
Arya menghentikan mobilnya di halaman rumah miliki kedua orang tuanya. Setelah mobil berhenti dengan sempurna, Rina, Ray, Bintang, dan Arya pun turun dari mobil, kemudian menyusul ummi dan yang lainnya yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu.
"Sayang, kamu susul ummi dulu ya sama Bintang, aku mau bicara dengan Ray dulu," ujar Arya begitu mereka ke luar dari mobil.
Rina tidak langsung menjawab, wanita itu lebih dulu melihat Arya dan Ray bergantian, sebelum akhirnya menganggukkan kepala samar.
"Ayo, Bintang, kita temui kakek dan nenek," ujar Rina sambil menggenggam tangan Bintang.
Arya menatap kepergian Rina hingga wanita itu tampak masuk ke dalam rumah bersama dengan yang lainnya, sebelum dia mengalihkan pandangannya pada sang adik.
"Sampai di mana mereka mengikuti kita?" tanya Arya langsung pada intinya.
"Sepertinya tadi mereka masih mengikuti kita sampai ke depan, hanya saja mobil mereka tidak berhenti di depan rumah," jawab Ray lugas. Di sepanjang jalan dia terus memantau pergerakan mobil yang ditunjukkan oleh Rina, hingga akhirnya dia mulai menyadari jika memang ada yang tidak beres dari mobil itu.
"Berarti kemungkinan besar benar kalau mereka memang penguntit?" tanya Arya dengan wajah geram, kedua tangannya tampak mengepal kuat dengan kepala dipenuhi dengan tanya. Siapakah orang yang kini sedang mengganggu mereka?
"Hem" gumam Ray sambil mengangguk pelan.
"Sepertinya mulai saat ini kita harus lebih waspada lagi sebelum kita tahu siapa mereka sebenarnya," sambung Arya lagi dengan wajah menatap tajam pagar tinggi yang menghalangi pandangannya ke luar.
"Baik, Kak," angguk Ray lagi dengan wajah seriusnya. Arya tersenyum sambil menepuk pundak laki-laki itu pelan, sangat jarang Ray menujukkan wajah seriusnya, biasanya adiknya itu selalu bersikap manja dan sedikit kekanakkan.
"Terima kasih, Ray," ujar Arya dengan wajah sumringah dan tulus.
Keduanya kini berjalan beriringan menuju ke rumah, dengan suasana hati Arya yang masih penuh dengan tanya, hingga membuatnya resah.
Hari berganti malam, setelah beberapa saat beristirahat kini seluruh keluarga Arya tengah melakukan makan malam bersama, bukan di meja makan, mereka memilih makan bersama di teras belakang dengan tema lesehan.
Sore hari Rina membantu ummi untuk memasak nasi liwet dan semua pelengkapnya, kebetulan menu itu juga menjadi salah satu menu andalan di restorannya, hingga membuat Rina percaya diri dengan masakannya kali ini.
"Wah, wangi banget jadi enggak sabar deh," ujar Ranti dengan wajah yang memperlihatkan ekspresi menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Ini semua masakan Rina, lho. Ranti, Coba deh, pasti enak," ujar ummi sambil mengambilkan nasi liwet untuk Ranti.
"Makasih, Ummi!" Ranti menerima piring dari ummi, kemudian duduk lesehan di atas karpet bersama dengan yang lainnya.
Rina tampak sibuk melayani keluarga Arya untuk makan malam, mulai dari mengambilkan nasi sampai menyiapkan minuman dia siapkan dengan cekatan.
Arya tersenyum melihat wajah Rina yang tampak sumringah, senyum ceria pun seolah tidak pernah luntur dari wanita yang telah lama dicintainya itu.
"Ini semua Rina yang masak, lho, Ran. Ayo dicoba, pasti enak deh," ujar ummi lagi, setelah mereka sudah bersiap untuk makan bersama.
"Kak Rina, masak ini semua sendiri? Hebat banget!" puji Ranti.
"Ah, enggak, aku cuman bantuin ummi sedikit aja kok," jawab Rina dengan semburat merah di pipinya. Sepertinya semua keluarga Arya memang pandai berkata manis, hingga membuatnya malu sendiri.
"Gak usah merendah, Kak. Aku udah dengar cerita Kak Rina dari Ummi dan Ray, katanya masakan Kak Rina enak banget, aku jadi gak sabar buat cobain."
"Ya sudah, sekarang kita segera makan saja, kasihan ini makanan dianggurin terus dari tadi." Abi mengambil alih percakapan para wanita di sana.
