Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.48 Sebuah rencana


__ADS_3

Anjas berjalan ke luar dari rumah dengan langkah kaki tergesa, dia ada rapat mendadak di kantor karena masalah video yang dibuat Tari.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Tari dari meja makan, dia sedang menyuapi Syafira sarapan.


"Kantor," jawab Anjas singkat, sambil melirik sekilas pada dua orang perempuan yang kini sedang melihatnya, kemudian hendak meneruskan langkahnya.


"Gak sarapan dulu?" tanya Tari lagi.


Anjas kembali menghentikan langkahnnya, lalu menatap Tari dan Syafira bergantian.


"Aku buru-buru," jawab Anjas, kemudian berlalu begitu saja ke luar rumah, tanpa menghampiri Tari dan Syafira lebih dulu.


Tari menghembuskan napas pelan, semenjak kejadian di resto Rina, kini hubungan keduanya semakin renggang dan dingin. Anjas mendiamkannya dan Syafira. Laki-laki itu terus pergi di awal hari dan pulang saat malam telah larut.


"Papah kenapa gak pernah ikut sarapan bareng kita, Mah?" tanya Syafira dengan wajah polosnya.


Tari mengalihkan perhatiannya pada sang anak, dia memaksakan untuk tersenyum dan terlihat baik-baik saja di depan Syafira.


"Papa lagi sibuk ... jadi dia gak sempat untuk sarapan di rumah," jawab Tari sambil mengelus lembuat rambut Syafira yang dia kuncir dua.


Ada rasa sesal di dalam hatinya, karena telah melakukan semua itu, dia tidak menyangka jika perbuatannya akan membuat Anjas sangat marah, hingga terus menghindarinya.


Tari masih mengingat bagaimana siang itu Anjas menghancurkan semua kamera miliknya, kemudian menyeretnya ke luar dari resto milik Rina di depan banyak orang. Sepanjang jalan Anjas bahkan menyetir dengan sangat kencang, bagaiakan orang yang tengah kesetanan.


"Aku kecewa padamu, Tari. Sikapmu tadi sudah membuktikan kalau kamu sama sekali tidak menghargaiku sebagai suami!" Perkataan penuh amarah dengan mata memarah dan tajam menusuknya, masih teringat jelas di kepala Tari.


Saat itu mereka bahkan masih berada di ruang tengah rumahnya, hingga perkataan itu bisa didengar jelas oleh para pekerja.


"Kamu yang tidak pernah menghargaiku sebagai seorang istri, Mas! Teganya kamu berselingkuh dengan wanita penggoda seperti dia, sampai bisa melahirkan anak!" balas Tari tak kalah keras.


"Kamu tidak tahu ceritanya, Tari! Kamu bahkan tidak menanyakannya padaku dulu sebelum bertindak! Sikapmu sungguh kekanakan!" hardik Anjas, dia kecewa atas sikap Tari yang menurutnya sangat keterlaluan.


"Siapa yang akan tahan jika mengetahui kalau selama ini suaminya memiliki wanita lain di belakangnya, Mas? Bahkan sampai memiliki seorang anak! Pantas saja kamu selalu menolak untuk menikah lagi, bahkan kamu juga terlihat santai, walau sampai saat ini kita belum mempunyai keturunan!" Tari menahan air mata yang sudah mendesak ingin ke luar, karena rasa sakit yang teramat sangat di dalam hatinya.


"Itu semua tidak ada hubungannya dengan Rina, Tari! Aku begitu karena kita sudah mempunyai Syafira!" kini emosi keduanya sudah tida terbendung, Anjas dan Tari sama-sama terbakar api amarah.


"Jangan lampiaskan kekecewaan kamu karena tidak bisa memberiku keturunan pada orang lain, Tari. Rina tidak tahu apa pun tentang masalah kita!" sentak Anjas.


Tari tersenyum miring, hatinya semakin merasa panas oleh api cemburu, saat melihat Anjas yang selalu membela Rina di hadapannya sendiri.


Wanita mana yang akan tahan jika melihat suaminya memiliki anak dari wanita lain. Tari hanya ingin mendapatkan keadilan untuk rasa sakitnya selama ini, karena perbuatan Anjas dan Rina.

__ADS_1


"Kamu bahkan terus membela wanita itu? Apa kamu masih mencintai dia?" tanya Tari dengan wajah yang terlihat sangat kecewa, derai air mata pun mengiringi setiap kata yang terucap dari bibirnya.


Hatinya yang telah terlanjur patah kini terasa semakin remuk, karena semua kenyataan yang ternyata telah lama tersembunyi di balik sikap baik suaminya. Tari semakin yakin jika Anjas mempertahankan rumah tangganya hanya untuk uang kedua orang tuanya.


Anjas terdiam, dia tiba-tiba saja mematung dengan lidah yang terasa kelu. Jawaban atas pertanyaan Tari kini hanya tertahan di tenggorokan tanpa bisa keluar.


Tari tertawa penuh kepedihan, dengan rasa sakit yang semakin dalam, dia tidak menyangka jika selama ini dia menikah dengan laki-laki yang mencintai orang lain.


"Diammu sudah menjawab semuanya, Mas," ujarnya lirih, dia menangis tergugu meratapi nasib dirinya yang begitu menyedihkan.


"Mah, aku sudah kenyang," ujar Syafira , yang menyadarkan lamunan panjang Tari.


"Ah iya, sayang, maaf Mama tidak memperhatikan," jawab Tari kemudian menaruh piring di atas meja.


.


Sementara itu, Anjas sampai ke kantor, dia langsung disambut oleh Hilman yang sudah menunggunya di lobi.


