
Anjas terbangun di tengah malam saat mendengar suara rintihan lirih seseorang, dia mengerjapkan matanya sambil mencoba menyadarkan diri dan mencari sumber suara.
Rasa penasarannya terjawab saat matanya menoleh pada Rina yang ternyata tengah menggigil dengan keringat yang membasahi wajahnya.
Anjas melebarkan matanya sambil beranjak duduk, dia memeriksa suhu tubuh Rina yang ternyata lebih tinggi dari biasanya. Rina demam.
"Rin, bangun, Rin ... kamu kenapa?" tanya Anjas dengan wajah paniknya.
Namun, Rina tidak menjawab, tubuhnya tampak bergetar dengan gigi yang mengatup rapat, membuat Anjas semakin khawatir.
Anjas langsung beranjak dari ranjang kemudian ke luar untuk mencari kompres, karena malam memang masih larut dan orang-orang belum ada yang bangun.
Benar saja, begitu dia ke luar dari kamar, suasana rumah masih sangat sepi, bahkan lampu pun terlihat temaram. Anjas terus berjalan menuju ke dapur, mencari keberadaan termos air panas yang biasanya selalu disiapkan oleh ibu mertuanya itu.
Setelah cukup lama mencari, Anjas menemukannya di salah satu sudut dapur. Dia langsung menyiapkan air di wadah. Akan tetapi, pergerakannya terhenti saat mendengar suara di belakang.
"Lagi apa, Nak?" Ibu terdengar bertanya dari arah belakang.
Anjas langsung menoleh dia cukup terkejut oleh kedatangan wanita paruh baya itu.
"Itu, Bu, Rina panas, aku mau menyiapkan air untuk mengompresnya," jawab Anjas yang langsung membuat mertuanya itu melebarkan pandangannya.
"Rina sakit?" tanya Ibu memastikan pada menantunya itu.
"Iya, Bu," angguk Anjas.
"Ya Allah, gimana kondisinya, Nak?" tanya Ibu dengan raut wajah panik bercampur khawatir.
"Demamnya cukup tinggi, Bu, makanya ini aku mau menyiapkan kompres," jawab Anjas, memperlihatkan wadah di tangannya.
"Ya sudah, ini biar Ibu saja yang menyiapkan, Nak Anjas, temani saja Rina." Ibu langsung mengambil alih wadah di tangan Anjas kemudian mulai menyiapkan air untuk mengompres anak perempuannya itu.
Anjas mengangguk kemudian menyerahkan wadah itu pada mertuanya dan berlalu ke kamar lagi, hatinya begitu was-was saat meninggalkan Rina sendirian di kamar dalam kondisi tidak sadar.
Anjas duduk di sisi ranjang, tangannya dia tempelkan di kening sang istri, untuk kembali mengecek suhu tubuhnya. Akan tetapi ternyata panasnya malah semakin tinggi.
"Rin, sadar, Rin ... sebenarnya kamu kenapa?" gumam Anjas cemas.
Beberapa saat kemudian Ibu mengantarkan air dan handuk kecil untuk mengompres Rina sekaligus melihat kondisi anak perempuannya.
"Sepertinya dia kecapean, gak apa dia memang suka begini kalau terlalu lelah," ujarnya setelah melihat kondisi anaknya.
__ADS_1
Walau ucapannya terdengar tenang, akan tetapi raut wajah ibu terlihat sekali sangat mencemaskan Rina.
"Dia itu keras kepala menyiapkan semua acara ini sendiri setelah datang dari kota, makanya sekarang tumbang. Dasar anak gak bisa dibilangin!" gerutu Ibu, sambil meletakkan handuk hangat itu di kening Rina.
Anjas yang berdiri tidak jauh dari sana mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan mertuanya.
"Rina menyiapkan semua ini sendiri, hanya dalam waktu beberapa hari?" tanya Anjas tidak percaya.
Ibu mengangguk yakin sambil mengusap tangan lemah Rina dengan mata berkaca-kaca.
"Katanya dia ingin memberi kejutan buat kamu dan tidak mau mengecewakan kamu yang sudah percaya sama dia. Rasanya mulut ibu dan bapak sudah berbusa menasehatinya untuk istirahat dan menyerahkan urusan acara pada kami dan para kerabat yang lainnya. Tapi, dia tetap kukuh mengerjakannya sendiri."
Anjas sedikit menunduk dengan pundak yang jatuh, saat mendengar perkataan mertuanya, ada rasa yang mengganggu di dalam dada, ketika ingatan tentang niatnya yang tidak mau datang ke sini karena kejadian yang menimpa Tari.
"Biar saya saja, Bu. Ibu istirahat saja," ujar Anjas, ingin mengambil alih untuk merawat istrinya itu.
Ibu melihat wajah Anjas cukup lama, hingga akhirnya dia mengangguk dan beranjak, membiarkan Anjas menggantikannya.
"Gak usah khawatir, Rina memang suka begini kalau terlalu lelah. Kita lihat sampai besok pagi, kalau demamanya gak turun, baru dibawa ke klinik," ujar ibu sebelum pamit pergi.
