Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.91 Sah


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Erina Dewilas binti--" Arya mengucapkan qobul dengan suara lantang dan jelas.


"Bagaimana para saksi, apakah sah?" tanya penghulu pada para saksi dan semua yang hadir.


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"


Suara para kerabat yang datang terdengar menggema di masjid tempat acara ijab qobil pernikahan Arya dan Rina dilangsungkan.


Lantunan doa pun terdengar mengalun indah di telinga, dengan diiringi kata amin dari semua orang yang ada di sana, berdoa untuk kebaikan rumah tangga yang baru saja akan dilalui oleh Arya dan Rina.


Arya tampak menengadahkan tangannya dengan kepala sedikit menunduk, berdoa dengan sungguh-sungguh, untuk kelancaran dan kebahagiaan rumah tangganya bersama dengan Rina. Tanpa terasa bahkan satu tetes air mata tampak jatuh tepat pada pangkuannya.


Laki-laki itu kini tengah merasakan bahagia setelah perjalanan panjang yang dia lalui untuk mendapatkan hati seorang Rina Dewilas.


Bukan perkara mudah untuknya hingga bisa sampai ke titik ini. Itu adalah perjuangan yang tidak akan pernah dirinya lupakan seumur hidupnya.


Sementara itu, Rina yang berada di ruangan yang lainnya kini juga tampak meneteskan air mata, setelah gema suara ijab qobul dan kata sah terdengar di telinga.


Tidak disangka jika dirinya kini memberanikan diri untuk kembali menjalani sebuah pernikahan, setelah sebelumnya dia merasa trauma dengan kata itu.


"Selamat ya, Rin, akhirnya kalian berdua sah menjadi sepasang suami istri." Heni yang mendampingi Rina di ruangan itu tampak memeluk sahabatnya dengan rasa bahagia.


Walau dirinya sendiri belum bisa ke luar dari masa lalunya, tetapi melihat sang sahabat sudah bisa ke luar dari rasa traumanya dan menemukan laki-laki yang baik untuk dijadikan seorang panutan dan sandaran di dalam hidup. Membuat wanita itu ikut merasa bahagia.


"Terima kasih, Heni," jawab Rina dengan tetes air mata yang kembali jatuh begitu saja, beberapa saat keduanya tampak saling memeluk, mengungkapkan rasa bahagia yang membuncah di dalam dada.


Setelah menerima ucapan selamat dari orang-orang yang ada di ruang riasnya, Heni pun mengajak Rina untuk segera ke luar dan menemui Arya yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Arya tampak mengedip perlahan saat melihat Rina yang terlihat sangat cantik dan anggun tengah berjalan menghampirinya. Baju kebaya tradisional sunda berwarna putih, dengan belahan dari pinggul bagian depan hingga ke bawah, dipadukan kain jarik yang menjutai cantik hingga ke mata kaki, membuat lekuk tubuh wanita yang sudah memiliki satu anak itu terlihat.


Langkah perlahan Rina tampak membuat ekor kebaya di belakangnya terlihat mengembang hingga membentuk setengah lingkaran. Untuk sesaat Arya sempat berada di dalam keterkejutannya hingga sang adik menepuk tangannya menyuruh untuk segera berdiri dan menjemput Rina.


"Sampe segitunya liatin istri," gerutu Ray yang hanya dibalas senyuman oleh Arya.


Laki-laki itu beranjak bangun kemudian melangkah menghampiri Rina yang terlihat masih berdiri tidak jauh darinya.


"Assalamualaikum, istriku," ujar Arya setelah dia berdiri di depan Rina, sedangkan Heni sudah pergi sejak tadi.

__ADS_1


Rina tampak menunuduk sambil mengulum senyumya, andai saja tidak ada riasan yang menutup seluruh kulit wajahnya, mungkin saat ini Arya sudah bisa melihat pipinya memerah karena kata sederhana yang Arya ucapkan.


Rina sekarang merasa bersyukur karena riasan itu, hingga dia bisa menutupi rasa malunya.


"Kok gak dijawab," goda Arya lagi.


Rina sedikit mengangkat kepalanya, melihat wajah Arya yang tengah mengulum senyum. Laki-laki itu bahkan sempat mengerlingkan matanya pada sang istri yang baru dinikahinya. Membuat Rina kembali harus mengatur debar jantungnya yang terasa berdetak cepat.


"Waalaikumsalam," jawab Rina pelan, sambil menahan rasa geli di dalam hatinya.


Rasanya begitu aneh saat dia melihat Arya di depannya yang kini telah berganti status sebagai suaminya. Padahal selama ini mereka adalah seorang teman. Walau begitu rasa bahagia dan haru masih tidak bisa terkalahkan.


Perlahan Rina mengambil tangan Arya kemudian menciumnya, ada getaran yang berbeda saat Rina melakukan itu. Untuk pertama kalinya Arya tampak mendaratkan kecupan di kening Rina sebagai balasan.


Setelahnya, ucapan selamat dan doa pun mengalir dari para kerabat yang hadir. Mereka menyempatkan berfoto sebentar di area masjid itu, sebagai kenangan hari pernikahan keduanya.


Beberapa saat berlalu, Arya dan Rina pun harus kembali ke restoran milik Rina yang tidak jauh dari lokasi sebagai tempat acara syukuran. Anak yatim dari panti asuhan pun sudah banyak yang hadir, untuk mendoakan pernikahan antara Rina dan Anjas.


