasi hingga beberapa detik terdiam dia baru memekik sambil memukul pundak Arya pelan.
__ADS_1
"Dasar nyebelin! Kamu ngerjain aku ya?" kesal Rina, hingga membuat tawa Arya meledak, mereka pun memulai perjalanan menuju kota tempat tinggal keluarga Arya di pagi yang terlihat cerah itu.
...****************...