Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.62 Masa lalu


__ADS_3

Hilman yang sejak tadi mengikuti Tari dan Anjas kini memilih untuk meninggalkan pasangan suami istri itu dengan hati yang terasa panas terbakar. Dia mencengkram stir mobil dengan kuat hingga urat di tangannya tampak terlihat menonjol.


Wajahnya pun terlihat begitu mengerikan dengan seklera mata yang berubah merah, menandakan saat ini dia sedang menahan berbagai rasa yang menyesakkan dada.


"Sial sial sial!" kesalnya sambil memukul setir mobil berulang kali, mencoba mengeluarkan emosi yang teependam.


"Dasar Anjas brengsek!" umpatnya lagi. Bayangan saat Tari dan Anjas kembali berpelukan membuat dadanya terasa terbakar.


"Tari, Tari, kenapa juga kamu masih bisa mencintainya setelah begitu banyak luka yang dia berikan padamu? Kenapa kamu tidak pernah bisa melihatku yang selalu ada di sampingmu, Tari?!" Hilman meracau, merasakan sakit yang teramat dalam di dalam hati, sambil mengingat wajah wanita yang telah begitu lama dia sukai.


Ya, sebenarnya Hilman lebih dulu menyukai Tari dibandingkan dengan Anjas, dia juga yang mengenalkan Tari pada Anjas sewaktu mereka sama-sama berstatus sebagai mahasiswa.


Tidak pernah terpikirkan oleh Hilman jika perkenalan antara Tari dan Anjas akan menjadi penyesalan yang begitu besar untuknya. Karena semua itu membawa mereka dalam cinta satu sama lain, kemudian mulai melupakannya. Persahabatan yang awalnya baik, terasa begitu menyakitkan untuk Hilman yang diam-diam memendam perasaan cinta pada Tari.


Awalnya Hilman sempat pasrah dan memilih mengalah pada Anjas, karena melihat begitu besarnya cinta Anjas pada Tari dan sebaliknya. Dia juga tahu kalau semua ini adalah kesalahannya yang tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan cinta pada Tari, dan gengsi untuk mengakui perasaannya pada Anjas, hingga saat Anjas meminta izin padanya untuk mengungkapkan rasa sukanya pada Tari, pun dia tidak bisa berkata apa-apa.


Namun, semuanya kembali menjadi penyesalan dan berubah menjadi kebencian saat dia mengetahui kalau Anjas ternyata telah berkhianat dan mempunyai istri lain di belakang Tari.


Dia murka, kepercayaannya pada Anjas untuk menjaga Tari kini mulai sirna. Hilman ingin sekali memaki Anjas dengan sumpah serapah atau memukulnya sampai babak belur karena telah berkhianat pada Tari, tetapi dia tidak bisa menemukan waktu dan kalimat yang tepat, agar perasaannya pada Tari tidak diketahui oleh Anjas.


Hilman masih mau mempertahankan persahabatan ini, terutama dengan Tari. Dia tidak mau kalau sampai wanita itu membencinya hanya karena dirinya memukul Anjas tanpa sebab.


Hingga akhirnya Hilman menemukan satu cara yang menurutnya akan berhasil memisahkan Tari dan Anjas, yaitu dengan membuat Anjas jatuh cinta pada Rina dan melepaskan Tari. Apalagi saat dia mendengar kalau Rina ternyata sudah mengandung, itu tentu saja akan lebih memudahkan rencananya.


Dengan beekedok membantu Rina mendapatkan keadilan, Hilman mulai memprofokasi Anjas agar berpaling dari Tari. Namun, ternyata lagi-lagi dia tidak berhasil. Anjas lebih memilih melepas Rina dan anakknya sendiri untuk mempertahankan Tari di sisinya.


Hilman kembali menyerah, dia cukup senang berada di samping Tari dan melihatnya bahagia, walau itu bukan dengannya. Hilman juga selalu mengawasi Anjas, dia tidak mau jika Anjas kembali menyakiti Tari. Selama enam tahun ini dirinya juga mencoba untuk menghilangkan rasa cintanya pada Tari, walau ternyata begitu sulit untuk melupakan wanita yang merupakan sahabatnya itu.


Hilman kembali mendapatkan kesempatan saat melihat pertemuan Rina dan Anjas yang tidak disengaja, hingga niat untuk mengungkit kembali masalah lama demi mendapatkan Tari pun dia lakukan.


Bukan hal mudah memendam rasa begitu lama, pada seseorang yang jelas tidak bisa dia miliki. Hilman sudah mulai hilang akal, dia tidak bisa lagi mengalah, dia ingin memiliki Tari seutuhnya.


