Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.64 Restu?


__ADS_3

Pagi harinya, setelah Arya dan Rina sarapan bersama dengan keluarga, mereka memutuskan untuk segera kembali ke kota, karena keduanya memiliki kesibukan masing-masing.


Sepanjang perjalanan Rina terus terdiam, wanita itu hanya menyadarkan tubuhnya sambil menatap jauh ke luar jendela, dengan sesekali menjawab pertanyaan dari Bintang.


Arya merasa bingung dengan perubahan sikap Rina, walau kekasihnya itu memang bukan wanita yang cerewet, tetapi Rina bukan juga tipe yang pendiam. Namun, saat ini dia melihat Rina terasa berbeda dari biasanya.


"Apa kamu sakit, sayang?" tanya Arya sambil melihat Rina yang tampak sedikit lemas.


"Mama sakit?" Bintang ikut bertanya sambil berdiri kemudian memegang kening Rina dari belakang. Anak berumur enam tahun itu tampak sangat khawatir pada ibunya.


Rina memegang tangan Bintang yang berada di keningnya kemudian menciumnya sambil tersenyum lembut pada sang anak.


"Mama gak apa-apa. Sekarang Bintang duduk lagi yang benar ya," jawab Rina sambil melirik sekilas pada Arya yang juga menatapnya dengan khawatir.


"Beneran kamu gak apa-apa, sayang?" tanya Arya lagi sambil mengangkat tangannya hendak menempelkannya di kening Rina, untuk memeriksa suhu tubuh wanita yang dicintainya itu.


Namun, Rina langsung menghindari tangan Arya, hingga tangan itu hanya menggantung di udara begitu saja. Kening Arya berkerut melihat Rina yang menghindar dari perhatiannya, wanita itu seperti sedang memberi batas antara keduanya.


"Ada apa, sayang?" tanya Arya bingung.


"Aku baik-baik saja," jawab Rina sambil kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada jendela mobil, menatap jauh ke luar, seolah memberi batas agar Arya tidak lagi bertanya padanya.


Arya menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, walau hatinya masih bertanya-tanya dengan sebab perubahan sikap Rina padanya, tetapi Arya memilih diam dan memberi waktu untuk Rina menenangkan diri dulu.


Perjalanan pun berjalan lancar, hingga beberapa saat kemudian Arya sudah berhasil memarkirkan mobilnya di depan rumah Rina.


"Sayang, sepertinya kita perlu bicara," pinta Arya saat keduanya berjalan masuk ke dalam rumah.


Rina melirik Arya kemudian menghampiri Bintang yang berjalan di depan mereka.


"Sayang, sekarang kamu main di atas dulu ya, Mama dan Om Arya mau bicara berdua dulu," ujar Rina memberi pengertian pada sang anak.


Bintang menatap Arya, seolah anak itu masih enggan untuk meninggalkan laki-laki yang sudah dia anggap menjadi ayahnya sendiri, walau akhirnya dia mengangguk setelah mendapatkan isyarat dari Arya.

__ADS_1


"Iya, Mah," ujarnya pada Rina.


Rina tersenyum, sambil mengusap puncak kepala anaknya bangga. " Anak pintar!"


Sedangkan Arya hanya mengacungkan kedua ibu jarinya di belakang Rina, sebagai tanda jika dirinya ikut bangga karena Bintang menjadi anak yang penurut.


"Mau minum apa?" tanya Rina setelah melihat Bintang sudah sampai di lantai dua rumahnya.


"Apa saja," jawab Arya masih mempertahankan senyumnya.


"Kalau gitu aku ambilkan dulu." Rina tampak berbicara dengan suara yang terdengar kaku, hingga Arya bisa merasakan kecanggungan Rina saat ini.


"Heem, aku tunggu di depan," jawab Arya sambil menganggukkan kepala.


Arya lebih dulu melihat punggung Rina yang berjalan menjauh darinya, dengan hati yang merasa resah, dia takut jika selama berada di rumah kedua orang tuanya, Rina mengalami sesuatu yang akan berdampak pada hubungan mereka.


Arya berbalik kemudian mulai melangkah setelah melihat Rina menghilang di balik tembok, laki-laki itu memilih duduk di kursi yang tersedia di teras rumah.


Ingatannya pun kembali pada saat malam tadi berbicara dengan keluarganya setelah Rina pamit untuk menemani Bintang tidur.


Antara keluarga dan cinta. Tidak ada yang bisa Arya pilih, karena keluarga adalah cintanya, sedangkan cintanya juga sudah menjadi keluarganya. Keduanya berada di dalam posisi yang sama di hati Arya saat ini. Tidak ada yang bisa dia korbankan atau tinggalkan, dia tidak akan mendapatkan bahagia yang seutuhnya jika memilih salah satu diantaranya.


