Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.77 Perhatian Arya


__ADS_3

"Sayang kamu sudah selesai?" tanya Arya saat dia bertemu dengan Rina dan Bintang di koridor rumah sakit.


"Heem, yuk pulang," angguk Rina dengan senyum tipisnya. Dia menutupi rasa sakit di dalam hatinya dengan senyum yang malah terlihat dipaksakan. Rina juga sedikit menundukkan wajahnya agar Arya tidak melihat pipinya yang terasa panas dan kebas.


"Eh, tapi aku belum sempat jenguk Tari. Bagaimana keadaannya sekarang?" Arya sedikit menahan Rina yang hendak kembali melangkah, dia bingung dengan sikap Rina yang seolah tengah menghindar dari tatapan matanya.


"Nanti lagi aja ya, kasihan kan dia juga butuh istirahat," ujar Rina memberi alasan, dia kembali melanjutkan langkahnya tanpa perduli wajah penasaran Arya.


"Aku gak mau ke sana lagi, ada orang jahat di sana, Pah," adu Bintang tiba-tiba, anak kecil itu mengingat jelas perkataan ayah Tari pada Rina beberapa saat yang lalu.


Arya menoleh pada Bintang yang terlihat seperti sedang merajuk, hingga membuat Arya mengernyitkan keningnya, kemudian kembali melihat pada Rina, kemudian menyusul langkah kekasihnya itu dengan tangan mengambil Bintang dalam untuk menggendongnya.


"Ada apa ini, Rin?" tanya Arya sambil menghentikan langkah Rina, hingga tanpa sadar wanita itu menoleh menatap wajah Arya. Arya langsung melebarkan matanya saat melihat pipi sebelah kiri Rina yang memerah dan sedikit bengkak.


"Astagfirullah, kenapa ini, sayang? Siapa yang melakukan ini, hem?" tanya Arya dengan wajah panik, dia kembali menurunkan Bintang lalu fokus pada pipi Rina.


Rina meringis saat Arya menyentuh pipinya perlahan, rasa perih dan berbentuk itu masih terasa.


"Nanti aku jelasin di mobil aja, ya. Sekarang bisa kita pergi dulu dari sini?" ujar Rina melirik sekitar yang tampak memperhatikan mereka. Arya sadar ketidaknyamanan Rina hingga dia langsung mengangguk menyetujui permintaan Rina.


"Baiklah, ayo kita ke mobil sekarang," ujar Arya sambil mengambil Bintang pada gendongannya kemudian meraih tangan Rina. Mereka jalan bersama bagaikan sebuah keluarga.


Rina dan Bintang ke dalam mobil milik Arya lebih dulu, sedangkan Arya kembali berlari masuk ke rumah sakit, mencari kompres untuk pipi Rina.


Beberapa saat kemudian Arya terlihat kembali, dia langsung duduk di kursi kemudi lalu menyerahkan alat kompres itu pada Rina.


"Gunakan ini, biar rasa sakitnya bisa sedikit berkurang," ujar Arya dengan wajah khawatirnya.


"Terima kasih," angguk Rina sambil menerima alat kompres itu kemudian mulai menenpelkannya di pipi dengan perlahan.


Rina menahan rasa berdenyut saat kain yang terasa dingin itu menempel di kulit pipinya. Dia berdesis pelan sambil memejamkan matanya untuk meredam rasa itu, agar tidak membuat khawatir Bintang yang duduk di kursi belakang.


Arya sedikit menurunkan sandaran kursi untuk Rina, hingga membuat wanita itu terkejut. Rina menatap Arya dengan penuh tanya.

__ADS_1


"Begini akan lebih nyaman," ujar Arya lembut, setelah memastikan Rina dalam keadaan baik-baik saja, Arya baru mulai melajukan mobilnya perlahan.


"Terima kasih," ujar Rina sambil tersenyum, dia bersyukur karena ada Arya di sisinya yang selalu memperlakukannya dengan begitu baik dan lembut.


Arya tersenyum, kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya, dengan sesekali melihat Bintang yang duduk di kursi belakang dari kaca spion dalam.


Perjalanan hanya diisi dengan percakapan antara Arya dan Bintang, anak kecil itu dengan gamblang menceritakan semua yang terjadi saat Arya tidak bersama mereka.


Padahal tadi Tina sempat mewanti-wanti Bintang agar tidak berbicara pada Arya, tetapi seorang anak memang tidak bisa berbohong, hingga hanya dengan berbagai pertanyaan dari Arya Bintang sudah bercerita tanpa ingat pesan dari ibunya.


"Kakeknya Syafira itu jahat, Mama baru datang langsung dipukul dan dimarahi! Aku gak suka sama kakeknya Syafira, aku gak mau main lagi sama Syafira," ujar Bintang dengan wajah kesal hingga bibirnya terlihat sedikit maju saat berbicara, tangannya pun bersidekap dada, seolah menunjukkan kalau dia tengah marah sekarang.


