Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.49 Musuh


__ADS_3

Video penjelasan Rina untuk kejadian penggerebak di restorannya, akhirnya sudah tayang di akun milik youtuber tersebut. Di dalamnya Rina tidak mengungkit Bintang sama sekali, dia hanya menyampaikan kalau hubungannya dengan Anjas hanya karena Anjas adalah teman lama Arya yang merupakan calon suaminya. Tidak ada hal lain selain itu.


Arya dan Rina memang memutuskan untuk menutup rapat hubungan antara Rina dan Anjas. Itu semua agar Bintang tidak ikut terkena dampak atas rumor yang emang beredar.


Anjas mengepalkan tangannya saat melihat video youtube Rina dan Arya ada rasa panas di dalam hatinya, saat melihat Rina sama sekali tidak mengungkit tentang hubungan mereka.


Kecewa kini mulai dirasakan oleh Anjas, karena sekarang Rina bahkan lebih memilih menutup kenangan mereka dan menggantinya dengan cerita yang lain.


"Sialan kamu Arya! Berani-beraninya kamu mengaku menjadi teman dekatku! Ini semua juga pasti karena hasutan kami pada Rina, makanya Rina berani berbicara begitu!" umpat Anjas sambil mengepalkan kedua tangannya.


Sementara itu di tempat lain, Rina yang melihat video itu dengan Arya tampak menghembuskan napas lega, apa lagi saat keduanya melihat komentar positif para penonton. Bahkan banyak yang terlihat mengakui kesalahan dan meminta maaf pada Rina.


Ada juga pemilik akun yang mungkin mengenal Arya dan Rina secara langsung, mereka tampak memberi semangat pada Arya dan Rina.


"Semoga saja setelah ini, tidak ada lagi orang yang berbuat iseng di resto kamu, sayang," ujar Arya sambil mengelus lembut rambut Rina. Kini dirinya sudah meras lega, karena masalah sudah mulai menemui penyelesaian.


Rina tersenyum sambil mengangguk, dia kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, merasa lega karena masalah ini sudah bisa diselesaikan dengan baik. Matanya menatap Arya lembut, dan penuh rasa terima kasih.


"Terima kasih. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini, jika tidak ada kamu di sisiku," ujarnya dengan wajah penuh haru.


Kebahagiaan Rina dan Arya, berbanding terbalik dengan Tari yang kini malah uring-uringan di kamarnya, setelah melihat video itu.


Rencana yang dia susun untuk menjatuhkan Rina kini gagal total, dan berbalik malah menjadi promosi gratis untuk restoran milik Rina.


Ya, saat Rina berkunjung ke rumah youtuber itu untuk membuat video, dia juga membawa banyak menu makanan andalan di restorannya untuk orang-orang yang ada di sana, sebagai tanda terima kasih.


Namun, tanpa Rina ketahui, youtuber itu membuat konten khusus review makanan yang ada di resto Rina dan dia unggah di akun instagram dan Tik Tok miliknya.


Tidak heran jika kini resto milik Rina kebanjiran pembeli, baik itu yang datang langsung, atau pun yang membeli melalui jasa pesan antar.


"Aakh, dasar bengsek! Kenapa semuanya bisa gagal seperti ini!" teriak Tari sambil mengacak rambutnya prustasi.


Hati Tari semakin merasa panas saat melihat komentar di video tersebut yang malah banyak menyudutkannya dan mengiranya hanya sedang cemburu buta.

__ADS_1


"Dasar manusia gak guna! Bisa-bisanya mereka percaya pada ucapan pelakor itu!" Tari berteriak sambil membanting laptopnnya ke lantai, hingga hancur berantakan.


Napas Tari terlihat naik turun dengan wajah yang tampak merah padam, jantungnya berdebar cepat, mengikuti emosinya yang sudah sampai ke puncaknya.


Suara ponsel berdering mengalihkan perhatian Tari, dia tampak mengatur napasnya lebih dulu agar lebih tenang, sebelum mengangkat telepon yang tidak lain dari orang tuanya.


"Apa-apaan ini, Tari? Apa yang kamu lakukan lagi sekarang, hah?!" Suara bernada tinggi sang ayah langsung menyapa pendengarannya hingga gendang telinga terasa berdenging karenanya.


Tari berdecak lirih sambi menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia sudah menebak jika sang ayah menghubunginya hanya untuk memarahinya.


"Ini urusanku dan Mas Anjas, Pah," jawab Tari pelan.


"Apa kamu bilang? Ulahmu ini sudah keterlaluan, Tari! Harga saham perusahaan suamimu bahkan sekarang sudah merosot tajam! Kamu mau perusahaan itu bangkrut, hah?!" sentak ayah Tari.


"Aku tidak peduli! Mas Anjas dan wanita itu sudah menyakitiku, jadi aku juga ingin mereka merasakan sakit seperti aku, Pah. Apa aku salah?!" debat Tari dengan air mata yang berlinang.


"Terserah kamu mau melakukan apa pada mereka. Tapi, jangan sampai semua itu berpengaruh pada perusahaan, Papa bisa rugi besar kalau begini, Tari!" Ayah Tari tampak menjeda perkataannya beberapa saat.


