Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.30 Yang terakhir?


__ADS_3

"Lalu kamu mau apa lagi, Mas? Belum cukupkah selama ini kamu menyiksaku? Sebenarnya apa niatmu mempertahankan rumahtangga yang sudah hancur sejak lama, Mas?!" tanya Rina dengan sorot mata tajamnya.


Anjas mengepalkan kedua tangannya, keduanya tampak seperti sedang mengadu kekuatan melalui sorot matanya.


"Aku tidak perduli, pokoknya aku tidak akan pernah melepaskan kamu, Rina!" desis Anjas. Matanya tampak memerah dengan rahang yang mengeras saat mengatakan perkataan itu.


Anjas tampak menutup matanya, dia kemudian menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan, sepertinya laki-laki itu sedang mengendalikan emosinya.


"Aku minta maaf atas kesalahanku hari itu, karena menahan kamu di rumah dan tidak mengizinkanmu pulang ke kampung, aku juga menyesali semua itu. Tapi, semua itu sudah berlalu, jadi aku harap kamu tidak menjadikan masalah ini menjadi rumit."


Anjas masih berusaha menolak keinginan Rina untuk berpisah dengannya. Entahlah, sebenarnya apa yang ada dipikiran laki-laki itu, hingga kini malah bersikeras untuk tidak mengizinkan Rina bercerai.


Rina menatap Anjas dengan kening berkerut dalam, dia tidak habis pikir dengan pikiran suaminya itu.


"Bukankah kamu tidak mencintai aku? Lalu untuk apa lagi kamu mempertahankan aku, Mas?" tanya Rina.


Anjas terdiam, dia seolah kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan Rina. Apa mungkin Anjas perlahan sudah tubuh rasa cinta pada Rina hingga dia tidak mau kehilangan? Atau ada sesuatu yang disembunyikan oleh laki-laki itu?


Heh, mungkin semua itu masih menjadi misteri hati untuk Anjas sendiri, sampai dia menyadari atau mau mengatakan alasannya mempertahankan Rina.


Rina menghembuskan napas pelan sambil menegakkan tubuhnya, dia mengusap perut yang membuncit saat terasa ada gerakan dari dalam sana.


Sepertinya anaknya di dalam perut juga sedang mendengarkan perdebatan dari kedua orang tuanya, hingga dia memberi isyarat dengan gerakannya.


Maafkan Mama, sayang. Akhirnya Mama memilih untuk menyerah mempertahankan ayahmu untuk tetap di samping kita.


Rina bergumam di dalam hati, dia meminta maaf pada anakknya atas keputusan yang sudah dia ambil untuk rumahtangganya bersama dengan Anjas.


"Jujur saja, aku memang tidak bisa memafkan tindakan kamu di hari itu, Mas. Tapi, keputusanku untuk berpisah darimu bukan hanya kesalahan kamu di hari itu saja, Mas," ujar Rina lirih.

__ADS_1


Anjas menoleh melihat wajah Rina yang seperti sedang mengingat sesuatu. Dia kemudian menggeser duduknya hingga kini menghadap kepada Rina sepenuhnya.


"Aku tahu aku sudah banyak salah padamu, Rin. Tapi, aku mohon maafkan aku ... Aku janji setelah ini aku tidak akan mengulanginya lagi." Anjas berusaha untuk mengambil tangan Rina walau wanita itu masih tetap menghindarinya.


"Lalu, apa saja salah kamu padaku, Mas?" Rina langsung bertanya dengan cepat, dia bahkan tidak memberi kesempatan untuk Anjas menghela napas.


"Bagaimana kamu berjanji untuk tidak mengilangi kesalahan, Mas, jika kamu sendiri tidak tau apa kesalahan kamu, Mas?!" sambung Rina lagi.


"Apa kamu bisa berbuat adil pada aku dan Tari, Mas? Apa kamu saggup mengungkapkan pernikahan kita pada orangtuamu dan Tari?! Tidak bisa kan, Mas? Pada akhirnya hubungan kita hanya akan kembali pada titik awal, di mana aku hanyalah seorang istri selingan yang kamu datangi disaat kamu mau dan kamu tinggalkan sesukamu!"


"Lalu, mana yang akan berubah, Mas?" Rina memelankan suaranya.


Deg!


