
"Sadarlah, Anjas! Ini di depan makam adikmu ... apa kamu tidak malu padanya, hah?! Dia akan bersedih jika melihat dua kakak yang sangat disayanginya bertengkar seperti ini!" teriak Rina tepat di depan wajah Anjas, hingga membuat laki-laki itu mematung.
Melihat Anjas yang sudah lebih tenang, perlahan Rina melangkahkan kakinya mundur untuk menghampiri Arya.
"Ck, kalian ini gak sadar umur, udah pada tua tapi masih aja adu jotos kayak anak remaja!" gerutu Rina sambil kembali membantu kekasihnya itu bangun.
"Heh, Anjas, bantu aku, jangan malah bengong begitu, mau nanti kesambet setan kuburan, hah?!" teriak Rina sambil berusaha menahan tubuh Arya yang sudah tampak lemas.
Pukulan Anjas ternyata tidak main-main, energi Arya sampai tercurah habis gara-gara perkelahian itu.
"Tidak usah, Rin, dia tidak akan pernah mau membantuku," lirih Arya sambil menatap Anjas yang tampak masih terdiam.
Rina mendengkus kesal, ternyata menghadapi dua sahabat yang telah menjadi musuh itu sangat sulit. Dengan langkah tertatih Rina memapah Arya untuk berjalan menuju ke mobil.
"Dasar kalian ini, lebih kekanakan dari pada Bintang! Anak itu saja tidak pernah bertengkar dengan temannya lebih dari satu hari," gerutu Rina, sungguh dia sangat kesal saat ini.
Rasa penasaran yang tadi sudah membumbung tinggi, kini malah terhempaskan oleh kedatangan Anjas yang tiba-tiba dan langsung mengacaukan suasana dengan emosi yang yang meluap.
Tanpa di duga, saat Rina melewati Anjas, laki-laki itu terlihat membantu Rina untuk memapah Arya dari sisi berlawanan, hingga membuat Arya dan Rina menatapanya dengan terkejut, merasa tidak percaya dengan apa yang Anjas lakukan.
"Kalau bukan karena aku kasihan sama Rina yang kesusahan bawa badan gede kamu, aku gak akan mau bantuin kamu!" ujar sinis Anjas sambil berjalan beriringan dengan Arya dan Rina.
"Ck!" Arya hanya berdecak pelan sambil melirik Rina.
Ditengah derasnya air hujan yang membuat Rina, Arya, dan Anjas, basah kuyup, nyatanya malah membuat hubungan Arya dan Anjas sedikit membaik.
"Terima kasih," ujar Rina setelah berhasil membawa Arya ke dalam mobil.
"Heem." Anjas hanya bergumam sebagai jawaban, sambil melirik Arya yang kini tampak duduk lemas di dalam mobil.
"Cepat bawa di ke klinik, aku gak mau dia mati, hingga membuat aku jadi pembunuh, sama seperti dia," titah Anjas masih dengan nada suara yang terdengar sinis.
Rina tersenyum mendengar semua itu, dia kemudian mengangguk. Dalam hati Rina senang karena Anjas ternyata masih memiliki peduli pada Arya.
__ADS_1
"Iya. Kamu juga harus segera mengeringkan tubuhmu agar tidak sakit," jawab Rina yang dibalas anggukkan kepala oleh Anjas, sambil terkekeh ringan.
"Aku pergi dulu, Assalamualaikum," ujar Rina lagi, sebelum akhirnya berjalan masuk ke mobil milik Arya, begitupun Anjas yang masuk ke mobilnya sendiri.
Mereka pun berpisah begitu saja, Rina mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, mengingat hujan yang masih turun dengan lebat. Ditambah dengan waktu sore, dimana para pekerja mulai berada di dalam perjalanan pulang, hingga Rina harus mendapati kemacetan di beberapa titik jalan.
"Maaf, aku jadi membuat kamu susah seperti ini," ujar Arya sambil membenarkan posisi duduknya yang terasa tidak nyaman.
"Iya, kenapa juga aku harus terjebak di antara masalah kalian sih, bikin kesel aja," gerutu Rina, yang sebenarnya hanya sebuah candaan untuk membuat hati Arya sedikit terhibur.
Arya tersenyum, dia tahu itu hanya sebuah omong kosong Rina. Walau sebenarnya Rina memang tidak sepenuhnya salah, karena memang wanita itu berada di antara masalahnya dan Anjas.
"Kita langsung pulang saja, kamu harus segera ganti baju," ujar Arya yang menolak untuk dibawa ke klinik, dia bisa melihat wajah Rina yang sudah mulai pucat, hingga membuatnya khawatir.
