
Hari berlalu begitu saja, kini Rina tampak sedang berada di salah satu restoran bergaya klasik yang terletak di pinggiran kota. Karena kebanyakan pengunjung di sana adalah orang paruh baya sampai tua, maka Rina merasa aman untuk bertemu dengan orang itu di tempat ini.
Beberapa saat menunggu, dia melihat seorang laki-laki yang baru saja masuk, kini tampak berjalan menghampirinya.
"Hai, Rin. Maaf aku terlambat," ujar laki-laki itu yang tidak lain adalah Anjas.
Rina memperhatikan penampilan Anjas dengan kerutan halus di keningnya, dia bisa melihat dengan jelas perubahan yang kini terjadi pada laki-laki di depannya ini.
Pakaian kantor yang tampak berantakan, dengan rambut yang dibiarkan begitu saja, jelas membuat Anjas terlihat lebih kusam dan tampak tidak bersemangat, Rina bahkan bisa melihat bulu halus mulai tumbuh di sekitar wajahnya, menandakan jika memang Anjas tidak lagi mementingkan penampilannya.
"Gak apa, aku juga belum lama kok," jawab Rina santai.
"Silahkan duduk," ujar Rina lagi yang kemudian diangguki oleh Anjas, laki-laki itu tampak duduk di depan Rina.
"Ada apa kamu mengajakku bertemu di sini, Rin?" tanya Anjas setelah memesan minuman sebagai teman mereka mengobrol.
Rina tampak menggeser sebuah amplop coklat ke depan Anjas, membuat laki-laki itu mengernyit bingung, dia tampak melihat amplop itu dan Rina secara bergantian.
"Apa ini?" tanya Anjas, tampak belum mau menyentuh amplop itu.
"Surat perjanjian," jawab Rina singkat.
Anjas tampak terdiam sebentar seolah sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya Anjas melupakan sesuatu tentang surat perjanjian. Kepergian Tari, nyatanya bisa mengalihkan Anjas dari keinginannya untuk mendapatkan hak bertemu dengan Bintang.
"Ah, soal itu ... maaf aku lupa," jawab Anjas yang membuat Rina semakin bingung.
Rina mengangguk canggung, jika saja Anjas melupakannya dia mungkin tidak akan membahas masalah ini lagi dengan mantan suaminya itu. Sayang dia tidak tahu semua itu.
Anjas tampak mengambil surat itu, dia membukanya kemudian tampak membacanya dengan seksama. Tidak ada raut wajah bahagia ataupun sumringah, Rina merasa bingung untuk itu.
Mengingat saat Anjas memaksanya beberapa hari yang lalu hingga dirinya bingung sendiri, Rina cukup terkejut melihat perubahan pada Anjas sekarang.
"Boleh aku bawa dulu, aku harus memikirkannya," ujar Anjas setelah lama terdiam.
"Tentu, kamu bisa membawanya," angguk Rina.
"Terima kasih." Anjas tampak menyimpan amplop itu di sampingnya sambil tersenyum tipis pada Rina.
"Kalau boleh tau, ada apa sebenarnya, kenapa kamu jadi seperti ini dalam beberapa hari?" Rina yang sejak tadi bertanya-tanya dalam hati, sekarang sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya, hingga pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Wanita itu bahkan refleks langsung menutup mulutnya dengan mata yang melebar karena terkejut sendiri.
Anjas tampak melihat Rina dengan satu alis terangkat, dia kemudian tersenyum miris sambil membuang muka, walau kekehan kecil juga terdengar dari mulutnya.
Rina tampak bingung melihat sikap Anjas, dia sempat berpikir apakah perusahaan Anjas bangkrut, mengingat selama ini Anjas begitu membanggakan perusahaannya itu.
"Kamu masih perhatian sama aku, Rin?" tanya Anjas masih dengan senyumnya.
"Ah, bukan begitu. Aku hanya penasaran saja, karena kamu terlihat berbeda dari biasanya," jawab Rina cangggung, dia membuang muka sambil merutuki dirinya sendiri di salam hati.
Anjas mengangguk anggukkan kepala sambil tersenyum melihat Rina yang tampak salah tingkah. Dia kemudian menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kasar, sebelum kembali berbicara.
"Tari meninggalkan aku, Rin," jawab lirih Anjas sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa? Kenapa bisa?!" tanya Rina refleks.
