Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.58 Teman masa kecil


__ADS_3

"Kenapa dia bisa ikut ke sini, Ray?" bisik Arya tepat di depan telinga adiknya.


"Aku gak tau, dia datang sendiri ke rumah dan menawarkan diri untuk membantu," jawab Ray cuek, kemudian melepas pelukan mereka.


Arya berdecak pelan saat merasa tidak puas dengan jawaban dari sang adik.


"Assalamualaikum, Mas Arya," sapa wanita itu ketika sampai di depan Arya, sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Kepalanya sedikit menunduk dengan senyum ramah terlihat jelas di bibirnya.


"Waalaikumsalam." Arya menjawab dengan suara yang terdengar biasa saja, bahkan terkesan dingin. Dia hanya melirik sekilas kemudian menjauh dari perempuan yang baru saja datang itu.


Rina tampak memperhatikan sikap Arya dan perempuan berjilbab itu. Ada rasa yang mengganggu di dalam hatinya, saat dia melihat perempuan itu tersenyum pada Arya yang kini adalah kekasihnya.


Diam-diam Rina memperhatikan penampilan perempuan yang baru saja datang untuk bergabung. Tubuh tinggi dengan memakai gamis longgar dan kerudung menutup dada, wajah putih dengan pipi kemerahan, bibir mungil dan hidung mancung. Terlihat begitu cantik dan salehah. Satu kata untuk mewakili penilaiannya kali ini; menarik!


"Arya, kamu pasti sudah lupa ya. Ini Anisa, anak dari ustad Heri. Dulu waktu kalian masih kecil, kalian berdua sering bermain bersama," ujar ummi sambil merangkul pundak perempuan itu di depan Arya.


Ah, terlihat sekali kalau ummi begitu menyukai perempuan itu. Rina merasa tidak nyaman dengan itu, walau dirinya pun menyadari jika Anisa lebih pantas berada di tengah keluarga Arya.


"Iya, ummi. Maaf aku tidak ingat," agguk Arya sambil melihat ummi, tanpa melirik sedikitpun pada Anisa.


"Ayo kita masuk," ujar abi yang melihat suasana sudah berubah tidak terlalu nyaman seperti sebelumnya.


Semuanya mengangguk, ummi tampak membawa Anisa masuk bersama sedangkan Rina hanya berdiri mematung melihat pemandangan itu.


"Ada aku di sini. Apa kami sudah lupa, sayang?" Arya berdiri di samping Rina kemudian mengajaknya untuk berjalan bersama.


Rina tersenyum kemudian mengikuti langkah Arya untuk menyusul keluarganya. Dia berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja walau hatinya merasa tidak nyaman.


Ada rasa berbeda saat dia melihat kedekatan Anisa dan ummi, apa lagi ketika melihat ummi yang seperti sedang sengaja memperlihatkan kedekatannya dan Anisa pada Arya dan dirinya.


Namun, sebisa mungkin Rina berpikir positif pada keluarga Arya, terlebih pada kedua orang tuanya. Apa lagi tadi ummi sempat menyambut kedatangannya dengan baik.


Santunan kepada panti pun dilakukan dengan baik, mulai dari sejumlah uang, sampai berbagai perlengkapan anak-anak, dan berbagai jenis sembako pun diberikan. Arya juga ikut menambahkan beberapa oleh-oleh yang tadi sempat dia beli bersama dengan Rina dan Bintang.


"Papa, aku mau ikut!" Bintang yang baru saja datang setelah bermain bola dengan anak-anak panti yang lain langsung menghampiri Arya yang sedang membagikan oleh-oleh.


"Sini," jawab Arya sambil menempatkan Bintang di depannya kemudian memberikan satu bungkus bingkisan yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Berikan ini pada teman-teman yang lain," ujar Arya memberi perintah pada Bintang yang langsung diangguki oleh anak itu.

__ADS_1


Arya terkekeh melihat semangat Bintang yang tidak terlihat berkurang, walau bulir keringat sudah tampak menetes di keningnya. Dia mengacak gemas rambut di puncak kepala Bintang yang terasa sedikit lebab.


Rina yang berada di samping Arya pun ikut tersenyum melihat kedekatan antara Arya dan Bintang. Dia tidak terlihat resah walau melihat tubuh anak laki-lakinya tampak sudah bermandikan keringat.


Pemandangan itu tentu saja membuat orang dewasa di sana mengalihkan perhatiannya, interaksi Arya dan Bintang yang tampak sangat tulus ditambah dengan sorot mata penuh cinta Arya pada Rina, membuat mereka bertiga sudah bagaikan sebuah keluarga yang utuh.


Bu Haryati yang ikut melihat itu tampak tersenyum senang. Sedangkan ummi dan abi hanya menggeleng kepala tanpa mau bereaksi berlebihan, begitu juga dengan Ray. Namun, Anisa berbeda, perempuan itu terlihat menundukkan kepala, menghindar untuk melihat kebahagiaan Arya dan Rina.


Setelah semuanya selesai, Rina pamit untuk mengganti baju Bintang lebih dulu, setelah Arya mengambilkan baju untuk Bintang di mobilnya.


Namun, di saat itu ponsel Rina terus berdering hingga mengganggu Rina dan Bintang. Awalnya Rina hanya melihat saja kemudian mengacuhkannya, tetapi telepon itu terus berulang.


