
"Jadi besok kamu mau ketemu sama Tari?" tanya Arya saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke resto.
"Iya, aku sudah terlanjur berjanji untuk membantu Anjas untuk memperbaiki hubungannya dan Tari," angguk Rina.
"Kalau begitu aku antar kamu ya," pinta Arya merasa khawatir pada Rina.
"Kayaknya gak usah deh, nanti kalau Anjas malah gak bisa nahan emosinya lagi gimana?" Rina merasa enggan dia takut jika nanti Anjas dan Arya kembali berdebat.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Anjas, aku tidak mau masalah diantara kami terus berlarut-larut seperti ini." Arya menatap Rina dengan sorot mata memohon.
Awalnya Arya mengira semua masalahnya akan berlalu jika dia hanya diam, lagi pula dia sudah mencoba menjelaskan kejadiannya pada pengacara keluarga Anjas dan orang tuanya. Namun, ternyata itu tidak memperbaiki keadaan, Anjas tetap mengiranya penyebab dari meninggalnya Sisi.
Rina menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, sebelum menjawab permohonan Arya. Sepertinya kedua laki-laki itu memang harus diberi kesempatan untuk bertemu dan membicarakan masalah mereka dengan sikap dewasa, agar semua masalah bisa diselesaikan dengan baik.
"Baiklah nanti aku akan bicara dulu dengan Anjas. Tapi, jangan memaksa kalau dia menolak. Aku enggak mau kalian membuat kacau pertemuan aku dan Tari," jawab Rina akhirnya.
"Siap, Nyonya Arya," jawab Arya sambil terkekeh ringan, walau dia langsung mendapat pukulan yang lumayan pedas di pundaknya. Namun, melihat semburat merah di pipi sang kekasih setelah beberapa hari ini sibuk dengan ummi adalah kebahagiaan tersendiri untuk Arya.
.
Esok harinya, Rina dan Arya tampak berjalan memasuki restoran tempat Rina dan Anjas bertemu tempo hari. Setelah Rina mencoba membujuk Anjas untuk bertemu dengan Arya, akhirnya mantan suaminya itu mau menerima niat baik Arya dan berbicara berdua, sementara dirinya dan Tari berbicang.
Rina tersenyum kala melihat sudah ada Tari dan Anjas di salah satu meja yang ada di sana. Setelah saling menyapa sebentar, Arya dan Anjas pun akhirnya memisahkan diri, agar Rina dan Tari bisa lebih leluasa berbicara, begitu juga dengan keduanya.
"Terima kasih, sudah mau menemui aku di sini," ujar Tari sambil sedikit menunduk menyembunyikan rasa malu yang masih mengakar di hatinya.
__ADS_1
Rina bahkan bisa melihat jika Tari bergerak gelisah, seolah sedang merasa tidak nyaman berada di depannya. Rina tersenyum, dengan sedikit ragu, dia menggenggam tangan Tari, agar wanita itu bisa lebih tenang.
Merasakan itu, Tari langsung mengangkat wajahnya, dia tatap wanita di depannya yang tampak sedang tersenyum lembut padanya. Tari terkejut mendapati sikap Rina setelah apa yang dirinya lakukan selama ini.
"Aku berharap pertemuan ini bisa meluruskan salah paham di antara kita, dan membuat hubungan kita lebih baik lagi," ujar Rina lirih dan terlihat tenang.
"Kamu gak marah sama aku?" tanya Tari dengan kerutan halus di keningnya yang kembali dibalas senyuman oleh Rina.
"Untuk apa aku marah? Semuanya sudah berlalu dan aku tidak mau terus terjebak dalam kenangan itu," jawab Rina santai.
Tari kembali terdiam melihat reaksi Rina. Wanita yang dulu pernah dia tuduh sebagai pelakor itu ternyata sama sekali berbanding terbalik dari pikirannya selama ini. Rina malah dengan mudah menerimanya setelah apa yang dia lakukan.
"Tari, aku dan Anjas itu hanyalah masa lalu, kami sudah sama-sama melupakan kisah yang sudah lama kami tinggalkan," sambung Rina lagi, langsung pada tujuannya untuk membantu Anjas menjelaskan masalah mereka.
Tari mengangguk, dia mengeratkan genggaman tangannya pada Rina. Rasa bersalah di dalam hatinya kini semakin besar atas tuduhan tanpa sebab yang dulu pernah dia berikan pada Rina.
"Maaf, aku gak bermaksud--" ucapan Tari terhenti saat Rina langsung menjawab pertanyaan Tari dengan tegas.