Pertanyaan itu seperti sebuah pukulan telak, yang membuatnya mematung. Pikirannya buntu seolah melupakan apa saja yang telah dia lakukan pada Rina selama ini. Hingga Anjas pun tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan Rina.


"Heuh!" Rina tersenyum miris, dia sudah menyangka semua ini akan terjadi.


"Jika memang kamu benar-benar menyesal atas semua yang sudah kamu lakukan padaku, tolong ceraikan aku sebelum kamu pergi esok pagi, Mas. Biarkan aku bahagia dengan anakku, dan aku juga akan membiarkan kamu bahagia dengan Tari," ujar Rina kemudian berjalan pergi ke belakang, menyusul Heni.


Anjas menatap punggung Rina dengan sorot mata yang tampak sulit untuk diartikan,dia kemudian menghembuskan napas kasar lalu menundukkan kepalanya.


"Jika memang Nak Anjas tidak bisa memberikan Rina kebahagiaan, tolong lepaskan saja dia, Nak. Biarkan kami menjaganya di sini," Bapak Heni yang ternyata sejak tadi mendengarkan perdebatan antara Anjas dan Rina pun akhirnya angkat bicara.


Dia sudah banyak berhutang budi pada keluarga Rina, maka sekarang adalah waktunya untuk membalas semua kebaikan kedua orangtua Rina. Lagi pula, sebelum Bapak Rina mengehembuskan napas terakhirnya, dia sempat menitipkan Rina padanya.


Anjas menoleh pada laki-laki paruh baya yang kini tampak berdiri di depannya, dia hanya menghembuskan napas pelan kemudian menundukkan kepala. Anjas tidak menyangka jika kejadian ini akan membawanya pada masalah yang begitu serius seperti sekarang ini.


"Kalau besok pagi mau pulang, sebaiknya sekarang Nak Anjas istirahat saja, Bapak juga akan langsung pulang setelah Ibu dan Heni selesai," ujar Bapak Heni, kemudian berlalu menyusul istri dan anaknya ke dapur.

__ADS_1


Sejak dia bekerja dengan orangtua Rina kemudian menjadi akrab, lalu Rina sering main kerumahnya bersama dengan Heni, dia sudah menganggap Rina sebagai anaknya sendiri.


.


Suara adzan subuh di mesjid kampung, membangunkan Rina dari tidurnya yang baru beberapa saat itu. Ya, sepanjang malam dia sama sekali tidak bisa tidur. Pikirannya terus berkelana pada pembicaraannya bersama Anjas sebelumnya.


Mungkin di depan Anjas, Rina bisa bersikap yakin seolah tidak ada rasa takut untuk berpisah dari laki-laki itu. Namun, sebagai seorang perempuan, dia juga merasakan takut jika sampai status baru akan benar-benar melekat padanya.


Apa lagi dia juga tengah mengandung, dimana tanggung jawabnya akan semakin besar di saat dirinya sudah melahirkan nanti. Entah bagaimana dia harus menghadapi nasib dirinya untuk kedapannya. Rina benar-benar belum memiliki rencana sama sekali.


Bagaimana dia akan menghadapi hidupnya tanpa ada lagi tempat bersandar?


Apakah dia bisa hidup mandiri, setelah selama ini kedua orang tuanya selalu menjadi tameng utama untuk melindunginya?


Itu hanya sebagian dari banyaknya pertanyaan yang terlintas di kepala, siap untuk membuatnya ragu akan keputusan yang sudah dia ambil sebelumnya.


Suara ikomat, menyadarkan Rina dari lamunan panjangnya.


"Bismillah ... kuatkan aku Ya Allah. Aku tahu, Engkau selalu ada bersama setiap hamba yang senantiasa terus berdoa dan mengingat-- Mu."


Rina baru ke luar dari kamar setelah matahari sudah tampak bersinar cerah, dia mengedarkan matanya mencari keberadaan laki-laki yang kini masih berstatus suaminya itu.


"Selamat pagi, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kamu, ayo sarapan bareng," ujar Anjas dengan senyum yang terlihat lebih tulus dari biasanya.


Rina bergeming, dia malah memilih untuk melanjutkan langkahnya ke pintu utama.


"Rin--" Anjas menahan tangan Rina, hingga wanita itu menolehkan kepala, melihat wajah Anjas.


"Untuk terakhir kalinya, Rin. Aku mohon," ujar Anjas lagi dengan suara lirih dan putus asa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2