Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.22 Tempat singgah


__ADS_3

"Tapi, aku mau soto," gumam Rina sambil mengalihkan pandangannya ke samping, menyembunyikan mata yang berkaca-kaca.


Anjas menoleh melihat Rina yang tampak meneteskan air mata tanpa suara, dia berdecak pelan kemudian melajukan arah mobilnya menuju warung makan soto yang berada tidak jauh lagi darinya.


Sudah beberapa kali mereka makan di sana, Anjas tahu kalau Rina memang sangat menyukainya. Laki-laki itu menghentikan mobil di depan warung makan kecil yang tampak ramai pengunjung itu, dia kemudian membuka sabuk pengamannya.


"Tunggu di sini," ujarnya sambil kemudian beranjak ke luar dari mobil.


Rina melihat punggung lebar Anjas yang kini sudah semakin berjarak darinya, laki-laki itu tampak masuk ke dalam kedai, membuat senyum di wajah Rina terbit.


"Lihatlah, sayang, ayah kamu mau membelikan soto untuk kita," gumam senang Rina sambil mengusap perutnya, seolah sedang berbicara dengan janin yang ada di dalam kandungannya.


Sekitar lima belas menit menunggu, Anjas akhirnya kembali dengan kantong plastik berwarna hitam di tangannya.


"Nih sotonya, puas?" Anjas menyodorkan kantong plastik itu pada Rina sambil duduk di kursi kemudi. Raut wajahnya terlihat sangat kesal karena harus mengantre demi mendapatkan keinginan istrinya.


"Terima kasih, Mas!" seru Rina dengan senyum lebar di wajahnya, matanya terlihat berbinar senang hanya karena satu porsi soto yang diberikan Anjas.


"Heem, sekarang kita langsung pulang, kamu harus istirahat agar cepat sembuh dan aku bisa pulang ke kota," ujar Anjas, kemudian menghidupkan kembali mobilnya dan bersiap pergi meninggalkan area warung.


Rina melihat Anjas, ada rasa sakit di dalam hatinya saat mendengar alasan Anjas berbuat baik padanya, hanya karena dia ingin cepat pulang ke kota.


"Kalau kamu ingin pulang ke kota, ya pulang saja. Aku nanti bisa pulang sendiri," gumam Rina kembali menutup kantong plastik di pangkuannya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Mana bisa aku meninggalkan kamu yang sedang sakit di sini? Apa kata kedua orangtuamu nanti?" Anjas mengerutkan keningnya, menatap kilas wajah Rina yang kembali muram.


"Mereka akan mengerti jika aku menjelaskan," debat Rina, tanpa melihat Anjas.


"Mau menjelaskan apa? Kamu mau bilang sama mereka kalau di kota aku menikah lagi dan sebenarnya aku tidak mencintai kamu, heh?!" sentak Anjas.


"Bila perlu, kenapa tidak," ucap santai Rina.


"Kalau begitu, kenapa tidak sejak awal saja kamu bilang dan pergi dari kehidupanku? Jadi aku tidak usah repot-repot kembali ke kampung ini." Emosi Anjas kembali terpancing oleh perkataan pelan Rina yang seolah sedang menyindirnya.

__ADS_1


Entah mengapa, hatinya rasanya tidak rela jika sampai Rina mengatakan semua itu pada kedua orangtuanya. Tiba-tiba saja, Anjas tidak rela jika Rina memutuskan untuk tinggal di kampung dan menyerah dengan hubungan pernikahan mereka.


Rina tidak lagi menjawab, sakit di hatinya semakin terasa hingga membuatnya tidak akan bisa menahan air mata jika sampai berdebat lebih panjang lagi dengan suaminya.


"Nangis lagi! Cengeng banget sih kamu, Rin," gerutu Anjas menatap jengah pada Rina yang kembali meneteskan air mata.


Setelah perdebatan itu, kini hening menjadi suasana yang mereka pilih untuk menemani sisa perjalanan pulang keduanya, hingga akhirnya Anjas menghentikan mobilnya di perlataran rumah Rina.


"Hapus air matamu, Rin. Jangan sampai kedua orangtuamu tau kalau kita habis bertengkar!" ujar Anjas sebelum ke luar dari mobil lebih dulu.


Terlihat Ibu yang menunggu Rina menghampiri mereka dan membuka pintu mobil untuk Rina, kemudian membantunya ke luar.


