Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.67 Disangka Pelayan.


__ADS_3

Siang hari yang sangat sibuk, itulah yang terjadi di resto milik Rina, hampir semua meja di resto itu sudah terisi, ada juga yang memesan untuk acara bersama teman dan keluarga.


Semua karyawan yang ada di sana pun tampak sibuk melayani para tamu yang hadir, bahkan Heni dan Rina pun ikut membantu melayani pelanggan yang siang ini entah mengapa tampak sangat ramai.


"Kayaknya kamu baru isi ulang jimat penglaris ya, Rin?" tanya Heni saat mereka tengah menunggu makanan pesanan yang hendak diantarkan pada meja tamu.


Heni tampak terkekeh saat mengatakan godaan pada Rina, demi menghibur mereka dari penatnya pekerjaan di siang hari itu.


"Iya nih, kemarin aku baru pulang dari Ujung Kulon," jawab Rina asal sambil terkekeh ringan. Kepalanya pun mengangguk membalas candaan dari sahabatnya.


Kedua sahabat itu tampak bercanda dengan kata yang sebenarnya cukup sensitif, jika sampai terdengar oleh pelanggan. Untung saja karyawan di sana sudah terbiasa dengan candaan para bosnya itu, ditambah suara Heni dan Rina juga tidak terlalu kencang.


"Ini pesanan untuk meja nomor lima belas," ujar pelayan yang bekerja di dapur, sambil menyodorkan nampan di depan Rina dan Heni.


"Yuk," ujar Rina sambil mengambil salah satu nampan berisi makanan sedangkan Heni yang membawa minuman.


Keduanya pun tampak berjalan menuju meja yang dituju, dia sana tampak beberapa wanita paruh baya sedang mengobrol bersama.


"Selamat siang," ujar Rina sambil menata makanan yang dia bawa kemudian disusul oleh Heni setelahnya.


Wajah Rina tampak berubah saat melihat salah satu wanita paruh baya yang duduk di sana. Namun, Rina berusaha tetap bersikap profesional dan melakukan pekerjaannya dengan baik.


"Selamat menikmati hidangan dari restoran kami," ujar Rina dan Heni bersamaan, kemudian menegakkan tubuhnya dan berbalik untuk kembali ke belakang.


"Tunggu!" Rina menghentikan langkahnya saat suara salah satu tamu menyapa pendengarannya. Jantungnya berdebar begitu cepat sampai rasanya dia mau pingsan saja saat ini. Dia takut membuat kesalahan hingga nanti membuat wanita yang dirinya kenal itu merasa malu karenanya.


"Iya, ada yang bisa kami bantu lagi, Bu," tanya Rina masih bersikap sebagai pelayan resto dan tamu.


Sementara itu wanita yang Rina kenal hanya terdiam sambil berpura-pura tidak melihat Rina. Dia acuh tak acuh pada yang kini sedang terjadi.


"Jadi kamu hanya seorang pegawai resto?" tanya wanita itu sambil mengernyitkan keningnya.


"Ah, itu, saya --" Rina tampak ragu untuk mengungkapkan pekerjaannya.


Heni yang melihat itu tampak ikut bingung, dia memilih pamit dan kembali membantu yang lainnya, mengingat itu bukan wilayahnya untuk ikut campur.


"Mama!" Suara anak kecil yang sangat Rina kenal di tengah bisingnya suasana resto siang itu mengalihkan perhatian Rina maupun para wanita paruh baya di depannya.


"Memanh siapa, dia, Mba?" tanya salah satu di antara mereka pada wanita yang sejak tadi mengajak bicara Rina.


"Ah, kalian tidak tau? Dia kan wanita yang disebut sebagai pelakor itu. Aku juga melihat dia bersama dengan Arya lho dia youtube," ujar wanita paruh baya itu dengan gaya siap bergosipnya.


Rina mengepalkan tangannya, dia ingin sekali melawan dan membantah perkataan dari wanita itu, tetapi keberadaan Bintang yang sedang berjalan ke arahnya membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.


Rina menatap pada wanita yang dia kenal, dia berharap bisa mendapatkan bantuan darinya, walau itu mungkin hanya sekedar angan untuknya saat ini.


"Assalamualaikum, Mah," sapa Bintang sambil mengulurkan tangan ingin mencium punggung tangan Rina, saat dia sudah sampai.


