
"Ternyata dia anaknya pelakor ini, pantas saja masih kecil kelakuannya sudah kayak preman," ujar wanita muda dengan rambut di cat berwarna keunguan.
Rina yang mendengar itu langsung menoleh pada wanita itu, begitupun Arya dan semua orang dewasa yang ada di sana.
"Jaga bicara, Anda, Nyonya!" tajam Arya yang merasa tidak terima dengan perkataan wanita itu.
"Kenapa? Memang begitu kenyataannya," tanya wanita itu sinis. Dia melirik Rina dengan tidak suka.
"Ah, apa jangan-jangan anak itu adalah anak haram, makanya kelakuannya sangat kasar," sambung wanita itu lagi dengan gayanya yang santai, seolah dia sudah terbiasa berkata kasar pada orang lain.
"Tolong jaga mulut Anda, Nyonya. Rasanya tidak pantas Anda berbicara hal itu di depan anak-anak seperti ini." Rina berdiri kemudian duduk di samping Bintang, berhadapan dengan wanita itu yang duduk di kursi berbeda.
Rina masih terlihat tenang dengan wajah yang tanpa riak sama sekali, tetapi, sebenarnya wanita itu tengah menahan emosinya, karena tidak mau mempermalukan Bintang di sekolahnya, apa lagi masalah ini belum ada kejelasan, siapa yang bersalah.
Arya tahu semua itu, enam tahun mereka berulang kali menghadapi masalah bersama, membuat Arya sudah cukup tahu bagaimana Rina selalu bersikap.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Bintang, Pak?" Arya mengalihkan pembicaraan dan lebih memilih bertanya pada kepala sekolah yang sejak tadi hanya memperhatikan.
"Begini, Pak--"
"Dia itu sudah membuat anak saya dan teman-temannya terluka, parahnya lagi dia tidak mau meminta maaf dan mengakui kesalahannya!" salah satu laki-laki paruh baya yang merupakan wali siswa di sana menjawab dengan memotong perkataan kepala sekolah.
"Boleh saya meminta penjelasannya, Pak Kepala Sekolah?" Arya seolah tidak pernah mendengar jawaban dari wali siswa itu, dan masih fokus pada kepala sekolah. Hingga laki-laki paruh baya itu berdecak marah.
"Kami mendapati Bintang mendorong teman-temannya hingga mereka terluka, Pak," jawab kepala sekolah itu sambil sedikit menundukan kepala, seolah segan untuk bertemu pandang dengan Arya.
Sementara itu, Rina memeluk Bintang yang tampak ketakutan. Kali ini Rina hanya ingin berfokus pada anaknya, sedangkan Arya mengurus masalah yang terjadi, mengingat sebagai seorang lelaki, Arya akan lebih dihormati dan didengar oleh lawan bicaranya.
"Lalu apa kalian sudah mengetahui apa sebab perkelahian ini?" tanya Arya lagi dengan wajah yang serius dan nada bicara dingin.
"Bintang belum mau membuka suara, Pak," jawab kepala sekolah.
"Halah, tidak usah betele-tele, ini sudah jelas salah Bintang, dan kami hanya ingin dia mengakui kesalahannya lalu meminta maaf pada anak kami!" laki-laki paruh baya itu mulai memberi provokasi pada orang tua lainnya, hingga kini mereka saling berbisik.
Arya tampak menghembuskan napasnya perlahan, mencoba mengatur emosi dan tidak terprovokasi dengan para orang tua di sana. Tatapannya kini beralih pada Bintang yang masih terlihat duduk menunduk di samping Rina.
Situasi seperti ini sama sekali tidak pantas untuk dilihat dan didengar oleh anak-anak seumuran Bintang. Bisa saja ini hanya pertengkaran biasa antar anak kecil, yang tidak perlu campur tangan orang dewasa di dalamnya.
Namun, itu semua sudah terlanjur. Kini orang dewasa sudah ikut campur dalam masalah anak kecil ini, dan tampaknya mereka memang sudah menabuh genderang perang padanya sejak awal.
