
Hari mulai beralih gelap ketika kedua orang tuanya berpamitan untuk pulang.
"Mah, pah, aku antar ayah dan ibu ke luar dulu," pamit Anjas pada kedua mertuanya, dia juga harus menggendong Syafira yang akan ikut pulang bersama kedua orang tuanya.
"Apa benar yang dikatakan oleh mertuamu tadi sore, kalau kamu mempunyai anak dari wanita lain?" tanya ibu Anjas saat mereka sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Anjas mengernyit bingung juga terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh sang ibu.
"Apa maksud, Ibu, aku gak ngerti?" tanya Ajas tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
"Tadi siang mertua kamu memaki seorang wanita yang datang bersama anak kecil, dia berkata kalau mereka adalah anak dan wanita simpanan kamu." Kini ayah Anjas ikut bebicara.
"Ayah, Ibu, ada Syafira di sini!" Anjas tampak keberatan kedua orang tuanya membicarakan semua itu di depan Syafira.
"Dia sedang tidur, lagi pula dia juga tidak akan mengerti," ujar sinis sang ibu.
"Tapi, Bu--"
"Kamu tinggal jawab saja pertanyaan kami, Anjas, apa susahnya?" kesal Ayah.
"Bukan, aku tidak mempunyai hubungan apa pun dengan dia. Mertuaku mungkin salah paham sama wanita itu, sama seperti Tari beberapa waktu lalu. Tapi, sekarang masalah ini sudah selesai, bahkan sekarang Tari dan wanita itu sudah berteman baik, jadi tidak usah dibahas lagi," jelas Anjas sebisa mungkin menutupi hubungannya dan Rina juga keberadaan Bintang di antara mereka.
Anjas tidak mau lagi dipandang buruk oleh Rina, setelah belum lama ini mereka sudah bisa berdamai dengan keadaan dan Rina percaya jika dirinya tidak akan mengambil Bintang darinya.
Ayah dan Ibu Anjas tampak menatap anaknya penuh selidik, kini mereka sudah berada di lobi rumah sakit dan bersiap untuk masuk ke mobil.
"Aku titip Syafira sementara waktu ya, Bu," ujar Anjas setelah dia memasukkan Syafira ke mobil.
"Heem, kamu jaga Tari baik-baik, kabari kita kalau dia sudah sadar," ujar Ibu sebelum masuk ke dalam mobil, sedangkan ayah terlihat masuk lebih dulu tanpa menimpali penjelasan dari Anjas.
"Baik, Bu," angguk Anjas.
Anjas berdiri di tempat yang sama untuk beberapa saat, dia melihat mobil milik kedua orang tuanya melaju semakin jauh kemudian menghilang saat sudah menyatu dengan keramaian jalan raya. Tangannya mengepal kuat dengan jantung yang berdebar begitu cepat, dia khawatir jika ayahnya yang memiliki ambisi besar akan mencari tahu tentang Rina dan Bintang dan membuat masalah.
__ADS_1
"Sebelumnya pasti Tari sudah memberitahu orang tuanya masalah aku dan Rina, makanya mereka bisa sampai tau semua ini," gumam Anjas sambil menggeleng kepala lemah, tangannya mengusap leher bagian belakangnya merasa pening dengan semua masalah yang kini dia hadapi.
Kondisi Tari yang masih belum sadar, kejelasan hubungan antara Tari dan Hilman, sekarang bertambah lagi dengan masalah orang tuanya dan Rina. Kepalanya sudah hampir pecah memikirkan banyaknya hal yang harus dia selesaikan.
Rasanya baru saja dia bahagia bersama Tari, setelah mereka memutuskan untuk kembali bersama. Namun, kini mereka kembali dihadapkan dengan masalah yang lain lagi. Entah sampai kapan masalah ini akan selesai, dan dirinya bisa hidup tenang dengan keluarga kecilnya, sama seperti impian Tari selama ini.
"Aku harus menjelaskan semua ini pada mertuaku, agar mereka tidak salah paham lagi pada Rina," gumam Anjas sambil berbalik dan melangkah kembali memasuki rumah sakit.
.
Waktu menujukkan pukul sepuluh malam saat Tari mulai mengerjapkan matanya, suasana hening dengan kepala yang berdenyut cukup hebat membuat Tari berdesis pelan.
Perlahan pandangan Tari yang awalnya terasa buram mulai terlihat jelas, dia melihat sekitar di mana tembok putih telihat mendominasi di sana. Matanya terhenti saat melihat laki-laki yang kini tampak tertidur di tepat istirahat yang tersedia tidak jauh dari brankar tempatnya terbaring.
Rasa haus menjalar di tenggorokannya, membuat kini pandangannya teralih pada botol minum yang berada di dekat Anjas tertidur.
"Mas." Tari berusaha mengeluarkan suaranya yang terasa sulit itu, untuk meminta tolong pada sang suami. Namun, sepertinya tidur Anjas terlalu pulas hingga dia tampak bergeming.