Namun, usaha dan rencana yang dia susun dengan baik, sepertinya lagi-lagi tidak bisa memisahkan Anjas dan Tari. Kesempatan ini pun akan kembali membuatnya menyesal karena tidak mendapat hasil apa-apa. Tari tetap saja memilih Anjas dan mempertahankan rumah tangganya.


.


Sementara itu di mobil Anjas, Tari masih saja terisak, melepaskan sesak di dalam dada yang selama ini selalu menyiksanya dan kini semakin terasa setelah dia mendengar kebenarannya. Sulit untuknya bisa menerima semua ini, melawan prasangka yang udah terlanjur berkembang di pikirannya.


"Jadi kalian bahkan sudah berhubungan sebelum kita menikah?" Tari membuka suara, dia menatap wajah suaminya yang terlihat merasa bersalah.

__ADS_1


Anjas mengangguk sebagai jawaban.


"Tapi, kenapa kamu malah meneruskan pernikahan kita, Mas? Padahal kamu sendiri sudah menikahi Rina," tanya Tari lagi masih dengan isak tangis yang belum juga berhenti.


"Karena aku mencintaimu kamu, Tari. Aku gak mau kehilangan kamu." Anjas menjawab dengan tatapan yang Tari sendiri bingung untuk mengartikannya.


Tari menggekng lemah, dia menatap Anjas dengan ajah tidak percayanya.


"Kami egois, Mas. Kamu hanya memikirkan perasaan kamu saja tampa memikirkan bagaimana perasan aku dan Rina!" hardik Tari dengan rasa kecewanya.


Anjas kembali mengangguk.


"Iya, aku akui kalau aku memang egois, aku bersalah untuk itu. Tapi, saat itu kita juga sedang dalam persiapan pernikahan, Tari. Aku tidak mungkin langsung membatalkan pernikahan begitu saja! Bagaimana aku bisa menjelaskan kecelakaan itu pada keluarga besar kita?!" Anjas mencoba mencari alasan yang bisa Tari mengerti.


Terima tersenyum miris.


"Heh, itu hanya sebuah alasan!" desisnya.


"Jika saja waktu itu kamu bisa beekata jujur, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Aku tidak perlu merasakan sakitnya dikhianati oleh suamiku sendiri!" Tari berujar dengan nada menekan di setiap katanya, seolah mencerminkan jika saat ini dirinya begitu hancur oleh keputusan yang dulu diambil Ajas.


"Aku bahkan tidak yakin jika sekarang kamu masih mencintai aku, Mas. Seperti cerita yang sudah aku dengar dari kamu, perubahan sikap kamu padaku juga terjadi setelah kamu memutuskan untuk melepaskan Rina," sambung Tari lagi, mengingat dua waktu yang sebenarnya bersamaan.


"Mungkin kamu tidak menyadari itu, Mas. Tapi, aku sadar benar dengan perubahan kamu. Kamu menjadi lebih dingin dan gila kerja. Hari-harimu hanya dipenuhi dengan pekerjaan, tanpa pernah melihat aku, istrimu sendiri." Tari menatap Anjas yang kini menggeleng lemah.


"Kamu melupakan aku, Mas!" teriak Tari menyela perkataan Anjas.


"Kamu sering lupa ulang tahunku! Kamu sering lupa hari jadi pernikahan kita ... bahkan kami juga lupa hari ulang tahun Syafira, Mas!" teriak Tari lagi, melupakan rasa kecewanya pada Anjas.


Anjas terdiam, dia tidak sadar jika selama ini dirinya begitu banyak melakukan kesalahan. Laki-laki itu menelan salivanya susah payah, sambil memikirkan cara untuk meredam emosi sang istri.


"Aku salah ... maaf, aku memang salah. Aku mengakui semua kesalahanku dulu, hingga kejadian ini harus terjadi, Tari. Aku juga mengakui kesalahanku padamu dan Syafira. Maafkan aku untuk semua itu ... aku mohon," ujar Anjas dengan suara sedikit lemah, bahunya pun turun menandakan dia begitu menyesal atas semua yang sudah terjadi.


Tari menatap Anjas dengan seksama, dia sedang mencari kebohongan di dalam sorot mata suaminya. Namun, sepertinya kali ini Anjas benar-benar menyesal.


"Rasa cintaku tidak pernah berpaling darimu, Tari. Aku hanya mencintai kamu, sayang." Anjas mengambil tangan Tari dan menggenggamnya hangat. Kini dia takut kalau Tari akan meninggalkannya.


