Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.54 Numpang makan


__ADS_3

Anjas berdiri di ujung tangga saat Tari melangkah masuk ke dalam rumah. Wanita itu berjalan santai seolah tidak ada salah, setelah dua hari dua malam tidak ada kabar sama sekali.


Anjas melihat Tari dengan mata yang memerah dan tangan mengepal erat, menahan amarah yang hampir saja meledak di kepala. Kemarahan yang sudah terkumpul kini semakin besar, hingga Anjas tak bisa membendungnya lagi.


Tari tersenyum menatap suaminya, langkahnya begitu ringan seolah tidak tahu kalau raut wajah Anjas saat ini begitu berbahaya dan siap untuk menerkam.


"Mas, kamu gak ke kantor?" tanya Tari, saat melihat jam yang menggantung di dinding, menunjukkan pukul sembilan pagi.


Tari ingin menghambur untuk memeluk Anjas, tetapi Anjas langsung menahan tubuh Tari sambil membawa kakinya melangkah ke belakang, menjauh dari tubuh wanita yang merupakan istrinya sendiri.


"Dari mana kamu?!" tanya Anjas, dengan nada suara datar dan dingin.


Tari terdiam, tangannya yang sudah terangkat untuk memeluk Anjas, kini hanya bisa menggantung di udara. Dia kemudian menghembuskan napas kasar, sambil tersenyum miris melihat sikap suaminya saat ini.


"Apa sekarang kamu bahkan tidak mau menyentuhku, Mas? Kamu jijik kepadaku?" tanya Tari, tanpa menjawab pertanyaan Anjas sebelumnya.


"Tidak usah banyak drama. Jawab dulu pertanyaanku! Ke mana saja kami dua hari ini? Aku hubungi tidak bisa, aku cari ke mana-mana juga tidak ada?!" Anjas kembali bertanya dengan tatapan tajamnya, sungguh dia begitu marah pasa sikap Tari saat ini.


"Aku hanya pergi ke rumah Mama," jawab Tari santai kemudian melanjutkan langkahnya tanpa perduli dengan suaminya. Tampaknya dia tahu kalau Anjas hanya akan menjadikannya sebagai pelampiasan amarahnya.


Namun, Anjas langsung mencekal tangannya, hingga Tari terpaksa harus berhenti dan kembali berbalik menatap Anjas. Ternyata tidak mudah untuk lepas dari cengkraman suaminya.


"Aku belum selesai bicara, Tari!" Anjas berkata dengan suara yang berubah menjadi seperti sedang menggeram marah. Cengkraman di tangan Tari pun terasa semakin kencang dan menyakitkan.


"Kamu tau, kemarin Syafira sakit? Dia terus memanggil kamu, dia membutuhkan kamu, Tari!" sambung Anjas lagi, mengingat bagaimana dia kesulitan menjaga anak itu tanpa Tari. Karena selama ini Syafira memang sangkat dekat dengan Tari.


Tari melirik wajah Anjas hingga mata keduanya tampak sempat bertaut untuk beberapa detik, walau akhirnya Tari melepaskan ya lebih dulu.


Dia sempat terkejut dengan perkataan Anjas, perih terasa di dalam hatinya saat mendengar Syafira sakit ketika dia tidak bersamanya. Tari tidak bermaksud untuk mengacuhkan anak itu, sungguh.


Namun, rasanya itu juga tidak masalah, Anjas malah bisa merasakan bagaimana selama ini dia mengurus Syafira seorang diri, karena Anjas tidak pernah perduli.


"Kamu tidak membutuhkanku, Mas? Hanya Syafira yang membutuhkan aku?" tanya Tari dengan wajah yang berubah sendu. Dia rindu saat kehangatan keluarganya masih utuh, dia rindu saat saat Anjas bermanja dan mengeluh padanya.


Namun, semuanya kini sudah tidak terasa lagi. Rumah tangganya semakin dingin dan sepi. Anjas memang selalu mengakatakan kalau laki-laki itu mencintainya, tetapi kenyataannya itu jauh berbeda dengan sikap dan cara Anjas memperlakukannya.