Tari menelan salivanya dengan susah payah, untuk membasahi tenggorokan yang terasa begitu kering.
Sepertinya kali ini Tari berhasil mengusik tidur lelap sang suami, Ajas terlihat mulai bergerak dan mengerjapkan matanya hingga akhirnya laki-laki itu menoleh padanya.
Anjas yang merasa mendengar suara Tari walau terasa samar pun mulai mengumpulkan kesadaran setelah beberapa waktu lalu dia baru saja tertidur, ketika kedua mertuanya pulang dengan keadaan tidak baik akibat berdebat dengannya.
Ya, Anjas yang berusaha menjelaskan tentang Rina pada kedua mertuanya ternyata sama sekali tidak didengar oleh mereka. Pasangan yang sudah berumur itu, terlanjur mempercayai ucapan Tari yang sedang dalam kondisi amarah dan salah paham pada Rina, hingga mereka tidak lagi mempercayainya sebagai seorang menantu.
Anjas langsung melebarkan matanya begitu dia melihat jika istrinya telah membuka mata dan kini tengah menatapnya dengan sorot mata sayu.
"Tari, sayang?" Anjas cepat terbangun kemudian berjalan menghampiri brankar tempat istrinya berbaring.
"Kamu sudah sadar, sayang? Apa yang kamu rasakan, hem? Mana yang sakit?" tanya Anjas sambil menekan tombol di atas barnkar Tari kemudian memeriksa keadaan istrinya.
"Maafkan aku, sayang, aku gak bisa jagain kamu, sampai kamu mengalami semua ini di depan mataku sendiri," sambung Anjas lagi dengan wajah penuh sesal, dia menggenggam erat tangan sang istri dengan sesekali menciumnya, melupakan rasa syukur karena istrinya telah membuka mata kembali, kemudian duduk di kursi yang tersedia di sana.
__ADS_1
"Mas." Tari kembali memanggil Anjas sambil mengusap wajah panik sang suami, membuat laki-laki itu terdiam.
"Aku haus," ujar Tari perlahan.
"Ah, sebentar aku ambil minum dulu," jawab Anjas sambil beranjak berjalan menuju ke meja tampatnya menaruh botol air kemudian membuka dan memasukkan sedotan ke dalam botol air minum itu sambil berjalan kembali ke dekat istrinya.
"Aku naikkan dulu brankarnya ya, biar kamu lebih nyaman," ujar Anjas sambil mengambil sebuah remot di samping brankar Tari lalu menekan salah satu tombol di sana, hingga perlahan salah satu sisi barnkar bergerak naik, hingga posisi Tari setengah duduk.
"Sudah nyaman?" tanya Anjas yang langsung diangguki oleh Tari.
"Terima kasih," ujar Tari lirih yang hanya diangguki pelan oleh Anjas.
Anjas kemudian duduk di sisi brakar lalu mulai membantu Tari meminum air putih. Wanita itu tampak meminum beberapa teguk air kemudian merebahkan kepalanya kembali.
Dokter jaga dan perawat pun tampak datang ke ruangan setelahnya, mereka terlihat memeriksa kondisi Tari dengan seksama, hingga tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan membuat Tari menangis histeris.
"Mas, aku gak bisa merasakan kaki aku. Kenapa aku gak bisa merasakan kaki aku, Mas?" Tari menangis histeris saat baru saja dia sadar jika dia tidak lagi bisa meraskaan apa yang terjadi pada kakinya.
"Tenang, sayang, semuanya pasti baik-baik saja, ini pasti hanya sementara." Anjas memeluk Tari sambil terus mencoba menenangkan sang istri.
"Mas, kaki aku kenapa? Kaku aku, Mas?!"
Karena Tari terus menangis histeris, akhirnya dokter kembali memberikan obat pemenang, agar kondisi Tari tidak semakin memburuk.
Anjas merebahkan kembali tubuh istrinya saat merasakan Tari yang mulai kembali lemas dan tertidur karena pengaruh obat.
"Sepertinya ini akibat benturan yang cukup keras di bagian punggung pasien. Untuk lebih jelasnya, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut besok pagi," ujar dokter itu pada Anjas, walau semuanya masih belum jelas.
"Tapi ini masih bisa disembuhkan kan, Dok?" tanya Anjas sambil menoleh menatap istrinya yang kini telah tertidur kembali.
"Semua itu tergantung hasil pemeriksaan besok pagi. Kami berharap ini bukanlah cedera yang parah," jawab dokter itu.
Anjas mengangguk lemah, kini beban yang dia pikul terasa bertambah bekali-kali lipat, setelah melihat kondisi Tari saat ini.
__ADS_1
Entah bagaimana dia harus menghadapi Tari besok pagi, jika wanita itu kembali terbangun, begitu juga dengan mertua dan kedua orang tuanya yang pasti akan sangat kecewa padanya.
...****************...