"Iya, Bu," angguk Anjas.
Sepeninggal ibu mertuanya, Anjas kembali mengalihkan perhatiannya pada Rina yang masih tidak sadarkan diri, kemudian duduk di sisi ranjang.
"Dasar bodoh!" sambungnya lagi dengan kening bertaut dalam.
Wajahnya terlihat sekali sangat khawatir pada Rina. Malam itu, Anjas benar-benar menjaga Rina dan merawatnya dengan baik, hingga akhirnya dia tertidur di sisi Rina dengan posisi memeluk istrinya itu.
Rina mengerjapkan matanya saat merasakan sesuatu yang menindih perutnya. Senyumnya tampak mengembang saat mendapati Anjas tengah tertidur degan posisi yang sangat dekat.
Rina juga baru sadar kalau di keningnya ada handuk kompres yang mulai mengering. Sepertinya Anjas sudah cukup lama tidak menggantinya.
Aku panas semalam? Batin Rina bertanya dengan kening bertaut dalam. Padahal saat ini saja dia masih merasakan tidak enak badan.
"Terima kasih, Mas," gumam Rina sambil tersenyum tipis, dia ingin berangsur bangun.
Namun, kepalanya terasa berdenyut saat mulai menggerakkan tubuhnya, hingga Rina berdesis pelan.
Ajas yang merasakan pergerakan Rina tampak membuka mata, dia tersenyum saat melihat istrinya sudah membuka mata.
"Kamu sudah baikan?" tanya Anjas sambil memeriksa kembali suhu tubuh istrinya.
__ADS_1
Rina tersenyum kemudian mengangguk . "Heem."
"Masih panas," gumam Anjas dengan kerutan dalam di keningnya. Walau panasnya sudah sedikit turun, hanya saja suhu tubuh Rina masih belum normal.
"Aku udah gak apa-apa, cuman sedikit pusing saja," ujar Rina.
Hatinya masih dongkol oleh masalah kemarin siang, apalagi sampai sore hari Anjas bahkan tidak menemuinya.
Rina hendak beranjak, dia mulai menurunkan kedua kakinya, walau kepalanya masih terasa melayang.
"Mau ke mana?" tanya Anjas sambil mencekal tangan Rina, dua bergerak cepat mencegah Rina, terdengar sekali ada rasa khawatir di dalam nada bicaranya.
"Ke kamar mandi," jawab Rina pelan, dirinya hendak berdiri saat tiba-tiba pandangannya menjadi samar, dan mengakibatkan tubuhnya limbung.
Anjas yang melihat itu, langsung beranjak dan menahan tubuh Rina, hingga kini kepala Rina bersandar di dada bidang Anjas.
"Ayo, biar aku bantu kamu," ujar Anjas sambil mengalungkan tangannya di pundak Rina, agar bisa menahan tubuh kurus istrinya.
Rina melirik wajah khawatir Anjas, dia kemudian mengangguk samar. Sungguh, sesuatu yang mendesak ingin segera di keluarkan di bawah sana, tidak bisa membuatnya diam begitu saja.
Karena kondisi Rina, akhirnya Anjas mengundur kepergiannya ke kota, dia tidak mungkin meninggalkan istri yang tengah sakit seperti itu. Jika dilihat dari kondisi, maka Rinalah yang lebih membutuhkannya dibandingkan dengan Tari.
Siang hari Anjas bahkan mengantarkan Rina untuk diperiksa ke puskesmas desa sekaligus memeriksa kehamilannya. Berkat Rina yang sakit Anjas bisa mendengar detak jantung sang anak untuk pertama kalinya.
Anjas sempat terpaku, begitu suara itu terdengar di telinga. Selama ini dirinya bahkan tidak pernah bertanya tentang kehamilan Rina.
Namun, disaat dirinya mendengar detak jantung sang anak yang dikandung istrinya itu, ada gelayar aneh yang menjalar merasuk ke dalam tubuh dan hatinya.
Rasa hangat, bangga, dan bersalah pun tidak bisa lagi dia bendung hingga tanpa sadar satu tetes air mata ke luar begitu saja.
"Bayinya sehat, hanya saja tekanan darah ibu sedikit tinggi."
Itulah perkataan bidan desa yang memeriksa Rina, dilanjutkan dengan segala petuah bagi ibu hamil, khususnya untuk Rina dan Anjas.
setelah itu Anjas dan Rina langsung kembali, dengan obat dan vitamin di tangan.
"Mas, boleh gak kita mampir dulu ke kedai soto di perempatan jalan? Aku lagi mau makan soto," pinta Rina, walau suaranya masih terdengar lemah.
Anjas menoleh sekilas pada Rina di sela dirinya mengemudikan mobil. Wajah Rina masih terlihat pucat, hingga membuat Anjas ragu untuk membiarkannya makan di luar.
"Kamu harus banyak istirahat," jawab Anjas acuh sambil kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
__ADS_1
"Tapi, aku mau soto," gumam Rina sambil mengalihkan pandangannya ke samping, menyembunyikan mata yang berkaca-kaca.
...****************...