
Brak! Anjas yang tengah sibuk dengan tumpukan kertas di meja juga komputer di depannya terjingkat kaget saat mendengar pintu kantornya dibuka secara kasar hingga terdengar suara keras yang memekakkan telinga.
Dengan cepat laki-laki itu melihat ke arah suara sambil beranjak berdiri. Matanya melebar saat melihat sang ayah yang datang ke kantornya dengan wajah yang tampak sedang menahan amarah.
"Apa ini?!" Ayah Anjas tampak melepar amplop bertuliskan nama sebuah rumah sakit di atasanya.
Ajas semakin dibuat terkejut saat melihat amplop itu, dia tahu betul itu amplop apa, karena dirinya yang memilikinya. Namun, sekuat tenaga dia berusaha mengendalikan raut wajah dan emosinya.
"S--surat apa ini, Yah? Siapa yang sakit?" ujarnya pura-pura tidak tahu laporan apa yang ada di dalam amplop itu.
"Enggak usah berpura-pura lagi, Anjas! Tega ya kamu menyembunyikan anak kandungmu dari orang tuamu sendiri! Dasar anak tidak berguna!" sentak ayah Anjas menatap anaknya penuh kecewa.
"A--apa maksud, Ayah? Cucu Ayah kan Syafira." Anjas masih berpura-pura bodoh di depan ayahnya sendiri, demi menyembunyikan kebenaran bahwa Bintang adalah anak kandungnya. Dalam hati dia bertanya-tanya, bagaimana caranya surat itu bisa sampai ke tangan ayahnya.
Ayah Anjas yang sudah terlanjur emosi, langsug mengambil amplop berwarna putih itu, kemudian membukanya dan mengambil hasil tes DNA dari Bintang dan Anjas.
"Lihat ini! Baca baik-baik!" Ayah Arya melempar kertas itu ke dada anaknya, hingga membat tubuh Anjas sedikit terdorong ke belakang karenanya.
Anjas membaca setiap kata yang ada di dalam surat tes DNA yang ayahnya bawa, matanya melebar saat mendapati itu benar adalah hasil tes DNA yang dulu dia lakukan diam-diam.
"D--dari mana, Ayah, bisa dapat hasil tes ini?" tanya Anjas dengan wajah penuh tanya, walau sebenarnya dia tahu bagaimana ayahnya sekarang memiliki kuasa.
"Tidak penting dari mana aku mendapatkannya! Yang sekarang aku mau, segera bawa cucuku kepadaku!" desak ayah Anjas yang membuat Anjas kembali melebarkan matanya.
"Apa maksud, Ayah? Ayah, mau aku membawa anak ini? Untuk apa?" tanya Anjas dengan wajah tidak terima.
Bukan tanpa alasan Anjas tidak mau mengenalkan Bintang pada orang tuanya, tetapi dia tahu bagaimana sifat dari ayah dan ibunya. Mereka adalah orang-orang yang dibutakan oleh sebuah obsesi, hingga menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka mau.
"Dia cucuku, Anjas! Anak itu adalah anak kandungmu! Apa kamu tidak mau hidup bersama dengannya?" tanya ayah Anjas tajam. Laki-laki paruh baya itu tidak habis pikir pada pemikiran sang anak yang malah menyembunyikan cucunya dari dirinya.
"Dia sudah bahagia dengan ibunya, lalu untuk apa aku harus hadir dan mengacaukan hidup mereka, Yah?" Anjas masih tetap tidak setuju.
"Dia akan jadi pewarismu, atau dia juga bisa mengikuti jejak Ayah! Jangan terlalu bodoh kamu, Anjas, Tari tidak bisa memberikanmu anak dan sekarang dia malah lumpuh, jadi bebanmu saja," hardik ayah Anas menatap kesal anaknya.
"Atau kaku ceraikan saja Tari dan menikah lagi dengan wanita itu." Ayah Anjas kembali memberi pilihan yang menurut Anjas tidak masuk akal.
"Tidak mau! Aku tidak akan mau melakukan itu pada istri dan anakku sendiri. Tari adalah istriku, aku mencintainya, Yah! Anakku juga memiliki jalan hidup sendiri, aku tidak berhak untuk memaksanya agar menjadi penerusku atau Ayah!" tolak Anjas langsung.
__ADS_1
"Halah, makan tuh cinta! Aku yakin jika kami tidak punya apa-apa, wanita lumpuh itu tidak akan mau hidup dengamu lagi," ejek ayah Anjas.
"Yah!" sentak Anjas yang sudah tidak tahan lagi dengan perkataan ayahnya.
"Apa Ayah tidak ingat, siapa yang mendukung Ayah hingga seperti ini sekarang? Itu adalah berkat uang yang diberikan oleh Papahnya Tari kan? Jangan kira aku tidak tahu kalau selama ini Ayah memanfaatkan hubungan aku dan Tari untuk meminta modal kepada Papanya Tari, Pah," ujar Anjas dengan tangan mengepal erat.