Rina melebarkan matanya, mendengar jawaban yang Anjas ucapkan. Dia tidak menyangka jika Tari bisa melakukan itu, setelah semua perjuangan wanita itu selama ini. Tari bahkan rela mempermalukan dirinya sendiri demi mengungkap hubungannya dan Anjas, juga agar dia dianggap sebagai pelakor dan mendapatkan hujatan dari banyak orang.
Namun, kini Tari malah meninggalkan Anjas. Sungguh sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Dia mengetahui semuanya tentang kita, Rina. Setelah dia membuat ulah di resto kamu saat itu, kami bertengkar hebat dan memintaku untuk mengatakan semuanya," jawab Anjas dengan wajah lemas.
Laki-laki itu sudah buntu, dia tidak bisa menemukan keberadaan sang istri, sedangkan ini sudah lebih dari seminggu Tari menghilang Semua orang yang dia tanya pun selalu berkilah dan mengatakan jika tidak mengetahui keberadaan mereka, bahkan keluarga Tari sendiri. Anjas sudah putus asa.
"Dan, kamu menceritakan semuanya?" tanya Rina tidak percaya. Dia tidak menyangka kalau Anjas akan mengatakan kisah mereka pada Tari. Itu pasti akan menjadi pukulan yang sangat berat bagi hati Tari. Pantas saja wanita itu memilih pergi.
Rina menatap Anjas prihatin dia tahu betapa selama ini Anjas begitu mencintai Tari, laki-laki itu bahkan tidak pernah melihatnya selama mereka menikah.
"Iya. Aku tidak mempunyai pilihan lain, Rin," jawab Anjas lirih.
Rina menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, dia ikut sedih dengan apa yang menimpa Anjas saat ini. Semua tentang dirinya dan Anjas sudah berakhir dan tidak seharusnya diungkit lagi sekarang, hingga membuat situasi menjadi semakin kacau.
"Maaf," ujar Rina pelan, dia merasa bersalah untuk retaknya pernikahan Anjas dan Tari.
Anjas melihat Rina dengan wajah heran, mungkin dia tidak menyangka jika Rina akan meminta maaf padanya.
"Maaf? Untuk apa? Kamu gak salah, Rina. Ini semua memang akibat dari kesalahan aku dulu." Anjas tampak menerawang, mengingat kesalahannya pada Rina dan Tari yang kini telah terungkap.
"Semua itu sudah berlalu, masalah kita hanya tinggal kenangan. Sekarang kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Jika kamu tidak keberatan, pertemukan aku dan Tari, kalau nanti dia sudah kembali, aku bantu kamu untuk menjelaskannya," jawab Rina tulus.
Inilah yang dia hindari selama ini, jika sampai hubungan antara dirinya dan Anjas kembali diungkit. Tari akan mengetahui semuanya dan wanita itu juga merasakan sakit yang dulu dirinya rasakan.
Rina merasa ikut bertanggung jawab untuk semua itu. Walau bagaimana pun, masalah rumah tangga Anjas ada kaitannya dengan dirinya, dan itu membuat Rina merasa tidak nyaman.
Anjas menggeleng lemah.
"Tidak usah, aku tidak mau merepeotkanmu lagi, Rin. Aku juga mau meminta maaf, atas semua kekacauan yang telah Tari lakukan padamu."
Rina menghembuskan napas dalam, tidak menyangka jika Anjas akan menolak tawarannya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Masalah yang sudah terjadi aku tidak mempermasalahkannya, semuanya sudah lewat, jadi tidak usah dipikirkan," jawab Rina bijak, dia menghentikan perkataannya sebentar sebelum kembali berbicara.
"Jika kami butuh bantuan untuk menjelaskan semuanya pada Tari, silahkan hubungi aku, aku pasti membantu," sambungnya lagi.
Ponsel Rina berdering hingga menghentikan pembicaraan mereka berdua, dia melihat jika itu adalah Arya. Laki-laki itu mengetahui kalau dirinya mau bertemu dengan Anjas, walau dia tidak mengetahui di mana tempatnya.
"Maaf," ujar Rina kemudian mengangkat telepon dari kekasihnya itu.
Ternyata laki-laki itu sudah menunggunya di parkiran, sepertinya dia mengetahui lokasi ini dari Heni.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang," ujar Rina setelah sambungan telepon dengan Arya terputus.
Anjas mengangguk, sambil beranjak berdiri, keduanya tersenyum kemudian bersalaman sekilas sebelum Rina pergi.
"Terima kasih," jawab Anjas.
__ADS_1
Rina tersenyum. " Seharusnya aku yang berterima kasih," ujarnya.