"Bintang, udah bisa doa sebelum makan, kan? Ayo coba baca doa dulu," sambungnya lagi pada anak sulung Rina.
"Pintar sekali sih anak ini!" Ray mengacak rambut Bintang gemas, hingga mendapatkan decakan kesal dari anak kecil itu.
"Wah, ini memang enak banget, Kak Rina!" Ranti berseru begitu wanita yang tengah hamil tua itu mencoba makanan yang telah disiapkan oleh ummi, dia tampak menatap Rina dengan mata yang berbinar penuh semangat.
"Benar kan kata ummi, calon menantu ummi ini memang pintar memasak," ujar ummi dengan santainya, hingga membuat Arya dan Rina menghentikan aktifitas makan mereka dan menatap ummi dengan penuh tanya.
"A–apa yang tadi ummi bilang? Calon menantu?" gumam Arya masih dengan wajah bingungya.
Rina yang tadi sempat mendengar kata itu di bandara pun, masih terasa belum percaya akan sikap ummi.
"Lho, bukannya Rina itu calon menantu ummi? Atau ... jangan bilang kalau kamu cuman mau main-main sama Rina, hem?" tanya ummi dengan wajah menyelidik pada Arya.
__ADS_1
"Eh, bukan begitu, Ummi. A--aku hanya terkejut saja sama perkataan ummi," kilah Arya, malah salah tingkah sendiri. Dia menatap panik semua orang yang ada di sana terutama Rina.
Ummi dan abi tampak tersenyum melihat wajah panik putra mereka, begitu juga dengan Ranti dan Ray yang tahu jika ummi sedang mengejar Arya.
"Ummi, Abi, apa ini tandanya kalian sudah merestui hubungan kami berdua?" tanya Arya dengan wajah penuh harap. Mendengar itu Rina pun mengalihkan perhatiannya pada ummi dan abi.
Ummi tampak tersenyum kemudian menatap Abi dengan wajah misteriusnya. Arya dan Rina menunggu jawaban dua orang paruh baya itu dengan jantung berdebar cepat, sesuatu yang mereka tunggu selama ini akhirnya kini akan terjadi beberapa saat lagi. Semoga saja.
Rina bahkan tanpa sadar menahan napasnya sambil menatap bergantian ummi dan abi, hingga keduanya tampak mengangguk samar yang membuat Rina langsung menghembuskan napas lega, begitu juga dengan Arya.
"Alhamdulilah!" Arya berseru senang, dia menatap Rina dengan bahagia yang membuncah di dalam hatinya. Begitu juga dengan Rina, wanita itu tampak menatap penuh syukur pada Arya.
"Terima kasih, Abi, Ummi," ujar Arya tulus.
"Tapi, kami memiliki syarat yang harus kalian penuhi." Ummi tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuat Arya dan Rina kembali terdiam sambil mengalihkan pandangannya pada ummi dan abi.
"Syarat apa, Ummi?" tanya Arya, ada sedikit kecewa di dalam hatinya ketika mendengar kata syarat dari ummi. Walau begitu, Arya masih mencoba tersenyum dan bersabar dengan semua keputusan kedua orang tuanya.
Jika pun pada akhirnya nanti mereka masih belum bisa menerima Rina, maka Arya akan mencoba untuk kembali berjuang demi mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
Ummi kembali melihat abi, mereka berdua tampak tersenyum di tengah ketegangan yang tercipta dalam suasana makan malam santai itu.
"Kami ingin kalian segera meresmikan hubungan kalian berdua. Kamu dan Rina kan sudah sama-sama dewasa dan pantas untuk menikah. Lalu, buat apa lagi kita harus menunggu," ujar ummi yang kemudian disambut helaan napas lega dari hampir semua orang di sana.
"Ummi, kok tega banget sih ngerjain anak sendiri," kesal Arya sambil beranjak dari duduknya kemudian memeluk wanita yang telah membesarkannya itu.
Umi terkekeh mendapati sikap manja Arya, itu adalah sesuatu yang langka dari seorang Arya. Rina pun tersenyum dengan rona merah di pipinya.
"Terima kasih, Ummi," ujar tulus Arya, kemudian mencium punggung tangan ummi berulang kali.
"Eh, tangan ummi kotor, Arya!" Ummi yang merasa risih karena tangannya kotor pun berusaha melepaskan diri dari Arya. Namun, laki-laki itu malah tambah memanfaatkan itu untuk mengerjai ummi, hingga membuat semua orang dia sana ikut tertawa bahagia.
__ADS_1
...****************...