Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.59 Mengamuk


__ADS_3

"Cepat panggil bosmu itu, atau aku akan mengacaukan restoran ini!" teriak Tari di lantai dua resto.


Ya, Heni baru mengetahui kedatangan Tari ketika wanita itu sudah mencoba masuk ke dalam ruangan Rina secara diam-diam. Untung saja saat itu ada salah satu karyawan yang mengetahuinya dan langsung melaporkan kejadian itu padanya.


Rupanya sejak awal dia memang ingin langsung menemui Rina, hingga tanpa basa-basi Tari langsung mendatangi kantor Rina. Namun, karena saat itu Rina tidak datang ke resto, maka kantor pun dalam keadaan terkunci.


Heni yang datang berusaha mengajak bicara Tari pelan-pelan, dia menjelaskan kalau saat ini Rina tidak akan datang ke resto karena sedang ada urusan lain di luar.


Namun, ternyata wanita itu tidak mempercayainya. Tari tetap bersikukuh untuk menemui Rina saat ini juga dan meminta Heni memanggil sahabatnya itu datang. Tari bahkan mengira jika Rina sengaja bersembunyi karena takut untuk bertemu dengannya.


"Dasar wanita murahan! Sudah aku beri peringatan masih saja menggoda suamiku," gerutu Tari, terus mengumpat Rina.


"Sekarang aku ke sini membawa bukti, jadi jangan harap dia bisa membantah lagi!" Tari memperlihatkan beberapa lembar foto yang memperlihatkan Anjas dan Rina sedang berbicara berdua pada Heni.


Heni yang tidak tahu tentang pertemuan Rina dan Anjas tentu dibuat terkejut, dia hanya bisa menggeleng kepala begitu melihat semua itu. Namun, Heni juga tidak mau ikut campur, dia hanya terdiam tanpa mau melawan atau pun membalas perkataan Tari tentang sahabatnya, walau di dalam hati Heni merasa geram dengan semua tuduhan Tari pada Rina.


Beruntung beberapa waktu kemudian Anjas datang dengan wajah yang terlihat menahan amarah, dia langsung menarik tangan Tari yang kini masih duduk di depan ruangan Rina.


"Sedang apa kamu di sini, Tari? Bikin malu saja!" ujar Anjas tegas sambil menarik tangan Tari untuk bangun.


"Pulang sekarang!" sambung Anjas lagi sambil mulai menarik Tari untuk berjalan.


Namun, Tari menahan tubuhnya, dia tidak mau ikut dengan sang suami. "Aku mau meminta perhitungan pada wanita murahan itu, Mas!"


Anjas yang mendengar itu langsung menoleh, menatap wajah Tari dengan kening berkerut. Dia tidak menyangka jika Tari bisa melakukan semua ini tanpa mempertimbangkan harga dirinya sebagai seorang suami.


"Siapa yang kamu sebut wanita murahan, heh?!" Heni yang sejak tadi diam kini ikut bersuara, dia sudah tidak tahan dengan perangai Tari.


"Jaga ucapanmu, Tari, jangan membuatku malu!" Anjas ikut berkata dengan nada menekan. Laki-laki itu tampak mengusap wajahnya kasar sebelum melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Sudah, jangan bikin ribut di tempat orang. Lebih baik kita bicarakan ini di rumah saja," ujar Arya lagi sambil menarik tangan Tari dengan lebih kencang hingga wanita itu terhuyung dan berjalan setengah diseret oleh Anjas. Anjas juga membawa kembali foto yang tadi sempat Tari keluarkan dan simpan di atas meja.


Heni hanya terdiam sambil melihat Anjas yang memperlakukan Tari dengan kasar, hingga kedua orang itu ke luar dari resto.


"Heh, untung saja Rina bisa ke luar dari laki-laki seperti itu," ujar Heni, sambil menggeleng kepala pelan, kemudian berjalan kembali menuju tempatnya bekerja.


"Masuk sekarang!" titah Anjas sambil melemparkan tubuh Tari ke dalam mobil, hingga wanita itu terpakasa mengikuti keinginan suaminya.


Tari memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit ketika dia sudah berada di dalam mobil. Tubuhnya bergetar menahan takut akan kemarahan Anjas yang kini terasa berbeda dari biasanya. Laki-laki itu berani berbuat kasar.


Anjas duduk di kursi kemudian melajukan mobilnya ke luar dari area restoran dengan kecepatan tinggi, hingga Tari menjerit menahan takut.


"Mas, aku belum mau mati!" teriak Tari saat mobil Anjas menyalip dan hampir saja bertabrakan dengan mobil dari arah lamanya, jika sedikit saja Anjas salah dalam perhitungan.