Rina tersenyum dia sengaja menghalangi pendanganan Bintang dari tamu di sana, agar Bintang tidak menyapanya. Dia kemudian mengulurkan tangannya yang langsung dicium oleh Bintang, lalu berjongkok dan mencium wajah sang anak di depan para tamu.


"Bintang langsung ke atas aja, ya, nanti Mama nyusul," ujar Rina pada Bintang.


"Iya, Mah. Aku tunggu Papa dulu di sana," jawab Bintang sambil menunjuk ke arah dekat kasir.

__ADS_1


Rina mengikuti arah telunjuk Bintang, dia kemudian mengangguk sambil tersenyum penuh kasih pada sang anak.


"Kamu juga membawa anak ke tempat kerja?" tanya wanita paruh baya itu dengan senyum meremehkan.


"Bintang ayo ke atas, jangan ganggu Mamah kerja." Belum sampai Bintang melangkah jauh dari Rina, Arya sudah memanggilnya. Laki-laki itu tampak menatap Rina dengan senyum yang pastinya begitu mempesona.


"Sayang jangan lupa bawa makanan untuk kami berdua" Arya hanya berbicara sekilas pada Rina tanpa melihat para tamu di sana.


"Ya ampun, ternyata ini menantu Mba? Rajin sekali ya, sampai mau bekerja sebagai pelayan resto seperti ini," ujar salah satu wanita di sana sambil menatap Rina remeh.


"Tuh kan, aku bilang apa, aku pernah melihat dia bersama dengan Arya di youtube," ujar wanita paruh baya itu lagi yang diangguki oleh teman-teman yang lainnya.


"Eh, bukan. Dia hanya teman dekat Arya," kilah ummi langsung sambil melihat Arya yang kini sedang berjalan menaiki anak tangga bersama Bintang. Tampaknya Arya tidak melihat keberadaannya di tempat itu.


"Kalau tidak ada yang diperlukan lagi, saya permisi dulu," ujar Rina memutus pembicaraan para wanita paruh baya itu, kemudian berjalan meninggalkan kumpulan ibu-ibu yang ternyata ada ummi juga di sana.


Rina lebih memilih menghindar dari sana, dia takut akan membuat malu ibu dari Arya itu jika sampai terus berada di sana. Rina juga tidak terbiasa untuk menjelaskan posisinya di resto ini, dia memang lebih suka dianggap sebagai karyawan biasa.


Rina kemudian menghampiri meja kasir dia menitipkan pesan di sana, untuk tidak memungut bayaran atas apa yang sudah mereka pesan, dengan alasan mereka adalah kerabatnya Rina.


"Siapa mereka, Rin? Kok gayanya sombong banget sih sama kamu?" tanya Heni yang menghampiri Rina.


"Ibunya Arya," jawab Rina lemah.


"Hah?! Yang mana? Jangan bilang yang tadi menghina kamu!" Rina langsung membekap mulut Heni yang tanpa sengaja berteriak, sambil menggelengkan kepalanya.


"Ssh, gak usah berisik begitu, Hen. Ibunya Arya bukan yang itu kok, dia yang pake kerudung paling panjangdia antara yang lainnya," jawab Rina sambil mengedarkan pandangannya melihat para tamu yang kini tampak memperhatikan dirinya, begitu juga dengan Heni.


"Iya, maaf. Aku refleks tadi," ujar Heni sambil mencebikkan bibirnya yang baru saja dilepaskan oleh Rina.


"Siap, Bu Bos," jawab Heni sambil menerima apron dari tangan Rina.


Rina pun pergi ke atas untuk menyusul Arya dan Bintang yang sudah menunggunya di ruang kerjanya.


Sementara itu ummi dan para ibu-ibu yang lain tampak sedang menikmati makanan yang tadi mereka pasan. Semuanya terlihat memuji makanan di tempat itu hingga ada yang berniat memesan untuk dibawa pulang.


Sedangkan ummi malah tidak terlalu menikmati makanannya, dia tampak terus memperhatikan Rina yang tengah berbincang, kemudian berjalan menuju ke atas.


"Aku mau ke toilet dulu ya," pamit ummi pada teman-temannya, kemudian diam-diam mengikuti Rina yang mulai melangkah menaiki tangga.


Ummi sempat kebingungan saat sudah sampai di lantai dua resto karena dia tidak mendapati Rina di sana. Namun, tiba-tiba dia dikejutkan oleh kedatangan Rina dari arah belakangnya.