"Sudah selesai. Sekarang Bintang ke Om Arya dulu ya, Mama mau angkat telepon dulu," ujar Rina setelah selesai mengganti baju Bintang.


"Iya, Mah," angguk Bintang kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Rina untuk menghampiri Arya.


Rina berjalan menuju ke area belakang panti, mencari tempat yang lumayan sepi agar fokus menerima telepon.


"Ya, ada apa, Hen?" tanya Rina sambil menempelkan ponselnya di telinga.


"Ah, Rina akhirnya kamu jawab juga! Maaf aku ganggu waktu kamu sama Arya."


Rina mengernyitkan keningnya saat mendengar suara panik Heni dari seberang telepon.


"Tari bikin ulah lagi di resto, Rin. Dia mengamuk mencari kamu dan mengancam akan membuat kacau kalau kamu gak menemui dia," jawab Heni dari seberang sambungan telepon.


"Ck!" Rina berdecak malas. Pikirannya langsung berkelana mencari cara untuk menghentikan Tari tanpa perlu dia temui secara langsung.


Saat ini jarak Rina dan resto cukup jauh, dia juga tidak mungkin mengacaukan rencana Arya untuk mengenalkannya pada keluarga hanya demi menemui Tari yang membuat masalah di resto.


"Mau apa lagi sih dia?" gerutu Rina smabil menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Katanya dia ingin membuat perhitungan karena kamu masih berhubungan dengan Anjas," ungkap Heni.


Rina meringis, dia bahkan sayup mendengar suara Tari yang berteriak di restoran memanggil namanya.


"Kamu dan teman-teman yang lain coba tahan dia sebisa mungkin, aku akan mencoba menghubungi suaminya untuk mengurus dia," ujar Rina setelah cukup lama terdiam.


Telepon pun terputus begitu Heni sudah menyetujui perintah dari Rina. Sedangkan Rina sendiri langsung mencoba menghubungi nomor Anjas.

__ADS_1


"Tolong urus istrimu di restoku," ujar Rina tanpa basa basi lebih dulu begitu telepon tersambung.


"Apa maksud kamu, Rin?" Suara Anjas terdengar bingung.


"Tari berteriak di restoku, tolong bawa dia pergi sekarang," ujar Rina memberi penjelasan.


"Tidak mungkin, dia tidak mungkin melakukan itu." Sepertinya Anjas belum percaya.


"Heni juga tidak mungkin berbohong!" Rina menekan kalimat yang dia katakan.


"Aku sedang berada di luar, jadi sebelum aku menyuruh Heni untuk melaporkan kejadian ini ke polisi, lebih baik kamu bawa istri kamu pergi dari restoku sekarang. Aku beri waktu tiga puluh menit!" Rina langsung menutup sambungan teleponnya begitu dia sudah mengatakan niatnya saat menghubungi mantan suaminya itu.


Rina mengepalkan tangannya erat, mencoba meredam emosi dan rasa gelisah, membayangkan situasi di resto saat ini. Entah bagaimana Tari bisa kembali mengamuk di sana padahal dia tidak lagi bertemu dengan Anjas setelah kejadian itu.


Ah, kecuali saat dia tidak sengaja bertemu dengan Anjas di sekolah Bintang. Namun, saat itu tidak ada orang yang tahu, bahkan dia hanya memberi tahu Arya saja setelahnya. Bagaimana mungkin Tari bisa mengetahuinya?


"Sayang, ada apa?" Arya yang sudah berada di belakang Rina akhirnya melangkah maju hingga berdiri sejajar dengan kekasihnya.


Rina yang terkejut langsung menoleh ke arah Arya berada, dia kemudian tersenyum tipis sambil menggeleng kepala.


"Tidak apa, hanya ada masalah kecil biasa," jawab Rina tanpa memberi tahu masalah yang sebenarnya.


Arya kembali tersenyum kemudian mengangguk samar, dia mengalihkan pandangannya jauh ke depan melihat area yang cukup luas di belakang panti itu.


"Aku dengar kamu menelepon Anjas, ada apa sebenarnya?" tanya Arya menyelidik, bahkan Rina bisa melihat jelas jika laki-laki itu tengah mengerutkan keningnya.


Arya bukan cenayang yang bisa tahu pikiran dan perasaan Rina, dan dia juga tidak bisa menutupi jika saat ini dirinya sedang cemburu. Arya tidak suka Rina terus berhubungan dengan Anjas, sungguh.


Rina tersenyum mendengar pertanyaan Arya, sepertinya laki-laki di sampingnya itu sudah cukup lama berada di belakangnya.


"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan karena kamu sudah tau semuanya. Kamu sudah mendengar semuanya, kan?" jawab Rina dengan senyum menggoda.


"Ck! Kenapa dia tidak bisa mengurus istrinya sendiri, apa itu hanya alasan agar kamu bisa menghubungi dia?" gerutu Arya sambil mengalihkan pandangannya, yang membuat Rina tersenyum.


Ternyata tidak hanya dia yang mudah cemburu, buktinya Arya pun kini begitu terhadapnya, dan itu membuktikan perasaan laki-laki itu padanya. Rina tidak keberatan jika itu masih di dalam batas wajar.


Bukankah, cemburu itu perlu di dalam suatu hubungan, agar satu dan lainnya bisa memiliki batasan?


...****************...

__ADS_1


Hai semuanya, jangan lupa mampir di karya temanku juga ya🥰



__ADS_2