"Tapi, kamu harus diperiksa, lagi pula Heni belum pulang," tolak Rina sambil melepaskan stir saat mobilnya kembali terjebak macet.
"Kita pulang ke rumahku saja, masih ada Ray di sana. Aku juga tau jalan tikus yang tidak terlalu padat dari sini menuju rumahku," ujar Arya lagi.
"Tapi--" Rina sedikit ragu.
"Baiklah, kita ke rumah kamu aja," ujar Rina.
Arya tersenyum, dia kemudian mengarahkan Rina untuk mengambil jalan pintas, menggunakan jalan kecil yang tidak terlalu padat, hingga beberapa menit kemudian Rina sudah berhasil memarkirkan mobil Arya di depan rumah laki-laki itu.
Hujan kini hanya tinggal gerimis saja, Rina langsung turun kemudian menghampiri Arya dan menolongnya untuk turun, lalu memapahnya.
"Terima kasih untuk tadi, sayang. Kamu bisa membuat Anjas membantuku," ujar Arya sambil berjalan sedikit tertatih.
"Bukannya kamu denger sendiri kalau dia bilang membantuku, bukan membantumu?" ujar Rina sambil mengerucutkan bibirnya yang sudah terlihat sedikit membiru akibat kedinginan.
Arya terkekeh, dia tahu kalau Rina hanya menggodanya. Jelas sekali kalau tadi Rina mengedipkan mata padanya sebelum memulai aksi marah-marah di depan Anjas, kemudian berpura-pura kesulitan dalam membantunya, hingga terpakas Anjas harus turun tangan.
"Wanita seperti kamu memang berbahaya," ujar Arya sambil menggelengkan kepalanya samar, walau akhirnya diakhiri dengan ringisan menahan sakit.
__ADS_1
"Ish, makanya gak usah banyak bicara, bibir udah berdarah begitu juga," gerutu Rina sambil mulai masuk ke dalam rumah Arya yang ternyata pintunya tidak terkunci.
"Astagfirullah, ada apa ini, Kak? Kenapa Kakak kayak habis dipukulin begini?!" Ray yang kebetulan sedang berjalan menuju pintu depan karena mendengar mobil berhenti pun dibuat kaget saat melihat keadaan Arya, dia langsung berlari untuk membantu Anjas yang tengah dipapah oleh Rina.
"Gak usah heboh begitu, aku gak apa-apa kok," jawab Arya sambil berdesis kesal pada sang adik.
"Ck!" Ray hanya berdecak malas menanggapi perkataan kakaknya. Mereka pun melanjutkan langkah untuk membawa Arya masuk ke rumah.
Namun, saat mereka sudah sampai di ruang keluarga suara seseorang kembali menghentikan langkah ketiganya.
"Astagfirullah, Arya! Kamu kenapa, Nak? Ini--" Ummi yang baru saja ke luar dari dapur langsung berlari menghampiri Arya, dia melihat penampilan Arya dari atas sampai bawah.
Rina yang melihat ada ummi di sana, langusng refleks melepaskan tangan Arya dari pundaknya kemudian berdiri kaku dengan kepala menunduk di samping kekasihnya itu.
"Aku gak apa-apa, Ummi. Ini hanya luka kecil aja," ujar Arya sambil menegakkan tubuhnya.
"Ummi, tolong bawa Rina untuk mandi dan ganti baju ya, kasihan dia ikut basah kuyup karena nolongin Arya. Biar Arya sama Ray saja," sambung Arya lagi.
"Tapi, Nak--" Ummi tampak khawatir pada Arya.
"Arya baik-baik saja, Ummi," jawab Arya lagi dengan mata memohon agar ummi mau membantunya bersikap baik pada Rina.
Wanita paruh baya itu tampak menghembuskan napas kasar sambil melirik Arya dengan tatapan kesal, kemudian mengangguk lemah.
"Ya sudah. Tapi, kamu masih hutang penjelasan sama ummi," ujar ummi sambil menujuk tajam wajah sang anak.
"Iya, Ummi," anguk Arya lagi.
"Sana, cepat naik ke kamar, biar Ummi bawa Rina ke kamar Ummi saja," ujar Ummi kemudian sambil memegang tangan Rina yang terasa dingin.
"Ummi, maaf--" Rina hendak berbicara saat Ummi tiba-tiba menyela.
"Kamu mandi dulu ya, nanti kira bicara kalau kamu sudah membaik," ujar Ummi sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Rina pun mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamar mandi tanpa berbicara apa pun lagi. Tubuhnya terasa sudah sedikit berbeda, kepalanya terasa berat, mungkin karena terlalu lama menggunakan baju basah.
...****************...