"Ummi, maaf tadi aku belum menyapa," ujar Rina sambil mengulurkan tangannya di depan wanita paruh baya itu.


Senyum Rina pun tampak tulis walau tadi dia sudah dipeemalukan oleh teman-teman ummi yang lain.


Dengan ragu ummi menyambut uluran tangan Rina, walau dia belum berkata sepatah kata pun. Wajah ummi juga tampak sangat canggung.


"Ummi, mau cari Arya ya? Ayo aku antar," ujar Rina lagi sambil mempersilahkan ummi berjalan lebih dulu.


Umi mengangguk kemudian mulai berjalan sesuai dengan arahan Rina, hingga beberapa saat dia sampai di depan sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka.


"Assalamualaikum," sapa Rina sambil berjalan masuk beriringan dengan ummi.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Ummi?


"Nenek?!"


Arya dan Bintang menjawab berbarengan dengan wajah terkejut saat melihat keberadaan ummi bersama dengan Rina, keduanya bahkan memiliki ekspresi wajah dan gerakan yang dibuat sama, hingga membuat Rina tersenyum.


"Bukannya ummi bilang datang sore, kok sekarang udah ada di sini? Terus tau dari mana Arya ada di sini?" tanya Arya sambil menghampiri ummi yang menatapnya dengan wajah kesal.


"Dasar anak nakal! Kamu bisa melihat dia dan kamu mengacuhkan ummi di bawah tadi," kesal ummi sambil memukul pundak Arya yang tengah mencium punggung tangannya.


"Hah? Jadi tadi ummi ada di bawah?" Arya terlihat terkejut.


"Heem, ummi datang pagi tadi, tapi kamu sudah berangkat kerja, jadi ummi mengajak teman untuk makan siang bersama, karena Ray juga sibuk di kampus. Enggak disangka ummi malah melihat anak ummi di sini," omel ummi mengungkapkan kekesalannya pada sang anak.


"Maaf, Ummi, aku gak tau umi udah datang, lagi pula Ray juga gak ngabarin aku kalau kalian gak jadi datang sore," jawab Arya.


"Permisi." Heni dan beberapa pelayan yang membawakan makan siang tampak sudah menunggu di depan pintu.


"Taruh di sini saja, Hen," ujar Rina, menunjuk meja di ruangannya.


"Tolong bawakan satu porsi lagi untuk ibunya Arya ya, Hen," sambung Rina dengan suara sedikit pelan setelah semua hidangan tersaji di atas meja.


"Oke," ujar Heni sambil menyatukan ujung ibu jari dan telunjuknya.


"Semoga berhasil memikat hati calon mertua, semangat!" bisik Heni lagi sebelum pergi ke luar.


Rina hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Silahkan duduk, Ummi, maaf tempatnya kecil," ujar Rina memberi instruksi pada Arya dan ummi.


"Nenek, ayo makan bersama. Makanan di sini enak lho." Bintang ikut menimpali sambil duduk di kursinya sendiri.


Ummi tampak tersenyum pada Bintang kemudian mengedarkan pandangannya, melihat suasana ruangan itu.


"Ini kantor siapa, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Ummi bingung.


Arya tersenyum dia kemudian menatap Rina sekilas lalu kembali melihat wajah sang ibu.


"Ini kantor Rina, Ummi," jawab Arya tersenyum bangga pada sang kekasih.


"Jadi Rina bukan pelayan?" tanya ummi pelan.


"Pelayan?" Arya mengernyit bingung.


"Resto ini milik Rina, Ummi. Dia memang sering membantu para pekerja kalau sedang ramai," jawab Arya sambil terkekeh geli.


Sepertinya ummi salah paham dengan Rina, dia mengira kalau Rina hanya seorang pelayan. Padahal Rina adalah pemilik resto itu.


Ummi tampak melebarkan matanya, terkejut dengan jawaban sang anak. Bintang memang pernah berkata kalau Rina juga memiliki restoran, tetapi ummi tidak menganggap itu serius.


Pandangannya kini terkunci pada bingkai foto yang terdapat di atas meja kerja Rina, ummi bisa melihat dengan jelas jika itu adalah foto Rina dan Bintang.


...****************...

__ADS_1


Mampir yuk Kak, ceritanya menarik lho🄰



__ADS_2