"Papa tidak mau tau, segera kamu selesaikan masalah ini, dan cari cara lain untuk memberi pelajaran pada mereka. Jangan sampai Papa menghentikan uang bulanan kamu karena masalah ini!" tegas ayah Tari sebelum akhirnya memutuskan sambungan teleponnya.


Tentu saja, teguran dari sang ayah semakin membuat emosi Tari meninggi. Dendam pun kini mulai merasuk ke dalam hatinya, karena sesuatu yang sebenarnya belum jelas dia ketahui.


Cemburu telah menutup semua hati dan akal sehatnya. Tari kini sedang diselimuti oleh emosi dan amarah, hingga dia juga bertindak menggunakan emosinya, bukan akal sehatnya.


"Man, aku tunggu kamu di tempat biasa!" ujar Tari saat teleponnya tersambung pada sang sahabat, dia kemudian melangkah melewati pecahan laptop yang dia banting, kemudian mengganti baju dan ke luar dari kamar begitu saja.


.


Arya yang baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah Rina tampak memicingkan matanya, melihat seseorang yang tampak berdiri di depan gerbang.


"Sayang, itu—" Arya tampak menunjuk ke depan, memberitahu siapa yang kini berdiri tepat di depan mobilnya.


Rina yang awalanya sedang melihat ponselnya, kini mengangkat kepalnya sambil mengikuti arah pandangan Arya. Dia melebarkan matanya saat melihat Anjas yang kini berada di sana, dengan wajah yang tampak memendam amarah.

__ADS_1


"Mau apa dia datang ke sini?" tanya Rina sambil kembali mengalihkan pandangannya pada Arya.


"Entah," jawab Arya sambil mengangkat kedua bahunya, acuh.


Laki-laki itu kemudian melepas sabuk pengaman sambil kembali melirik pada Rina dan Bintang yang tengah tertidur di kursi belakang.


"Kamu tunggu dulu di sini, biar aku yang ke luar. Kasihan Bintang kalau terganggu tidurnya." Arya menahan Rina agar tidak ke luar dari mobil.


"Tapi—" Rina hendak mencegah, dia khawatir pada Arya.


"Gak apa, seperti yang kamu tahu, dulu kami adalah sahabat, jadi aku tau betul bagaimana cara menghadapi Anjas." Arya tampak menenangkan Rina sebelum membuka pintu dan ke luar dari mobil.


Rina menatap khawatir pada Arya yang kini tampak sedang bertatap muka dengan Anjas. Jika Arya tampak tenang, berbeda dengan Anjas. Laki-laki itu terlihat menatap Arya penuh permusuhan.


"Dasar brengsek! Berani-beraninya kamu mengaku sebagai teman baikku! Aku tidak sudi menjadi teman pembunuh seperti kamu!"


Anjas berkata dengan penuh amarah, dia membawa kakinya melangkah lebar menghampiri Arya dengan tangan mengepal, bersiap melayangkan pukulan pada mantan sahabatnya itu.


Namun, dengan cepat Arya menghindar kemudian mengunci tubuh Anjas dengan memutar tangannya ke belakang.


"Apa kamu begitu bodoh, hah?! Ini adalah caraku agar Rina, kamu, Tari, terutama Bintang, tidak terkena imbas dari masalah yang dibuat oleh istri tercintamu itu!" Arya berkata tajam tepat di depan telinga Anjas.


"Kamu lihat Rina dan Bintang sekarang!" ujar Arya memaksa tubuh Anjas untuk menghadap pada mobilnya,hingga Anjas dapat melihat raut wajah khawatir Rina, dan wajah tenang juga polos Bintang yang sedang tertidur.


"Apa kamu masih belum puas menyakiti mereka berdua, hah?! Apa mereka belum cukup tersiksa karena kebodohan kamu?!" sambung Arya lagi, berharap bisa membuka pikiran Anjas yang sudah terlanjur tertutup oleh emosi.


Ah, dia tidak tahu jika mantan sahabatnya itu bahkan tidak berubah sejak dulu. Anjas masih tetap bodoh dalam menghadapi masalah, dan tidak bisa membedakan mana yang harus dia lindungi atau dia acuhkan.


Untuk sesaat Anjas tampak terdiam dengan tubuh yang mulai tenang, walau kemudian dia kembali memberontak hingga akhirnya terlepas dari kuncian lengan Arya.


"Tetap saja — aku tidak sudi menjadi teman baikmu! Jangan berharap hubungan kita baik-baik saja setelah kamu membunuh adikku!" Anjas menatap Arya tajam, kebencian dan dendam itu masih ada sampai sekarang.


Anjas tersenyum getir mendengar perkataan Anjas yang masih sama semenjak beberapa tahun lalu.

__ADS_1


"Siapa yang berharap untuk berteman dengan laki-laki bodoh sepertimu? Jangan terlalu besar kepala hanya karena aku mengatakan kita adalah teman lama," jawab Arya santai.


...****************...


__ADS_2