"Heh!" Tari menghembuskan napas kasar sambil membuang muka, merasa kesal pada suaminya.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh untuk melakukan apa yang aku suka?" tanya Tari, dengan suara yang kini terdengar lebih dingin dari sebelumnya. Kemudian kembali menatap Anjas dengan raut wajah tegar.

__ADS_1


"Lagi pula, apa salahnya kamu mengurus Syafira sesekali? Bukannya dia juga anakmu? Bahkan yang menyarankan kita buat mengambil Syafira juga kedua orang tua kamu, Kan?" sambung Tari lagi.


Awalnya dia mengira, saat Syafira datang suasana rumahnya akan lebih hangat, dan Anjas lebih sering berada di rumah bersamanya. Namun, semua itu ternyata hanya angan saja. Anjas memang lebih sering di rumah, tetapi dia lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja dibandingkan dengan bersamanya. Itu semua membuat ada dan tidak adanya Anjas, terasa sama saja baginya.


"Tapi, kamu adalah ibunya, Tari! Seharusnya kamu selalu ada bersamanya!" tekan Anjas. Dia tersenyum miring, sambil melihat Tari dengan tatapan meremehkan.


"Ck!" Anjas berdecak sebelum melanjutkan perkataannya.


"Melakukan yang kamu suka? Melakukan apa, kenapa sampai harus tidak ada kabar sampai dua hari, heh?" Anjas menatap Tari tajam. Pikirannya sudah berkelana sejak kemarin, karena Tari menghilang. Dia tidak bisa lagi berpikir baik tentang istrinya saat ini.


"Aku hanya ingin melupakan masalah di rumah ini untuk sesaat, Mas. Aku lelah, dengan sikap kamu yang tidak pernah mengerti perasaan aku! Kamu hanya sibuk dengan pekerjaan dan perasaanmu sendiri, tanpa mau melihat luka hatiku, Mas!" Tari akhirnya mulai mengungkapkan isi hatinya. Dia berteriak tepat di depan wajah sang suami, tanpa mengingat lagi arti kata sopan santun. Tari merasa dikhianati oleh suaminya, dia merasa sakit oleh perubahan sikap suaminya, dan dia jenuh akan semua itu.


"Di sini--" Tari menunjuk pada dadanya yang mulai terasa sesak, dia mengetuknya beberapa kali, menggunakan ujung telunjuk.


"Di sini, sangat sakit, Mas," lirih Tari dengan tetes air mata yang mengalir seiring dengan perkataannya.


.


Rina tersenyum saat melihat kedatangan Arya yang tiba-tiba. Entah mengapa itu terasa berbeda, padahal Arya memang sering berkunjung seperti ini.


Ya, sejak semalam dia memang sedang merasa resah dan terus memikirkan laki-laki yang kini telah menjadi kekasihnya itu. Dia ingin berbicara tentang permintaan Anjas padanya beberapa waktu yang lalu.


"Waalaikumsalam," jawab Rina dengan senyum yang merekah.


Ah, sepertinya Rina juga mulai tidak bisa menahan perasaannya, walau dia tetap menjaga batasan dan sadar akan keadaan dirinya saat ini, meskipun terkadang dia sering lupa bahwa Arya bahkan belum mengenalkannya pada kedua orang tuanya.


Terkadang saat Rina memikirkan itu, dia merasa takut akan rintangan yang jelas terbentang di depan mata. Perbedaan status dan kasta diantara keduanya yang jelas terlihat, membuat dirinya merasa kecil dan pesimis akan hubungannya dan Arya.


Walau, di saat tertentu dia juga melupakan semua itu dan memilih untuk menikmati semu proses yang ada, sambil mempersiapkan hati dan dirinya dengan kegagalan yang siap untuk meruntuhkan semua harapannya, lagi.


"Tumben ke sini gak bilang dulu," sindir Rina, padahal biasanya juga begitu. Hanya saja saat ini Rina ingin menggoda Arya.