"Aku sudah mempunyai kekasih, Tari, mana mungkin aku masih memendam rasa pada suami kamu," jawab Rina diiringi dengan kekehan ringan, ucapannya pun terdengar santai walau masih terasa tegas di setiap katanya.
"Tapi, kalian mempunyai anak, sedangkan aku--" Tari menundukkan kepalanya merasa Rina lebih berhak terhadap Anjas karena ada Bintang di antara mereka. Sedangkan dirinya sendiri tidak mempunyai buah hati bersama Anjas.
"Bintang anakku, dia lahir dan besar bersamaku, Tari. Maaf, bukannya aku mau mengungkit masa lalu, tapi Bintang bahkan belum mengetahui kalau Anjas adalah ayah kandungnya, dia malah menganggap Arya sebagai ayahnya saat ini." Rina menoleh sekilas pada Arya dan Anjas yang tampak sedang berbicara serius.
Berbeda dengan pembicaraan antara dirinya dan Tari yang tampak lebih santai, di meja para laki-laki yang sebenarnya adalah mantan sahabat itu, malah terlihat sama-sama tegang dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku tau, suatu saat nanti aku juga harus memberitahu Bintang tentang kebenarannya, tapi itu bukan berarti kami akan bersama lagi, aku yakin Bintang juga akan mengerti dengan masalah kedua orang tuanya,," sambung Rina lagi.
"Tari, aku minta maaf karena aku pernah hadir di dalam hubungan kalian, tapi sungguh aku tidak pernah mau menjadi orang ketiga, semua itu tidak akan terjadi jika aku tau kalau Anjas sudah memiliki kekasih," ujar Rina tulus.
Tari menggeleng, matanya tampak berkaca-kaca dengan tatapan penuh sesal pada Rina.
"Tidak, bukan kamu yang minta maaf, Rina. Harusnya aku yang meminta maaf, atas semua yang pernah aku lakukan sama kamu. Andai waktu itu aku tau kalau Mas Anjas sudah menikahi kamu, aku akan langsung membatalkan pernikahan kami, maafkan aku Rin ... aku sadar, jika ternyata akulah yang salah dan menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga kamu dan Mas Anjas," ujar Tari panjang lebar, dia betul-betul menyesal dengan semua yang sudah terjadi.
"Sudahlah, Tari, tidak penting siapa yang menjadi orang ketiga di antara kita, saat itu kita sama-sama belum bisa beegikir dewasa hingga hanya bisa mengandalkan emosi, itu juga yang terjadi pada Anjas. Namun, aku yakin sekarang kita sudah sama-sama dewasa maka lebih baik kita tidak usah membahas masa lalu lagi, kini aku dan kamu sudah memiliki kehidupan masing-masing begitu juga dengan Anjas. Kedepannya, aku harap kita bisa berteman dengan baik, tanpa mengungkit masalah di masa lalu," jawab Rina dengan wajah tenang dan senyum keibuannya.
Tari tersenyum kemudian mengangguk pasti, menyetujui perkataan Rina. Ada sorot mata kagum saat dia mendengar Rina berbicara begitu lugas.
"Terima kasih, Rin. Jadi kedepannya kita berteman?" ujar Tari yang langsung diangguki oleh Rina, dengan senyum sumringahnya. Kedua wanita itu tampak saling berpelukan sebagai tanda jika mereka telah menyelesaikan masalah yang selama ini menjerat keduanya.
Kedua wanita itu pun melanjutkan perbincangan mereka dengan begitu akrab, seolah keduanya adalah teman yang telah lama tidak bertemu. Tari juga sedikit bertanya tentang hubungan antara Arya dan Anjas yang terlihat tidak terlalu baik, Tari hampir saja menghampiri Anjas jika Rina tidak mencegahnya.
"Biarkan dulu mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, kita hanya perlu memantau dari sini takut nanti akan ada baku hantam," ujar Rina dengan santainya.
"Hah! Apa maksudmu? Baku hantam? Bukannya mereka tidak saling mengenal?" tanya Tari dengan kerutan halus di keningnya.
"Mereka sudah saling mengenal, jauh sebelum mengenal kita berdua, makanya lebih baik kita biarkan saja mereka berdua," jawab Rina sambil melihat dua laki-laki itu.
Walau masih tampak bingung, Tari pun akhirnya memilih mengangguk dan menyetujui saran Rina untuk membiarkan Anjas dan Arya berbicara berdua.
Kedua wanita itu malah memesan makanan sambil terus memperhatikan Anjas dan Arya yang terlihat masih terus berbicara. Keduanya tampak acuh dan enggan untuk ikut campur dengan masalah dua laki-laki itu, hingga tanpa disadari waktu berlalu begitu saja.
__ADS_1
...****************...