
"Bawa aku bertemu dengan anakku!" ujar Rina setelah mendengar penjelasan dari Anjas. Sekuat tenaga dia mencoba untuk mengendalikan emosinya yang telah hampir mengambil alih seluruh tubuhnya.
"Tapi, kamu harus setuju dulu dengan rencana yang sudah aku susun, Rin. Saat ini kita harus bersatu untuk melawan ayahku." Anjas memberikan syarat untuk Rina.
"Apa itu penting? Sedangkan di sana anakku sedang kesakitan dan membutuhkan aku sebagai ibunya?" tanya Rina, menatap tajam Anjas.
"Ini penting, Rina. Kita harus bermain cantik, agar ayahku tidak curiga padaku dan rencana ini berhasil," ujar Anjas mencoba meyakinkan Rina.
"Ini semua demi Bintang, Rina!" sambung Anjas lagi.
Rina tampak terdiam, dia menatap Anjas penuh selidik. Walau bagaimana pun lawannya saat ini adalah ayah Anjas sendiri. Apa dia bisa mempercayai Anjas?
"Aku sudah muak menjadi bonekanya, Rin. Sekarang aku juga seorang ayah, dan aku tidak mau anakku merasakan apa yang aku rasakan sekarang." Seolah tahu apa yang dipikirkan Rina, Anjas kembali berbicara.
"Sebenarnya, ini bukan hanya demi Bintang, tapi ini semua demi aku dan ayahku juga, Rin. Aku mau dia menyadari kesalahan dan berhenti dengan ambisinya," sambung Anjas lagi dengan suara parau, seperti sedang menahan tangis.
Rina menghembuskan napas panjang, sebelum akhirnya menganggukkan kepala samar, menyetujui rencana yang sudah disusun oleh Anjas untuknya. Saat ini dirinya hanya memiliki Anjas yang bisa membantunya untuk melawan ayahnya, sementara Arya entah di mana dia sekarang. Laki-laki itu dan keluarganya bagaikan menghilang di telan bumi.
Sebenarnya Rina merasa kalau Heni mengetahui sesuatu, tetapi dia belum bisa mencari tahu karena dirinya belum diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Baik, kalau begitu aku mau bekerja sama dengan kamu. Sekarang tolong bawa aku menemui Bintang, agar aku juga bisa memberi pengertian padanya," ujar Rina.
"Tidak bisa malam ini, Rin. Bintang masih belum sadar," ujar Anjas penuh sesal.
"Setidaknya bawa aku untuk melihatnya agar aku bisa tenang!" Rina memaksa.
Ibu mana yang tidak akan khawatir jika mengetahui anaknya sedang sakit, apa lagi sampai dirawat di rumah sakit. Begitu juga dengan Rina, dia sangat khawatir pada Bintang saat ini.
"Baiklah, aku akan mencoba membawa kamu untuk menemui Bintang," ujar Anjas sambil mengangguk pelan.
"Ambil ponsel ini, aku akan melihat situasi dulu dan memastikan kalau tidak ada anak buah ayahku yang mengawasi. Nanti aku beri kabar melalui ponsel ini," ujar Anjas sambil bersiap untuk ke luar dari ruang rawat Rina.
"Eum, baiklah," angguk Rina.
.
Anjas berjalan gontai menuju ke ruang rawat Bintang, dengan botol air minum di tangan. Dia melihat dengan jelas jika sopir yang tadi mengantarnya ke sini tengah duduk di depan ruangan.
"Terima kasih, Pak. Sekarang Bapak bisa kembali ke rumah, aku akan menjaga Bintang di sini," ujar Anjas pada sopirnya.
__ADS_1
"Tapi, Pak, saya--" Sopir itu tampak ragu, walau wajah lelah terlihat jelas dari laki-laki paruh baya itu.
"Enggak apa-apa, saya gak akan bilang sama ayah. Bapak pulang aja ke rumah Bapak, biar orang rumah saya tidak ada yang tahu," rayu Anjas.
Laki-laki paruh baya itu tampak terdiam sebentar, seolah sedang menimbang perkataan Anjas, hingga akhirnya dia mengangguk juga.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, Pak. Kalau nanti ada sesuatu tolong segera hubungi saya," ujar sopir yang Anjas tahu adalah salah satu anak buah ayahnya.
Anjas tersenyum sambil mengangguk, dia menepuk pundak laki-laki paruh baya itu seraya mengeluarkan uang dua lembar seratus ribuan untuk ongkos pulang sopirnya.
"Terima kasih, Pak," ujar sopir itu sambil tersenyum senang.
Anjas tahu jika sopir itu adalah anak buah yang baru saja satu tahun bekerja dengan ayahnya, dia sama sekali tidak terlibat dengan ambisi kotor sang ayah, hingga mudah untuknya membodohi laki-laki paruh baya itu.
Setelah melihat sopirnya pergi, Anjas kemudian menghubungi Rina untuk mengabarkan situasi dan memperbolehkan mantan istrinya itu untuk datang.
Sementara itu di kamarnya Rina tampak gelisah, dia terus melihat layar ponsel yang baru saja diberikan oleh Anjas, berharap laki-laki itu segera memeberi kabar padanya. Hingga akhirnya sebuah pesan membuatnya langsung melebarkan mata.
Sekedar informasi, jika ponsel milik Rina sudah hilang di kecelakaan hari itu, hingga saat ini dirinya belum sempat membeli benda pipih itu.