"Berarti kita sudah bisa tinggal bareng sama Papa ya, Mah?" tanya Bintang polos, saat mereka bertiga sedang berada di dalam mobil.


"Iya dong, sayang. Tapi, dua hari ini kamu tinggal sama kakek dan nenek dulu ya, Papah sama mama harus pergi sebentar," jawab Arya yang membuat Rina mengernyitkan keningnya.


"Bintang enggak apa-apa, tinggal sama kakek dan nenek dulu di rumah Papah?" tanya Rina, malah memilih bertanya dulu pada Bintang.


"Gak apa-apa, Mah. Tadi kakek bilang mau bawa Bintang beli mainan kalau Bintang mau nginep sama kakek dan nenek," jawab Bintang yang sepertinya sudah terlebih dulu diberitahu oleh kedua orang tua Arya sebelumnya.


"Tuh kan, Bintang saja sudah setuju." Arya merasa menang.


"Hem, ternyata ini semua sudah direncanakan lebih awal ya?" tanya Rina sambil memicingkan matanya.


Arya terkekeh, karena ucapan Rina benar adanya. Sejak kemarin dia sudah berencana untuk membawa Rina ke suatu tempat, tanpa ada Bintang bersama mereka.


Sebagai pengantin baru, tentu saja Arya juga ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang istri. Lagi pula, dia juga merasa aman jika menitipkan Bintang pada kedua orang tuanya.


"Gimana, mau kan?" tanya Arya lagi.


"Mau gimana lagi," jawab Rina pasrah.


"Ish, kok kayak gak ikhlas gitu sih?" Arya menatap Rina sekilas dengan bibir yang sedikit mengerucut.


Rina terkekeh melihat wajah Arya yang tengah merajuk.

__ADS_1


"Iya, Papah, aku mau," jawab Rina masih dengan kekehan kecil mengiringi perkataannya.


"Itu baru istriku! Makasih, sayang!" Arya mencium tangan Rina sambil tersenyum senang yang hanya mendapat gelengan kepala samar Rina.


Sampai di restoran, mereka langsung disambut oleh para pekerja resto dan toko kue Rina yang memang tidak ikut hadir di masjid. Ucapan selamat pun kembali terdengar dari semua orang yang ikut hadir di sana.


Dengan dipimpin oleh ustad salah satu kenalan abi, acara pun berjalan dengan lancar. Tidak ada undangan yang hadir, kecuali itu memang kerabat dan keluarga besar. Mengingat beberapa bulan lagi, mereka juga akan melakukan resepsi.


Pengajian yang ditutup dengan doa pun berjalan dengan lancar, setelah selesai mereka semua dipersiapkan untuk makan hidangan yang sudah tersaji, disusul dengan pembagian sofenir untuk semua yang hadir.


Menjelang sore hari, acara pun telah selesai dilaksanakan, kini Arya bersiap untuk membawa Rina menuju ke tempat yang sudah direncanakan. Mereka pun berpamitan pada keluarga sekaligus menitipkan Bintang pada mereka.


"Maaf ya, Ummi, aku jadi ngerepotin," ujar Rina tampak masih merasa berat untuk meninggalkan Bintang, setelah berpamitan pada mertuanya itu.


Selama ini Rina tidak pernah sekalipun jauh dari Bintang, begitu juga sebaliknya. Itu yang membuat Rina merasa semakin berat untuk meninggalkan Bintang sendiri.


"Gak usah minta maaf, ummi senang kok bisa jagain Bintang. Kamu sama Arya nikmati saja liburannya dan jangan lupa segera kasih kabar baik untuk kita semua," jawab ummi panjang lebar, yang malah membuat pipi Rina bersemu.


"Iya, segera kasih aku keponakan yang lebih lucu dari Bintang, ya Kak!" Ray dengan jahilnya malah ikut nimbrung dengan obrolan dua wanita itu.


"Hati-hati di jalan, jangan lupa kabarin kita kalau kalian sudah sampai ya," ujar ummi di saat Rina dan Arya sudah bersiap masuk ke dalam mobil.


"Iya, ummi, abi," jawab Arya, kemudian membuka pintu mobil untuk Rina masuk.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Arya ketika dia sudah duduk di kursi kemudi.


Rina tampak menatap Bintang yang berada di gendongan Ray, hatinya masih teras berat untuk pergi.


"Kita gak jauh kok, sayang. Kalau memang Bintang ingin kita pulang, kita bisa langsung pulang," ujar Arya sambil mengusap pundak Rina perlahan.


Rina melihat Arya kemudian mengangguk perlahan, akhirnya dia memilih untuk mengikuti keinginan sang suami.


.


Sementara itu di tempat lain ayah Anjas tampak sedang menerima telepon dari salah satu anak buahnya.


"Kita lakukan rencana sekarang," ujarnya setelah lama mendengar laporan dari sang anak buah.


Telepon pun terputus begitu, saja dengan senyum miring yang terlihat begitu menyeramkan di wajah ayah Anjas.


"Sebentar lagi kamu akan menyesal karena tidak mau melakukan perintahku, wanita murahan!" gumam ayah Anjas.

__ADS_1


__ADS_2