"Hem?" Arya tampak menatap Rina dengan wajah bingung, dia mengangkat tinggi salah satu alisnya.


Beberapa saat Arya tampak terdiam, seperti sedang mencerna situasi yang terjadi sekarang. Kemudian dia terkekeh pelan sebelum menjawab candaan dari Rina.


"Entah. Sepertinya kakiku melangkah sendiri ke sini tanpa aku sadari. Hem, dia tahu kalau aku sedang rindu pada kekasihku yang cantik ini," jawab Arya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya samar. Dia bahkan sempat mengerlingkan salah satu matanya pada Rina, hingga membuat wanita itu tersipu.


"Dasar gombal! Sepertinya sekarang kamu semakin pandai merayu." Rina tersenyum simpul menatap Arya yang kini malah terkekeh geli.

__ADS_1


"Siapa dulu yang mulai, hem?" tanya Arya balik.


"Kamu juga sudah mulai berani menggodaku," sambung Arya lagi.


Rina menutup berkas terakhir yang dia koreksi kemudian menaruhnya bersama berkas yang lain, dia kemudian beralih pada telepon yang ada di atas mejanya.


"Heni, tolong bawakan makanan untukku dan Arya ke ruanganku," ujar Rina memberi perintah, dia seolah tahu kalau laki-laki di hadapannya itu memang belum makan.


"Ah, sepertinya kamu sudah tahu kalau aku ke sini mau numpang makan." Anjas berlaga seperti seseorang yang sedang ketahuan.


"Benarkah? Padahal aku hanya sedang lapar, tapi tidak enak karena kamu ada di sini," jawab Rina, seolah sudah sangat mudah untuknya mengimbangi candaan dari Arya.


Keduanya pun terkekeh bersama, merasa lucu akan tingkah mereka sendiri. Rina kemudian beranjak menuju sofa, diiringi oleh Arya di belakangnya.


Rina menyandarkan punggung yang sudah terasa lelah pada sandaran sofa, sambil menghembuskan napas kasar. Sungguh bekerja memang bukan hal mudah, apa lagi dia tidak hanya memegang satu bidang saja.


Keduanya tampak berbincang santai sambil menunggu makan siang mereka datang, tanpa gangguan dari Bintang yang tengah tertidur pulas di ruang istirahat.


"Minggu depan, apa kamu ada waktu?" tanya Arya tiba-tiba saat keduanya sedang menikmati makan siang bersama.


Rina mengalihkan perhatiannya pada Arya, sambil mengingat-ingat jadwalnya.


"Hem, sepertinya sedikit senggang. Ada apa?" tanya Rina sambil kembali menyuapkan makanan lalu mengunyahnya.


"Aku mau mengajak kamu untuk bertemu orang tuaku," jawab Arya tanpa ragu.


"Uhuk!" Mendengar itu, tanpa sadar Rina tersedak hebat saking terkejutnya.


Arya yang melihat Rina terbatuk sigap langsung mengambil gelas air putih kemudian memberikannya pada Rina. Tangannya menepuk pelan punggung sang kekasih.


"Hati-hati kalau sedang makan, jangan terburu-buru," ujarnya santai, seolah tidak sadar jika itu karena perkataannya yang tiba-tiba.


Rina hanya menatap kesal pada Arya, sambil mencoba meredam batuknya.


"Kamu serius?" tanya Rina memastikan.


Hatinya kini merasa bimbang karena ucapan Arya. Di satu sisi dia merasa kalau ini terlalu cepat dan ragu akan pertemuannya dengan kedua orang tua Arya, mengingat kesan pertama kali bertemu tempo hari, tidak terlihat baik sama sekali. Rina takut.


Namun, di sisi lain hatinya. Rina juga merasa bahagia, karena Arya memang berbeda dengan Anjas, setidaknya laki-laki itu sudah berniat untuk memngenalkan dirinya pada kedua orang tuanya. Walau kini dirinya bukanlah orang yang sempurna, dia bahkan sudah memiliki Bintang sebagai buah hatinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2