Rina kembali mencabut jarum infus yang terpasang di punggung tangannya, tubuh yang awalnya terasa lemas kini seakan mendapatkan kekuatan sehingga Rina bahkan bisa berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit, menuju kamar Bintang yang tadi sempat dikatakan oleh Anjas.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Anjas khawatir sambil membantu Rina berjalan.
"Aku baik-baik saja, mana Bintang?" tanya Rina sambil menyingkirkan Anjas dari hadapannya kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruang rawat.
Anjas yang sedikit terhuyung oleh dorongan keras Rina hanya bisa menggelang lemah, dia ikut merasa senang karena Rina kini sudah ada bersama dengan Bintang.
"Bintang sayang, ini mama, Nak," lirih Rina sambil duduk di kursi samping brankar Bintang.
Dia mencondongkan tubuhnya hingga mendekat pada wajah Bintang, tanga bergetarnya mengusap wajah sang anak dengan lembut. Satu tetes air mata pun terlihat jatuh begitu saja, mendapati sang anak yang terlihat lemas dan pucat.
"Sayang, bangun, Nak ... Mama sudah ada di sini," ujar Rina lagi sambil mengecup seluruh bagian wajah Bintang.
"Mama." Bintang bergumam lirih, membuat Rina menjauhkan wajahnya dari wajah sang anak.
Sementara itu Anjas yang juga mendengar itu, langsung berjalan cepat menghampiri brankar Bintang dan berdiri di sisi yang berbeda dengan Rina.
"Iya, sayang. Ini mama," ujar Rina sambil mengusap wajah Bintang, dia menyingkirkan rambut yang menutupi sisi wajah anaknya.
__ADS_1
Perlahan mata Bintang mulai mengerjap kemudian terbuka dengan air yang sudah terlihat mulai menetes.
"Mama!" Bintang memghambur memeluk tubuh Rina saat sudah bisa melihat jelas wajah sang ibu.
"Mama kenapa lama sekali perginya, Bintang kangen, mau ketemu Mama," rengek Bintang dengan sisa tangis yang masih terdengar.
"Maafkan Mama, sayang." Rina memeluk lembut tubuh ringkih sang anak. Susah payah dia menahan tangisnya agar Bintang tidak semakin khawatir padanya.
Setelah cukup lama membiarkan Bintang berada di pelukannya agar anaknya itu lebih tenang, hingga akhirnya Rina harus melepaskan pelukan sang anak agar dia bisa berbicara dengan benar.
"Bintang, sayang. Kamu harus kuat ya, sekarang coba dengar mama." Rina memberi instruksi pada sang anak.
Bintang tampak menatap wajah Rina, dia pun mengangguk samar, sebagai tanda jika dirinya akan mendengarkan Rina.
"Anak pintar," ujar Rina tersenyum, dia lebih dulu memuji sang anak.
"Sayang, sementara ini kamu tinggal bersama ayah dulu ya," ujar Rina sambil menatap Anjas sekilas.
Bintang melihat Anjas, dia kemudian menggeleng cepat, menolak perintah sang ibu. Bintang ingat, Anjas adalah laki-laki yang harus dia panggil ayah selama tinggal di rumah milik Syafira.
"Aku mau sama Mama," lirih Bintang dengan air mata yang kembali berderai.
"Sayang, Mama juga sangat ingin bersama dengan kamu, Nak. Tapi, untuk sekarang kita belum bisa bersama, sayang. Mama ada urusan yang harus dilakukan, dan sementara itu tolong Bintang mau tinggal dulu sama ayah ya," ujar Rina dengan suara yang terasa berat.
Tenggorokannya tercekat hingga terasa sakit, karena menahan tangis. Beberapa kali Rina bahkan harus mendongakkan kepalanya agar bisa menahan air mata yang hampir terjatuh.
"Bintang mau sama Mama saja. Bintang mohon, bawa Bintang bersama Mama."
Dalam tangisnya Bintang terus memohon untuk tetap berada di samping sang mama, dia tidak bisa jauh dari Rina, walau itu hanya sehari saja. Mereka tidak pernah terpisahkan sebelumnya dan Bintang tidak suka berada di dekat orang-orang yang menurutnya asing.
Rina terdiam, mulutnya seakan terkunci kini, melihat air mata yang berderai dari malaikat kecilnya membuat suaranya seakan tertahan sampai di tenggorokan.
"Tenanglah, sayang. Mama ada di sini ... Mama ada di sini." Rina kembali memeluk tubuh kecil anaknya yang kini tengah terluka.
Rina menatap wajah Anjas dengan mata berkaca-kaca, dia lemah di depan anaknya, dan itulah yang kini terjadi. Hatinya tidak sanggup melihat anak yang selama ini menjadi Bintang hidupnya meneteskan air mata hanya karena statusnya saat mengandungnya.
Ya, awal dari semua penderitaan ini karna kebodohannya yang memutuskan untuk tidak menunda kehamilan di saat pernikahannya saja belum jelas.
Istri selingan, itulah statusnya dulu. Bodoh memang, Rina mengakui itu. Namun, dia juga tidak pernah menyesali kejadian itu, dan itu karena adanya Bintang.
__ADS_1
Hingga semua ini terjadi, kini Rina harus kembali berpikir, apakah keputusannya waktu itu benar atau memang dirinya lah yang bersalah dari semua penderitaan ini.