Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.19 Kecelakaan


__ADS_3

"Buat apa bikin acara mewah kayak gini kalau suaminya saja gak ada? Bikin malu keluarga saja!"


Hati Rina semakin teriris saat mendengar sayup obrolan kerabat dan tetangga yang ada di luar kamarnya.


Malam kian larut, Rina masih terdiam dengan mata yang terbuka dan harapan tidak pernah putus di dalam hatinya.


Sementara itu di kota saat matahari masih ada di atas kepala, Anjas sedang berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Hilman.


Kecepatan yang lumayan tinggi di tengah padanya jalanan kota, tampak cukup menarik perhatian para pengguna jalan lain.


"Cepat sedikit, Man!" ujar Anjas dengan raut wajah panik yang jelas terlihat.


"Sabar dong, Jas. Kamu gak lihat kalau jalanan sedang padat!" Hilman menatap Anjas kesal, sudah cukup bosan dia mendengar ucapan seperti itu dari sahabatnya itu.


"Kamu gak tau sih, gimana khawatirnya aku sekarang ... Tari kecelakaan, Man, aku gak tau kondisi dia gimana!" racau Anjas seolah tidak sabar dengan kepadatan jalan siang itu.


"Aku bahkan pernah membawa Rina yang sedang tidak sadarkan diri, Jas!" Hilman berbicara dengan menekan setiap kata, sambil melirik jengah pada Anjas.


Anjas terdiam, saat nama Rina disebut. Sungguh ada sedikit rasa menyesal ketika dia tahu kalau dirinya telah mengakibatkan Rina sampai tidak sadarkan diri hari itu.


Hilman terus melajukan mobilnya dengan suasana yang tiba-tiba saja hening. Akan tetapi, sepertinya laki-laki itu tidak menghiraukan perubahan sahabatnya.


Beberapa saat kemudian Hilman berhasil memarkirkan mobil yang dikendarainya di lobi rumah sakit tempat Tari dirawat, Anjas langsung ke luar dari mobil dan berlari ke dalam tanpa menghiraukan Hilman yang bahkan masih duduk di kursi kemudi.


Hilman menggeleng pelan, melihat kekhawatiran sahabatnya itu pada Tari, setelah memastikan memarkir mobil dengan benar, Hilman kemudian menyusul Anjas ke dalam.


Begitu sampai, dia bisa melihat Anjas yang sudah duduk di samping brankar Tari. Sedangkan Tari sendiri tampak duduk dengan beberapa perban di tangan dan keningnya.


"Gimana keadaan kamu, Tari?" tanya Hilman begitu sampai di hadapan pasangan suami istri itu.


"Aku gak apa-apa kok, cuman ada luka kecil aja," jawab Tari yang langsung membuat Hilman menghembuskan napasnya pelan.


"Syukurlah kalau begitu." Hilman menghampiri Tari kemudian duduk di samping Anjas.


Mereka bertiga akhirnya berbicara bagaimana kejadian yang dialami oleh Tari hingga bisa kecelakaan lalu lintas seperti ini.


Ternyata saat itu Tari menghindari pengendara yang menyalip secara tiba-tiba hingga mengakibatkan mobilnya oleng dan menabrak pembatas jalan. Untung saja saat itu kecepatan mobil Tari tidak terlalu tinggi, hingga dia masih bisa mengendalikannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Anjas dan Hilman tampak sedang duduk di kafe tidak jauh dari rumah sakit. Mereka berdua pamit dengan alasan makan siang, setelah kedatangan orang tua Tari dan Anjas.


"Kapan kamu mau berangkat ke kampung Rina, Jas? Ini sudah lewat jam dua siang. Bisa - bisa kamu sampai larut malam ke sana jika gak pergi sekarang," tanya Hilman, mengingat kalau besok adalah acara empat bulanan Rina.


"Gak tau, Man," ujar Anjas, mengacak rambutnya prustrasi.


"Mana bisa kamu bilang gak tau, Jas. Rina dan keluarganya akan menanggung malu di sana jika kamu tidak datang!" debat Hilman tidak habis pikir dengan sahabatnya.


"Kamu tidak lihat kondisi Tari sekarang? Dia sedang membutuhkan aku, Man! Mana bisa aku meninggalkannya begitu saja!" Anjas pun tampak enggan untuk pergi.


"Dia hanya luka ringan, Jas. Tari di sini banyak yang menjaga, dia tidak akan apa-apa walau kamu tidak ada di sisinya. Tapi, bagaimana dengan rasa malu yang akan ditanggung oleh Rina dan keluarganya? Semua itu hanya kamu yang bisa menyelamatkan mereka!" Hilman tetap kukuh dengan pendiriannya untuk memihak pada Rina.