Anjas tidak menjawab dia hanya diam sambil terus fokus memacu kendaraannya dengan kecepatan yang semakin tinggi, mencari celah untuk terus menyalip kendaraan di depannya.


"Kamu gila, Mas! Hentikan mobilnya, aku mau turun!" teriak Tari sambil menutup matanya perustasi.


"Iya iya, aku salah, aku minta maaf! Aku janji tidak akan melakukan itu lagi!" teriak Tari kini dengan tangis yang pecah, air mata pun tampak menganak sungai membasahi wajahnya.


"Tolong hentikan mobilnya, Mas, aku mohon." Kini Tari berbicara llirih dengan suara bergetar.


"Tolong hentikan‐-" lirihnya lagi dengan wajah pucat.


Anjas yang sudah merasa puas membuat istrinya ketakutan dan mengakui kesalahannya akhirnya menghentikan mobiknya di pinggir jalan dengan tiba-tiba, hingga tubuh Tari kembali terdorong ke depan dan hampir saja menabrak dashboard jika Anjas tak menahannya.


Napas wanita itu tampak memburu dengan wajah kacau, dia menangis sesegukan ketika menyadari kini mobil yang dikendarai Anjas sudah berhenti.


Walau dia terlihat pemberontak dan kuat hingga berani menyerang Rina secara langsung. Tetapi, Tari masih tetap seorang wanita biasa yang mempunyai hati yang lemah dan mudah takut akan sesuatu.

__ADS_1


Dirinya sudah memutuskan untuk bertahan dengan Anjas dan menganggap semua ini hanya cobaan. Semua yang dia lakukan sekarang hanya untuk mempertahankan rumah tangganya yang dia pilih, dibandingkan dengan bercerai dan memilih berpaling pada laki-laki lain.


Rasa cintanya pada Anjas sudah teelanjur tumbuh besar, hingga membuat Tari menjadi wanita buta. Dia masih mau bertahan walau berbagai bukti tentang perselingkuhan Anjas dan Rina kini terus bermunculan.


Hatinya memang kecewa, batinnya menangis saat mengetahui semua itu. Namun, sebagai istri sah rasa cinta dan tatusnya sekarang memberikannya kekutan untuk mempertahankan rumahtangganya.


Masalah Hilman -- dia hanya menganggap laki-laki itu sebagai seorang sahabat. Tidak lebih dan tidak kurang. Masalah kejadian di hotel tempo hari dia anggap sebagai sebuah kesalahan karena mereka sama-sama sedang dalam keadaan tidak sadar.


"Dari mana kamu mendapat semua foto ini, heh? Kamu mengikuti aku?" tanya Anjas sambil melemparkan foto yang tadi dia ambil di atas meja ke dashboard mobil.


Tari masih menangis tergugu, dia belum bisa berbicara setelah sepanjang perjalanan jantungnya dibuat hampir copot oleh ulah suaminya.


"Jawab, Tari!" tekan Anjas yang masih berada di dalam emosi.


"I--iya, a--aku mengaku, aku memang menyuruh seseorang untuk mengikuti kamu, Mas." Tari mengangguk anggukkan kepalanya sambil mencoba berbicara walau terdengar sedikit terbata.


Tubuhnya mengkerut di pintu, takut jika saja nanti Anjas akan berbuat kasar padanya, sedangkan salah satu tangannya berusaha membuka pintu mobil yang ternyata masih terkunci.


Anjas menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kasar sebelum kembali berbicara. Melihat sang istri yang menggigil ketakutan membuat hatinya tersentuh.


Apa aku terlalu kasar padanya? batin Anjas merasa sedikit bersalah akan istrinya.


Anjas meraih tubuh menggigil itu, dia dekap hangat tubuh sang istri yang selama ini begitu sangat dia cintai dan sampai saat ini Anjas masih meyakini hal itu. Dia masih mencintai Tari.


"Maafkan aku," lirihnya dengan nada penuh sesal.


"Kamu jahat sama aku, Mas. Kamu tega menyakitiku," lirih Tari sambil memukul pelan punggung Anjas, dia menangis terisak di pelukan sang suami.


"Maaf--" Sepertinya saat itu tidak ada kata lain yang bisa Anjas pikirkan selain kata ini.

__ADS_1


Anjas membiarkan Tari menangis sambil meracau mengeluarkan semua rasa sakit dan kecewa terhadap dirinya. Anjas menyadari jika masalah ini berawal dari kebodohannya dan kesalahannya di masa lalu, hingga tanpa sadar dia menyakiti hati dua orang perempuan.


...****************...


__ADS_2