Jika saja semua ini hanya maslah sepele, mungkin Arya sudah terkekeh dibuatnya, karena gaya marah Bintang malah terlihat lucu di matanya.


Rina masih memilih menutup matanya tanpa mau ikut menimpali pembicaraan kedua laki-laki berbeda usia itu. Bayangan kata-kata menyakitkan yang diucapkan oleh ayah Tari itu masih begitu jelas di ingatan, ditambah di sana juga ada orang tua Anjas.


Apa mereka mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya Tari? Apa mereka tau kalau Bintang adalah anak biologis Anjas?


Batin Rina terus bertanya. Rasa takut yang perlahan sudah memudar bersama dengan semakin baiknya hubungan antara dirinya, Anjas dan Tari, kini mulai mencuat kembali karena kejadian tadi.


Setelah Bintang selesai menceritakan apa yang terjadi kini perbincangan Arya alihkan pada hal yang lain, laki-laki itu seperti sedang mengalihkan Bintang dari masalah sebelumnya, hingga akhirnya mereka sampai di rumah milik Rina.


"Apa ini semua ulah orang tua Anjas?" Arya bertanya begitu mereka sudah duduk di kursi depan rumah Rina, sedangkan Bintang memilih untuk masuk ke rumah lebih dulu.


"Bukan," geleng Rina pelan.


Arya tampak mengeryitkan keningnya mendengar jawaban dari kekasihnya itu, dia menatap Rinda dengan raut wajah penuh tanya.


Rina menghembuskan napas pelan sebelum menjawab pertanyaan dari Arya, rasanya malas untuk membahas masalah ini lagi, tetapi dirinya juga harus menghormati Arya sebagai kekasihnya.


"Ayahnya Tari." Rina menjeda sejenak perkataannya, dia mentap jauh ke depan sebelum kembali melanjutkan.


"Sepertinya dia salah paham padaku sama seperti Tari sebelum semuanya terungkap, makanya dia langsung marah padaku saat aku datang ke sana," sambung Rina lagi.

__ADS_1


"Ck, keluarga mereka memang tidak ada yang bisa menahan emosinya dengan baik. Ceroboh! Kenapa juga harus marah dan berbuat kasar pada wanita, terlebih di depan anak-anak?!" Arya terlihat sangat kesal saat ini.


"Sudahlah biarkan saja, mereka sedang berduka karena kecelakaan Tari, jadi sebaiknya kita jangan memperpanjang masalah ini. Aku juga malas berurusan dengan mereka lagi, jika saja aku tidak kasihan pada Syafira mungkin aku juga sudah pergi sejak tadi." Rina pun terdengar kesal, walau dia juga mencegah Arya untuk memperpanjang masalahnya.


Arya menatap Rina dengan kening berkerut, ada sedikit rasa tidak rela jika dia harus melupakan masalah ini begitu saja, apa lagi ini sudah termasuk ke dalam tindak kekerasan. Namun, Arya juga tidak mau memutuskan secara sepihak, jika memang Rina tidak mau memperpanjang maslah ini, maka dia akan menghargainya.


"Baiklah jika itu memang keinginan kamu," ujar Arya akhirnya.


"Minggu depan, kakak perempuan Ray akan pulang, ummi mengundang kamu untuk bertemu dengannya, apa kamu mau datang?" tanya Arya setelah keduanya berbicang cukup lama.


"Di rumah ummi?" tanya Rina.


"Heem, sepertinya ummi sudah mulai menerima kamu, sayang. Dia jarang sekali mengundang orang lain jika Ranti sedang pulang." Arya tersenyum pada Rina.


"Tapi, apa itu tidak akan mengganggu kalian nantinya?" tanya Rina.


"Tidak sama sekali, sayang. Lagi pula ini kan permintaan ummi sendiri agar kamu datang," jawab Arya.


"Heem, kita lihat nanti saja ya, masih satu minggu lagi kan?" ujar Rina tidak mau langsung memberikan jawabannya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi, aku berharap kamu mau ikut bersamaku." Arya tampak tersenyum, dia kemudian memilih pamit dan membiarkan Rina untuk istirahat lebih cepat.


.


Sementara itu di rumah sakit, Anjas yang baru saja kembali setelah membersihkan diri dan mengganti baju pun terlihat menyambut Syafira yang kembali ingin bermanja dengannya.


"Kamu kok sudah datang, sayang? Tante Rina dan Bintang mana?" tanya Anjas dengan suara pelan, dia tidak ingin jika sampai orang tua dan mertuanya tahu tentang dirinya dan Rina.


"Tante Rina sudah pulang, sesudah berantem sama opa. Opa pukul tante Rina sampe pipinya merah," ujar Syafira dengan polosnya.


Arya melebarkan matanya, mendengar jawaban polos dari anak berusia lima tahun lebih itu, dia kemudian mengedarkan pandangannya pada mertua dan orang tuanya yang tampak sedang berbincang di kursi tunggu di dalam ruangan, sedangkan Tari masih dalam kondisi tidak sadar karena efek obat penenang yang diberikan oleh dokter.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2