Ayah Anjas terdiam dengan wajah yang bertambah kelam, sepertinya dia hampir saja tidak bisa menahan emosinya karena perkataan Anjas baru saja.
"Pokoknya kamu harus segera membawa cucuku padaku, atau aku akan mengambilnya dengan caraku sendiri!" ancam ayah Anjas kemudian segera berbalik dan ke luar dari ruangan sang anak tanpa mau mendengar teriakan dari Anjas.
"Ayah, tunggu dulu ... Ayah! Aku tidak mau melakukan itu!" Anjas mencoba menghentikan langkah sang ayah walau ternyata dirnya tidak didengar sama sekali.
"Aakh, sialan!" teriak Anjas sambil mengacak rambutnya, meluapkan kemarahan yang terpendam.
Laki-laki itu tampak menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan emosi yang masih berada di ubun-ubun.
.
Sementara itu, di tempat lain Arya yang sedang menikmati makan siang di kantin bersama teman dokter lainnya, terpaksa harus menghentikan aktivitasnya sejenak karena ponsel di saku berdering.
Kerutan di keningnya tampak terlihat cukup dalam saat melihat nama Hilman tertera di layar ponselnya.
"Arya, boleh minta waktunya sebentar, aku ingin bicara," ujar Hilman dari seberang sambungan teleponnya.
Arya tampak melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, hari ini jadwalnya cukup padat ada beberapa oprasi yang harus dia lakukan bersama para dokter yang lain.
"Aku masih mempunyai waktu lima belas menit sebelum kembali praktek." Arya memberikan perkiraan waktu senggangnya.
"Bisa, aku udah ada di depan rumah sakit."
"Kalau gitu aku tunggu di kantin," jawab Arya sebelum akhirnya menutup telepon dan kembali ke meja.
Beberapa saat kemudian Hilman tampak sudah memasuki area kantin, Arya menunggu di sana dan membawa Himan ke area khusus dokter dan karyawan rumah sakit.
"Ada apa, Man?" tanya Arya langsung saat mereka barusan aja duduk di kursi masing-masing.
Tidak biasanya memang Hilman akan meminta bertemu dengan Arya, mengingat selama ini mereka berdua hanya berhubungan secara sembunyi-sembunyi dari Anjas, agar laki-laki itu tidak mengetahui kalau keduanya masih berhubungan baik di belakangnya.
__ADS_1
Arya juga sempat meminta Hilman untuk tidak menemuinya lagi, agar dia hanya fokus menemani Anjas yang sedang terpuruk.
"Aku mau pamit," jawab Hilman dengan wajah sedikit menunduk, suaranya terdengar berat dengan helaan napas di akhir kalimatnya.
Arya mengernyit, masih bingung dan tidak percaya dengan perkataan sahabat karibnya itu.
"Pamit? Memang kamu mau ke mana, Man?" tanya Arya sambil menatap wajah Hilman penuh selidik.
"Aku diterima kerja di luar negeri, jadi rencananya aku akan pindah ke sana," jawab Hilman sambil mengangkat kembali wajahnya kemudian menatap Arya dengan senyuman tipis.
"Bukannya kamu sudah bekerja di kantor Anjas?" Arya masih belum mengerti, kini dia mulai curiga jika sedang ada masalah antara Hilman dan Anjas.
Himan mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Arya.
"Kalian gak ada apa-apa, kan?" selidik Arya.
Hilman menggeleng samar.
"Aku merasa bosan saja ... aku ingin menemukan tantangan baru, sambil mencoba mencari jodoh di luar sana, hehe."
Hilman tampak terkekeh di akhir kalimatnya. Namun, Arya jelas melihat jika tawa itu mengandung sebuah kesedihan di dalamnya.
Arya memilih tidak bertanya, walau di dalam hati dia ingin sekali tahu ada masalah apa di antara Hilman dan Anjas, hingga membuat Hilman ingin pergi. Arya menepuk pundak Himan perlahan, dia tahu sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, aku hanya bisa mendukung. Kita akan tetap menjadi sahabat kan walau jarak semakin jauh?" tanya Arya dengan senyum tulusnya.
Hilman ikut tersenyum, di antara mereka Arya memang termasuk anak yang paling ceria walau dia juga jahil. Namun, percayalah jika senyum dari Arya bisa menular pada siapa saja yang berbicara dengannya.
"Tentu, kita tetap sahabat. Aku juga berdoa jika hubungan kamu dan Anjas akan segera membaik, agar kita bisa berkumpul lagi seperti dulu," balas Hilman.
"Amiin, doakan saja ya, Man."
Pertemuan itu berakhir dengan pelukan perpisahan, karena Arya yang sudah dihubungi oleh rekan yang akan melakukan oprasi lebih dulu.
Arya menatap punggung Hilman yang tampak tidak setegar dulu. Entah mengapa dia bisa meraskaan jika sahabatnya itu sedang menghadapi masalah yang cukup berat.
Semoga saja dengan kamu menjauh dari Tari, kamu bisa melupakan perasaanmu pada Tari, Man.
__ADS_1
...****************...