"Ini minumnya." Rina tampak sudah berdiri di sampingnya dengan membawa dua gelas jus jeruk di tangannya, minuman yang pas diminum saat siang hari yang terasa terik seperti sekarang ini.


Kedatangan Rina mengejutkan Arya yang sedang melamun, laki-laki itu bahkan terlihat terperanjat.


Rina tidak menggubris keterkejutan Arya, dia tahu pasti jika sekarang Arya sedang banyak pikiran. Begitu juga dengan dirinya sendiri.


"Terima kasih." Arya menerima gelas dari Rina kemudian meminumnya sedikit sebelum menaruhnya kembali di atas meja.


Rina mengangguk sebagai jawaban, kemudian memilih duduk di samping Arya, dengan tatapan yang lurus ke depan. Untuk beberapa saat keduanya tampak terdiam hingga akhirnya Arya membuka suara untuk memulai pembicaraan.


"Sebenarnya kamu kenapa, sayang? Aku tidak bisa kamu dimakan seperti ini," tanya Arya menatap Rina dengan wajah khawatirnya.

__ADS_1


Jantungnya bahkan langsung berdegup kencang, saat menunggu jawaban dari kekasihnya itu.


Rina menoleh pada Arya, selama beberapa detik keduanya tampak saling beradu pandang, sebelum Rina kembali mengalihkan tatapannya lurus ke depan. Rina kemudian menghirup napas dalam sampai terasa memenuhi seluruh rongga dada, kemudian menghembuskannya perlahan sebelum menjawab pertanyaan dari sang kekasih.


"Apa ada sesuatu yang kamu ingin katakan padaku?" Bukannya menjawab, kini Rina malah balik bertanya pada Arya, hingga membuat Arya mengerutkan keningnya dalam.


"Apa maksudnya, sayang? Apa yang ingin kamu ketahui dari aku, hem?" Arya masih berbicara dengan nada lembut dan penuh kasih.


Rina menatap Arya dengan rasa kecewa di dalam dada, berbagai pertanyaan kini berputar di kepalanya, hingga dia tidak tahu apa yang seharusnya dirinya tanyakan lebih dulu pada sang kekasih.


Entah berapa banyak rahasia yang Arya sebunyikan darinya? Atau bahkan selama ini Rina tidak tahu apa pun tentang laki-laki yang kini menjadi kekasihnya itu.


"Apa saja yang kamu sembunyikan dariku, hem? Aku tidak akan keberatan jika itu tentang masa lalumu yang tidak berhubungan denganku. Tapi, jika itu tentang kita ... bukankah kita harus sama-sama terbuka?" ujar Rina masih mencoba untuk bersabar, walau nyatanya ada beberapa penekanan di beberapa kata yang dia ucapkan.


Arya yang mendengar itu dari Rina pun mulai bisa menebak masalah yang terjadi di antara mereka, walau dirinya masih bingung dari mana Rina bisa mengetahui tentang restu dari keluarganya.


"Baiklah, sekarang aku mengakui menyembunyikan sesuatu darimu, sayang. Tapi, katakan dengan jelas apa yang ingin kamu ketahui, aku akan menjelaskannya walau mungkin nanti akan terdengar menjadi sebuah alasan bagimu," jawab Arya masih berusaha terlihat tenang, walau nyatanya jantungnya sudah berdebar tak menentu.


"Restu."


Deg!


Satu kata yang sudah menjawab semua pertanyaan panjang dari Arya. Arya langsung menegakkan tubuhnya saat kata yang sangat tidak ingin dia dengar itu kini benar-benar terucap dari mulut sang kekasih.


"Maafkan aku, sayang, bukan maksudku menyembunyikan ini darimu. Tapi, aku hanya ingin berjuang dulu demi mendapatkan restu dari keluargaku. Aku juga takut, jika kalau tau masalah ini kamu akan meragukan hubungan kita," jawab Arya dengan pundak yang terlihat turun dan pandangan sedikit menunduk.


Rina menatap Arya dengan wajah yang terlihat kalut, hatinya mungkin sedikit merasa bahagia saat mengetahui jika Arya bersedia berjuang untuknya. Namun, ada sudut hatinya yang juga terasa sakit, ketika dia menyadari jika Arya bahkan belum mau membagi kesulitannya dengan dirinya.


"Kanapa kamu harus berjuang sendiri, apa kamu tidak memeprcayai aku?" tanya Rina.


...****************...


Mampir yuk, ceritanya keren lho🄰

__ADS_1



__ADS_2