Tari tidak menjawab, wanita itu hanya menarik tangannya kembali kemudian menyadarkan tubuhnya dengan isak tangis yang kembali terdengar lirih, hingga terasa menyayat hati Anjas yang mendengarnya.


"Aku gak tau harus bagaimana sekarang, Mas. Tolong turunkan saja aku di sini," ujar Tari setelah lama keduanya terdiam.

__ADS_1


Anjas yang terkejut dengan permintaan Tari, kini menolehkan kepala, menatap Tari dengan kening yang tampak berkerut dalam.


"Apa maksu kamu, Tari?" tanya Anjas dengan suara yang terdengar parau.


"Aku butuh sendiri, Mas. Aku bingung harus menghadapi ini sendiri. Aku malu pada Rina, bahkan aku malu pada diriku sendiri sekarang," jawab Tari dengan suara yang terdengar lebih lantang.


"Aku mau sendiri sekarang, Mas. Aku mohon, izinkan aku turun," ujar Tari lagi.


"Tidak ... jika memang kamu mau sendiri aku akan izinkan. Aku akan memberi kamu waktu sampai kamu yakin dengan keputusan kamu. Tapi, sekarang kita pulang bersama, aku tidak mungkin menurunkan kamu di sini dalam keadaan seperti ini," tolak Anjas langsung, sambil mulai melajukan mobilnya kembali.


"Kamu tau, Tari? Aku sudah merasa menerima hukuman atas kebodohanku yang telah menyakiti dua orang wanita sekaligus," ujar Anjas sambil mulai fokus menyetir dengan laju yang lebih santai.


Tari tampak menoleh pada sang suami, kemudian tersenyum miris menebak apa yang dianggap oleh Anjas sebagai hukuman.


"Karena kamu tidak bisa memiliki anak dariku, dan hidupmu selama tujuh tahun ini tidak bisa bahagia seutuhnya?" tanyaTari.


Istri mana yang tidak akan sakit jika mendengar suaminya mengakui sendiri jika dirinya memiliki anak dari wanita lain, sedangkan dia sendiri tidak kunjung memiliki keturunan.


"Tidak, Tari ... bukan itu." Anjas menggelengkan kepalanya samar.


"Aku sudah bilang padamu bukan, jika aku menerima keadaan kamu apa pun itu? Aku benar-benar menerima keadaan kamu Tari, sungguh!" ujar Anjas meyakinkan.


Dia terdiam setelah mengatakan itu, seolah sedang bersiap untuk mengucapkan sesuatu yang tidak mudah.


"Sebenarnya ada sesuatu kejadian di masa lalu yang ikut serta pada kisah ini, dan itu mebuatku merasakn sakit." Anjas berkata lirih.


"Apa itu? Apakah itu masih berhubungan dengan Rina?" tanya Tari penuh selidik.


Anjas menggeleng.


"Bukan, Tari. Rasa sakit itu begitu terasa ketika aku melihat anak kandungku sendiri kini lebih dekat dengan seseorang yang sangat aku benci, bahkan anakku menganggapnya sebagai seorang ayah yang menggantikan posisiku," jawab Anjas dengan seklera mata yang berubah merah berselimut air yang membendung di pelupuk.


Tari mengernyikan keningnya, dia belum bisa mengerti dengan apa yang suaminya katakan.


"Apa maskud kamu, Mas? Siapa yang kamu benci dan karena apa kamu membencinya?" tanya Tari. Sebenarnya sudah ada satu nama yang melintas di kepalanya, tetapi, Tari belum yakin akan hal itu.


"Dia yang telah membuat aku kehilangan orang yang sangat aku cintai, dan membuatku menjadi seorang anak tunggal. Karena kejadian itu juga keluargaku hampir saja hancur dan setiap hari aku hanya bisa meihat neraka di rumahku sendiri," jelas Anjas, dengan suara yang terdengar berat seperti sedang menahan amarah yang selama ini terpendam di dalam dirinya.


Kejadian apa itu? Siapa yang Mas Anjas cintai? Siapa yang Mas Anjas benci?

__ADS_1


Tari yang tidak pernah mendengar ada kejadian itu pun hanya bisa bertanya di dalam hati. Dia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkit masa lalu. Hatinya masih sakit, dan dia tidak mau lebih hancur lagi jika mengetahui kalau sampai saat ini Anjas bahkan masih mencintai orang lain lagi, selain dirinya dan Rina.


...****************...


__ADS_2