"Makanlah, dan urus tubuhmu dengan baik. Tari akan merasa jijik jika melihat kamu yang sekarang," ujar Rina sebelum melangkah pergi meninggalkan Anjas tanpa mau menoleh lagi.
Anjas menatap kepergian Rina, dia cukup terkejut mendengar kata yang diucapkan oleh wanita itu. Walau terdengar sedikit kasar, tapi itu memang benar adanya.
Anjas melihat seluruh tubuhnya, penampilannya memang tampak sangat memprihatinkan dan mungkin terlihat menjijikan di mata orang-orang. Uh, tanpa sadar Anjas mengakui kebenaran dari perkataan Rina.
Dia tersenyum mengingat Rina yang sekarang, wanita itu tampak bayak berubah. Rina bukan lagi seorang gadis yang manja dan selalu bergantung pada kedua orang tuanya, dia terlihat lebih tangguh tanpa meninggalkan kebaikan yang selalu ada pada dirinya.
Anjas ikut senang untuk semua itu. Ditinggalkan oleh Tari, membuatnya banyak merenungkan setiap kesalahan yang pernah dia perbuat. Anjas sadar jika selama ini dia memang terlalu egois, hingga tidak pernah melihat perasaan orang-orang di dekatnya.
"Arya beruntung mendapatkan kamu, Rin," lirih Anjas saat dia melihat Rina menemui Arya di parkiran, dari jendela kaca di sampingnya.
Ah, melihat Arya tersenyum membuat Anjas merasakan sakit di dalam hatinya. Dia masih belum juga bisa memaafkan mantan sahabatnya itu, atas kesalahan yang dilakukan beberapa tahun silam.
"Tapi sayang, Rina tidak beruntung karena mendapatkan kamu, Arya. Seorang pembunuh!" desis Anjas lagi sambil mengepakan kedua tangannya erat. Mungkin suatu saat nanti Anjas akan mengungkapkan keburukan Arya, agar Rina bisa mempertimbangkan lagi untuk meneruskan hubungan mereka.
Rasanya belum rela, jika dirinya harus meredakan wanita sebaik Rina untuk jatuh pada pelukan Arya, apa lagi ada Bintang juga yang akan ikut mereka.
.
Sementara itu Arya menyambut kedatangan Rina, dia yang sejak tadi menunggu Rina di dalam mobil, tampak ke luar begitu melihat Rina menghampirinya.
"Sudah urusannya?" tanya Arya yang langsung diangguki oleh Rina.
"Bukannya katanya kamu ada jadwal praktek, kok bisa nyusul ke sini?" tanya Rina dengan senyum manis.
"Cuman sebentar, pasiennya sedikit," jawab Arya sambil terkekeh ringan.
"Ish, bisa aja. Mana ada dokter favorit sepi pasien," decak Rina sambil memukul pelan lengan Arya.
Arya tertawa, dia menahan tangan Rina yang hendak memukulnya lagi.
"Mana bisa aku tenang kalau kekasihku menemui mantan suaminya, hem? Mana dia gak bawa mobil lagi ... nanti kalau laki-laki itu curi kesempatan untuk nganterin kamu gimana, hem?" ujar Arya sambil menoel ujung hidup Rina, persis seperti dia ketika sedang menggoda Bintang.
"Aku gak akan mau lah, aku kan bisa naik taksi," jawab Rina santai.
"Oh iya, aku lupa kalau aku punya pacar yang sangat mandiri," jawab Arya sambil membuka pintu mobil untuk Rina.
"Nah itu tau!" jawab Rina sambil duduk di kursi penumpang.
Arya tersenyum sambil menggeleng kepala samar, dia kemudian menutup pintu dan berjalan memutar menuju kursi kemudi, dia sempat melirik sekilas pada resto hingga tanpa sengaja matanya beradu pandang dengan Anjas. Untuk sesaat keduanya tampak mempertahankan itu, hingga Anjas memutuskannya terlebih dahulu.
Arya menghembuskan napas kasar sebelum masuk ke dalam mobil, raut wajah yangs ejak tadi ceria tampak berubah menjadi sendu. Namun, itu tidak berlangsung lama, laki-laki itu langsung merubah raut wajahnya kembali saat dia hendak masuk ke dalam mobil.
Semoga suatu saat nanti hubungan kita bisa seperti dulu lagi, Anjas. Kamu tetap sahabat aku, dulu maupun sekarang.
...****************...
__ADS_1