Anjas terdiam dengan wajah menunduk, kini dia dihadapkan dengan rasa bimbang yang sangat sulit untuk dipecahkan. Entah mana yang harus dipilih, apakah Tari atau Rina.


.


Suara ayam berkokok menandakan kalau fajar segera datang, Rina mengerjapkan matanya yang masih terasa perih. Dia baru sadar kalau dirinya tertidur di atas sofa.


Matanya langsung mengedar ke seluruh area kamar, tidak ada yang berbeda, hingga tanda kedatangan Anjas pun sepertinya tidak ada.


Rina menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan sambil mulai bangkit duduk di sofa itu. Dadanya kembali terasa sesak melihat kenyataan yang ada.


Ketukkan pelan di pintu yang disusul dengan gagangnya mulai bergerak membuat Rina mengalihkan perhatiannya. Matanya melebar dengan air mata semakin berderai saat melihat seseorang yang kini terlihat berdiri di ambang pintu.


"Mas?" gumam Rina seolah tidak terparcaya bisa melihat suaminya ada di sana.


Anjas tampak berdiri gagah sambil tersenyum di ambang pintu, dia kemudian melangkah menghampiri Rina yang sudah berderai air mata.


"Kenapa menangis, hem? Aku cuma ke luar untuk menemani para laki-laki yang begadang," ujar Anjas dengan suara yang terdengar lembut, hingga perlahan mengurai rasa sesak di dalam hati Rina.


"Sejak kapan kamu datang, Mas?" tanya Rina lirih.


Anjas duduk di samping Rina, dia kemudian mengusap air mata yang masih turun di pipi.


"Sekitar dua jam yang lalu, maaf aku terlambat," jawab Anjas sambil tersenyum.


Rina menggeleng, dia sangat bersyukur dengan kehadiran Anjas saat ini.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas." ujar Rina dengan senyum tipis di bibirnya.


Anjas mengangguk. "Sudah dong, jangan menangis terus, hem. Aku kan sudah ada di sini."


"Aku hanya senang, Mas," jawab Rina, akhirnya dia menghapus sendiri air mata yang berderai di pipinya.


Pagi menjelang, acara pun mulai berlangsung dengan sangat meriah dan mewah. Bila mungkin di kalangan keluarga Anjas acara seperti ini hanya sederhana, berbeda jika di kampung.


Acara yang mendatangkan grup marawis dan ustad ternama itu bahkan lebih mewah dari sebuah hajatan pernikahan biasa.


Menjelang siang Rina dan Anjas pun tampak berdiri di pelaminan, setelah melakukan berbagai macam ritual acara empat bulanan khas kampung tersebut.


Sepertinya Rina menyelipkan pesta pernikahan mereka, di tengah alasan acara empat bulanan.


"Apa begini tradisi acara empat bulanan di kampung ini? Kenapa aku merasa sedang merayakan pesta sederhana?" tanya Anjas ketika mereka sedang berada di pelaminan dengan ustad yang memberikan ceramah di atas panggung.


"Tidak juga, biasanya hanya akan pengajian kecil kemudian selesai begitu saja," jawab Rina santai.


Anjas melihat Rina tajam, merasa dimanfaatkan untuk acara seperti ini, sedangkan Tari di kota tengah kesakitan karena kecelakaan.


"Bukannya kamu menyuruhku untuk tidak mempermalukamu, Mas? Jadi aku buat pesta seperti ini." Rina mengedarkan pandangannya melihat dekorasi yang indah, walau memang tidak sebanding dengan pesta pernikahan Anjas dan Tari tempo hari.


Anjas mengepalkan tangannya, melihat Rina dengan mata memerah, menahan amarah yang menggabu.


Walau tidak ada kata terucap, tetapi Rina seakan tahu kalau Anjas sedang marah padanya.


"Salahku di mana, Mas? Aku hanya berusaha sebaik mungkin untuk membuat mereka tidak lagi meremehkan kamu, Mas," ujar Rina dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Perdebatan mereka memang dilakukan dengan suara yang tidak terlalu tinggi, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak bisa mendengar.


"Aku tidak bisa lama, besok harus kembali ke kota!" ujar Anjas dingin, dia kecewa pada Rina yang mengambil kesempatan untuk merayakan pernikahan mereka.


Rina menoleh, mata yang memerah itu menatap nanar wajah sang suami. "Kamu gak punya perasaan, Mas?"


"Tari kecelakaan, aku tidak mungkin meninggalkan dia sendiri di kota!" debat Anjas, dia sungguh tidak terima mendengar perkataan Rina.


"Lalu bagaimana dengan keluargaku?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2