__ADS_1
Arya kini beralih duduk di samping Bintang, hingga anak itu kini berada di tengah-tengah antara Arya dan Rina.
"Hey, jagoan," ujar Arya sambil memegang kedua pundak Bintang dan membawanya untuk melihat pada dirinya, hingga Rina melepas pelukannya pada sang anak.
Perlahan Bintang mengangkat kepalanya melihat Arya yang kini sedang tersenyum padanya. Tangan mungil itu tampak saling meremas di atas pangkuan, untuk meredam rasa gugupnya. Arya kembali menghembuskan napasnya perlahan saat melihat itu.
"Sekarang sudah ada Papa dan Mama di sini, kamu jangan takut lagi, hem," ujar Arya sambil mengambil tangan mungil Bintang.
Dia bisa merasakan bagaimana gugupnya Bintang saat ini. Bagaimana tidak? Seorang anak berumur enam tahun, mendapatkan tekanan dari beberapa orang dewasa yang menatapnya penuh dengan intimidasi, bahkan terang-terangan menghina ibunya di depannya sendiri. Itu adalah situasi yang sangat berat bagi Bintang.
"Papa percaya Bintang adalah anak yang baik, Bintang gak mungkin melakukan semua ini jika tidak ada sebabnya, kan?" ujar Arya dengan penuh kelembutan.
Bintang menjawab dengan anggukkan samar. Anak itu masih memilih bungkam.
"Baik darimananya? Sudah membuat anak orang terluka, bukannya dimarahi atau dihukum, ini malah dipuji. Ck!" gumam salah stau wali murid di sana yang masih bisa didengar oleh Rina, Arya, dan Bintang.
Arya menoleh dengan tatapan tajam pada orang itu, dia tidak suka jika ada orang yang ikut berbicara di saat dia sedang serius. Apalagi menghardik dan menghakimi keluarganya.
Wanita berambut ungu itu tampak menelan salivanya susah payah, dan langsung membungkam mulutnya begitu melihat tatapan tajam Arya. Dia membuang pandangan ke sembarang arah, yang penting tidak bertabrakan dengan mata Arya.
"Bicara sama Papa, kenapa kamu berkelahi dengan mereka, hem?" tanya Arya lagi, kembali mengalihkan perhatiannya pada Bintang.
"Mereka juga bilang, kalau papa Bintang, bukan Papa Arya," sambung Bintang lagi, dengan suara yang lebih lirih juga sendu.
Hidung mancung anak kecil itu tampak memerah, menandakan jika dia sedang menahan tangis.
Rina memeluk anak laki-lakinya dari belakang, dia benar-benar merasa bersalah atas kejadian ini. Ternyata kini Bintang juga terkena dampak dari video yang dibuat oleh Tari. Perundungan itu kembali lagi seperti waktu mereka masih di kampung dulu.
"Maafkan Mama, sayang," lirih Rina dengan wajah yang berubah sendu. Dia mencium berulang puncak kepala Bintang.
Ibu mana yang tidak akan sedih jika melihat anaknya ikut mendapatkan luka, karena masalah antara orang tua. Rian dan Arya sudah melakukan berbagai cara agar Bintang tidak mendapatkan masalah karena video itu. Namun, ternyata masih saja ada celah hingga kini anak itu harus merasakan sakit hati karena situasi.
Berbeda dengan Rina, kini Arya malah tersenyum dan menatap Bintang dengan binar bangga. Dia bangga karena Bintang hanya membela diri, terutama membela kehormatan ibunya.
Tidak bisa dipungkiri, jika perkataan Bintang yang terakhir membuat hatinya berbunga-bunga. Arya sangat senang karena Bintang benar-benar menganggapnya sebagai ayah.
"Anak hebat, Papa sangat sayang Bintang." Arya menciun kening anak laki-laki itu, dengan wajah haru.
"Pak, sayang mau melihat rekaman CCTV," ujar Arya kembali beralih menatap kepala sekolah.
__ADS_1
"Baik, Pak," jawab kepala sekolah itu, kemudian menghubungi pihak keamanan untuk mengirimkan rekaman CCTV yang menampilkan perkelahian antara Bintang dan ketiga temannya.