"Biar aku saja, Bu." Anjas hendak membantu Rina.


"Gak usah, kamu istirahat saja, Rina biar Ibu yang bantu masuk ke kamar. Kamu pasti cape kan habis nganter Rina ke puskesmas," tolak Ibu sopan, kemudian berjalan mendahului Anjas untuk masuk ke dalam bersama Rina.


Rina terlihat diam, dia tidak menolak ataupun menyetujui perkataan ibunya. Matanya pun terus menghindari tatapan Anjas, hingga dia terlihat terus menunduk.


Sepertinya mertua laki-lakinya sudah pergi, hingga kini yang tinggal hanya Ibunya Rina di rumah.


"Bu, ini tadi Mas Anjas beli soto untuk kita makan bersama. Ibu bisa tolong bantu siapkan?" tanya Rina sopan sambil memberikan kantong plastik hitam itu pada Ibu.


"Iya, nanti Ibu siapkan," jawab Ibu kemudian melihat isi di dalam kantong itu.


Wanita paruh baya itu kemudian pamit untuk menyiapkan soto itu di dapur.


Siang itu Rina sangat senang, karena untuk pertama kalinya Anjas mengabulkan permintaan mengidamnya dan membelikannya sendiri.


Walau hatinya terasa sakit oleh alasan Anjas melakukannya, tetapi, itu sedikit terobati oleh rasa senang yang timbul saat ngidamnya dituturuti oleh sang suami.


Anjas yang melihat Rina makan cukup banyak diam-diam tersenyum tipis, hatinya cukup tenang, setelah tadi pagi Rina sama sekali tidak bisa makan karena terus mual dan muntah.


.

__ADS_1


Dua hari kemudian, Rina dan Anjas pamit untuk pulang ke kota. Rina yang awalnya masih ingin tinggal di kampung, malah tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya.


"Sekarang kamu kan sudah ikut suami kamu ke kota, Nak. Kasihan dia kalau kamu gak ikut pulang, lagi pula kita sudah cukup lama bersama. Nanti kalau kamu rindu kami lagi, telepon saja, gantian biar Ibu sama Bapak yang mengunjungi kalian, hem. Pulanglah, tidak baik suami istri terlalu lama berjauhan."


Itulah petuah yang diberikan Ibu dan Bapak saat Rina merengek ingin tetap di kampung untuk sementara waktu.


Tidak salah memang, semua yang dikatakan oleh Ibu dan Bapak benar adanya, jika keadaan rumahtangganya dan Anjas dalam keadaan normal.


Namun, nyatanya ada dan tidak adanya Rina di sisi Anjas, sama sekali tidak ada bedanya. Karena, sudah ada Tari sebagai istri yang sangat dicintai suaminya.


Keberadaan Rina hanyalah sebagai sebuah penghalang yang sudah sejak awal diam-diam berusaha Anjas singkirkan.


Rina tidak membantah, dia benar-benar menutup rapat keadaan rumahtangganya dengan Anjas yang sudah di ambang kehancuran.


"Aku harus segera pulang," ujar Anjas saat dia menghentikan mobilnya di depan rumah Rina.


Rina mengangguk. "Iya, aku tau."


Wanita yang kini tengah hamil empat bulan itu ke luar dari mobil kemudian disusul oleh Anjas, laki-laki itu mengambil koper milik Rina kemudian menaruhnya di teras rumah.


"Aku pulang dulu, kabari aku atau Hilman kalau kamu butuh sesuatu," ujar Anjas setelah dia mengatarkan Rina sampai di depan pintu.


"Heem." Rina hanya bergumamam sambil kembali mengangguk sebagai jawaban.


Rina mencium tangan Anjas yang selalu dibalas dengan kecupan kilas di kening. Kemudian dia berlalu kembali ke dalam mobil yang sengaja di parkir di luar rumah, dan meninggalkan Rina untuk menemui Tari.


Rina menatap nanar kepergian suaminya, dia kemudian tersenyum miris saat menyadari kalau ciuman di kening selalu menjadi tanda perpisahan untuk keduanya.


"Pulang? Apa aku hanyalah persianggahan untuknya?" Rina bergumam saat mengingat ucapan Anjas ketika pamit padanya.


Rina menggeleng pelan sambil tersenyum miris, dia kemudian memilih masuk ke dalam rumah yang selalu membuatnya kesepian itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2