Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.26 Kabar buruk


__ADS_3

Rina menoleh, dia menatap wajah Anjas dengan mata memerah. Setelah beberapa hari ini menghilang, kini suaminya itu kembali mendatanginya dengan amarah yang tinggi.


"Kami hanya kebetulan bertemu," jawab Rina, dia meringis memegang pergelangan tangan yang tampak merah akibat cengkraman Anjas.


"Tidak sengaja? Heh, aku melihat dengan jelas kalau itu bukan pertemuan yang kebetulan. Ini bahkan bukan pertama kalinya kalian di kafe bersama," sinis Anjas. Dia sama sekali tidak percaya dengan perkataan Rina.


Rina kembali menatap wajah Anjas, dia baru mengerti ternyata ini adalah penyebab kemarahan Anjas seminggu lalu, suaminya itu mungkin melihat dirinya bertemu dengan Arya di kafe.


"Oh, jadi karena ini kamu marah sama aku?" Rina tersenyum tipis, berusaha terlihat tegar di depan suaminya itu.


"Kenapa marah? Mas, cemburu?" tanya Rina lagi.


"Apa? Siapa yang cemburu? Jangan asal ngomong kamu, Rin!" Anjas menggeleng sambil mengalihkan pandangannya, sepertinya dia tidak nyaman dengan pertanyaan Rina.


"Seharusnya kamu merasa senang, kalau aku dekat dengan laki-laki lain, bukan? Setidaknya mungkin nanti aku akan menyerah dan mau kamu tinggalkan," santai Rina, walau hatinya terasa teriris saat mengatakannya.


Entahlah, mungkin sekarang Rina merasa percuma menjelaskan, karena Anjas memang tidak pernah percaya padanya sejak awal.


"Oh, jadi karena sekarang kamu sudah menemukan target yang lain untuk kamu manfaatkan, kini kamu mau melepaskan aku dan beralih pada dia? Dasar wanita murahan!" tuding Anjas dengan tatapan tajam pada Rina, telunjuknya menunjuk tepat ke wajah wanita hamil itu.


"Heh! Jangan harap, kamu bisa pergi begitu saja dariku, Rina!" Anjas tersenyum sinis pada Rina.


Rina menatap wajah Anjas tidak percaya, kepalanya menggeleng pelan dengan mata yang memerah karena sejak tadi menahan cairan yang terus mendesak.


"Kamu egois, Mas," lirih Rina, walau di dalam hatinya memang masih bimbang untuk menyerah dengan hubungan pernikahan ini.


Namun, mendengar Anjas yang berkata seperti itu, membuatnya tidak habis pikir dan bingung dengan sikap Anjas.


"Kenapa kamu lakukan ini sama aku, Mas? Disaat aku mau bertahan, kamu terus mendorongku untuk pergi dengan sikapmu yang acuh, sedangkan disaat hatiku sudah mulai menyerah, kamu malah menahanku!" Rina memukul dada Anjas sekuat tenaga, hingga terdengar suara.


"Hei, Mas, kamu lagi ngapain di sana!"


Teriakan dari seorang wanita yang terlihat berjalan menghampiriAnjas dan Rina, membuat mereka terpaksa menghentikan perdebatan.


Ya, itu adalah Tari, dia berusaha keras untuk lepas dari Hilman yang terus menahannya, karena merasa curiga pada kepergian Anjas yang sangat lama.


"Kalau kamu mau aku bertahan, jangan menoleh dan ikut dengaku sekarang," Rina mengulurkan tangannya agar Anjas menyambutnya. Senyum miris pun terlihat di wanita hamil itu.


Itu hanya sebuah ujian untuk Anjas, apalah laki-laki itu akan mempertahankannya? Atau semuanya tetap sama seperti sebelumnya.


"Dasar wanita gila! Kamu terlalu percaya diri, Rina! Aku tidak akan pernah melepaskan Tari hanya demi wanita seperti kamu!" desis Anjas dengan seringai yang terlihat kejam di mata Rina.


Rina mematung mendengar jawaban dari suaminya, tangannya dia turunkan lalu mengepal erat di kedua sisi tubuhnya.

__ADS_1


"Dengar ini!" Anjas sedikit mencondongkan tubuhnya, sehingga jarak mereka semakin mendekat.


"Aku akan membuat kamu tidak pernah bisa lepas dariku, karena kamu adalah miliku!" ujar Anjas lagi dengan seringai misterius.


Tangan Anjas bergerak menyelipkan rambut Rina ke belakang cuping kepala, dia tersenyum melihat Rina menutup mata, dengan satu tetes air jatuh membasahi pipi.


"Pulanglah ke rumah, dan jadilah istri yang baik, sayang," bisik Anjas, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya dan berbalik, lalu pergi begitu saja menghampiri Tari.


Rina mengepalkan tangannya, tatapan tajamnya terlihat terus melihat punggung Anjas yang semakin menjauh.


Rina baru sadar kalau Anjas ternyata tidak sebaik yang dirinya kira, Anjas bahkan tidak segan memberi ancaman padanya di tempat umum.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku, Mas? Kenapa kamu selalu membuat aku bingung dengan sikap kamu?" gumam Rina, kemudian dia memilih pergi dari tempat itu, dengan perasaan yang kacau.


"Siapa, Mas?" Tari bertanya saat Anjas telah berdiri di hadapannya.


"Gak tau, cuma orang yang nanyain toilet, sayang," jawab Anjas asal.


Matanya sedikit melirik pada tempat tadi, dia melihat Rina sudah melangkah pergi begitu saja.