Beberapa saat kemudian, baik Arya, Rina, dan semua orang yang ada di sana tengah fokus melihat pada layar, di mana terlihat rekaman antara anak-anak mereka.
Di sana terlihat jelas kalau saat itu Bintang sedang bermain dengan anak lainnya seperti biasa, mereka tampak sama-sama bahagia. Hingga tiba-tiba ketiga anak itu menghampiri Bintang dan langsung mendorong Bintang hingga hampir terjatuh.
Namun, karena keseimbangan Bintang sudah terlatih, anak itu hanya sedikit terhuyung ke depan. Bintang masih terlihat mengacuhkan saat ketiga anak-anak itu mulai terlihat berbicara dengan Bintang, hingga tidak lama kemudian raut wajah Bintang tampak berubah. Ketiga anak itu masih berbicara hingga salahs ati di antara mereka kembali berusaha mendorong Bintang. Bintang yang sudah terlatih membalik keadaan dengan mudah hingga mmebuat ketiga anak itu sampai jatuh ke atas tanah.
Perkelahian pun terjadi, sayangnya Bintang yang sudah dibekali ilmu bela diri bisa mengalahkan ketiga anak lainnya tanpa ada luka, hingga sekarang Bintang menjadi tertuduh.
"Dari rekaman CCTV ini sudah terlihat jelas, jika yang memulai perkelahian adalah mereka, Bintang hanya membela diri," ujar Arya dengan senyum sumringah.
Laki-laki itu tampak menghembuskan napas lega dan tersenyum pada Bintang, sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
"Baiklah, dengan begini masalah selesai. Bintang memang seharusnya tidak meminta maaf, karena dia hanya membela diri. Dan, sebagai korban ... kami juga sudah memaafkan kalian, sebelum kalian meminta maaf."
Arya berkata dengan percaya diri, senyum mengejek pun menyertai di setiap ucapannya.
"Eeh, tidak bisa gitu dong! Tidak penting siapa yang memulai duluan ... sekarang anak kita terluka, jadi tetap saja yang salah adalah Bintang!" Wanita dengan rambut warna ungu itu tidak terima, sebagian dari para orang tua pun mengangguk menyetujui perkataannya.
"Itu adalah resiko bagi anak kalian yang sudah mengganggu Bintang. Lagi pula, kenapa pula kalian membiarkan anak-anak itu menghina ibu temannya? Maka sekarang terima saja akibat dari didikan kalian sebagai wali mereka!" jawab Arya dengan mudahnya, dia bahkan masih mempertahankan senyum tipis di wajahnya.
"Pak, apa kami sudah boleh pulang?" tanya Arya beralih kembali pada kepala sekolah. Dia kemudian beranjak berdiri bersama Bintang dan Rina, setelah mendapat persetujuan kepala sekolah.
"Ah, dan satu lagi. Tolong Anda juga jaga mulut Anda, jika tidak ingin menerima surat panggilan polisi," ujar Arya sebelum ke luar dari ruang kepala sekolah Bintang.
Siang ini Rina kembali merasa beruntung karena ada Arya di sampingnya. Wanita itu begitu bersyukur karena Allah sudah mendatangkan Arya untuknya.
Sampai di luar ruangan dengan wajah cerianya Arya dan Bintang saling ber--tos, kemudian Arya menggendong Bintang di pundaknya. Laki-laki itu bahkan tidak takut kemejanya akan kotor dan kusut karena Bintang.
"Anak pintar, Papa bangga pada Bintang, karena sudah mau membela Mama tanpa takut!" ujar Arya tanpa ragu.
Rina yang mengiringi langkah lebar Arya sambil menenteng tas sekolah milik anaknya, hanya bisa tersenyum sambil menggeleng kepala samar.
Terima kasih, sudah selalu ada untuk kami berdua.
...****************...
Gak terasa udah ada di penghujung tahun. Nanti malam kita sama-sama merayakan pergantian tahun.
__ADS_1
Rina, Arya, dan Bintang, mengucapkan selamat tahun baru untuk para readers semua. Sampai jumpa di tahun depan🥳🥳