"Mereka sudah menunggu di ruang rapat," ujar Hilman melaporkan.


Anjas mengangguk, keduanya kini berjalan beriringan, menyusuri koridor kantor menuju ruang rapat. Wajah tegang terlihat jelas di kedua pria yang merupakan petinggi di kantor itu.


"Apa kamu sudah mengetahui dari mana Tari tahu pertemuanku dengan Rina dan keberadaan Bintang?" tanya Anjas di sela langkah keduanya.


"Belum, kami masih mencoba mencaritahu," jawab Hilman dengan wajah penuh sesal.


"Ck!" Anjas hanya berdecak gusar, kemudian bersiap masuk ke dalam ruang rapat.


.


"Terima kasih atas bantuan kalian, kami tidak tahu harus membalasnya dengan apa," ujar Arya begitu mereka selesai mengambil video klarifikasi tentang masalah yang terjadi di resto milik Rina beberapa hari lalu.


Kini mereka tengah berjalan menuju ke luar rumah karena waktu yang sudah sore. Ternyata membuat video untuk satu konten saja cukup menyita waktu mereka, apa lagi Arya dan Rina belum pernah melakukan itu sebelumnya.


"Kami senang bisa membantu, semoga dengan ini masalah kalian bisa segera terselesaikan," ujar laki-laki yang merupakan seorang youtuber itu.


"Oh iya, kapan kira-kira video ini bisa siap di upload?" tanya Ray yang merupakan teman baik pasangan youtuber itu.


"Dua sampai tiga hari lagi aku usahakan semuanya selesai. Aku akan mengusahan lebih cepat lagi," jawabnya sambil tersenyum.


"Baiklah, terima kasih atas bantuan kalian, kami permisi dulu," pamit Ray yang diangguki oleh Arya dan Rina.

__ADS_1


Wanita itu memang lebih banyak diam, mungkin karena masih merasa canggung dan belum terbiasa dengan kamera di sana.


Setelah ke luar dari rumah, Ray pun pamit dan berpisah. Sebenarnya adik dari Arya itu memang belum bisa menerima hubungan Arya dan Rina, makanya sejak tadi Ray tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan Rina. Dia lebih memilih menghindar.


Ray mau membantu Arya dan Rina tentu saja dengan berbagai persyaratan yang harus dilakukan oleh Arya, termasuk membujuk kedua orang tuanya untuk mengizinkannya meneruskan kuliah di kota tempat Arya tinggal.


"Sepertinya Ray tidak terlalu menyukaiku?" keluh Rina ketika mereka berdua sudah ada di dalam mobil.


Arya melihat Rina sekilas, dia kemudian tersenyum sambil mulai melajukan mobil miliknya ke luar dari pelataran rumah.


"Itu hanya perasaan kamu saja, sayang," jawabnya santai, sambil kembali fokus pada jalanan di depannya, saat dirinya hendak menuju jalan utama.


Rina mengerutkan keningnya, pikirannya masih tertinggal di belakang, di mana dia memperhatikan sikap Ray yang seolah terus menghindari berinteraksi dengannya.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak," sambung Arya lagi sambil menggenggam tangan Rina, dia membawanya dan mengecupnya.


Rina tersenyum, sikap Arya selalu bisa membuatnya tenang. Laki-laki itu selalu bersikap dewasa dan siap sedia untuknya. Itulah yang membuat hatinya tersentuh dan perlahan membuka gerbang cinta untuk Arya, tentunya selain kedekatan Arya pada Bintang, karena itu yang paling utama.


Sementara itu, di sebuah kafe Tari sedang duduk berdua dengan Hilman, di depannya terlihat dua cangkir kopi yang baru saja dihidangkan. Itu terlihat dari asap yang masih mengepul di atas permukaan air, kemudian menghilang menyatu dengan udara senja yang mulai terasa dingin.


Rincik gerimis yang mulai turun membuat suasana senja itu terasa sendu. Tari pun melihat bulir air di kaca yang membentuk titik-titik kecil.


"Terima kasih karena kamu sudah memberitahuku tentang rencana pertemuan Anjas dan Rina," ujar Tari lirih, tanpa mengalihkan pandangannya dari dinding kaca di sampingnya. Terlihat sekali ada rasa sedih dan sesal yang terpendam di dalam raut wajahnya.


Hilman tersenyum, matanya menatap pemandangan jalanan kota di balik kaca, terlihat padat dengan banyaknya kendaraan yang melaju perlahan menuju tempat tujuan.


Dia kemudian beralih menatap Tari yang tampak asik menatap ke luar, dia seolah sedang menutupi kesedihan di wajahnya.


"Aku senang bisa membantumu," ujarnya, sambil mengambil cangkir kopi di atas meja, kemudian menyeruputnya perlahan.


"Apa kamu menyesal telah melakukan itu?" tanya Hilman, melirik Tari sekilas sambil memainkan cangkir di tangan. Dia menggoyangkannya hingga permukaan kopi itu terlihat berputar.


Tari mengepalkan kedua tangannya, setiap kali kejadian itu teringat, wajah Rina pun selalu melintas, membuat hatinya terasa panas.


"Dia telah menghancurkan rumah tanggaku, untuk apa aku menyesal. Aku bahkan ingin membuatnya bangkrut, kemudian menangis di bawah kakiku, memohon maaf dan mengakui apa yang telah dia lakukan padaku!" jawab Tari penuh emosi.


Sebelah unjung bibir Hilman tampak tertarik ke atas, mendengar jawaban dari Tari.


"Lalu, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Hilman lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2