"Bukannya itu perempuan yang tadi di kafe?" tanya Tari setelah melihat Rina sekilas.


"Ah, bukan. Mungkin hanya penampilannya saja yang mirip," Anjas mengelak.


Tari sempat menoleh ke arah Rina lagi tepat di saat Rina juga menoleh padanya, hingga pandangan keduanya sempat bertemu sesaat, sebelum akhirnya Rina kembali berjalan dan menghilang di balik kerumunan pengunjung lainnya.


.


Esok paginya Rina sudah bertekad untuk pergi dari Anjas, melihat sikap Anjas yang sudah mulai kasar dan berani main tangan, membuat Rina merasa takut.


Rina berniat mengabari kedua orang tuanya kalau dia akan pulang ke kampung siang ini. Bahkan semua perlengkapan yang mau dibawa sudah siap di dalam kamar.


Tidak banyak, hanya baju yang dulu dia bawa dari kampung, dan beberapa oleh-oleh untuk Ibu dan Bapak. Rina tidak membawa apa pun, kecuali sebuah buku tabungan hasil dia menabung dari uang yang diberikan Anjas padanya selama ini.


Ya, sebenarnya setiap kali dia bertransaksi dan membayar sesuatu dengan uang itu, dia akan melakukan tarik tunai, dan menabungkannya di rekening lain. Itu memang Rina siapkan untuk biaya kelahiran anaknya nanti, berjaga jika Anjas membuangnya sebelum dia bisa melahirkan.


Rina berniat akan menjelaskan tentang masalah rumahtangganya pada kedua orangtuanha setelah sampai di kampung.


Kini wanita yang sedang hamil itu tengah duduk di meja makan dengan menu sarapan sederhana yang telah dia siapkan.


Namun, belum habis sarapan itu dia makan, tiba-tiba ponselnya berdering, terlihat nama salah satu temannya di kampung yang menelepon.


"Assalamualaikum, apa kabar, Hen?" tanya Rina seraya menyalakan pengeras suara di ponselnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, aku baik, Rin. Kamu apa kabar?" tanya seseorang yang Rina panggil Hen itu. Nada suara tampak terdengar bergetar, hingga membuat Rina mengernyitkan kening.


Heni, adalah teman sekolah Rina sejak SD, mereka tinggal di satu kampung walau rumahnya cukup jauh, kedua orangtua Heni juga bekerja mengurus salah satu lahan Bapak.


Sayangnya hubungan mereka renggang ketika Heni memutuskan untuk menikah muda dan ikut suaminya.


"Aku baik, Hen. Ada apa nih, tumben telepon, kangen ya?" ujar Rina menggoda, dia berbicara sambil terus melanjutkan sarapannya.


"Eum, Rina, kamu bisa pulang gak sekarang?" tanya Heni dengan suara ragu.


Rina mengernyit bingung, dengan ucapan aneh sahabatnya itu. "Ada apa, Hen? Kamu sedang ada di kampung sekarang?"


"Eum, ini soal Bapak dan Ibumu, Rina. Kalau bisa kamu segera pulang sekarang juga."


Deg!


Tiba-tiba saja ada rasa curiga di dalam hatinya tentang kedua orangtuanya. Perasaannya pun dibuat khawatir, mengingat selama ini Ibu dan Bapak baik-baik saja.


"Ada apa, sama Ibu dan Bapak, Hen? Bukannya kemarin mereka bilang harus mengantarkan anak Pak Kades menikah di luar desa, bersama dengan tetangga lainnya?" tanya Rina dengan jantung yang sudah berdetak cepat, prasangka buruk pun mulai meresahkan hatinya.


Kemarin sore mereka sempat saling berbicara di telepon, ibu bercerita kalau hari ini mereka akan pergi ke luar desa untuk menghadiri acara bersama dengan para tetangga lainnya. Makanya Rina memutuskan untuk pulang siang, agar saat sampai kedua orangtuanya sudah ada di rumah.


"I–itu, Rin. M–mobil yang ditumpangi Bapak dan Ibumu, mengalami kecelakaan," jawab Heni dengan suara ragu.


Sendok yang masih berada di ujung bibir tiba-tiba saja terjatuh begitu saja dengan air mata menetes saat mendengar kabar yang begitu mengejutkan itu.


"Tidak mungkin, Hen, kemarin sore aku masih sempat berbicara dengan mereka! Kamu jangan bercanda keterlaluan, Heni!" teriak Rina, dengan wajah yang sudah pucat pasi dan air mata berderai.


"Aku tidak bercanda, Rina, sekarang mereka berada di rumah sakit, cepatlah pulang!"


"Iya, aku pulang sekarang, tolong kirim aku alamat rumah sakitnya, aku akan langsung pergi ke sana!" Rina tampak bingung akibat terlalu panik, dia kemudian beranjak berdiri dan berjalan cepat ke kamar untuk mengambil koper yang udah dia siapkan sejak semalam dan tas miliknya.


Rina berjalan cepat menuju ke pintu depan seraya menyeret koper miliknya. Namun, saat dia membuka pintu, Rina dikejutkan dengan keberadaan Anjas di depan pintu.


"Mau ke mana kamu!" tanya Anjas dengan wajah yang terlihat menahan amarah.


"Kebetulan Mas ada di sini! Aku mau pulang!" jawab Rina panik, sambil hendak beranjak pergi melewati Anjas.


Namun, laki-laki itu langsung mencekal tangan Rina.


"Kamu tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa izin dariku!" tegas Anjas dengan tatapan tajamnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2